Jumat, 09 Juni 2017

Masjid Tegalsari Surakarta

Surakarta, atau yang akrab dikenal dengan Kota Solo, memiliki banyak peninggalan bangunan lawas. Bangunan lawas tersebut bisa berbentuk kantor pemerintahan, pasar, rumah sakit maupun tempat peribadatan. Salah satu tempat peribadatan umat Islam yang cukup lama adalah Masjid Tegalsari. Masjid ini terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 34 Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi masjid ini berada di sebelah utara UD Sabar Motor atau sebelah barat daya Universitas Nahdatul Ulama.
Masjid Tegalsari ini didirikan oleh K.H. Ahmad Shofawi. Pembangunannya dimulai pada 28 Oktober 1928, dan selesai pada tahun 1929. Nama lengkap dari K.H. Ahmad Shofawi adalah K.H. Ahmad Shofawi bin Akram bin Ikram bin Thohir. Pria kelahiran 1879 di Kota Solo ini dikenal sebagai seorang saudagar batik Laweyan yang cukup kaya, dan dikenal akan kedermawanannya. Ia juga sangat wira’i, cermat, dan berhati-hati dalam menjalankan syariat, tawadhu’ dan rendah hati.


Dengan kekayaan yang dimiliki, K.H. Ahmad Shofawi banyak membantu berbagai macam pihak. Ia turut membantu pembangunan sarana dan prasarana pesantren, di antaranya menyumbangkan tanah seluas 3.500 m² untuk membangun pesantren, madrasah, dan Masjid Al-Muayyad Mangkuyudan, donasi kayu jati untuk masjid di Pesantren Krapyak Yogyakarta, dan Pesantren Sarang, Rembang. Konon, Pesantren Gontor Ponorogo juga memperoleh donasi dari K.H. Ahmad Shofawi kepada tiga utusan Kiai Zarkasyi ketika berada di Solo.
Selain itu, K.H. Ahmad Shofawi juga membantu kegiatan organisasi Sarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh K.H. Samanhudi pada tahun 1911. Ia juga membantu para pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam barisan Sabililah maupun Hisbullah, dengan menyediakan berbagai keperluan yang dibutuhkan oleh para pejuang.


Masjid Tegalsari memiliki luas bangunan sebesar 357 m² dengan panjang 21 m dan lebar 17 meter, yang berdiri di atas lahan seluas 2.000 m². Gaya arsitektur yang dimiliki oleh masjid ini menyerupai corak Masjid Demak dan Masjid AgungKasunanan Surakarta. Desain masjid ini dirancang oleh Prof. K.H. Raden Muhammad Adnan. Nama lain Muhammad Adnan semasa kecilnya adalah Muhammad Shauman. Ia lahir di Kauman, Solo pada 16 Mei 1889. Ayahnya bernama Kanjeng Raden Penghulu Tafsir Anom V, seorang ulama bangsawan sebagai abdi dalem (pegawai) Kraton Kasunanan yang berhubungan dengan masalah keagamaan. Muhammad Adnan menikah dengan Siti Maimunah, putri kedua dari K.H. Ahmad Shofawi. Sehingga, sang arsitek masjid ini tidak lain adalah juga menantu dari pendiri masjid tersebut, yaitu K.H. Ahmad Shofawi.
Seperti arsitektur masjid-masjid zaman dahulu, Masjid Tegalsari ini mempunyai bangunan atau ruang utama, serambi kanan dan serambi kiri. Di ruangan utama masjid ini terdapat 4 pilar atau saka guru yang terbuat dari kayu jati. Serambi kanan yang berada di sebelah utara disebut pawastren. Keberadaan pawastren ini merupakan permintaan mendiang Hj. Shofawi untuk dibuatkan ruang khusus bagi jamaah putri untuk melaksanakan i’tikaf dan shalat berjamaah.


Lantai pada ruang utama dan pawastren menggunakan batu marmer, untuk dijadikan pembatas dengan bagian ruangan lainnya. Sedangkan di serambi di sebelah kiri tidak memiliki lantai marmer, dan digunakan sebagai ruang yang ada bencetnya. Bencet tersebut merupakan jam matahari yang umurnya sepadan dengan umur Masjid Tegalsari. Bencet ini dibuat oleh K.H. Achmad Al-Asy’ari yang merupakan ulama Tegalsari yang mahir dalam ilmu falak pada masanya.
Selain bangunan masjid, di lingkungan Masjid Tegalsari ini juga terdapat kolam, jedhing dan bedug. Kolam air dibuat di sekeliling masjid yang saling berhubungan satu sama lain sehingga air yang tertampung sangat banyak dan memenuhi syarat untuk mensucikan. Fungsi dari kolam ini adalah untuk mensucikan orang-orang yang hendak memasuki bangunan masjid.
Pada sebelah selatan masjid, terdapat tempat wudlu berupa kolam besar seperti bak kamar mandi yang lumayan besar dengan panjang 5 m. lebar 3,5 m, dan tinggi 0,7 m. Tempat ini biasa disebut dengan jedhing. Jedhing ini memiliki atap berbentuk bangunan joglo yang terbuat dari kayu jati.
Bedug yang dimiliki Masjid Tegalsari ini merupakan bedug terbesar kedua setelah bedug yang berada di Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo. Bedugnya terbuat dari satu kayu utuh yang sangat besar. Bedug ini ini memiliki ukuran panjang 170 cm, diameter tengah 148 cm dan diameter kanan dan kiri 127 cm. Penggunaan bedug sebagai pembantu dalam memperingati masuknya waktu shalat yang dilakukan di masjid tersebut.
Pada tahun 1986, di lingkungan bangunan Masjid Tegalsari didirikan Lembaga Pendidikan Takmir Islam yang cukup ternama di wilayah Kota Solo, yang dikelola oleh alumnus Pesantren Modern Gontor dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lembaga inilah yang kemudian membawahi satuan pendidikan, mulai dari SD hingga SMA dengan nama Ta’mirul Islam. *** [010814]

Kepustakaan:
Bashori, Tri Hasan. (2014). Akurasi Bencet Masjid Tegalsari Laweyan Surakarta Sebagai Petunjuk Waktu Hakiki. Skripsi di Fakultas Syariah, IAIN Walisongo.
http://duniamasjid.islamic-center.or.id/1089/masjid-jami-tegalsari-surakarta/
http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/16/02/14/o2j7ic1-ahmad-shofawi-pebisnis-yang-berjuang-untuk-umat

0 komentar:

Posting Komentar