Jumat, 24 Januari 2014

Rumah Sakit Darmo Surabaya

Kawasan Darmo merupakan kawasan strategis yang berada di tengah Kota Surabaya, dan dapat dengan mudah diakses dari berbagai penjuru kota. Tempo dulu, kawasan ini dikenal dengan istilah Bovenstad atau Kota Atas, karena kawasan tersebut tergolong bebas banjir. Di kawasan Darmo dilalui oleh Jalan Raya Darmo atau dulu disebut dengan istilah Darmo Boulevard, yang membentang dari depan Soerabaiasche Dierentuin atau Kebun Binatang Surabaya hingga perempatan Tamarindelaan (sekarang Jalan Pandegiling).
Zaman dulu, kawasan Darmo memang merupakan kawasan elite. Banyak bangunan dan perumahan megah didirikan di kawasan tersebut. Salah satunya yang masih bisa disaksikan sampai sekarang adalah Darmo Ziekenhuis atau sekarang dikenal dengan nama Rumah Sakit Darmo.


Rumah Sakit (RS) Darmo terletak di Jalan Raya Darmo No. 90 Kelurahan Dr. Sutomo, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasinya tidak begitu jauh dengan Taman atau Makam Bungkul.
Bangunan RS Darmo didirikan pada 15 Januari 1921. Peletakkan batu pertama dilakukan oleh G. Mejuffr Hempenius, Direktris SZV. SZV merupakan singkatan dari Surabajasche Zieken Verpleging, sebuah perkumpulan sosial untuk pelayanan kesehatan yang didirikan pada 9 Juni 1897 dan dipimpin seorang dokter Belanda bernama HJ Offerhaus, dan rancangan gedungnya dipercayakan kepada G.C.  Citroen, seorang arsitek kenamaan yang banyak menciptakan gedung-gedung terkenal di Surabaya kala itu. RS Darmo pada waktu dibangun mendapat pengaruh arsitektur Modern Fungsional dengan elemen Art Deco. Arsitektur Modern Fungsional pada waktu itu memang sedang berkembang (1910-1940), gaya arsitektur ini lebih diminati para arsitek yang berada di Hindia Belanda karena lebih mengutamakan fungsi, keindahan timbul semata-mata oleh adanya fungsi dari elemen-elemen bangunannya. Aspek keindahan tidak lagi dikaitkan dengan adanya dekor atau ornamen dan bagian-bagian bangunan yang semata-mata untuk memperindah bangunan seperti misalnya menara tinggi, ornamen, patung, dan lain-lain yang tidak memiliki fungsi.


Menara yang berada pada jalan masuk utama RS Darmo menyerupai menara pada gereja-gereja Calvinist di Belanda. Menara yang terbuat dari kayu berada di puncak gevel dengan penangkal petir di atasnya. Di bawahnya terdapat logo RS Darmo yang disertai lengkungan bertuliskan “Salus Aegroti Suprema Lex Est”, yang maknanya adalah menyelamatkan  penderita adalah kewajiban utama. Dindingnya diplester dan dicat dengan warna putih. Pintu masuk utama (main entrance) memiliki pintu rangkap dua, dan di belakangnya membentuk lorong-lorong entrance menuju bangunan tengah rumah sakit. Bentuk dari lorong ini bersekat-sekata dengan bentuk melengkung setengah lingkaran pada bagian atasnya, yang berfungsi sebagai isolasi panas dan sinar matahari. Citroen berusaha menghilangkan citra bangunan kolonial yang berkesan mewah dan banyak hiasan atau ornamen dengan bangunan arsitektur modern yang lebih menekankan pada fungsi.


Pada masa perang, RS Darmo pernah menjadi pusat interniran tawanan Eropa pada saat pendudukan Jepang. Hal ini diabadikan dalam bentuk tugu prasasti yang diletakkan di taman bagian depan RS Darmo. Dalam tugu tersebut tertulis “The Japanese used this hospital as the centre of the women and children internees. Liutenant Colonel Rendall and his troops toke it over. They fired at a passing truck with vouth in it on October 27, 1945 and that started the first clash of October 28-30, 1945” (Gedung ini oleh Jepang dipakai sebagai kamp interniran anak-anak dan wanita. Pasukan Sekutu datang, kamp diambilalih oleh Letnan Kolonel Rendall. Sebuah truk pemuda Sulawesi lewat pada tanggal 27 Oktober 1945 ditembaki oleh mereka dan itulah permulaan pertempuran tiga hari, 28-30 October 1945).
RS Darmo ini tergolong bangunan yang heritagenya tetap terjaga dengan taman yang menghijau, sehingga tampak tetap asri, dan melegakan. Kini, RS Darmo menjadi landmark kawasan Jalan Raya Darmo karena kekhasan arsitektur yang dimilikinya, dan telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang harus dilindungan dan dilestarikan seperti yang tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya Nomor 188.45/251/402.1.04/1996 dengan nomor urut 12. *** [190114]

Kepustakaan:
Handinoto, 1996, Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870-1940, Yogyakarta: Andi
Sumalyo, Yulianto, 1997, Arsitektur Modern Abad XIX dan Abad XX, Yogyakarta: Gajah Mada University

1 komentar: