The Story of Indonesian Heritage

Sri Mariamman Temple: Jejak Dewi Hujan di Jantung Chinatown Singapura

Kuil Sri Mariamman (Sri Mariamman Temple) di 244 South Bridge Road, Chinatown, Singapura (Foto: Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A./14 Desember 2025)

Begitu bus wisata bandara melambat dan berhenti di jantung kawasan Chinatown, Singapura, suasana Ahad pagi (14/12/2025) terasa berbeda. Peserta Free Singapore Tour turun satu per satu, lalu berjalan kaki mengikuti pemandu menuju Chinatown Heritage Centre. Di tengah hiruk-pikuk persimpangan dan derap langkah wisatawan, sebuah bangunan penuh warna tiba-tiba menarik perhatian peserta.

Saat di persimpangan lampu lalu lintas, Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A. - atau akrab disapa Pak Nino, sosiolog Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) - mengangkat kamera. Bidikannya tertuju pada sebuah kuil yang berdiri anggun tak jauh dari Jamae (Chulia) Mosque. Di antara masjid dan ruko-ruko tua Chinatown, bangunan itu seolah menjadi penanda bisu tentang lapisan sejarah Singapura yang majemuk.

“Ini Sri Mariamman Temple,” ujar sang pemandu, perempuan paruh baya dengan suara mantap. “Kuil Hindu tertua di Singapura.”


Kuil Tertua dan Jejak Awal Singapura

Sri Mariamman Temple, atau dahulu dikenal sebagai Mariamman Kovil atau Kling Street Temple, didirikan pada tahun 1827. Usianya nyaris setua Singapura modern. Kuil ini dibangun sebagai tempat ibadah bagi para imigran India Selatan, khususnya dari distrik Nagapattinam dan Cuddalore, yang datang mencari penghidupan di pelabuhan baru ciptaan Stamford Raffles.

Awalnya, bangunan kuil hanyalah struktur sederhana dari kayu beratap jerami di South Bridge Road. Namun di sanalah sebuah patung kecil Dewi Mariamman - dikenal sebagai Sinna Amman - dipasang oleh pendirinya, Naraina Pillai. Menariknya, patung kecil tersebut masih tersimpan hingga kini di ruang suci utama kuil, menjadi penghubung nyata antara masa lalu dan masa kini.

Naraina Pillai sendiri adalah figur penting dalam sejarah awal Singapura. Ia tiba pada Mei 1819 bersama Sir Thomas Stamford Raffles, meninggalkan Penang karena terpikat visi besar tentang Singapura. Kariernya berliku, mulai dari kepala juru tulis pemeriksa koin di perbendaharaan kolonial, hingga akhirnya diberhentikan. Namun nasib membawanya menjadi kontraktor bangunan pertama di Singapura - dan namanya pun tercatat sebagai pendiri Kuil Sri Mariamman.


Dari Bangunan Sederhana ke Mahakarya Dravida

Seiring waktu, kuil ini berkembang. Pada 1843, bangunan dari plester dan batu bata didirikan. Lebih dari satu abad kemudian, tepatnya pada 1962, struktur kuil diperbarui secara menyeluruh dengan ukiran rumit yang mencerminkan arsitektur kuil India Selatan. Gopuram, yakni menara gerbang utama, yang semula polos dan dibangun pada akhir abad ke-19, direkonstruksi pada 1930-an dan diperkaya detail pahatan pada 1960-an.

Kini, gopuram lima lantai menjadi ciri paling mencolok. Setiap tingkatnya mengecil ke atas, menciptakan ilusi ketinggian yang megah. Relief dewa-dewi Hindu, binatang mitologis, dan tokoh budaya menghiasi permukaannya. Konon, seluruh pahatan itu dikerjakan oleh pengrajin terampil yang didatangkan langsung dari Nagapattinam dan Cuddalore - daerah asal komunitas Tamil yang membangun kuil ini.

Ungkapan arsitek modern berkebangsaan Jerman, Ludwig Mies van der Rohe (1886-1969), terasa relevan di sini: “God is in the details.” Dewa memang hadir dalam rincian - dalam setiap pahatan, warna, dan proporsi yang menjadikan Sri Mariamman Temple bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan karya seni spiritual.


Pusat Ibadah, Perlindungan, dan Komunitas

Lebih dari fungsi religius, Kuil Sri Mariamman pernah menjadi tempat berlindung bagi para imigran baru di masa kolonial. Di sinilah mereka mencari dukungan sosial, spiritual, bahkan legal. Pada masa ketika hanya kuil yang berwenang mengesahkan pernikahan Hindu, Sri Mariamman Temple berperan sebagai Kantor Pencatatan Pernikahan umat Hindu di Singapura.

Denah kuil mengikuti pakem arsitektur Dravida, yang umumnya terdiri dari ruang suci para dewa, aula utama bagi pemuja, dan menara gerbang sebagai transisi sakral dari dunia luar. Bagian-bagian inti, seperti dinding luar, kubah, dan tempat suci, berasal dari 1840-an, sementara serambi penghubung ditambahkan pada 1916. Semua elemen ini menjadikan kuil tersebut sebagai arsip hidup perjalanan komunitas Hindu di Singapura.


Dewi Hujan dan Harapan Manusia

Nama Sri Mariamman berakar jauh di India Selatan. Dalam tradisi Tamil Nadu dan Karnataka, pemujaan terhadap Dewi Mariamman diyakini lebih tua dari agama Hindu Weda itu sendiri, hal ini mungkin telah berusia lebih dari 4.000 tahun. “Mari” berarti hujan, dan “Amman” berarti ibu. Ia adalah Dewi Ibu Hujan, pemberi kesuburan tanah dan manusia.

Dalam masyarakat desa kuno, Mariamman juga menjadi pelindung dari wabah penyakit seperti cacar dan campak, penyakit yang dahulu sangat ditakuti. Hingga kini, perempuan hamil masih mempersembahkan gelang kaca sebagai doa untuk persalinan yang selamat. Tradisi-tradisi itu menyeberang laut bersama para perantau Tamil dan berlabuh di Singapura, di dalam dinding Kuil Sri Mariamman.


Warisan di Tengah Kota Modern

Di tengah gedung-gedung modern dan lalu lintas Chinatown, Kuil Sri Mariamman berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah, migrasi, dan keyakinan. Ia bukan hanya tujuan wisata religi, tetapi juga penanda bahwa Singapura dibangun dari perjumpaan banyak budaya.

Bagi Pak Nino, satu jepretan kamera di persimpangan lampu merah itu menangkap lebih dari sekadar bangunan. Ia merekam kisah tentang iman, detail arsitektur, dan sejarah panjang yang menyatu, merupaka sebuah fitur perjalanan yang mengingatkan bahwa di kota modern sekalipun, jejak masa lalu tetap hidup, berwarna, dan bermakna. *** [210126]


Kepustakaan:

BIMsmith. (2021, January 07). Top Architecture Quotes (2021) - Quotes about Architecture from Famous Architects. Bimsmith. https://blog.bimsmith.com/Top-Architecture-Quotes-2021-Quotes-about-Architecture-from-Famous-Architects

Hindu Endowments Board. (n.d.). Sri Mariamman Temple. Sri Mariamman Temple. Retrieved January 20, 2026, from https://heb.org.sg/smt/

Sri Mariamman Temple. (n.d.). Temple History. Sri Mariamman Temple; Hindu Endowments Board. Retrieved January 19, 2026, from https://smt.org.sg/HEB/Template3/history

Storytrails. (n.d.). Mariamman: The Village Goddess Who Travelled - Storytrails. Storytrails. Retrieved January 19, 2026, from https://storytrails.in/culture/mariamman-the-village-goddess-who-travelled/

Tan, B. (n.d.). Naraina Pillai. National Library and Archives Board. Retrieved January 19, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=e751791b-cc41-4eb2-abb8-ff5b43b46ff9

Taskos, N. (2020, May 13). Sri Mariamman Temple. Atlas Obscura. https://www.atlasobscura.com/places/sri-mariamman-temple



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami