The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Museum Kars Indonesia

Di Indonesia perhatian terhadap kawasan kars telah berlangsung sejak lama namun perhatian terhadap kawasan kars ini terasa lebih menonjol sejak dilaksanakannya Lokakarya Nasional Pengelolaan Kawasan Kars, pada tanggal 4 – 5 Agustus 2004, di Kabupaten Wonogiri yang diprakarsai oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dan pada acara tersebut muncul gagasan tentang perlunya Indonesia untuk memiliki museum kars.
Pada tanggal 6 Desember 2004 di Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Bapak Presiden Republik Indonesia telah menetapkan untuk Kawasan Kars Gunung Sewu dan Gombong Selatan sebagai Eco Kars. Selanjutnya pada akhir tahun 2005 Bapak Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 16 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata, diantaranya menginstruksikan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mengembangkan kawasan kars sebagai daya tarik wisata. Berdasarkan hal tersebut di atas pada tahun 2008 Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral cq Badan Geologi bersama-sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri telah membuat kesepakatan bersama yang pada prinsipnya bersepakat untuk secara bersama-sama mewujudkan terbangunnya Museum Kars Indonesia dan pada tanggal 30 Juni 2009 telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia dengan ditandatanganinya Prasasti Museum Kars Indonesia di Kabupaten Sragen Jawa Tengah.



Terletak di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, sekitar 30 km timur Kota Wnosari, atau 40 km selatan Wonogiri dan 60 km barat Pacitan. Lokasi tersebut mudah dicapai baik dari Yogyakarta, Jawa Tengah maupun dari Jawa Timur.
Lokasi Museum Kars ini berada pada kawasan kars yang dikonservasikan, hal ini sesuai dengan fungsi museum sebagai salah satu sarana untuk mengkonservasi keberadaan kars yang ada di Indonesia.
Kawasan Museum Kars Indonesia mempunyai luas 24,6 HA yang membentuk lembah di antara bukit-bukit Kars yang dikelilingi oleh beberapa situs gua dan luweng:
  • Gua Tembus mempunyai panjang lorong 50 m serta mempunyai 2 mulut gua.
  • Gua Sodong dengan lorong yang panjang serta mempunyai bentukan stalaktit dan stalakmit yang masih hidup serta mempunyai sungai bawah tanah dan sumber air yang telah dimanfaatkan oleh Dusun Mudal.
  • Gua Potro-Bunder mempunyai bentukan stalaktit dan stalakmit dengan Kristal kalsit yang khas.
  • Luweng Sapen merupakan gua vertikal dengan sungai bawah tanah di dasarnya yang telah diturap untuk memenuhi 3 dusun di Desa Gebangharjo.
  • Gua Gilap merupakan bentukan dolina dengan tebing vertical serta mempunyai bentukan stalaktit yang unik dan mempunyai gua di dasar dolina yang belum tereksplorasi.
  • Di samping itu ada 2 gua kecil (ceruk) di sekitarnya, yaitu Gua Mrica dan Gua Sonya Ruri.
Sebagai sistem perguaan mendatar yang kering, Gua Tembus, Gua Mrica dan Gua Potro-Bruder merupakan penggabungan dari 2 sistem perguaan karena kegiatan penggalian kalsit beberapa waktu lalu. Sementara itu, Gua Sodong dan Luweng  Sapen yang mempunyai sungai bawah tanah di dalamnya memiliki arti hidrogeologi, sekaligus sebagai obyek wisata petualangan (minat khusus).


Konsep pembangunan museum yang memadukan antara bangunan fisik dan lingkungan alam di sekitarnya merupakan proyeksi dari kegiatan in-door dan out-door. Keragaman unsur kars di luar bangunan mendukung arti dan fungsi museum, sehingga konsep back to nature tercapai. Kawasan di luar museum sebagai museum alam mencakup seluruh sistem Kars Gunung Sewu. Seluruh kawasan, baik yang terletak di wilayah Kabupaten Gunung Kidul (DIY), Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) maupun Kabupaten Pacitan (Jawa Timur), tersatukan dalam satu kesatuan ekosistem.
Museum Kars Indonesia memiliki 3 lantai utama, begitu masuk ke lobi museum pengunjung akan langsung melihat poster yang menggambarkan filosofi dari Hasta Brata yang berupa 8 wejangan yang harus dilaksanakan oleh seseorang yang hidup di dunia agar memperoleh kesempurnaan budi yang terkandung dalam cerita pewayangan. Hal ini merupakan filosofi yang berkembang di masyarakat Jawa khususnya merupakan muatan local dari Kabupaten Wonogiri. Setelah melewati lobi akan diinformasikan denah isi museum pada kiri-kanan tangga serta disuguhkan ornament bentukan replika stalaktit dan stalakmit.    
Pada lantai 1 divisualisasikan panel poster dan koleksi dengan tema Kars Untuk Ilmu Pengetahuan yang didahului dengan panel poster mengenai kronologi pembangunan Museum Kars.
Pada lantai dasar ditampilkan kondisi sosial budaya di kawasan kars dengan tema Kars Untuk Kehidupan, di sini akan dapat dilihat diorama kars, maket-maket kawasan kars, serta kehidupan sosial budaya masa lalu dan masa kini.      
Pada lantai atas merupakan ruangan serba guna dan dapat digunakan sebagai ruangan rapat, presentasi dan pemutaran film yang telah dilengkapi dengan tata suara, proyektor dan layar. *** [281211]






Share:

Museum Sangiran

Sangiran sebenarnya adalah nama kembar dari dua pedukuhan kecil yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kedua pedukuhan ini dipisahkan oleh Kali Cemoro yang mengalir dari Kaki Gunung Merapi menuju ke Sungai Bengawan Solo. Dukuh Sangiran sisi utara terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, dan Dukuh Sangiran sisi selatan masuk wilayah Desa Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Namun saat ini, nama kembar dua pedukuhan tersebut yaitu Sangiran telah dijadikan nama dari sebuah kawasan situs manusia purba yang cukup penting di antara jajaran situs-situs manusia purba lain di dunia yang jumlahnya sangat terbatas.
Situs Sangiran, secara astronomis terletak antara 110°49’ hingga 110°53’ Bujur Timur, dan antara 07°24’ hingga 07°30’ Lintang Selatan. Situs Sangiran ini dianggap penting karena memiliki beberapa keutamaan antara lain, bahwa situs ini areal sebaran temuannya sangat luas yaitu ±56 Km², dan mengalami masa hunian oleh manusia purba yang paling lama dibandingkan situs-situs lain di dunia, yaitu dihuni oleh manusia purba selama lebih dari satu juta tahun, dengan jumlah temuan fosil manusia purba yang cukup melimpah, yaitu mencapai lebih dari 50% populasi homo erectus di dunia. Karena potensi tersebut maka situs Sangiran, sampai sekarang selalu menjadi ajang penelitian dan studi evolusi manusia purba oleh para ahli dari berbagai penjuru dunia.
Perhatian terhadap situs Sangiran sebenarnya sudah diawali sejak tahun 1893 oleh Eugene Dubois yang pada saat itu sedang dalam penelusuran mencari fosil nenek moyang manusia. Namun karena Dubois kurang serius meneliti di Sangiran, maka dia tidak berhasil mendapatkan temuan yang dicarinya. Temuan yang dicarinya justru didapatkannya di Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Temuan tersebut berupa sebuah fosil tengkorak dan tulang paha manusia purba yang dinamakannya  Pithecanthropus erectus, artinya manusia kera yang berjalan tegak.


Penelitian di Sangiran yang lebih intensif dilakukan tahun 1930-an oleh J.C. van Es, dan dilanjutkan oleh GHR von Koenigswald. Tahun 1934, von Koenigswald berhasil menemukan tidak kurang dari seribu buah alat batu buatan manusia purba yang pernah hidup di Sangiran. Alat-alat batu tersebut umumnya dibuat dari batuan kalsedon yang dipecahkan sehingga mempunyai sisi tajaman yang dapat digunakan untuk memotong, menyerut, ataupun untuk melancipi tombak kayu. Bentuk alat batu yang sangat sederhana kadang sulit dibedakan dengan batuan alam. Alat batu jenis ini dalam ilmu arkeologi dikenal dengan nama alat serpih, dan von Koenigswald menyebutnya dengan istilah “Sangiran Flake Industry” (Industri serpih dari Situs Sangiran).
Tahun 1936, von Koenigswald berhasil menemukan fosil rahang atas manusia purba (S1a) yang ukurannya besar yang disebutnya sebagai fosil Meganthropus paleojavanicus. Selanjutnya tahun 1937, von Koenigswald berhasil menemukan fosil manusia purba yang dicari-cari oleh Dubois yaitu fosil Pithecanthropus erectus. Temuan berupa atap tengkorak yang oleh von Koenigswald dinamakan Pithecanthropus II (S2). Penemuan spektakuler ini telah mengundang para ahli untuk mengadakan penelitian lanjutan di situs Sangiran. Tercatat di antaranya adalah Helmut de Terra, Movius, P. Marks, R.W. van Bammelen, H.R. van Heekeren, Gert Jan Bartstra, François Semah, Anne Marie Semah, M. Itihara, dan lain-lain. Sedang peneliti-peneliti Indonesia yang serius menangani Sangiran antara lain adalah R.P. Soejono, Teuku Yacob, S.Sartono, Hari Widianto, dan lain-lain.
Lembaga-lembaga penelitian baik luar negeri maupun dalam negeri, yang pernah mengadakan penelitian di Sangiran antara lain adalah the American Museum of National History, the Biologisch Archaeologisch Instituut, Groningen, Netherlands, Tokyo University, Padova University, National d’Historie Naturelle Paris, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta, dan lain-lain.


Untuk melestarikan dan melindungi situs Sangiran, maka pada tahun 1997 Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Kawasan Sangiran dan sekitarnya seluas ± 56 Km² sebagai Daerah Cagar Budaya (SK Menteri P dan K No.070/O/1977, tanggal 15 Maret 1977). Arealnya mencakup sebagian wilayah Kabupaten Sragen dan sebagian wilayah Kabupaten Karanganyar. Wilayah Kabupaten Sragen yang ditetapkan sebagai Daerah Cagar Budaya antara lain adalah sebagian dari Kecamatan Gemolong. Sedang wilayah Kabupaten Karanganyar yang masuk Daerah Cagar Budaya Sangiran hanya satu kecamatan yaitu sebagian dari Kecamatan Gondangrejo.
Selanjutnya untuk meningkatkan status situs Sangiran di mata dunia, maka pada tanggal 25 juni 1995, situs Sangiran telah dinominasikan ke UNESCO agar tercatat sebagai salah satu warisan dunia. Akhirnya pada tanggal 5 Desember 1996, melalui persidangan yang ketat, situs Sangiran secara resmi diterima oleh UNESCO sebagai salah satu dari Warisan Budaya Dunia dan dicatat dalam “World Heritage List” nomer 593 dengan nama: “Sangiran Early Man Site”. (Dokumen WHC-96/Conf.2201/21). Ketetapan ini kemudian secara resmi disebarluaskan oleh UNESCO melalui UNESCO-PERS Nomor 96-215.
  
Sejarah Kubah Sangiran
Situs Sangiran dikenal juga dengan istilah “Sangiran Dome”, artinya Kubah Sangiran. Dinamakan demikian karena kawasan situs ini secara geomorfologis merupakan daerah perbukitan dengan struktur kubah atau dome di bagian tengahnya. Struktur kubah tersebut telah mengalami proses deformasi yaitu proses patahan, longsoran, dan erosi, sehingga berubah bentuk menjadi lembah. Proses deformasi tersebut telah membelah kubah Sangiran, mulai dari kaki kubah sampai ke pusat kubah ditengahnya, sehingga menyingkapkan lapisan tanah purba dengan sisa-sisa kehidupan purba yang pernah ada di kawasan itu.
Lapisan tanah yang tersingkap di Kubah Sangiran tersebut berturut-turut dari pusat kubah sampai ke bibir kubah terbagi menjadi empat formasi stratigrafi yaitu Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan, Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro. Formasi Kalibeng adalah lapisan tanah tertua dan Formasi Notopuro adalah lapisan tanah termuda. Berdasarkan hasil studi terhadap struktur dan tekstur lapisan tanah formasi=formasi tersebut serta studi terhadap kandungan fosilnya maka sejarah terbentuknya kawasan Sangiran dapat diketahui.

A.      Stratigrafi Tanah
1.       Formasi Kalibeng
Formasi Kalibeng adalah lapisan tanah yang paling tua di Sangiran, berumur 3.000.000 – 1.800.000 tahun yang lalu. Formasi tanah ini hanya tersingkap di bagian tengah Sangiran Dome, yaitu pada Kali Puren yang merupakan cabang dari Kali Cemoro.
Formasi Kalibeng dan terdiri dari empat lapisan. Lapisan terbawah ketebalan mencapai 107 meter merupakan endapan laut dalam, berupa lempung abu-abu kebiruan dan lempung lanau dengan kandungan moluska laut. Lapisan kedua ketebalan 4 – 7 meter merupakan endapan laut dangkal berupa pasir lanau dengan kandungan fosil moluska jenis turitela dan foraminifera. Lapisan ketiga berupa endapan batu gamping balanus dengan ketebalan 1 – 2,5 meter. Lapisan keempat berupa endapan lempung dan lanau hasil sendimentasi air payau dengan kandungan moluska jenis corbicula.
   
2.       Formasi Pucangan
Formasi Pucangan berumur 1.800.000 – 800.000 tahun yang lalu. Formasi ini terbagi dua yaitu Formasi Pucangan Bawah dan Formasi Pucangan Atas. Formasi Pucangan Bawah ketebalannya 0.7 – 50 meter berupa endapan lahar dingin atau breksi vulkanik yang terbawa aliran sungai dan mengendapkan moluska air tawar di bagian bawah dan diatome (ganggang kersik) di bagian atas. Formasi Pucangan Atas ketebalan mencapai 100 meter berupa lapisan napal dan lempung yang merupakan pengendapan rawa-rawa. Pada formasi ini terdapat sisipan endapan moluska marin yang menunjukkan bahwa pada waktu itu pernah terjadi transgresi laut.
Formasi Pucangan banyak mengandung fosil-fosil binatang vertebrata seperti Gajah (Stegodon trigonocphalus), Banteng (bibos palaeosondaicus), Kerbau (bubalus palaeokarabau), Rusa (cervus Sp), Kuda Nil (Hippopotamus), dan lain-lain. Bahkan pada lapisan Formasi Pucangan yang paling atas mulai banyak ditemukan fosil-fosil manusia purba.
      
3.       Formasi Kabuh
Formasi Kabuh berumur 800.000 – 250.000 tahun yang lalu. Formasi Kabuh merupakan lapisan stratigrafi yang paling banyak menghasilkan fosil mamalia, fosil manusia purba, dan alat-alat batu. Kandungan batuan formasi ini umumnya terdiri dari pasir, lanau, pasir besi, dan gravel sungai air tawar. Formasi Kabuh terbagi menjadi empat lapisan yaitu lapisan Formasi Kabuh Terbawah, Formasi Kabuh Bawah, Formasi Kabuh Tengah dan Formasi Kabuh Atas.
Formasi Kabuh Terbawah mengandung lapisan yang dikenal dengan istilah grenzbank artinya lapisan pembatas. Lapisan ini merupakan batas antara Formasi Pucangan dengan Formasi Kabuh. Ketebalan lapisan antara 0,1 sampai 46,3 meter. Kandungan lapisan ini antara lain berupa batu gamping calcareous dan batu pasir konglomerat. Temuan dari lapisan ini antara lain ikan hiu, kura-kura, buaya, binatang mamalia darat, dan fosil manusia purba. Lapisan ini juga mengandung temuan alat batu tertua ciptaan homo erectus yang pernah hidup di Sangiran.
Formasi Kabuh Bawah ketebalan lapisannya sekitar 3,5 – 17 meter. Lapisan ini banyak menghasilkan fosil mamalia dan fosil manusia purba. Ketebalan lapisannya sekitar 5,8 – 20 meter. Lapisan ini juga banyak mengandung fosil mamalia dan fosil manusia purba. Formasi Kabuh Tengah ketebalan lapisannya sekitar 3 – 16 meter. Kandungan batuannya hampir sama dengan Kabuh Bawah dan Kabuh Tengah, namun sampai saat ini pada lapisan Kabuh ini belum pernah ditemukan fosil manusia purba.

4.       Formasi Notopuro
Formasi Notopuro secara tidak selaras terletak di atas Formasi Kabuh, dan tersebar di bagian atas perbukitan di sekeliling Kubah Sangiran. Formasi ini mengandung gravel, pasir, lanau, dan lempung. Juga terdapat sisipan lahar, batu pumisan, dan tufa. Ketebalan lapisan mencapai 47 meter dan terbagi menjadi tiga lapisan yaitu Formasi Notopuro Tengah dengan ketebalan maksimal 20 meter, dan Formasi Notopuro Atas dengan ketebalan 25 meter. Pada Formasi Notopuro ini sangat jarang dijumpai fosil.

B.      Sejarah Geologi
Ilmu Geologi telah membagi sejarah bumi ke dalam empat zaman, yaitu Zaman Pra-Kambrium, Zaman Paleozoikum (zaman kehidupan tua), Zaman Mesozoikum (zaman kehidupan pertengahan), dan Zaman Kenozoikum (zaman kehidupan baru). Zaman Pra-Kambrium berlangsung sejak awal terbentuknya bumi sampai munculnya kehidupan di bumi. Zaman ini merupakan masa terpanjang dalam sejarah bumi berlangsung sejak sekitar 570 – 225 juta tahun yang lalu. Zaman Mesozoikum berlangsung sejak  225 – 65 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini kehidupan di muka bumi didominasi oleh binatang melata seperti dinosaurus Zaman Kenozoikum Tersier berlangsung sekitar 65 hingga sekarang. Zaman ini dibagi dua masa yaitu Masa Tersier (65 – 1,87 juta tahun yang lalu) dan masa Kuarter kala 1,8 juta tahun yang lalu hingga kini.
Situs Sangiran menurut penelitian geologi muncul sejak Zaman Tersier Akhir, yaitu pada Kala Pliosen Atas sekitar 3 juta tahun yang lalu, dan berlanjut sampai Kala Plestosen Bawah (1,8 – 0,8 juta tahun yang lalu) dan Plestosen Tengah (0,8 – 0,18 juta tahun yang lalu).
Pada Kala Pliosen Atas kawasan Sangiran masih berupa lautan dalam yang berangsur-angsur berubah menjadi laut dangkal dengan kehidupan fortaminifera dan moluska laut. Pendangkalan berjalan terus sampai akhir Kala Pliosen. Pendangkalan akhirnya mencapai daerah litoral. Pada saat itu diendapkan batu gamping balanus dan batu gamping korbikula. Pada beberapa tempat lingkungan litoral tersebut membentuk lingkungan payau-payau. Sendimentasi yang berlangsung mengendapkan satuan napal dan Formasi Kalibeng Atas. Berdasarkan hasil studi palionologi (serbuk sari tumbuhan purba) disimpulkan bahwa saat itu lingkungan pengendapan berupa hutan bakau.
Pada Kala Plestosen Bawah secara umum keadaan lingkungan di Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan suatu lembah yang dibatasi oleh Gunung Selatan di sisi selatan dan Gunung Kendeng di sisi utara. Lembah tersebut sebagian besar berupa danau dan rawa-rawa. Di sebelah timur lembah tersebut lingkungannya berupa lautan. Di tengah-tengah lembah terdapat beberapa gunung, di antaranya Gunung Wilis dan Gunung Lawu Purba.
Daerah Sangiran yang terletak di sebelah utara kaki Gunung Lawu, waktu itu lingkungannya berupa daerah paya-paya di bagian utara dan lingkungan sungai dengan endapan lahar di bagian selatan, yang merupakan hasil sendimentasi banjir lahar hujan. Saat itu kehidupan manusia purba mulai muncul di sekitar rawa-rawa tepi pantai dan muara sungai yang terletak di sebelah utara Kali Cemoro yang sekarang. Di sebelah selatan Kali Cemoro, kehidupan berlangsung di sekitar sungai yang bermeander.
Pada Kala Plestosen Tengah, permukaan air laut turun bertepatan dengan zaman glacial mindel, sehingga danau dan rawa-rawa di zona solo mongering menjadi daratan. Homo erectus diperkirakan tinggal di sekitar aliran Kali Cemoro yang sekarang, yang masa itu masih berupa lingkungan delta dan lembah-lembah sungai bermeander.
Menjelang akhir Kala Plestosen Tengah, kegiatan gunung api meningkat dan menghasilkan sendimentasi Formasi Notopuro di daerah Sangiran. Pada Kala Plestosen Atas, sejalan dengan perkembangan daratan pada masa itu, kehidupan manusia purba berkembang ke arah utara sampai daerah Ngebung saat ini, dengan bukti temuan ribuan alat-alat batu yang didapatkan di daerah tersebut.

Museum Situs Sangiran

A.      Sejarah Museum Sangiran
Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh von Koenigswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam kegiatannya, von Koenigswald dibantu oleh Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan pada masa itu. Setiap hari Toto Marsono atas perintah von Koenigswald mengerahkan penduduk Sangiran untuk mencari “balung buto” (Bahasa Jawa = tulang raksasa). Demikian penduduk Sangiran mengistilahkan temuan tulang-tulang berukuran besar yang telah membatu yang berserakan di sekitar lading mereka. Balung buto tersebut adalah  fosil, yaitu sisa-sisa organism atau jasad hidup purba yang terawetkan di dalam bumi.
Fosil-fosil tersebut kemudian dikumpulkan di Pendopo Kelurahan Krikilan untuk bahan penelitian von Koenigswald, maupun para ahli lainnya. Fosil-fosil yang dianggap penting dibawa oleh masing-masing peneliti ke laboratorium mereka, sedang sisanya dibiarkan menumpuk di Pendopo Kelurahan Krikilan.
Setelah von Koenigswald tidak aktif lagi melaksanakan penelitian di Sangiran, kegiatan mengumpulkan fosil masih diteruskan oleh Toto Marsono sehingga jumlah fosil di Pendopo Kelurahan Krikilan semakin melimpah. Dari Pendopo Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal bakal (embrio) Museum Sangiran.
Untuk menampung koleksi fosil yang semakin hari semakin bertambah maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun museum kecil di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen di atas tanah seluas 1000 m². Museum tersebut diberi nama “Museum Plestosen”. Seluruh koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan kemudian dipindahkan ke Museum tersebut. Saat ini sisa bangunan museum tersebut telah dirombak dan dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan.
Sementara di Kawasan Cagar Budaya Sangiran sisi selatan pada tahun 1977 dibangun juga sebuah museum di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Museum ini difungsikan sebagai basecamp sekaligus tempat untuk menampung hasil penelitian lapangan di wilayah Cagar Budaya Sangiran sisi selatan. Saat ini museum tersebut sudah dibongkar dan bangunannya dipindahkan dan dijadikan Pendopo Desa Dayu.
Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih besar di Dusun Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Kompleks Museum ini didirikan di atas tanah seluas 16.675 m². Bangunannya antara lain terdiri dari Ruang Pameran, Ruang Pertemuan/Seminar, Ruang Kantor/Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Storage, Ruang Laboratorium, Ruang Istirahat/Ruang Tinggal Peneliti, Ruang Garasi, dan Kamar Mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di Museum Plestosen Krikilan dan Koleksi di Museum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini. Museum ini selain berfungsi untuk memamerkan fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk mengkonservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian kawasan Sangiran.
Tahun 1998 Dinas Pariwisata Propinsi Jawa Tengah melengkapi Kompleks Museum Sangiran dengan Bangunan Audio Visual di sisi timur museum. Dan tahun 2004 Bupati Sragen mengubah interior Ruang Kantor dan Ruang Pertemuan menjadi Ruang Pameran Tambahan.
Tahun 2003 pemerintah pusat merencanakan membuat museum yang lebih representative menggantikan museum yang ada secara bertahap. Awal tahun 2004 ini telah selesai didirikan bangunan perkantoran tiga lantai terdiri ruang basemen untuk gudang, lantai I untuk Laboratorium, dan lantai II untuk perkantoran. Program selanjutnya adalah membuat ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah, ruang pertemuan, perpustakaan, taman purbakala, dan lain-lain.

B.      Koleksi Museum Sangiran
Koleksi yang ada di Museum Situs Manusia Purba Sangiran saat ini, semua berasal dari sekitar Situs Sangiran. Saat ini jumlah koleksi seluruhnya ±13.808 buah. Koleksi tersebut akan selalu bertambah karena setiap musim hujan, bumi Sangiran selalu mengalami erosi yang sering menyingkapkan temuan fosil dari dalam tanah.
Koleksi yang ada di Museum Sangiran antara lain berupa fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, batu-batuan, sedimen tanah, dan juga peralatan batu yang dulu pernah dibuat dan digunakan oleh manusia purba yang pernah bermukim di Sangiran.
Koleksi-koleksi tersebut sebagian besar masih disimpan di gudang dan sebagian lagi diletakkan di ruang pameran. Ruang Pameran saat ini ada 3 ruang. Ruang Utama berisi 15 vitrin ditambah diorama. Ruang Pameran tambahan 1 berisi 11 vitrin, dan Ruang Pameran tambahan 2 berisi 12 vitrin. *** [241211]

Sumber :
  • Rusmulia Tjiptadi Hidayat, 2004. Museum Situs Sangiran: Sejarah Evolusi Manusia Purba Beserta Situs dan Lingkungannya, Sragen: Koperasi Museum Sangiran
     


Share:

Masjid Al Wustho Mangkunegaran

Masjid Al Wustho Mangkunegaran yang terletak di Jl. Kartini, Banjarsari, Surakarta, didirikan oleh Sri Paduka Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro VII pada tahun 1878 dan selesai pada tahun 1918. Pengelolaan masjid dipercayakan kepada para pengurus yang diangkat menjadi Abdi dalem Istana Mangkunegaran, sejak zaman penjajahan Belanda beralih ke penjajahan Jepang berjalan sebagaimana mestinya sebagai Masjid Keraton.
Adapun perubahan situasi kenegaraan dengan diproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, membawa perubahan-perubahan pula terhadap status masjid. Pengelolaannya diserahkan kepada kementerian Agama dengan suratnya nomor: Pem.50/2/7 tertanggal 12 April 1952, dan putusan Menteri Dalam Negeri nomor: E/23/6/7 tertanggal 14 September 1948.


Dalam keputusan Menteri Agama tahun 1962 disebutkan, bahwa Masjid Al Wustho Mangkunegaran adalah masjid yang diurus dan dipelihara Departemen Agama dengan mengikutsertakan eksponen-eksponen masyarakat.
Sebagai pelaksanaan Keputusan Menteri Agama tersebut maka biaya-biaya pengeluaran dibebankan pada anggaran Departemen Agama. Akan tetapi dengan surat Dit. Ura. Islam tanggal 20 Desember 1974 nomor: 117/BKMP/1974, bantuan rutin dari Departemen Agama khusus untuk empat masjid di Kotamadya Surakarta dihentikan sejak tahun 1972/1973.


Untuk mencukupi kebutuhan masjid, pengurus harus mencari dana sendiri dengan sekuat tenaga, sementara itu dana diperoleh dari kotak amal jama’ah yang dibuka di masjid tiap-tiap sehabis shalat Jum’at, dan dana infaq, shadaqah, dan bantuan-bantuan dari masyarakat secara insidentil.
Bangunan Masjid dan sekitarnya
Luas kompleks Masjid Al Wustho Mangkunegaran Surakarta seluruhnya ada 4200 m², dipisahkan dari daerah sekitarnya dengan pagar tembok keliling. Bagian belakang setinggi 3 m, bagian depan dengan bentuk lengkung setinggi 3 m. Gapura depan dihiasi dengan relief tulisan Arab.
Adapun rincian detailnya adalah sebagai berikut:

Bangunan Dalam Masjid
Serambi
Ruangan Serambi berukuran panjang 22 m, lebar 11 m dengan tiang sebanyak 18 buah, di bagian utara timur diletakkan sebuah bedug dan sebuah kentongan.
Di depan serambi dibangun bangunan markis dengan ukuran panjang 5 m, dengan lengkung lengkungan tembok lebar juga 5 m, yang diberi hiasan relief Arab.
Bedug yang berada di serambi diberi nama Kyai Danaswara, sedang kentongan yang dulu kecil diganti dengan yang cukup besar, tetapi tidak diberi nama.

Ruang Shalat Utama
Ruang utama untuk shalat berukuran panjang 24 m, dan lebar 22 m, dalam ruang ini ada 4 tiang (saka guru) yang bagian atasnya dihias dengan tulisan Arab, di samping itu ada saka penyangga bantu sebanyak 12 buah.
Mimbar ukiran untuk berkhotbah diletakkan di dekat mihrab. Di pojok ruangan sebelah selatan timur dibuat sebuah ruangan untuk menyimpan alat-alat pengeras suara yang dipakai setiap akan mulai shalat rawatib, dan shalat Jum’at. 

Pawastren
Dahulu sebelum dibangun pawastren tambahan, ada sekat sebagai pemisah tempat shalat untuk wanita. Setelah dibangun tambahan ruangan yang menempel di bagian selatan ruangan utama maka sekat diambil.
Pawastren ini berukuran panjang 10 m dan lebar 7 m. Di dalam ruangan pawastren, ada sebuah ruang gudang serta fasilitas kolah untuk berwudlu wanita dibangun di sebelah timur pawastren.

Maligin
Terpisah sedikit dengan pawastren, ada bangunan kecil bundar. Dahulu tempat ini untuk melaksanakan khitanan/sunatan. Anak yang akan dikhitan di syahadad dulu di serambi masjid. Setelah itu pelaksanaan khitan di ruang kecil tadi yang konon disebut dengan sebutan maligin.

Bangunan Di Halaman Masjid
Tembok Keliling Halaman
Sebagai pembatas antara masjid dengan daerah sekitarnya dibuat tembok yang mengelilingi masjid. Adapun ukuran tembok keliling adalah 260 m, dengan perincian sisi timur 60 m, sisi barat 69 m, sisi utara 70 m, sisi selatan 70 m.
Pagar tembok di sebelah barat/belakang, dibuat rata sedangkan di bagian depan/sisi timur dan sisi selatan serta sisi utara, sebagian dibangun dengan hiasan lengkung.
Gapuran depan bagian luar dan dalamnya dihiasi dengan relief Arab.

Pintu Gerbang Timur
Bentuk lengkungan tinggi dengan hiasan tulisan Arab yang berbunyi: “Al-Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih” serta “Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah”. Sedang di bagian belakang juga diberi relief Arab.

Pintu Gerbang Utara
Pintu gerbang utara disediakan untuk masuk masjid bagi orang kampung sekitar masjid sebagai jalan pintas, dengan ukuran lebar 2 m dan tinggi 3 m.

Markis
Sebelah depan serambi dibuat bangunan tambahan yang disebut markis, dengan ukuran panjang 5 m dan lebar 5 m. Bagian depan dan kiri kanan dihias dengan relief Arab pula yang banyak mengandung makna.

Kantor Pengurus Masjid
Terletak di utara masjid dengan ukuran panjang 9 m dan lebar 6 m. Di kantor ini pula ditempatkan perpustakaan masjid untuk menambah ilmu pengetahuan bagi umat.

Menara
Di depan Kantor Pengurus Masjid didirikan dengan tegak sebuah menara berukuran tinggi 25 m dengan diameter 2 m. Dahulu menara ini dipergunakan untuk para muadzin yang akan menyuarakan adzan. Sesudah masuk waktu shalat, muadzin segera naik melalui tangga. namun dengan kemajuan zaman yang semakin canggih sekarang ini maka muadzin tidak perlu naik ke atas, cukup dipasang pengeras suara. Menara ini dibangun pada tahun 1926. *** [221211]







Share:

Istana Maimoon

Istana Maimoon adalah salah satu di antara warisan budaya nenek moyang kita yang masih berdiri kokoh yang berlokasi di Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, kira-kira 3 km dari Bandara Polonia dan 28 km dari pelabuhan Belawan. Bangunan ini berdiri di atas sebidang tanah berukuran 217 x 200 m, dikelilingi pagar besi setinggi kira-kira 1 m dan menghadap ke timur. Di sebelah baratnya mengalir sungai Deli, sedangkan di sebelah selatannya terdapat bangunan pertokoan dan pemukiman. Di sebelah utaranya dibatasi oleh Jalan Tanjung Meriam, sedangkan di depannya adalah Jalan Brigjen Katamso, yang merupakan salah satu di antara jalan protokol di kota Medan.
Sebagaimana lazimnya bangunan istana kerajaan Islam pada zaman dahulu yang selalu dikaitkan dengan masjid, kira-kira 100 m di depan Istana Maimoon terdapat bangunan Masjid Al-Mashun yang tentu saja dahulu berfungsi sebagai masjid kerajaan.
Masjid ini lebih dikenal sebagai Masjid Raya Medan dan merupakan salah satu di antara bangunan masjid yang paling indah yang berasal dari kerajaan Islam di Indonesia masa lampau dan memperlihatkan gaya arsitektur Timur Tengah, India bahkan Eropa. Kecuali Masjid Raya, di depan Istana Maimoon terdapat juga bangunan-bangunan lain yang mempunyai kaitan historis dengan Istana Maimoon karena dibangun oleh tokoh yang sama dan pada kurun waktu yang bersamaan, yaitu Taman Sri Deli dan balai kerapatan yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi Kantor Bupati Tingkat II Kabupaten Deli Serdang.
Luas Istana Maimoon 2772 m2 dan menurut denahnya dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni bangunan induk, sayap kiri dan kanan.
Bangunan induknya mempunyai penampil pada bagian depan dan belakang. Panjang bangunan dari depan 75,30 m dan tingginya 14,40 m. Bangunan ini bertingkat dua yang ditopang sekelilingnya oleh 82 buah tiang batu dan 43 buah tiang kayu dengan lengkungan-lengkungan yang berbentuk lunas perahu terbalik dan ladam kuda. Atapnya berbentuk limasan dan kubah, sedangkan dari segi bahannya adalah atap sirap dan tembaga (seng). Atap limasan terdapat pada bangunan-bangunan induk, sayap kiri dan kanan. Sedangkan atap kubah sebanyak tiga buah terdapat pada penampilan depan. 
Dilihat dari sudut arsitektur secara keseluruhan bentuk atap adalah bertingkat dua. Melalui koridor bertangga dari batu pualam, kita dapat naik ke tingkat dua bangunan induk yang berteras di kiri dan kanannya yang disebut anjungan. Dan melalui gerbang dengan pintu dorong ala Eropa kita sampai pada sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu. Di mana Sultan menerima tamu-tamu resminya. Di kiri dan kanan ruang tamu, ada sebuah kamar. Kedua kamar ini dahulu merupakan kamar kerja bagi para penjawat dan para dayang, yaitu pembantu-pembantu pria dan wanita sultan. Melalui gerbang dengan lengkungan yang berbentuk lunas perahu terbalik yang penuh dengan ukiran-ukiran motif floralistis dan geometris kita memasuki ruangan induk pada bangunan induk seluas 412 m2 yang dahulu berfungsi sebagai balairung. Ruangan ini dipakai sebagai tempat upacara penobatan raja dan upacara adat lainnya. Dan sesuai dengan namanya di tempat inilah sultan menerima para pembesar kesultanan lainnya.


Di sisi kiri ruangan ini terdapat singgasana sultan yang berwarna-warni, bentuknya segi empat lengkap dengan kubahnya dan lengkungan-lengkungan runcing pada ketiga sisinya. Balairung diterangi lampu-lampu kristal buatan Eropa. Pada dinding-dinding ruangan terdapat hiasan dari cat minyak motif floralistis dan geometris , ada yang distilir dan ada yang naturalistis.
Pada plafonnya terdapat pula motif hiasan yang sama ditempatkan pada bidang-bidang segi empat dan segi delapan. Di samping itu, pada dinding ruangan ini pun tergantung figura dan lukisan serta foto-foto Sultan Deli terdahulu. Yang menarik ialah pada sudut atas bingkai cermin yang berwarna kuning emas itu terdapat hiasan floralistis yang distilir sedemikian rupa sehingga mengingatkan pada bentuk makara. Di atas figura cermin atau tingkap lunas perahu terbalik ini terdapat lubang angin (ventilasi) berbentuk bulat berterali besi di mana menempel setangkai bunga dari kuningan.
Kombinasi tingkap-tingkap perahu terbalik dengan lubang yang bulat serupa ini terdapat pula pada Masjid Raya di depan Istana Maimoon. Pintu-pintu balairung berukuran tinggi dan lebar yang mengingatkan kita pada bangunan bergaya Eropa dan di atas ambang pintu terdapat ventilasi dengan terali besi, ada yang segi empat dan ada pula yang berbentuk lunas perahu terbalik. Daun pintu pada umumnya dua lapis yaitu bagian luar dan dalam.


Bagian luar seluruhnya terbuat dari kayu, sedangkan bagian dalam terdiri dari kayu dan kaca. Pada bidang segi empat daun pintu bagian dalam terdapat hiasan bunga yang sedang tumbuh dari sebuah vas yang dilukis secara naturalistis. Di samping itu, dalam ruangan ini pun terdapat beberapa set kursi buatan Eropa.
Melalui sebuah gang beratap dengan lengkungan-lengkungan lunas perahu terbalik yang kaya dengan hiasan-hiasan floralistis dan geometris. Kita sampai pada sebuah ruangan yang berada di penampil belakang. Luas ruangan ini 94 m2, dulu dipergunakan sebagai tempat upacara pernikahan dan ruang makan (dining hall) keluarga sultan. Makan malam ini biasanya dipersiapkan dan dilayani oleh para dayang yang menempati 2 kamar kecil di sebelah kiri dan kanan di antara balairung dan ruang makan. Di dalam ruangan ini kita jumpai dua buah kursi (Tahta Sultan) dan dua buah almari (buffet) dan dua buah meja toilet yang seluruhnya buatan Eropa.
Istana Maimoon ini di bagian atasnya (tingkat atas) mempunyai 12 ruangan, 2 ruangan yang besar untuk upacara kerajaan dan 10 ruangan yang lebih kecil untuk kelengkapannya. Sedangkan sebelah bawahnya ada 10 ruangan termasuk kamar mandi, dapur, kantor Sultan, penjara sementara dan tempat penyimpanan barang.
Di sisi kanan, di depan istana berdiri sebuah bangunan atau rumah Batak Karo, di mana di dalamnya ditempatkan sebuah meriam yang sudah puntung (putus). Oleh sebagian masyarakat benda ini dianggap suci dan keramat serta selalu dihubungkan dengan legenda Putri Hijau.
Kira-kira 10 m di depan istana ada semacam altar atau panggung yang dahulunya bangunan itu adalah pondasi atau landasan dari dua buah patung kuda yang berfungsi sebagai pancuran atau water spout.

Tinjauan Arkeologis dan Arsitektur
Istana Maimoon yang didirikan dengan biaya Fl. 100.000 dengan arsiteknya seorang tentara KNIL yang bernama TH. Van ERP. Istana Maimoon didesain meniru berbagai gaya, yaitu gaya tradisional istana-istana Melayu yang memanjang di depan dan bertingkat dua, juga pola India Islam (Moghul) dan yang diambil dari Eropa.
Begitu juga di dalam ukiran-ukiran, terutama di ruang Balairung Sri bercampur baur. Ukiran-ukiran Melayu tradisional dapat kita lihat pada “Pagar Tringgalum”, pinggiran atas lesplank dengan bentuk “Pucuk Rebung” yang terkenal, dinding sebelah atasnya dengan bentuk “Awan Boyan”, langit-langit dengan kubisme
Adapun tahta singgasana baru didirikan di zaman pemerintahan Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah, karena dan salah satu gambar lama masa Sultan Ma’mun Alrasyid memerintah, singgasananya berbentuk lain. Pada tahta yang ada sekarang, kita lihat ukiran foliage dan bunga corak ukiran Melayu yaitu “Bunga Tembakau”, ukiran atas depan “Awan Boyan”, samping atas bulatan bunga matahari.
Berdasarkan prasasti berbahasa Belanda dan Melayu yang terdapat pada sekeping marmer di kedua tiang ujung tangga naik, dapat diketahui bahwa peletakan batu pertama pembangunan Istana Maimoon dilakukan pada tanggal 26 Agustus 1889 oleh Sultan Ma’mun Alrasyid Perkasa Alamsyah dan mulai ditempati pada tanggal 18 Mei 1891. Dengan demikian hingga kini, istana tersebut telah berusia satu abad yang tentu saja dari sudut arkeologi, kurun waktu tersebut tidaklah terlalu tua. Akan tetapi pengertian tua atau kuno itu sendiri dari sudut kronologi relatif sifatnya, kalau dikaitkan dengan undang-undang kepurbakalaan yang masih berlaku di negeri kita yaitu monumenten ordonantie Stbl. No.238 tahun 1931, khususnya pasal 1 ayat 1 (a), jelas bahwa Istana Maimoon ini termasuk bangunan purbakala atau monument.
Dengan kata lain, dari segi perundang-undangan (yuridis formal) perlu dan harus dilindungi, dipelihara dan dilestarikan karena telah berusia lebih dari 50 tahun agar dapat diwariskan kepada generasi penerus bangsa, termasuk di dalamnya upacara-upacara tradisional baik yang bernilai sakral maupun non sakral yang pernah dilaksanakan di masa lampau di Istana Maimoon. Karena semua itu merupakan nilai tradisi dan bagian dari budaya bangsa yang menjadi ciri khas kepribadian dan identitas bangsa yang mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional serta memperkokoh jiwa kesatuan nasional.
Meskipun dari segi kronologis, usia bangunan ini tidak begitu tua namun dilihat dari sudut arsitektur dan sejarah kesenian sangat penting artinya karena mengandung nilai-nilai arsitektur yang tinggi. Pada bangunan ini terpatri unsur-unsur seni bangunan Indonesia dengan unsur-unsur luar seperti kesenian Persia, India dan Eropa. Perpaduan ini antara lain tercermin pada daerahnya, bentuk atap, ornamentasi atau ragam hias dan lain sebagainya. Meskipun bangunan ini terdiri dari 3 bagian, yaitu bangunan induk dan kedua sayapnya kalau diperhatikan dengan seksama, denah dari setiap bagian itu mengingatkan pada ground plant bangunan-bangunan Islam seperti masjid-masjid, istana-istana di Timur Tengah atau India pada masa lampau.
Bagian tengah yang berbentuk segi empat dan biasanya merupakan ruangan terbuka pada masjid-masjid kuno di Timur Tengah maupun India disebut “shan” dan pada keempat sisinya terdapat gambar atap tempat berteduh yang disebut “mughatha” atau “sutuh”.
Pada Istana Maimoon, bagian yang terbuka ini, baik pada bangunan induknya maupun kedua sayapnya ditutup dengan atap berbentuk limasan sehingga merupakan ruangan-ruangan luas dan lebar, sedangkan gang beratap yang mengitari setiap ruangan atau bagian jelas mengingatkan pada mugatha atau sutuh, meskipun konstruksinya tidak sama benar karena pada sisi dalam gang beratap ini terdapat tembok atau dinding lengkap dengan pintu-pintu dan jendela-jendela kayu.
Demikian pula halnya dengan lengkungan-lengkungan atau arcade, baik yang berbentuk lunas perahu terbalik, atau lengkung runcing maupun lengkungan yang berbentuk ladam kuda atau lengkung asli pada gambar atap mengingatkan pada bentuk Liwin atau Liwanat dalam kesenian Islam Timur Tengah maupun India. Lengkungan-lengkungan atau arcade yang berbentuk lunas perahu terbalik atau lengkung runcing ini dalam kesenian Islam dikenal sebagai lengkungan Persia, yang banyak digunakan di Turki, India dan Eropa.
Dengan demikian jelas bahwa bagian depan dari Istana Maimoon ini mengingatkan kita pada bentuk arcade bangunan-bangunan Islam bergaya Timur Tengah.
Kecuali bentuk arcade yang telah disebutkan di atas, pengaruh kesenian Islam Timur Tengah dan India ini nampak pula pada atap kubah. Pada puncak atap terdapat hiasan bulan sabit yang menurut para ahli sering dihubungkan sebagai lambang kedamaian, di mana Islam disyiarkan tanpa kekerasan.
Selain denah, atap kubah, lengkungan-lengkungan (arcade), hiasan bulan sabit pada puncaknya, pengaruh kesenian Islam ini akan lebih nampak lagi pada ornamentasinya, baik pada dinding, plafon, tiang-tiang dan permukaan lengkungan (face arcade) yang kaya dengan hiasan bunga-bungaan dan tumbuh-tumbuhan yang berkelok-kelok dengan cat minyak. Hiasan floralistis selain digayakan (distiril) sehingga mengingatkan pada motif tumpal dan mekara, juga dilukis secara naturalistis. Kecuali motif flora, motif geometris juga amat menonjol adalah kombinasi antara hiasan polygonal (bersegi banyak), octagonal (bersegi delapan) dan lingkaran-lingkaran. Motif semacam ini terutama sekali terdapat pada dinding-dinding, permukaan lengkungan, plafond an sebagainya. Di samping itu, motif semacam ini terlihat pula pada bentuk terali besi, tingkap-tingkap (jendela) segi empat maupun yang berbentuk lengkungan yang mengingatkan kita pada ukiran dinding gaya India. Di Indonesia, hiasan semacam ini sering disebut dengan hiasan terawangan atau kerawangan, selain sebagai hiasan, hiasan ini dapat berfungsi sebagai ventilasi atau lubang angin.
Kecuali pengaruh kesenian Islam Timur Tengah dan India, unsur luar yang menonjol pada Istana Maimoon ini ialah pengaruh kesenian Eropa. Sebagian besar material bangunan didatangkan dari luar (diimpor) misalnya traso, ubin marmer dan lain sebagainya, bahkan seluruh koleksi yang ada seperti kursi-kursi, meja, buffet, meja toilet dan sebagiannya adalah buatan Eropa.
Meskipun unsur-unsur luar amat menonjol, namun unsur-unsur seni bangunan Indonesia pada Istana Maimoon masih terlihat, misalnya saja pada atap limasan dengan konstruksi bertumpang atau bertingkat. Di samping itu pada penampil depan terdapat lesplank yang dipahat dengan hiasan pucuk rebung.
Oleh karena itu, dilihat dari segi arsitekturnya, Istana Maimoon memiliki nilai yang tinggi dan menduduki tempat tersendiri dalam sejarah kesenian Islam di Indonesia. Dan kalau Abu Bakar Aceh menyebutkan bahwa Masjid Raya Medan yang terletak di depan Istana Maimoon sebagai satu-satunya masjid yang mewakili bentuk kesenian Islam di Indonesia. Kalau diperhatikan, Istana Maimoon dapat juga merupakan satu-satunya bangunan istana yang dapat mewakili bentuk kesenian Islam di Indonesia pada umumnya dalam hubungannya dengan kesenian Islam Timur Tengah dan India.
Di samping itu kalau dikaitkan dengan letak dan arah muka istana yang dihubungkan dengan Masjid Raya sebagai Masjid Istana (keraton) ternyata pola-pola keletakan istana (keraton) kuno dengan alun-alun sebagai titik sentralnya sesuai pada konteks Istana Maimoon ini, sekalipun besar kemungkinannya bahwa areal antara bangunan istana dengan masjid raya dulu merupakan tanah lapangan atau alun-alun.
Oleh karena itu, ditinjau dari sudut arkeologi maupun arsitekturnya, Istana Maimoon termasuk salah satu di antara monumen yang harus dilindungi, dipelihara dan jika mungkin untuk dilestarikan agar generasi penerus tidak kehilangan data dalam merekonstruksikan masa lampaunya.

Raja yang pernah memerintah di Kerajaan Deli:
1. Tuanku Panglima Gocah Pahlawan (1632 – 1669)
2.  Tuanku Panglima Parunggit (1669 – 1698)
3.  Tuanku Panglima Padrap (1698 – 1728)
4.   Tuanku Panglima Pasutan (1728 – 1761)
5.   Tuanku Panglima Gandar Wahid (1761 – 1805)
6.   Sulthan Amaluddin Mengedar Alam (1805 – 1850)
7.    Sulthan Osman Perkasa Alamsyah (1850 – 1858)
8.    Sulthan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah (1858 – 1873)
9.    Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah (1873 – 1924)
10. Sulthan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah (1924 – 1945)
11. Sulthan Osman Al Sani Perkasa Alam (1945 – 1967)
12.  Sulthan Azmi Perkasa Alam (1967 – 1998)
13.  Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alam (1998 – 2005)
14.  Sultan Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam (2005 – sekarang) *** [041111]

Kepustakaan :
  • Buku Sejarah Singkat Istana Maimoon



Share:

Masjid Sunan Ampel


Sesuai permintaan Ratu Dwarawati, seorang putri dari Campa yang menjadi permaisuri Bhre Kertabumi atau yang dikenal juga dengan sebutan Brawijaya V, dan atas persetujuan Raja Brawijaya V, maka Sayyid Ali Rahmatullah diminta untuk memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mereka mempunyai budi pekerti mulia. Permintaan itu dipenuhi oleh Sayyid Ali Rahmatullah.
Keberangkatan Sayyid Ali Rahmatullah ke Tanah Jawa ditemani oleh ayahnya, yakni Syekh Maulana Ibrahim Samarqandi dan kakaknya Sayyid Ali Murtadho. Bersama para utusan Kerajaan Majapahit, mereka pun meninggalkan Negeri Campa. Mereka tidak langsung menuju ke kerajaan itu melainkan mendarat lebih dulu di Tuban. Dan di kota pelabuhan ini, tepatnya di Desa Gesikharjo, Syekh Maulana Ibrahim Samarqandi yang sebelumnya memang sudah sakit, akhirnya meninggal dunia.
Sementara itu, Sayyid Ali Murtadho meneruskan pelayarannya ke Madura, kemudian Nusa Tenggara hingga akhirnya sampai ke Bima. Sedangkan, Sayyid Ali Rahmatullah kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke Kerajaan Majapahit.
Sesampainya di Kerajaan Majapahit, Sayyid Ali Rahmatullah disambut oleh Ratu Dwarawati, yang tak lain adalah bibinya sendiri, dan disuruh tinggal sementara di ibu kota Majapahit. Sambil menikmati kemegahan ibu kota Majapahit, Sayyid Ali Rahmatullah juga mulai mempelajari kehidupan masyarakat Majapahit untuk bekal kelak ketika menjalankan dakwahnya.
Sayyid Ali Rahmatullah juga dijodohkan dengan salah satu putri Majapahit yang bernama Dewi Condrowati, yang kelak bernama Nyai Ageng Manila. Karena dia adalah menantu Raja Majapahit, maka Sayyid Ali Rahmatullah juga dianggap sebagai Pangeran Majapahit.
Sebenarnya kehidupan kraton bukanlah hal yang baru bagi dirinya, sebab sebelumnya ia juga tinggal di Kerajaan Campa. Sebagai menantu raja, maka Sayyid Ali Rahmatullah mendapat gelar Raden di depan namanya. Maka jadilah ia bernama Raden Sayyid Ali Rahmatullah atau biasa disebut dengan Raden Rahmat.
Setelah dirasa cukup tinggal berbulan-bulan di ibu kota Majapahit, Raden Rahmat dengan diiringi rombongan meninggalkan ibu kota untuk segera melaksanakan permintaan bibinya dalam memperbaiki moral pejabat maupun masyarakat Majaphit yang konon sudah kelewat parah dengan perjudian, mabuk-mabukan, mencuri, menghisap candu dan gemar main perempuan yang bukan istrinya.
Dalam perjalanannya yang melalui jalur Sungai Brantas menuju daerah Ampel Denta, tanah yang dipinjamkan oleh Raja Majapahit, Brawijaya V, Raden Rahmat tidak langsung menuju ke sana. Ketika melintas di daerah Kembang Kuning, Raden Rahmat tertarik untuk tinggal sementara di daerah tersebut. Raden Rahmat dan rombongan tinggal di Kembang Kuning untuk beberapa lama sambil melakukan dakwah. Di daerah ini, Raden Rahmat mendirikan surau kecil yang cukup sederhana, terbuat dari bambu dan beratapkan dedaunan rumbia, untuk menjalankan syiarnya tersebut (kini surau tersebut telah menjadi Masjid Rahmat).
Lalu, setelah dirasa cukup tinggal di Kembang Kuning sambil berdakwah, Raden Rahmat beserta rombongannya melanjutkan perjalanan untuk menuju ke Ampel Denta, tanah yang dipinjamkan Raja Mahjapahit seluas 12 hektar untuk dijadikan sebagai pusat untuk mendidik moral pejabat beserta kerabatnya yang telah mengalami dekadensi moral.
Sesampainya di sebuah delta tempat pertemuan antara Kali Mas dan Sungai Pergirian, Raden Rahmat tertarik untuk tinggal beberapa waktu sambil menjalankan dakwahnya di daerah tersebut. Di situ, Raden Rahmat juga mendirikan sebuah mushola yang lebih besar ketimbang yang dibangun di Kembang Kuning.
Awalnya, mushola yang dibangun cukup sederhana seperti di Kembang Kuning namun lebih luas dan tiang penyangganya pun terbuat dari kayu jati, dan langit-langitnya pun juga terbuat dari kayu jati (kini mushola tersebut telah menjadi Masjid Peneleh).
Setelah dirasa cukup tinggal di daerah Peneleh, Raden Rahmat beserta rombongan melanjutkan perjalanannya menuju ke Ampel Denta. Di Ampel Denta, Raden Rahmat mendirikan tempat ibadah lagi yang ketiga, yaitu sebuah masjid. Pembangunannya dilakukan oleh penduduk pribumi yang kelak menjadi santri-santrinya pada tahun 1421 M. Masjid itu kelak dikenal dengan sebutan Masjid Sunan Ampel.
Masjid Sunan Ampel terletak di Jalan Nyamplungan Gang Ampel Masigit, Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
Awalnya, bangunan masjid sekitar 2.069 meter persegi merupakan bangunan tajug tumpang dua dengan konstruksi kayu dan beratap genteng. Dalam bangunan induk juga terdapat bangunan menara yang menjulang tinggi ke atas. Di sekeliling bangunan induk ini terdapat bangunan serambi yang menurut catatan yang ada, merupakan bangunan perluasan pertama kali pada tahun 1870-1872. Pada serambi ini, dibuat dinding yang tinggi dengan pintu dan jendela yang besar yang mengisyaratkan bahwa usai renovasi tersebut, bangunan tersebut berlanggam Indische Empire.
Usai perluasan yang pertama kali tersebut, Masjid Sunan Ampel mengalami perluasan sebanyak tiga kali, yakni tahun 1926, 1954, dan 1972. Dan, sejak 1972 kawasan masjid ini telah ditetapkan menjadi tempat wisata religi oleh Pemkot Surabaya.
Untuk menuju ke bangunan masjid, pada halamannya terdapat lima pintu gerbang (gapura. Di sebelah selatan, terdapat gapura Munggah dan gapura Poso. Gapura Madep berada  di sebelah barat bangunan induk, dan dua lainnya, adalah gapura Ngamal dan gapura Paneksen.
Hingga kini, bangunan masjid ini masih terlihat kokoh. Dan  kemegahannya mempesona siapa pun yang menyaksikan masjid tersebut. Sekarang, masjid ini diberi nama Masjid Agung Sunan Ampel.
Masyarakat di sekitar masjid ini dahulunya adalah para santri dan anak cucu Sunan Ampel. Sekarang mereka telah berbaur dengan para pendatang lainnya. Meskipun begitu, mereka tetap memakmurkan masjid yang bersejarah ini. Keikutsertaan mereka dalam memakmurkan masjid tersebut merupakan wujud partisipasi dalam meneruskan perjuangan Sunan Ampel.
Mengenai Masjid Sunan Ampel sendiri ternyata ada dua. Masjid Ampel yang didirikan Sunan Ampel berukuran kecil dan terletak di sebelah timur. Masjid Ampel yang asli memiliki genting berwarna coklat tua dan terletak bersebelahan dengan Pasar cinderamata. Sedangkan Masjid Ampel yang baru memiliki genting bewarna merah cerah, berukuran lebih besar dan langsung berhadapan dengan pasar cinderamata. ***

Kepustakaan:
Abdul Baqir Zein, 1999, Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press
K.H. Dachlan, 1989, Wali Songo, Kenang-kenangan Haul Agung Sunan Ampel ke-544, Surabaya
http://simbi.bimasislam.com/simas/index.php/profil/masjid/564/?tipologi_id=3
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami