Sabtu, 15 Februari 2014

Masjid Peneleh Surabaya

Setelah langgar atau mushalla yang dibuat oleh Sayyid Ali Rahmatullah (Raden Rahmat) yang berada di Kembang Kuning dan beliau sempat berdakwah,  lalu langgar tersebut dipercayakan untuk diasuh oleh salah satu muridnya yang bernama Wirosroyo.
Lantas Raden Rahmat melanjutkan perjalanannya menuju Ampel Denta (yang kelak bergelar Sunan Ampel) dengan menyusuri Kali Mas. Sesampainya di sebuah delta tempat pertemuan antara Kali Mas dan Sungai Pegirian, Raden Rahmat tertarik untuk tinggal beberapa waktu sambil menjalankan dakwahnya di daerah tersebut. Daerah tersebut sudah membentuk perkampungan yang dikenal dengan nama Peneleh.  Nama Peneleh lahir di zaman Kerajaan Singasari. Asal kata peneleh berasal dari tempat tinggal Pangeran Pinilih (pilihan), putra Raja Wisnuwardhana, yang memiliki pangkat setara dengan bupati. Pangeran tersebut kemudian diangkat menjadi pemimpin di daerah yang berada antara pertemuan dua sungai tersebut.
Lalu, Raden Rahmat mengajak menepi dan mencari tempat untuk tinggal. Mereka akhirnya mendapat lokasi untuk dijadikan tempat tinggal yang begitu jauh dari Kali Mas. Di tempat baru itu, Raden Rahmat juga mendirikan sebuah mushalla yang lebih besar ketimbang mushalla yang dibangun di Kembang Kuning.


Setelah beberapa waktu berdiam di Peneleh, dan melakukan syiar dari mushalla tersebut, Raden Rahmat beserta rombongan melanjutkan perjalanannya ke Ampel Denta melalui Kali Mas. Ampel Denta terletak di pesisir utara. Di sana, Raden Rahmat dipinjami lahan yang cukup luas oleh Raja Brawijaya V.
Pada awalnya, mushalla yang didirikan di Peneleh ini masih begitu sederhana meskipun sudah lebih bagus atau lebih luas ketimbang mushalla pertama (langgar Kembang Kuning) yang dibangun di Surabaya. Sehingga, mushalla di Peneleh ini merupakan tempat ibadah umat Islam yang kedua yang didirikan oleh Raden Rahmat beserta rombongannya.
Sekitar tahun 1800, mushalla peninggalan Raden Rahmat diadakan renovasi menjadi Masjid Peneleh. Pada saat renovasi tersebut, bangunan di dalam masjid tetap dipertahankan seperti aslinya yang ditopang oleh sepuluh tiang penyangga dari kayu jati, dan langit-langitnya pun juga terbuat dari kayu jati. Sedangkan bagian luarnya, dibuat dinding yang tinggi dengan pintu dan jendela yang besar. Sepintas bangunan ini mirip dengan gaya arsitektur yang ada di Gedung Grahadi yang berlanggam Indische Empire.
Pada tahun 1945, di masa kemerdekaan, kubah masjid tersebut pernah terkena sambaran tembakan meriam Belanda dari arah Jembatan Merah. Kubahnya tidak hancur tapi di sisi timurnya sedikit mengalami kerusakan. Lalu, langsung diperbaiki.
Sekitar tahun 1970, serambi masjid mengalami perluasan tanpa mengubah ornamen dalam maupun keaslian masjid tersebut.


Sepintas bangunan tembok Masjid Peneleh ini, kualitasnya mirip dengan Masjid Ampel. Sehingga, pada waktu itu, kemegahan masjid seluas 950 m² ini tidak diragukan lagi. Keelokan masjid ini terpancar setelah dilakukan renovasi pada 1800 dengan dipasangi hiasan kaca-kaca patri di setiap ventilasi di sela-sela atap.
Seiring perkembangan zaman, dilingkungan masjid tersebut semakin berubah menjadi pemukiman yang padat. Masjid Peneleh, secara administratif terletak di Jalan Achmad Djais Gang Peneleh V No. 41 Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini tidak begitu jauh dengan rumah HOS Cokroaminoto yang berada di Gang Peneleh VII maupun berjarak sekitar 400 meter dari Kerkhof atau makam orang Belanda.
Semula masjid tersebut bisa disaksikan dari tepi Kali Mas, kini sudah terhimpit oleh bangunan rumah milik warga. Hal ini menyebabkan pamornya kalah dengan MasjidRahmat yang ada di Kembang Kuning maupun Masjid Ampel. Padahal sampai tahun 1900-an, daerah ini masih menarik untuk disinggahi tapi sekarang seolah-olah terbenam. Bahkan, masyarakat Surabaya sendiri jarang yang mengetahuinya.
Sebenarnya, bila kawasan Kampung Peneleh ini direvitalisasi secara komprehensif dan integratif, kawasan kuno ini bisa menjadi potensi wisata heritage andalan bagi Kota Surabaya. Karena situs lawas Kampung Peneleh ini sarat dengan nilai sejarah dengan bertebarannya bangunan kuno yang terdapat di kampung ini. Mulai dari pemukiman lawas, bangunan publik bergaya kolonial, masjid peninggalan salah seorang Walisanga maupun De Begraafplaats Peneleh. *** [080214]

0 komentar:

Posting Komentar