Selasa, 04 Agustus 2015

Cafe Batavia

Kawasan kota tua di Jakarta menjadi salah satu tempat wisata favorit di Provinsi DKI Jakarta. Banyak deretan bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda menghiasi kawasan tersebut, terutama yang mengitari Taman Fatahillah (Stadhuisplein). Di kawasan kota tua ini terdapat Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Kantor Pos Taman Fatahillah, dan Cafe Batavia.
Cafe ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 14 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi cafe ini di sisi utara Museum Wayang atau di sudut barat laut Taman Fatahillah.
Windoro Adi dalam bukunya Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010) menjelaskan bahwa, Cafe Batavia ini merupakan bangunan tua yang dulunya pernah digunakan sebagai salah satu kantor Pemerintah Hindia Belanda yang dibangun pada tahun 1837, tujuh tahun setelah gedung Balai Kota Pemerintahan Hindia Belanda (sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta) di seberangnya didirikan.


Dalam perjalanannya, bangunan Cafe Batavia ini pernah berganti-ganti kepemilikan. Gedung ini pernah dibeli oleh saudagar Arab. Lalu, tahun 1990 Paul Hassan, orang berkebangsaan Perancis yang menjadi teman dekat mantan Menteri Pendidikan Fuad Hassan, membelinya. Paul menjadikan bangunan tersebut sebagai galeri lukisan.
Pada Februari 1991 bangunan ini dibeli oleh Eka Chandra, dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi sebuah kafe. Bangunan ini lalu direnovasi seperti bentuk aslinya agar supaya nuansa klasik masih melekat dalam kafe tersebut. Kafe tersebut akhirnya diberi nama Cafe Batavia dan dibuka untuk umum pertama kalinya pada tahun 1993.
Menapaki anak tangga ke lantai dua Cafe Batavia, kita serasa dibawa ke awal abad ke-19. Di kafe itu, mata kita dihadang puluhan foto hasil jepretan masa lalu. Foto-foto itu dipajang di depan tembok berwarna putih pucat. Sebagian cahaya lampu kristal lama yang tak begitu terang jatuh ke permukaan kaca bingkai foto.
Perabotan, vas, bar beserta perangkatnya, lampu-lampu tembok dan plafon yang digantungi kain terawangan warna putih, semuanya seperti ingin membangun kenangan masa kolonial Belanda di Batavia.
Memang ada beberapa set sofa pendek dan lebar yang desainnya sudah lebih modern di beberapa sudut ruang, tetapi tak mengganggu kesan umum karena tenggelam oleh banyak foto masa silam.
Menu yang tersaji dalam kafe ini juga bervariatif, baik Indonesian, Chineese maupun European Food, dengan berbagai istilahnya.
Cafe Batavia ini memang dirancang oleh pemiliknya dengan konsep tempo doeloe yang seakan membawa kita ke zaman Jakarta saat masih bernama Batavia. Menikmati hidangan dengan nuansa klasik, sangat digemari oleh wisatawan asing yang berkunjung ke kota lama Jakarta ini. *** [210612]

0 komentar:

Posting Komentar