Jumat, 15 April 2016

Pabrik Gula Soedhono Ngawi

Pernahkan Anda naik bus ekonomi dari Surabaya menuju Solo? Rutenya tidak akan lewat Karangjati, melainkan lewat Maospati. Ketika perjalanan bus sudah melewati Maospati menuju Ngawi, Anda bisa menyaksikan pabrik gula peninggalan kolonial Belanda.
Tepat wilayah perbatasan antara Magetan dan Ngawi, Anda akan menyaksikan perempatan kecil yang di sudut barat laut terdapat pajangan lokomotif lori. Di situlah, Anda akan bisa membaca papan nama penunjuk arah Pabrik Gula (PG) Soedhono ke arah barat dari situ. Pabrik gula ini terletak di Jalan PG Soedhono, Desa Tepas, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pabrik gula ini berada di sebelah utara Stasiun Kereta Api Geneng. Pabrik gula ini berbatasan dengan Desa Tempuran di sebelah utara, dengan Desa Tambakromo di sebelah selatan, dengan Desa Sambirobyong di sebelah timur, dan dengan Desa Satrean di sebelah barat.
Berdasarkan catatan dari Dorrepal & Co. di Semarang, selaku kantor asuransi penjamin PG Soedhono, diterangkan bahwa pabrik gula ini didirikan pada 1 Maret 1888 oleh perusahaan Verenigde Vorsendsche Cultuur Maatschappij yang berkantor pusat di Semarang.


Pada awal berdiri, pengelolaan pabrik gula ini masih mengekor sebuah perusahaan Belanda yang memiliki pabrik gula Kali Bagor di Banyumas (Jawa Tengah). Hanya terkadang kalau pas menemui masalah yang sedikit agak pelik dalam pengelolaannya, permasalahannya akan di bawa ke kantor induknya yang berada di Semarang. Namun, seiring perkembangannya akhirnya pabrik gula mulai melakukan produksi gula sendiri pada tahun 1924 dan sekaligus membentuk perusahaan sendiri yang diberi nama Suikerfabriek Soedhono van de Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden bij Ngawi, atau yang kemudian dikenal dengan PG Soedhono saja.
Pada waktu Jepang menduduki Hindia Belanda, PG Soedhono ini sempat diambil alih oleh pasukan Jepang. Tapi setelah Indonesia merdeka, semua aset pabrik gula ini direbut oleh pejuang Indonesia dari cengkeraman pasukan Jepang, dan kemudian difungsikan kembali sebagai PG Soedono, yang mengolah tebu menjadi gula pasir.
Ketika Belanda berusaha kembali untuk menjajah Indonesia lagi pada tahun 1949, pabrik gula ini menjadi rebutan antara pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dengan para pejuang Indonesia. Merasa kalah dalam persenjataan, pejuang Indonesia akhirnya membumihanguskan pabrik gula tersebut agar tidak digunakan oleh Belanda lagi.
Pada 1951, pabrik gula ini dibangun kembali dan kemudian mulai beroperasi untuk memproduksi gula lagi yang dipimpin oleh Keyman. Selang tiga tahun, Keyman digantikan oleh Leyssius. Setelah terjadi perlawanan dari pejuang Indonesia secara gerilya dan terus menerus, akhirnya memaksa Belanda untuk hengkang dari Indonesia. Aset prabik gula ini akhirnya dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia.


Pada 10 Desember 1957 dilakukan beberapa perombakan kepengurusan. Direksi sebagai pimpinan tertinggi Perusahaan Negara (PN) yang berpusat di Jakarta melakukan perubahan struktur organisasi perkebunan dari sentralisasi menjadi desentralisasi dan status PG Soedhono menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN). Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1/1962 dan Nomor 2/1962 tentang Perusahaan Negara (PN) maka PG Soedhono berubah dari PPN menjadi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP). Pada perubahan ini kepemimpinan PG Soedhono dipegang oleh Doeri Djogowirono.
Terus secara berturut-turut terjadi pergantian kepemimpinan pabrik gula ini. Pada 1969 pimpinan pabrik gula ini dipegang oleh R. Soenjoto Reksodimuljo, lalu pada 1973 Pamujo, BSc menjadi Direktur PG Soedhono, dan kemudian pada 1977 R. Pangesoe dipercaya sebagai Kepala PG Soedhono.
Pada 2 Mei 1981 berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1972 (Lembaran Negara RI Nomor 7 Tahun 1972) yang menetapkan pengalihan bentuk PNP XX menjadi Persero, sehingga terjadi perubahan status dari PN menjadi Persero PTP XX (Perseroan Terrbatas Perkebunan). Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Pengesahan dari Menteri Kehakiman RI Nomor C2-7749-HT-01-01 Tahun 1983, telah disahkan berdirinya PTP XX menjadi badan hukum untuk waktu 75 tahun terhitung sejak tanggal 3 Desember 1983. Pada saat perubahan ini, kepemimpinan pabrik gula dipegang oleh R. Soebono yang menggantikan R. Soekartiko.
Dalam Surat Edaran Nomor XX-SURED/96.001, dengan berdasar pada PP Nomor 16/1996 tanggal 14 Februari 1996 maka PTP XX dan PTP XXIV-XXV (Persero) telah dibubarkan dan tanggal 11 Maret 1996 dibentuk perusahaan baru dengan nama PTP Nusantara XI (Persero) dengan alamat di Jalan Merak 1 Surabaya.
PG Soedhono memiliki luas tanah dan bangunan pabrik sekitar 5.000 m² yang terdiri dari luas bangunan industri dan fasilitas lain sebesar 3.500 m² dan luas tanah yang tidak tertutup sebesar 1.500 m². Dari luas tersebut, PG Soedhono masih bisa mengoperasikan pabriknya hingga sekarang bahkan bisa meningkat. Selain menghasilkan gula pasir sebagai hasil utama, juga menghasilkan hasil sampingan berupa tetes tebu, ampas tebu, blotong, dan abu ketel. Tetes tebu dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan Monosodium glutamat (MSG) dan dalam pengolahan tetes tebu ini PG Soedhono bekerja sama dengan berapa pabrik pembuat MSG yaitu Cil Cedang, Ajinomoto, dan Sasa. Ampas tebu diolah menjadi bahan bakar mesin yang digunakan untuk proses produksi gula pasir. Blotong dan abu ketel dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan pupuk kompos yang dikelola oleh koperasi karyawan. *** [040715]

Kepustakaan:
Nita Dwi Kartika Sari, 2012. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Bebu dalam Pembuatan Gula Pasir di Pabrik Gula Soedhono Kabupaten Ngawi, dalam Skripsi di FU UNS
http://www.albert-gieseler.de/dampf_de/firmen8/firmadet83995.shtml
http://www.ptpn-11.com/pg-soedhono.html

1 komentar: