Senin, 26 Januari 2015

Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof. dr. Soeroyo merupakan Rumah Sakit Jiwa terbesar dan tertua di Jawa Tengah. RSJ ini menjadi Pusat Rujukan Nasional di bidang kesehatan jiwa dengan pelayanan unggulan Tumbuh Kembang Anak.
RSJ Prof. dr. Soeroyo terletak di Jalan Ahmad Yani No. 169 Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi RSJ ini berjarak 4 Km dari pusat Kota Magelang ke arah utara, dan berada di tepi jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta dengan Semarang.
Menurut sejarahnya, Rumah Sakit Jiwa ini dibangun pada tahun 1916. Ir. Scholtens membangun Rumah Sakit Jiwa ini membutuhkah waktu 7 tahun lamanya sambil meyakinkan Pemerintah Hindia Belanda akan keberadaan rumah sakit ini karena memang pada waktu pendirian rumah sakit ini tidak seperti biasanya, yaitu menunggu sampai seluruh bangunan selesai. Setiap bangsal yang selesai segera dihuni. Hal ini disebabkan karena datanngnya pasien yang terus-menerus dari berbagai daerah. Bahkan ada yang dikirim dari Rumah Sakit Jiwa Lawang dan Bogor (Krankzinnigengestich te Buitenzorg) yang keduanya sudah didirikan jauh sebelumnya, sehingga terasa sekali kurangnya ruangan bagi mereka. Menurut rencana, seluruh bangunan rumah sakit harus sudah selesai pertengahan tahun 1923. Untuk mencapai target tersebut, para pasien dikerahkan, seperti untuk menggali tanah dan mengangkat batu secara estafet dari Kali Progo. Dapat dikatakan, cara membangun rumah sakit ini seperti para transmigran yang harus membuka lahan dan sebagainya terlebih dahulu. Kala itu, yang diutamakan adalah pembangunan jalan dan bangsal.


Sumbangsih para pasien dalam pembangunan rumah sakit ini memang relatif cukup besar, namun dari segi medis mereka agak termarginalkan karena dengan cara pengerahan pasien seperti itu, terapi yang diterapkan hanya terapi kerja massal. Beberapa tahun kemudian, setelah pembangunan sudah dianggap selesai dan memadai, barulah diterapkan kerja individual. Tetapi jenis ini, waktu itu merupakan pertama kalinya diterapkan di Hindia Belanda oleh dr. J.C. Van Andel. Peresmian bangunan walaupun belum sepenuhnya selesai akhirnya dilaksanakan juga oleh direktur pertama rumah sakit tersebut, yaitu dr. Engelhard pada pertengahan tahun 1923, dan diberi nama Krankzinningengistcht te Magelang (Rumah Sakit Jiwa Magelang). Pasiennya waktu itu sudah lebih dari 1.400 orang dengan tenaga kerja yang terdiri orang-orang Belanda. Rumah sakit ini juga sempat dikunjungi oleh psikiater ternama Kraeplin.
Pada waktu itu, RSJ Magelang dikenal juga dengan sebutan Krankzinningengistcht Kramat. Dinamakan Kramat karena di daerah ini terdapat makam Kyai Ponggol yang dianggap keramat (angker).
Dipilihnya Magelang kala itu untuk lokasi rumah sakit ini didasarkan akan keindahan dan kesuburan daerah tersebut serta sejuk, yang dikelilingi gunung Merapi, Merbabu, Andong, dan Telomoyo di sebelah timur, Ungaran di sebelah utara, Sumbing, Sindoro serta Menoreh di sebelah barat dan bukit Tidar di sebelah selatan.
Sepanjang berdirinya, rumah sakit ini cukup banyak mengalami pasang surut dalam perjalanannya.
Ketika Jepang menduduki Magelang, semua tenaga kerja rumah sakit ini yang orang Belanda termasuk direkturnya dr. P.J. Stigter, ditahan oleh tentara Jepang sehingga terjadi kekosongan yang melumpuhkan pengelolaan rumah sakit tersebut. Sebelum diangkat dr. Soeroyo oleh Jepang menjadi pimpinan rumah sakit tersebut.


Rumah sakit ini juga pernah menjadi Pos PMI Cabang Magelang Utara pada saat terjadi pendudukan kembali oleh Belanda (NICA), dan rumah direktur digunakan sebagai markas TKR pada waktu pertempuran di Secang maupun Ambarawa. Kemudian, sempat juga menjadi asrama ALRI maupun tempat penampungan keluarga Kereta Api. Selain itu, rumah sakit ini juga pernah dijadikan Kantor  Hygiene.
Lalu, sejak ada Repelita, keadaan rumah sakit ini mulai berangsur-angsur membaik praktis di segala bidang setelah sekian lama dalam ketelantaran pengelolaan. Pada tahun 1978, rumah sakit ini ditetapkan oleh Pemerintah sebagai RSJ Pusat Magelang kelas A dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan RI No. 135/Menkes/SK/IV/1978. Sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Departemen Kesehatan (sekarang Kementerian Kesehatan), RSJ Magelang ini mempunyai tugas menyelenggarakan dan melaksanakan pelayanan kesehatan, pencegahan gangguan jiwa, pemulihan dan rehabilitasi di bidang kejiwaan.
Pada tanggal 6 April 2001, secara resmi nama Rumah Sakit Jiwa Magelang berubah menjadi Rumah Sakit  Jiwa Prof. dr. Soeroyo berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan No. 1684/Menkes-Kessos/SK/XI/2000. Nama baru ini diambil untuk menghormati dr. Soeroyo selaku direktur bangsa Indonesia pertama RSJ Magelang.
RSJ Prof. dr. Soeroyo yang memiliki lahan seluas 409.450 m² dengan luas bangunan 27.724 m² ini merupakan bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh dan masih terawat dengan baik. Bangunan RSJ ini terdiri dari beberapa bangunan, di antaranya bangunan administrasi, rawat inap, rawat jalan, instalasi, dan ruang lainnya serta lapangan sepak bola. Bangunan lawas yang terdapat di kompleks RSJ Prof. dr. Soeroyo ini, umumnya memiliki jendela-jendela tinggi berbentuk persegi panjang.
RSJ ini tercatat dalam Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 7 Tahun 2013 tentang Cagar Budaya di Kota Magelang sebagai bangunan cagar budaya (BCB). Pada halaman 38 tertulis kawasan Rumah Sakit Jiwa sebagai kawasan rumah sakit dengan dominasi bangunan bercorak Indis dan konteks pengembangannya berbasis lingkungan alam. *** [201214]

Kepustakaan:
Ani Rahmayanti, 2008, Bimbingan Rohani Terhadap Kondisi Mental Pasien (Studi Kasus di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soeroyo Magelang), dalam Skripsi di Jurusan Tasawuf Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin, IAIN Walisongo, Semarang
http://rsjsoerojo.co.id/index.php?action=generic_content.main&id_gc=187

2 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda

    BalasHapus