The Story of Indonesian Heritage

Masjid Sultan: Ketika Usia Tua Tetap Keren

Muscat itself is a mixture of impersonal modern buildings, shopping malls, mosques, traditional souks, tarmac and sand.” -- Fiona Bruce

Setelah menelusuri lorong waktu di Niu Che Shui dan meresapi kisah perjuangan di Chinatown Heritage Centre (CHC), rombongan Free Singapore Tour diajak pemandu untuk beralih ke sebuah tempat lain yang memancarkan pesona berbeda, yaitu Kampong Glam.

Kawasan ini adalah jantung historis komunitas Muslim Singapura. Seperti dijelaskan Katyana Melic (2018), nama "Glam" diambil dari pohon gelam yang dahulu mendominasi daerah ini. Perkembangan pesat menyusul pembangunan Victoria Street dan North Bridge Road, menarik gelombang imigran dari Malaya, Indonesia, dan dunia Arab. 

Fasad Masjid Sultan di Kampong Glam, Singapura

Kampong Glam pun berkembang menjadi mosaik hidup yang dihiasi landmark seperti Istana Kampong Glam, Sekolah Arab Alsagoff, dan tentu saja, sang magnet utama, yaitu sebuah masjid bernama Masjid Sultan.

Berada di Jalan Muscat No. 3, masjid ini menyimpan narasi panjang yang dimulai pada 1824. Atas perintah Sultan Hussein Mohamed Shah (1776-1835), sultan terakhir Johor-Riau-Lingga, berdirilah sebuah bangunan sederhana beratap genteng tiga tingkat. Namun, wajahnya yang kita kenal sekarang adalah mahakarya kebangkitan. Dirancang oleh Denis Santry dari firma Swan & Maclaren dan selesai pada 1932. 

Masjid ini adalah simbol ambisi dan inklusivitas. Kubah emasnya yang ikonik, berdasarikan botol-botol kaca yang disumbangkan umat Muslim dari segala lapisan ekonomi, merupakan metafora indah, yakni kontribusi setiap individu, sekecil apa pun, mampu membangun sesuatu yang agung dan abadi.

Pondasi menara sudut Masjid

Ditetapkan sebagai monumen nasional pada 1975, Masjid Sultan bukan sekadar bangunan tua yang diam. Ia adalah entitas yang hidup dan terus "keren" menjalani usianya yang hampir dua abad. Gaya arsitektur Indo-Saracenic-nya yang megah, dengan kubah, menara, dan detail kaligrafi yang memukau, menciptakan atmosfer Islami yang kuat di sekitarnya. 

Untuk mencapainya, pengunjung akan melewati Jalan Bussorah yang instagenik, dihiasi deretan rumah Muslim dua lantai yang kini berfungsi sebagai kafe dan butik, dikelilingi ruko-ruko yang berjejal. 

Seperti diungkapkan oleh Fiona Elizabeth Bruce, seorang jurnalis, pembaca berita, dan presenter televise Inggris:

"Muscat sendiri merupakan perpaduan antara bangunan modern yang impersonal, pusat perbelanjaan, masjid, pasar tradisional, jalan beraspal, dan pasar." 

Kubah masjid dilihat dari Bussorah Street

Di situlah keunikan Masjid Sultan! Ia berdiri kokoh dan anggun sebagai poros spiritual dan budaya di tengah gegap gempitanya kehidupan urban yang terus berubah.

Fungsinya pun melampaui rumah ibadah. Ia adalah pusat komunitas, tempat berkumpul, dan penjaga warisan. Sebagai magnet wisatawan, masjid ini aktif menawarkan tur berpemandu dan pameran, yang tidak hanya memperkaya pengalaman pengunjung tentang warisan Muslim Singapura, tetapi juga menjadi sumber pendapatan untuk pemeliharaannya. 

Komitmen untuk merawat warisan ini diakui secara nasional ketika Masjid Sultan memenangkan kategori Restorasi dalam Penghargaan Warisan Arsitektur dari Otoritas Pengembangan Kota (Urban Redevelopment Authority/URA) pada 2016. Penghargaan ini mengapresiasi upaya pemugaran yang sensitif, memastikan setiap perbaikan tetap menghormati jiwa asli bangunan.

Lepak Sultan di ujung Bussorah Street

Masjid Sultan membuktikan bahwa usia tua bukanlah halangan untuk tetap relevan dan memesona. Dari rumah ibadah sederhana, ia bertransformasi menjadi monumen nasional yang megah, lalu menjadi pusat budaya yang dinamis, dan kini menjadi simbol abadi dari identitas multikultural Singapura yang inklusif. 

Di bawah kubah emasnya yang bersinar, tersimpan cerita tentang iman, komunitas, dan ketangguhan sebuah bangunan yang, meski berusia tua, tetap sangat, sangat keren. *** [060126]

Kepustakaan:

Abd Rahman, N.-A. (2018, September). Sultan Hussein Shah. National Library and Archives Board. https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=efee956c-23b4-46b2-8ff5-1e1c0b366210

Dr. Daniel CF Ng. (2024, October 27). The Sultan Mosque: A Historic Landmark with Modern Relevance. Linkedin. https://www.linkedin.com/pulse/sultan-mosque-historic-landmark-modern-relevance-daniel-cf-ng-%E4%BC%8D%E9%95%BF%E8%BE%89-hcuec/

Lou, E. (1985). CONSERVING THE ETHNIC ENCLAVE: THE CASE OF KAMPONG GLAM IN SINGAPORE (pp. 1–213) [Master of City Planning and Master of Science in Architecture Studies at the Massachusetts Institute of Technology]. https://share.google/QWdEPHj5SHH9isEjE

Melic, K. (2018, January). When Old is Also Hip. URBAN SOLUTIONS. https://isomer-user-content.by.gov.sg/50/aeb1d6c5-4889-4f13-818d-74d5d35d5364/case_study-sg-kampong-glam.pdf

Zachariah, N. A. (2016, October 06). Kampong Glam’s Sultan Mosque bags heritage design award. The Straits Times. https://www.straitstimes.com/lifestyle/home-design/kampong-glams-sultan-mosque-bags-heritage-design-award

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami