Minggu, 19 April 2015

Gereja Katolik Hati Kudus Banda Aceh

Kendati Aceh mendapat predikat Serambi Mekkah, bukan berarti tidak ada toleransi bagi kehadiran agama lain di Aceh. Kehadiran beragam bangunan ibadah, seperti: vihara dan gereja merupakan salah satu buktinya. Gereja Katolik Hati Kudus yang berdiri megah di Kota Banda Aceh adalah salah satunya.
Gereja  Hati Kudus terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi gereja ini berada di depan Pante Pirak Swalayan di daerah Simpang Lima Peunayong.
Munurut sejarahnya, keberadaan gereja ini berhubungan dengan kehadiran tentara Belanda ke Aceh. Kebutuhan rohani akan pasukan tentara Belanda pada masa pendudukan Belanda di Aceh kala itu, ditugaskanlah Pastor Henricus Christiaan Verbraak SJ ke Tanah Aceh. Sebelumnya, Verbraak tugas pertamanya adalah menjadi misionaris di Padang.
Pada tanggal 29 Juni 1874, Verbraak menginjakkan kaki di Banda Aceh setelah perjalanan dari Padang. Sampai dengan tahun 1877, Verbraak harus tinggal di sebuah gubuk sederhan yang sekaligus menjadi tempat pelayanannya. Gubuk tersebut berada di tanah di pinggir Krueng Aceh yang menjadi bagian istana yang telah dikuasai tentara Belanda, yang disebut Pante Pirak.


Pada awalnya, Pastor Verbraak dengan dibantu para tentara Belanda membangun sebuah kapel dan pastoran sederhana dari kayu dan bambu. Namun, karena daerah tersebut sering dilanda banjir sehingga bangunan itu tidak tahan lama. Penguasa militer saat itu, Van der Heyden, yang mengetahui akan masalah ini memberikan izin untuk mendirikan bangunan yang lebih layak. Dimulailah pembangunan kapel dan pastoran baru yang mulai dilaksanakan pada 5 Februari 1884. Kapel dengan menara tersebut dibangun dari kayu yang berkualitas bagus dan lebih kuat dari sebelumnya. Setahun kemudian, kapel tersebut mulai digunakan pada perayaan Hari Raya Paskah, dan dipimpin langsung oleh Pastor Verbraak. Verbraak sendiri menjadi pimpinan kapel dan pastoran di Banda Aceh sampai dengan 23 Mei 1907. Ia mengundurkan diri karena alasan penglihatan dan sekaligus ingin memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk memimpinnya.
Seiring berjalannya waktu, jumlah jemaat kapel ini semakin bertambah dan beragam. Tidak lagi tentara saja, melainkan masyarakat sipil pribumi dan pegawai pemerintah serta pedagang warga Tionghoa. Daya tampung kapel tersebut sudah tak memenuhi jemaat lagi sehingga perlu dibangun kembali sebuah gereja yang bisa menampung para jemaat tersebut. Lalu, dipugarlah kapel tersebut dan dibangunlah gereja yang lebih luas. Bangunan gereja tersebut akhirnya diresmikan dan digunakan pada 26 September 1926 oleh Pastor Augustinus Huijbregrets dengan nama Gereja Katolik Hadi Kudus.
Gereja tersebut menggunakan gaya arsitektur Neo Klasik Modern yang telah disesuaikan dengan iklim tropis. Gereja tersebut memiliki luas bangunan dengan ukuran 12 x 14 meter dengan ketinggian 12 meter. Di samping itu, Gereja Hati Kudus ini juga dilengkapi dengan menara yang memiliki ketinggian sekitar 22 meter, yang di atasnya terdapat lambang ayam jantan. Sehingga, gereja ini juga mendapat julukan sebagai “Gereja Ayam”.
Di Indonesia, gereja ini menjadi salah satu gereja terindah. Interior pada gereja ini memiliki jendela yang diberi kaca berwarna jenis staned glass dengan lantai keramik warna-warni yang disusun dalam bentuk mozaik. Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa lantai keramik tersebut hingga lonceng gereja semuanya secara khusus didatangkan  dari Negeri Belanda.
Selain tempat peribadatan, dalam kompleks gereja ini juga dilengkapi dengan kantor pengelola yang ada di bagian belakang gereja, sekolah dari jenjang TK hingga SMA, serta tempat suster pengurus gereja. Sampai saat ini pihak gereja belum mengubah sedikitpun bentuk dan gaya arsitektur gereja pada awal mulai berdirinya bangunan ini. Bahkan, ketika Aceh dilanda gempa dan tsunami, gereja ini masih utuh. Hanya ada sedikit perbaikan dan rehabilitasi yang dilakukan. *** [300315]

0 komentar:

Posting Komentar