The Story of Indonesian Heritage

Alun-Alun Kutoarjo

Lebaran ke-4 tahun ini berkesempatan halal bihalal ke rumah teman di Kutoarjo. Teman ini dulunya adalah responden tracking the Work and Iron Status Evaluation (WISE) di Tangerang. Asalnya dari Mudal, Purworejo kemudian menikah dengan seorang gadis asal Senepo Timur, Kutoarjo.
Halal bihalal ini sekaligus silaturahmi dengan istrinya yang kala dilangsungkan pernikahan tidak bisa menghadirinya. Setelah cukup lama bercengkerama dengan keluarga pihak istri, saya pun kemudian diajak berkeliling Kutoarjo, dan kongkow-kongkow di Alun-Alun Kutoarjo. Alun-Alun Kutoarjo ini terletak di Jalan Nasional III atau Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Kutoarjo, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi alun-alun ini berada di sebelah selatan Rumah Dinas Wakil Bupati Purworejo, atau sebelah timur Masjid Jami’ Al-Izhar Kutoarjo.



Pada waktu nongkrong di alun-alun, saya pun menggunakan kesempatan ini untuk memotret alun-alun itu. Menurut sejarahnya, Alun-Alun Kutoarjo selesai dibangun pada tahun 1870 berbarengan dengan pembangunan rumah kediaman yang sekaligus menjadi Kantor Bupati Kutoarjo (sekarang menjadi Rumah Dinas Wakil Bupati Purworejo).
Sebelumnya, Kabupaten Kutoarjo ini berada di Semawung Daleman, dan masih bernama Kadipaten Semawung. Pada masa Bupati Raden Adipati Soerokoesoemo (1845-1859), Kota Kadipaten Semawung dipindahkan dari Desa Semawung ke Desa Senepo, Di tempat baru inilah kemudian Kadipaten Semawung berganti nama menjadi Kabupaten Kutoarjo.



Pada waktu sampai berakhirnya pemerintahan Raden Adipati Soerokoesoemo, pembangunan Kantor Bupati Kutoarjo belum rampung dan dilanjutkan oleh Bupati Raden Adipati Aryo Pringgo Atmodjo sampai tahun 1870 lengkap dengan alun-alunnya. Pada masa Bupati Raden Adipati Aryo Pringgo Atmodjo ini, Kabupaten Kutoarjo dibagi menjadi empat kawedanan, yaitu Kemiri, Pituruh, Ketawang, dan Poerwodadi.
Kala itu, Kabupaten Kutoarjo terbilang lebih maju perdagangannya ketimbang daerah Purworejo. Di Kutoarjo waktu itu banyak pengrajin tenun dan barang pecah belah dari tanah liat, sehingga menjadi daerah perdagangan yang cukup ramai di mana saat itu pedagang Tionghoa berdatangan untuk berdagang di kota ini. Pesatnya perdagangan di Kutoarjo dimulai setelah Pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api yang menghubungkan Yogyakarta-Purwokerto, dan dilanjutkan pembangunan lintas jalan kereta api antara Kutoarjo-Purworejo pada tahun 1887.



Pada tahun 1933, atas perintah Pemerintah Hindia Belanda, Kabupaten Kutoarjo disatukan dengan Kabupaten Purworejo yang saat itu dipimpin oleh Bupati Raden Adipati Aryo Danudiningrat. Nama Purworejo sendiri adalah nama baru sebagai pengganti nama Brengkelan yang termasuk ke dalam wilayah Karesidenan Bagelen. Selain Purworejo, daerah yang masuk ke dalam wilayah Karesidenan Bagelen ini meliputi Kabupaten Kutoarjo, Kabupaten Karangduwur (Kemiri dan Pituruh) dan Kabupaten Ungaran (yang sekarang termasuk daerah Kabupaten Kebumen).
Setelah dilebur menjadi Kabupaten Purworejo, Kutoarjo sempat menjadi kawedanan. Kemudian hirarki kawedanan pun akhirnya dihapus, dan Kutoarjo pun berubah menjadi kecamatan sampai sekarang. Alun-Alun Kutoarjo yang dulunya merupakan bagian dari konsep tata tradisional Jawa bercorak Catur Tunggal ini  pun kini menjadi saksi bisu akan keberadaan pusat pemerintahan Kabupaten Kutoarjo masa silam. *** [180618]

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami