Sabtu, 09 April 2016

Tugu Kunstkring Paleis Jakarta

Jakarta merupakan salah satu kota penting di era kolonial. Mudah dimaklumi kalau kemudian kota ini menyimpan begitu banyak cerita dan peninggalan sejarah, salah satunya sejumlah bangunan peninggalan Belanda yang sebagian beralih rupa menjadi museum, kantor, ataupun sekolah. Sebagian lagi difungsikan sebagai hotel dan restoran, misalnya Tugu Kunstkring Paleis. Gedung ini terletak di Jalan Teuku Umar No. 1 Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di depan Yayasan Jantung Indonesia, dan diapit oleh Jalan Cut Nyak Dien dan Jalan Teuku Umar.
Keberadaan gedung Tugu Kunstkring Paleis ini tidak terlepas dari adanya pembangunan perumahan kelas menengah ke atas di kawasan Menteng (sebelumnya dikenal dengan Nieuw Gondangdia) pada era Hindia Belanda. Kisah ini bermula ketika NV De Bouwploeg dipercaya untuk mengerjakan proyek real estate yang pertama di Hindia Belanda. Bouwmaatschappij NV De Bouwploeg yang dipimpin oleh Pieter Adriaan Jacobus (P.A.J.) Moojen adalah instansi penggarap perumahan di Menteng. Moojen merencanakan tata kota serta wilayah yang dibangun dalam pembangunan wilayah Menteng. Wilayah yang pertama kali dibangun adalah gedung kantor NV De Bouwploeg (sekarang menjadi Masjid Cut Meutia), baru disusul pembangunan gedung Bataviasche Kunstkring.
Gedung kuno tersebut mulai dibangun pada 1913, setelah NV De Bouwploeg menghibahkan sebidang tanah yang strategis di Entrée Gondangdia yang baru saja dikembangkan. Lahan tersebut diberikan karena Moojen di samping mengerjakan tugasnya sebagai seorang arsitek maupun planolog, ia juga banyak bergaul dengan seniman dan pecinta seni di Batavia. Bersama-sama kawan-kawanya, pada 1907, dia mendirikan Lingkar Seni Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Kunstkring). Tiga tahun pertama, Moojen menjadi sekretaris perkumpulan tersebut. Empat belas tahun seterusnya, dia menjabat ketua.


P.A.J. Moojen, selain ditunjuk oleh perkumpulan tersebut sebagai ketua sekaligus sebagai arsitek gedung tersebut. Gedung Bataviasche Kunstkring diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Willem Frederik Idenburg pada 17 April 1914. Pada saat peresmian tersebut dibarengi dengan gelaran pameran pertama yang terdiri dari karya-karya pelukis Belanda yang lahir di Hindia Belanda. Ruang-ruang di gedung yang luas juga dipergunakan untuk pertunjukan musik dan ceramah. Buku-buku tentang kesenian dikumpulkan dalam perpustakaan khusus untuk melayani masyarakat yang berminat.
Gedung ini lantas menjadi pusat berkumpulnya para pecinta seni amatir, untuk mengadakan pertunjukan musik, belajar seni, memamerkan karya mereka, atau sekadar mencari inspirasi.
Pada 1925, berkat sumbangan para arsitek terkemuka, pameran arsitektur pertama di Hindia Belanda dihadirkan di gedung ini. Kemudian pada 1926 Kunstkring juga mendatangkan penari kelas dunia, Ruth St Denis dan Ted Shawn, yang merintis tari modern untuk tampil keliling Pulau Jawa. Di daerah yang dikunjungi, para penari asing ini belajar tari Jawa ataupun tari Bali lalu mengadaptasi dan membawanya ke Amerika.
Pada 1929, giliran seniman balet dunia Anna Pavlova yang tampil di Hindia Belanda, termasuk di Gedung Bataviasche Kunstkring. Selama satu bulan, Pavlova bersama tim penari yang terdiri atas 60 orang berkeliling dari kota ke kota. Mereka antara lain singgah di Yogyakarta dan Surakarta dan belajar tari Jawa dari kraton. Pertunjukkan Pavlova di Batavia kala itu mampu membuat lalu lintas macet.
Seiring bertambahnya usia, Bataviasche Kunstkring berhasil melahirkan para seniman andal. Berjaya dan menjadi pusat karya seni terbaik Hindia Belanda. Beberapa seniman dunia seperti P.A. Regnault, Vincent van Gogh, Paul Gauguin, Marc Chagall, Odilon Redon, Pablo Picasso, Raoul Dufy, Gustaf de Smet, Utrillo, Chirico, Andre Baudin, dan Fujita Herdik sempat memerkan karya mereka di sini pada pameran besar karya lukis kontemporer Barat yang dihelat pada 1932.
Kunstkring juga unggul dari segi arsitektur bangunan. Ia menjadi salah satu bangunan tertua yang pertama kali menggunakan beton bertulang di Hindia Belanda. Karena itu, tak ada renovasi besar-besaran yang perlu dilakukan untuk memperkuat bangunan yang sudah berdiri kokoh.
Dilihat dari tampilan muka bangunan, desain Kunstkring mengikuti prinsip arsitektur rasionalis modernis yang dikenal dengan sebagai Art Nouveau, yang pada dasarnya menggabungkan unsur-unsur tropis. Tampak dari depan terdapat tiga lengkungan dengan dua menara berbentuk segi delapan di bagian atap. Menara tersebut mengapit atap utama yang berbentuk limasan. Lengkungan pada pintu masuk gedung sangat unik karena terdiri dari tiga lengkungan yang kemudian disesuaikan dengan jumlah pintu masuk. Bentuk bangunan ini lebih mengedepankan pendekatan fungsional dengan mengurangi elemen dekorasi. Pintu dan jendela di Gedung Bataviasche Kunstkring dibuat tinggi sehingga memungkinkan ventilasi silang untuk mendinginkan ruangan.
Sejarah juga mencatat, bahwa fungsi gedung ini pernah mengalami perubahan.  Kunstkring berfungsi sebagai pusat seni berlangsung hingga tahun 1936. Ia sempat digunakan sebagai kantor pusat Madjlis Islam Alaa Indonesia (1942-1945) dan kemudian menjadi Kantor Imigrasi Jakarta Pusat (1950-1997), sebelum kemudian terkena ruilslag lalu berpindah kepemilikan ke tangan swasta.
Saat pengalihan status ini, gedung ini sempat terbengkelai dan dijarah, lalu kembali dipugar dan diresmikan pada tahun 2007. Kemudian gedung ini pernah menjadi Budha Bar yang namanya sempat menjadi kontroversi dan diprotes oleh umat Buddha.
Sejak April 2013, bangunan legendaris Bataviasche Kunstkring ini telah dibuka kembali dengan nama Tugu Kunstkring Paleis, dan dibawa kembali ke kehidupan awalnya menjadi gedung seni yang cantik oleh Tugu Hotels & Restaurant Group. Tanpa mengubah keindahan arsitekturnya, pengelola menyegarkan suasana dalam gedung melalui interior klasik yang megah dan mengisinya dengan koleksi karya seni yang indah. Hal ini untuk menciptakan suasana yang selaras dengan tujuan didirikan Tugu Kunstkring Paleis ini, yaitu seni, jiwa, dan romansa Indonesia.
Kini, Tugu Kunstkring Paleis mampu menghadirikan gelaran pameran seni serta acara-acara lain dengan apresiasi yang tinggi terhadap keindahan seni dan sejarah. Gedung ini mampu menyelenggarakan acara dengan kapasitas hingga 1.000 orang yang dilengkapi shop. Tak hanya itu, pengunjung bisa menikmati masakan di restoran yang menempati lounge yang elegan, bread corner maupun tea house. *** [060412]

0 komentar:

Posting Komentar