The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Kerkhof Peutjoet

Nama kerkhof berasal dari Bahasa Belanda, yang berarti halaman gereja atau kuburan. Untuk kerkhof yang berada di Banda Aceh, dimaknai oleh masyarakat setempat sebagai kuburan orang-orang Belanda. Kuburan militer Belanda ini dikelola oleh Yayasan Peutjoet yang berpusat di Belanda.
Kerkhof Banda Aceh terletak di Jalan Iskandar Muda, Kelurahan Suka Ramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Banda Aceh. Lokasi kuburan Belanda ini lebih dikenal dengan sebutan Blower, letaknya berdampingan dengan Museum Tsunami Aceh, yang depannya adalah Lapangan Blang Padang. Kuburan militer ini merupakan yang terluas di dunia setelah kerkhof yang ada di Belanda.


Pintu gerbang kerkhof yang menyerupai benteng ini, dibangun pada tahun 1893 M dan terbuat dari batu bata. Di atasnya, tertulis “Onze kameraden gevallen op het van eer” (Untuk sahabat kita yang gugur di medan perang). Teks yang tertulis tersebut menggunakan tiga bahasa, yaitu bahasa Arab, Melayu, dan huruf Jawa.
Pada dinding terdapat deretan nama-nama pejuang yang dikubur di dalamnya beserta tahun meninggalnya. Semuanya berjumlah sekitar 2.200 nama dan didominasi oleh tentara Kerajaan Hindia Belanda. Di antara makam orang Belanda yang cukup terkenal adalah kuburan Luitenant Kolonel J.J. Roeps (1840), Generaal Majoor Johan Harmen Rudolf Köhler (1873), dan Luitenant Kolonel W.B.J.A. Scheepens (1913).
Köhler meninggal pada 14 April 1873 di halaman Masjid Baiturrahman karena ditembak oleh sniper Aceh. Jasadnya lalu dibawa ke Batavia untuk dimakamkan di Tanah Abang, yang sekarang dikenal dengan Taman Prasasti. Namun atas inisiatif Gubernur Aceh kala itu, Muzakir Walad, karena Köhler ini meninggalnya di Aceh maka pada tahun 1978 tulang belulangnya dikebumikan di Kherkof Banda Aceh atau yang biasa disebut dengan Kerkhof Peutjoet.


Dalam areal makam seluas 3,5 hektar ini juga terdapat Kuburan Putra Mahkota Sultan Iskandar Muda, yaitu Pangeran Pho-tu tjoet atau Meurah Pupok, yang menurut sejarah dihukum mati oleh ayahnya, Sultan Iskandar Muda. Meurah Pupok dihukum rajam oleh ayahnya sendiri karena berbuat zina. Meurah Pupok berbuat zina dengan isteri seorang perwira muda yang menjadi pelatih dari angkatan perang Aceh. Pada waktu perwira muda itu pulang dari tempat latihan di Blang Peurade, didapatinya Meurah Pupok sedang berduaan dengan isterinya. Meurah Pupok segera melarikan diri. Karena marahnya si perwira itu menghunuskan pedang pada isterinya. Kemudian perwira tersebut melapor kepada Sultan Iskandar Muda untuk dilakukan penyelidikan. Akhirnya, Meurah Pupok tertangkap dan dihukum rajam sampai mati oleh Sultan Iskandar Muda selaku ayahnya di depan umum.
Banyak hal menarik yang akan ditemui di kompleks makam Belanda ini, seperti kisah tentang prajurit semasa hidupnya dan pada saat dikubur. Semua itu diceritakan secara sekilas pada batu nisan sehingga seakan-akan makam ini bercerita kepada pengunjung tentang masa hidupnya yang dikubur di situ. Di setiap batu nisan juga dibuat tanda untuk menjelaskan yang dikuburkan tersebut tewas karena perang atau karena sakit. *** [061013]

Kepustakaan:
Sinopsis yang terpampang di Kerkhof Peutjoet, dan pengamatan langsung pada hari Minggu, 6 Oktober 2012
Share:

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh (MTA) terletak di Jalan Iskandar Muda, Kelurahan Suka Ramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi museum ini berada di kawasan Blower, dan berada di sisi pintu gerbang Kherkof Peutjoet.
MTA ini didirikan untuk mengenang tsunami yang meluluhlantakan Aceh pada 26 Desember 2004, sehari setelah masyarakat Kristiani merayakan natalan. Gedung ini dibangun atas prakarsa beberapa lembaga yang terlibat rekonstruksi Aceh pasca tsunami, di antaranya Badan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Daerah Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Model bangunan MTA diambil dari rancangan pemenang dalam sayembara, M. Ridwan Kamil, dosen arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Model rancangan bangunan yang digagas oleh Ridwan Kamil tersebut mengadopsi dari ide bangunan Rumoh Aceh as Escape Hill.
Desainnya, lantai pertama museum merupakan ruang terbuka, sebagaimana rumah tradisional orang Aceh. Selain dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik, jika terjadi banjir atau tsunami lagi, maka air yang datang tidak akan terhalang lajunya.


Tak hanya itu, unsur tradisional lainnya berupa seni Tari Saman yang diterjemahkan ke dalam kulit luar bangunan eksterior. Sedangkan, denah bangunan merupakan analogi epicenter sebuah gelombang laut tsunami. Tampilan eksterior museum mengekspresikan keberagaman budaya Aceh melalui ornamen dekoratif unsur transparansi elemen kulit luar bangunan seperti anyaman bambu. Sedangkan tampilan interiornya mengetengahkan sebuah tunnel of sorrow yang menggiring pengunjung ke suatu perenungan atas musibah dahsyatnya yang diderita warga Aceh sekaligus kepasrahan dan pengakuan atas kekuatan dan kekuasaan Allah dalam mengatasi sesuatu.
Bangunan MTA berdiri megah pada lahan seluas satu hektar, sekilas tampak seperti perahu lengkap dengan cerobong asapnya. Desain ini begitu tematik sekali.
Pada pintu masuk museum dipajang helikopter milik Kepolisian yang pernah bertugas di Bumi Rencong yang terkena terjangan tsunami. Kerusakan dari helikopter inilah yang sebenarnya ingin ditampilkan agar pengunjung sadar betul akan kedahsyatan tsunami yang melanda Bumi Serambi Mekkah.
Masuk ke dalam, pengunjung disuguhkan dengan sebuah lorong sempit yang agak remang. Di sini pengunjung bisa melihat air terjun di sisi kiri dan kanannya yang mengeluarkan suara gemuruh air. Lorong ini untuk mengingatkan para pengunjung pada suasana tsunami.
Selanjutnya adalah sebuah ruang yang disebut The Light of God. Ruang yang berbentuk sumur silinder ini menyorotkan cahaya ke atas sebuah lubang dengan aksara Arab, Allah. Dinding sumur silinder juga dipenuhi nama-nama para korban tsunami Aceh. Dari luar jauh, akan terlihat seperti cerobong.
Keluar dari sana, ada memorial hall di ruang bawah tanah. Ruangan ini gelap dengan dinding kaca. Di sana pengunjung dapat melihat foto-foto kondisi Aceh yang porak poranda setelah tsunami. Foto-foto tersebut ditampilkan memakai pada 26 layar display elektronik selebar 17 inci.
MTA yang dibangun dengan dana sekitar Rp 70 miliar, sekarang menjadi ikon bagi Kota Banda Aceh. Bahkan, menjadi land mark kedua Kota Banda Aceh setelah Masjid Raya Baiturrahman. Terbukti dengan masih banyaknya pengunjung yang hilir mudik ke museum ini. Menurut juru parkir yang berada di MTA, semenjak dibuka untuk umum, diperkirakan rata-rata pengunjung berjumlah sekitar seribu sampai dua ribuan per bulan, paling ramai hari Sabtu dan Minggu. Museum ini ramai dikunjungi setiap hari oleh anak sekolah, wisatawan lokal, nasional dan wisatawan mancanegara. *** [061013]

Kepustakaan:
Buletin Wonderful World of Aceh Vol. II/Mei-Agustus 2012 hal. 16
Pengamatan langsung pada hari Minggu, 6 Oktober 2013
Share:

Masjid Indrapuri

Masjid Indrapuri terletak di Desa Indrapuri Pasar, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Lokasi masjid ini tidaklah begitu jauh dengan poros jalan utama dari Banda Aceh menuju ke Medan.
Masjid Indrapuri merupakan masjid tua yang masih berdiri kokoh, dan terawat hingga kini. Artinya, masjid tersebut masih befungsi dan dimanfaatkan oleh kaum muslimin Indrapuri, sekaligus masjid ini juga ditetapkan menjadi bangunan tua yang dilindungi dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Makanya di areal depan pintu masuk ke masjid dipasang papan yang sifatnya pemberitahuan kepada khalayak bahwa masjid tersebut merupakan peninggalan sejarah dan purbakala yang harus dilestarikan.


Masjid Indrapuri pada mulanya merupakan sebuah bangunan candi yang dibangun pada abad ke-12 M di Kerajaan Indrapuri, jauh sebelum berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-15 M.
Namun, ketika Islam mulai berkembang di Bumi Aceh, dan merambah masuk ke wilayah Indrapuri. Hal ini kemudian mengubah peradaban di sana ke peradaban Islam. Fungsi Candi Indrapuri pun kemudian berubah menjadi sebuah masjid. Konon perubahan itu terjadi semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berkuasa di Kesultanan Aceh Darussalam (1607 M-1636 M). Sultan Iskandar Muda juga lah yang kemudian membangun Masjid Indrapuri menggantikan candi di lokasi tersebut.
Masjid berkonstruksi kayu tersebut didirikan di atas reruntuhan bangunan benteng yang diperkirakan bekas peninggalan Hindu yang pernah dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan di masa pendudukan Portugis dan Belanda. Setelah Islam masuk dan berkembang pesat di Aceh, benteng yang semula juga merupakan tempat peribadatan Hindu, dindingnya dihancurkan dan digantikan dengan masjid. Begitu juga dengan ornamen asli penghias bangunan dalam, ditutup plester mengingat ajaran Islam melarang adanya penggambaran makhluk bernyawa.
Masjid Indrapuri menempati areal tanah seluas 33.875 m, di mana dinding benteng yang juga berfungsi sebagai pondasi masjid berdenah persegi empat, berdiri di atas tanah seluas 4.447 m. Bangunan ini berundak empat dan pada setiap undakannya memiliki dinding keliling sekaligus jadi pembatas halaman. Kaki dan puncak dinding benteng dilengkapi oyif, yaitu bidang sisi genta.


Masjid Indrapuri berdenah bujur sangkar berukuran 18,80 m x 18,80 m dengan ketinggian 11,65 m. Bangunan ini dikelilingi oleh tembok undakan keempat setinggi 1,48 m. Pintu masuk terletak di sebelah timur, dan untuk mencapainya harus melalui pelataran yang merupakan halaman luar masjid. Di atas halaman kedua terdapat bak penampungan air hujan, yang juga berfungsi untuk mensucikan diri.
Bentuk masjid ini sekilas tampak seperti joglo yang berada di punden berundak, kendati oleh masyarakat  setempat diyakini sebagai perpaduan masjid dan benteng. Pagar tembok tebal dan tinggi mengelilingi masjid. Hanya ada satu jalan masuk menuju masjid, yaitu jalan depan. Melewati tembok pertama merupakan tempat parkir, tempat wudhu dan sekretariat remaja masjid. Dan lokasi  ini, masjid hanya Nampak sedikit karena terhalang tembok kedua yang agak tinggi.
Menaiki tangga menuju ke tembok kedua, di sana ada sebuah bangunan kecil yang dibawahnya ada kolam air tempat mencuci kaki, sebelum masuk ke masjid. Jamaah masjid memasukkan kakinya terlebih dahulu ke dalam kolam itu sehingga masuk ke dalam masjid dalam keadaan benar-benar bersih. Luas halaman dalam pagar kedua ini sekitar 10 m mengelilingi masjid. Tembok tebal sekitar  1 m mengelilingi masjid. Hanya ada satu jalan masuk, yaitu dihadapan kolam tadi.
Tembok ketiga masih belum masuk ke dalam masjid, tapi berupa halaman 4 m yang mengelilingi masjid. Halaman ini, sama dengan tembok kedua tadi juga dibatasi dengan tembok lainnya. Dan, di seberang tembok tersebut berdiri masjid bersejarah tersebut.
Atap masjid ini terdiri dari atap limas bersusun tiga, dan menggunakan seng sebagai penutupnya. Atap masjid ini ditopang oleh 36 tiang kayu (soko guru). Jarak antar tiang kira-kira dua shaf shalat. Tidak ada dinding untuk masjid ini kecuali tembok setinggi 1,5 m yang mengelilingi masjid tersebut atau dinding tembok dari punden berundak teratas. *** [051013]

Kepustakaan:
Buletin Wonderful World of Aceh Vol. II/Mei-Agustus 2012
Share:

Makam Sultanah Nahrasyiyah

Kompleks makam Sultanah Nahrasyiyah terletak di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Lokasi makam ini berada di pemakaman Kesultanan Samudra Pasai Periode II.
Makam ini terbuat dari marmer untuk mengenang Al-Malikah Al-Mu’azhzhamah (Ratu yang Dipertuan Agung) Nahrasyiyah bini Sultan Zainal Abidin. Makam ini bisa diidentifikasi oleh para arkeolog karena adanya inskripsi yang terpahatkan di marmer berwarna putih tersebut. Inskripsi yang menggunakan aksara dan bahasa Arab, berisi (dalam terjemahannya): “Inilah pembaringan yang bercahaya lagi bersih bagi ratu yang dipertuan agung, yang dirahmati lagi diampuni Nahrasyiyah yang digelar dengan Ra-Bakhsya Khadiyu (penguasa yang pemurah) binti Sultan yang berbahagia lagi syahid Zainal Abidin bin Sultan Ahmad bin Sultan Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih, semoga ke atasnya dan ke atas mereka semua dilimpahkan rahmat dan keampunan. Ia meninggalkan negeri yang fana menuju sisi rahmat Allah pada tanggal hari Senin 17 bulan Zulhijjah 831 dari hijrah [Nabi SAW].”
Selain inskripsi di atas yang kaligrafis, di makam tersebut juga terdapat ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu Surat Yasin. Terpahatnya Surat Yasin pada makam Sultanah Nahrasyiyah barangkali memililki suatu makna, seniman seolah hendak menyampaikan bahwa kebaikan Sultanah Nahrasyiyah dan Samudra Pasai pada waktu itu meliputi sisi duniawi dan ukhrawinya (al-mu’immah), jauh dari marabahaya dan mampu mempertahankan dirinya (al-dafi’ah), serta dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya (al-qadhiyah). Selain itu, Surat Yasin adalah juga jantung Al-Qur’an. Mungkin, seniman yang memahat Surat Yasin pada makam Malikah Nahrasyiyah juga ingin mengatakan bahwa Nahrasyiyah adalah jantung Samudera Pasai, dan Samudera Pasai adalah jantung bagi negeri-negeri Islam di Asia Tenggara.


Sejauh penelitian yang dilakukan, pahatan Surat Yasin pada makam bersejarah  di Aceh hanya terdapat pada dua makam. Yang pertama, makam Sultanah Nahrasyiyah, dan yang kedua adalah makam Sultan Alauddin Inayat Syah (seorang sultan dari Kerajaan Aceh Darussalam).
Kompleks makan ini dikelilingi oleh pagar kawat dan beratap seng memanjang. Karena di bawah seng tersebut banyak berjajar makam-makam lainnya. Di sekeliling makam ini, terutama yang berada di sebelah utara masih merupakan lahan tambak ikan/udang yang masih tergolong luas. Sehingga, di lingkungan makam ini udara terasa agak panas. Namun demikian, keindahan makam ini masih terpancar hingga kini. Bahkan, Dr. C. Snouck Hurgronje pernah terkagum-kagum menyaksikan sebuah makam yang demikian indah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara. Makam yang terbuat dari pualam itu, merupakan makam terindah di Asia Tenggara. Makam yang dihiasi dengan ayat-ayat Qur’an tersebut tentu seorang raja yang besar, terbukti dari hiasan makamnya yang sangat istimewa.

Latar Belakang Sejarah
Sultanah Nahrasyiyah merupakan seorang raja perempuan dari Kerajaan Samudera Pasai yang memerintah dari 824-832 H atau 1400-1428 M. Ia adalah puteri Sultan Zainal Abidin bin Al-Malik Ash-Shalih (Sultan Malikussaleh), yang wafat pada hari Senin 17 Dzulhijjah 832 H atau 1428 M.
Sayang, sedikit sekali sumber sejarah tentang dirinya  yang memerintah lebih dari 20 tahun. Kerajaan Samudera Pasai senantiasa mengeluarkan mata uang emas. Akan tetapi, kepunyaan Ratu Nahrasyiyah sampai saat ini belum ditemukan.


Sementara itu, dirham ayahnya ditemukan, di mana di sisi depan mata uang tersebut tercantum “Zainal Abidin Malik az-Zahir”. Nama Sultan Zainal Abidin dalam berita-berita Tiongkok dikenal dengan Tsa-nu-li-a-ting-ki. Kronika Dinasti Ming (1368-1643) menyebutkan, Raja ini mengirimkan utusan-utusannya yang ditemani oleh sida-sida China, Yin Ching kepada maharaja China, Ch’engtsu (1403-1424).
Maharaja China kemudian mengeluarkan dekrit pengangkatannya sebagai Raja Samudera Pasai dan memberikan sebuah cap kerajaan dan pakaian kerajaan. Pada tahun 1415 Laksamana Cheng Ho dengan armadanya datang mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai. Diceritakan, Sekandar, kemenakan suami kedua Ratu, bersama pengikutnya merampok Cheng Ho. Serdadu-serdadu China dan Ratu Kerajaan Samudera Pasai akhirnya dapat mengalahkan Sekandar. Ia ditangkap lalu dibawa ke Tiongkok untuk dijatuhi hukuman mati. Ratu yang dimaksud dalam berita China itu tidak lain adalah Ratu Nahrasyiyah. *** [300913]

Kepustakaan:
Booklet Tinggalan Sejarah Samudra Pasai yang dikeluarkan oleh Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) Lhokseumawe
Sinopsis yang dipajang di dinding SDN 3 Beureunuen, Pidie
Share:

Makam Al-Malik Ash-Shalih

Makam Al-Malik Ash-Shalih atau Malikussaleh terletak di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Lokasi makam ini berada di pemakaman Kesultanan Samudra Pasai Periode I, yang berjarak sekitar 17 Km sebelah timur Kota Lhokseumawe.
Nisan makam ini terbuat dari batu granit yang beraksara Arab. Lewat inskripsi pada nisan makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih, para arkeolog maupun sejarawan bisa mengidentifikasi siapa yang bersemayam di situ. Inskripsi tersebut bila diterjemahkan, isinya kurang lebih seperti ini: “Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, yang bertaqwa lagi pemberi nasihat, yang berasal dari keturunan terhormat dan terkenal lagi pemurah, yang ahli ibadah dan pembebas, yang digelar dengan Sultan Malik Ash-Shalih, yang meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun 696 sejak perpindahan (hijrah) Nabi [SAW]. Semoga Allah melimpahkan rahmat ke atas pusaranya dan menjadikan syurga sebagai tempat kembalinya.”
Catatan otentik yang singkat padat itu mengungkapkan dengan jelas bahwa Sultan memiliki kepribadian yang berimbang, seorang yang baik sekaligus menginginkan kebaikan untuk orang lain.
Begitulah seorang penguasa yang agung dan berpengaruh, dan adalah berkat jasa-jasa para penguasa semisalnya, Islam menyebar dan menerangi kawasan yang luas di Asia Tenggara.



Latar Belakang Sejarah
Legenda menyebutkan tentang Meurah Silu yang setelah memeluk Islam berubah nama menjadi Al-Malik Ash-Shalih atau masyarakat setempat melafalkannya menjadi Malikussaleh, sebuah nama yang biasa digunakan Dinasti Ayyubiyah di Mesir.
Konon, suatu hari Meurah Silu bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia memutuskan untuk masuk Islam. Beliau diangkat menjadi Sultan di Kerajaan Samudra Pasai oleh Laksamana Laut dari Mesir bernama Nazimuddin Al-Kamil.
Sultan Al-Malik Ash-Shalih merupakan pendiri Kerajaan Samudra Pasai, sebuah Kerajaan Islam di Nusantara. Beliau menikah dengan seorang putri dari Kerajaan Peureulak yang bernama Ganggang Sari, dan memerintah sejak 1270 M hingga 1279 M. Dari perkawinannya, beliau memiliki dua putra yaitu Al-Malik Azh-Zhahir dan Malikul Mansyur.
Pertengahan abad ke-14 M, Ibnu Baththuthah, musafir Islam terkenal asal Maroko, pernah mengunjungi kota kesultanan Samudra Pasai yang disebut dengan Sumuthrah, lantas ia mencatat dalam laporannya: “Sumuthrah adalah sebuah kota besar dan indah, dikelilingi benteng dan menara-menara terbuat dari kayu.” *** [300913]
Share:

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman berada di jantung Kota Banda Aceh, atau tepatnya terletak di Jalan Masjid Baiturrahman, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi masjid ini dikelilingi pertokoan dan Pasar Aceh.
Nama Masjid Raya Baiturrahaman ini berasal dari Masjid Raya yang dibangun Sultan Iskandar Muda pada 1022 Hijriyah atau 1612 M, dan merupakan masjid Kesultanan Aceh kala itu. Masjid ini pernah terbakar habis akibat penyerangan tentara Belanda dalam ekspedisi keduanya pada April 1873. Dalam peristiwa tersebut Mayor Jenderal J.H.R. Köhler, pimpinan pasukan Belanda tewas. Tempat tertembaknya Köhler diabadikan pada sebuah monumen di bawah pohon geulumpang atau semacam pohon ketapang. Masyarakat setempat juga menyebutnya dengan pohon Köhler.


Empat tahun setelah peristiwa itu, awal Maret 1877, Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun lagi Masjid Raya Baiturrahman. Hal itu diumumkan setelah permusyawaratan dengan kepala-kepala negeri sekitar Banda Aceh yang menyimpulkan bahwa masjid tersebut sangat besar impresinya bagi masyarakat Aceh yang mayoritas beragama Islam. Janji tersebut dilaksanakan Mayor Jenderal Vander, selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Tepat pada hari Kamis, 9 Oktober 1879, diletakkan batu pertamanya yang diwakili oleh Teungku Qadhi Malikul Adil. Saat itu kubahnya hanya satu.


Pada 1935, masjid ini diperluas bagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah. Perluasan selanjutnya dilakukan pada 1967 sehingga masjid memiliki lima kubah. Tahun 1981, untuk menyambut MTQ XII, masjid ini diperindah. Lalu antara 1991-1993, masjid kembali diperluas dan diperindah, termasuk menambahkan halaman, taman, dan menara. Pada renovasi terakhir ini, ruang dalam masjid berlantai marmer dari Italia seluas 4.760 m² yang mampu menampung 9.000 jamaah. Sementara di bagian luar kini tampak tujuh kubah, empat menara, serta satu menara induk.
Masjid ini merupakan salah satu masjid bersejarah yang ada di Indonesia, dan memiliki keindahan yang luar biasa. Konon, masjid ini didirikan atas rancangan pengusaha dari China yang bernama Lie A Sie dengan mengadopsi bangunan model Eropa. Dan, kini masjid ini menjadi tujuan wisata religi yang melegenda bila mengunjungi Kota Banda Aceh, dan bahkan sekaligus menjadi ikon Kota Banda Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekkah. *** [290913]
Share:

Museum Satriamandala

Museum Satriamandala terletak di Jalan Gatot Subroto 14 Jakarta Selatan, atau kurang lebih 100 m sebelah timur Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Lokasi museum ini sangat strategis karena berada di tepi jalan besar yang membelah Jakarta dari Cawang hingga Grogol.
Museum Satriamandala merupakan museum militer yang dikelola oleh Pusat Sejarah (Pusjarah) Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun demikian, museum ini terbuka untuk umum. Artinya, siapa saja boleh mengunjungi museum ini dengan karcis masuk museum sebesar Rp 2.500,-. Awalnya, museum ini memang dicitrakan sebagai propaganda dari Pemerintah Orde Baru (ORBA), namun bila mempertimbangkan informasi sejarah yang dimiliki oleh museum ini, selayaknya informasi tersebut bisa digunakan. Sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam rangka merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memerlukan waktu yang cukup panjang. Rakyat Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) berjuang bersama demi menegakkan kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa dan raga maupun harta benda yang tak ternilai harganya. Dengan mempelajari sejarah, kita harapkan mampu bersikap serta bertindak arif dan bijaksana dalam menghadapi masa depan.
Ide berdirinya museum ini berasal dari Brigadir Jenderal Prof. DR. Nugroho Notosusanto. Gedung ini dulunya merupakan kediaman Soekarno dengan Ratna Sari Dewi yang dikenal dengan nama Wisma Yaso. Ketika mantan Presiden Soekarno wafat, jenazahnya sempat disemayamkan di gedung ini, dan selanjutnya dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
Museum ini diresmikan oleh Soeharto, Presiden RI ke-2, pada tanggal 5 Oktober 1972. Satriamadala berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti lingkungan keramat para ksatria.


Museum Satriamandala merupakan salah satu sarana pewarisan nilai-nilai juang 1945 dalam pembinaan serta pelestarian jiwa dan semangat keprajuritan di lingkungan TNI. Di samping itu juga merupakan sarana efektif untuk menanamkan kesadaran sejarah dan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Koleksi yang terdapat di Museum Satriamandala adalah benda-benda bersejarah peninggalan para pejuang TNI dari tahun 1945 hingga kini.
Salah satu koleksi menarik yang menjadi ikon museum ini adalah tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dipakai beiau pada saat memimpin perang gerilnya tahun 1948-1949.
Di dalam kompleks Museum Satriamandala yang memiliki areal seluas 56.670 m² ini, terdapat pula pesawat Curen buatan Jepang tahun 1933 yang pertama kali diterbangkan di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta, oleh penerbang Agustinus Adisucipto yang dikenal sebagai salah satu pelopor dunia kedirgantaraan Indonesia.
Di museum ini terdapat 74 diorama yang menggambarkan peranan TNI bersama rakyat dalam membela kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari berbagai ancaman baik dari dalam maupun luar negeri.
Koleksi senjata yang dipamerkan di Museum Satriamandala mulai dari senjata tradisional seperti bambu runcing dan bom Molotov, hingga senjata modern seperti revolver atau handgun, rocket launcher, berbagai macam senapan mesin ringan, sedang maupun berat.
Masih dalam kompleks Museum Satriamandala terdapat Museum Waspada Purbawisesa yang diresmikan oleh Soeharto pada tanggal 10 November 1987.
Museum Waspada Purbawisesa menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama rakyat dalam menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan pada awal tahun 1950-an.
Selain memiliki ruang pameran yang representatif, kompleks Museum Satriamandala memiliki sejumlah fasilitas lainnya, seperti tempat parkir yang sangat luas, kantin dan toko souvenir, ruang serbaguna yang berkapasitas 600 kursi, perpustakaan maupun tempat penginapan. *** [260913]
Share:

Klenteng Tjoe Ling Kiong

Bagi orang Tionghoa, klenteng bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga sebagai tempat interaksi sosial serta ekonomi. Itulah sebabnya kehadiran sebuah klenteng menjadi sangat penting dalam masyarakat Tionghoa, terutama daerah Pecinan di suatu kota. Masyarakat Tionghoa diyakini keberadaannya di Tuban sudah sejak lama.
Berdasarkan sejarah, Ma Huan, seorang penerjemah dari Laksamana Cheng Ho, yang ikut mendampingi ekspedisi besarnya, mengatakan bahwa di Tuban waktu itu sudah terdapat permukiman orang Tionghoa yang berasal dari Provinsi Guangdong dan Fujian, tepatnya daerah Zhangzhou dan Guanzhou. Di Tuban, mereka merupakan sebagian besar penduduk yang waktu itu jumlahnya mencapai “seribu keluarga lebih”.
Banyaknya orang Tionghoa yang bermukim di Tuban kala itu, berusaha mendirikan klenteng sebagai tempat peribadatan mereka. Di Tuban, terdapat dua klenteng yang telah berusia ratusan tahun lebih. Salah satunya adalah “Ciling Gong” atau dalam dialek Hokkian disebut sebagai “Tjoe Ling Kiong”. Papan nama yang dipasang di depan tempat peribadatan tersebut adalah “Tempat Ibadah Tri Dharma Tjoe Ling Kiong”. Klenteng ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 104 Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di sebelah utara alun-alun Tuban, dekat jalan yang menjadi pintu masuk menuju Pantai Boom.
Seperti biasa, klenteng ini didominasi oleh warna merah, kuning dan hijau, sehingga dari alun-alun terlihat kekhasan bangunan klenteng tersebut. Meski tidak memiliki tempat parkir yang cukup bagi umat maupun pengunjungnya, tidak serta merta mengurangi kemegahan klenteng ini. Masyarakat setempat menyebut klenteng ini dengan sebutan “klenteng perempuan”.


Klenteng Tjoe Ling Kiong merupakan tempat peribadatan pemeluk ajaran Tri Dharma, yang terdiri atas agama Buddha, Tao dan Konghucu. Eksistensi klenteng ini dipersembahkan untuk Dewi Tianhou. Tianhou atau Ma Zu atau Mak Co (Hokkian), juga dikenal dengan sebutan Tian Shang Sheng Mu (Mandarin) atau Thian Siang Sing Bo, adalah dewi pelindung bagi pelaut asal Fujian (Hokkian). Banyak klenteng Tianhou menyebar sepanjang kota-kota pantai di Asia Tenggara. Tapi di samping altar utamanya juga terdapat patung dewa lain, yaitu Fude Zhengshen dan Jialian. Fude Zhengshen adalah Dewa Bumi dan Kekayaan. Oleh orang Fujian disebut sebagai Hok tek ceng sin atau Toa pe kong (Dabo gong, istilah Mandarinnya). Dewa ini juga banyak didapati pada klenteng-klenteng di seluruh Jawa.
Sulit diketahui kapan berdirinya klenteng ini, karena tidak ada inskripsi yang tertinggal mengenai kapan diresmikannya bangunan tersebut. Di dalam klenteng ini terdapat inskripsi tentang restorasi yang dilakukan pada tahun 1850. Jadi diperkirakan klenteng tersebut sudah ada jauh sebelum tahun 1850.
Pada tahun 1980 bagian depan klenteng tersebut dirobohkan berhubung adanya pelebaran jalan. Sangat disayangkan bahwa klenteng yang sangat bersejarah ini terpaksa bagian depannya harus dibongkar karena alasan adanya pelebaran jalan. *** [190913]

Kepustakaan:
Samuel Hartono, et.al, 2005, Alun-Alun dan Revitalisasi Identitas Kota Tuban, dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 33 No.1, Desember 2005 atau http://puslit.petra.ac.id/~puslit/journals
Share:

Klenteng Kwan Sing Bio

Banyak orang menganggap bahwa klenteng Kwan Sing Bio atau Guansheng Miao merupakan klenteng yang tertua di Indonesia. Meskipun mitos ini belum pernah terbukti, tapi banyak orang Tionghoa percaya, sehingga klenteng ini sekarang menjadi klenteng paling penting di Pulau Jawa.
Klenteng Kwan Sing Bio terletak di Jalan Martadinata No. 1 Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini tepat berada di pinggir jalan raya pantura yang menghubungkan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan menghadap ke Laut Jawa. Cukup mudah menuju ke klenteng ini karena banyak angkutan umum yang melintasinya.


Klenteng Kwan Sing Bio merupakan tempat ibadah bagi penganut agama Buddha, Tao dan Konghucu, atau yang biasa dikenal dengan Tri Dharma. Tempat ibadah ini dipersembahkan kepada Dewa Kwan Kong. Selaras dengan hal itu, Kwan Sing Bio memiliki makna klenteng untuk memuja dan menghormati Dewa Kwan Kong. Ulang tahun dari dewa ini dirayakan pada tanggal 24 bulan keenam pada sistem penanggalan Tionghoa. Sehingga pada setiap tahun pada tanggal ini banyak peziarah dari seluruh Jawa datang ke Tuban untuk merayakan hari ulang tahun ini.
Sebelum memasuki klenteng, terdapat sebuah gerbang yang sangat unik di mana di bagian atas gerbang tersebut terdapat hiasan seekor kepiting yang berukuran sangat besar. Mungkin hanya klenteng ini yang memiliki hiasan seperti itu di Indonesia. Konon, kepiting yang menjadi ikon klenteng Kwan Sing Bio dibangun pada tahun 1973, berkaitan dengan sejarah awal dibangunnya klenteng ini. Karena dulunya lokasi tempat dibangunnya klenteng ini merupakan areal tambak yang dihuni banyak kepiting, dan setiap malam selalu keluar. Akhirnya, untuk mengenang tempat awal didirikannya klenteng tersebut, digunakanlah hewan kepiting tersebut sebagai hiasan di klenteng Kwan Sing Bio. Klenteng ini diperkirakan didirikan pada tahun 1773, tapi inskripsi tertua yang terdapat di klenteng ini berangka tahun 1871.


Bangunan utama klenteng Kwan Sing Bio terbagi menjadi 3 ruangan. Ruang pertama yang menempati bagian depan dipergunakan untuk membakar hio. Di situ, terdapat banyak lilin dari berbagai ukuran.
Ruang kedua yang berada di bagian tengah diperuntukkan untuk melakukan sembahyang, serta menaruh buah-buahan persembahan. Sedangkan, ruang ketiga yang ada di bagian belakang terdapat arca atau patung Dewa Kwan Kong, dan arca-arca lain yang dikeramatkan. Di depan patung Dewa Kwan Kong ini biasanya umat atau pengunjung klenteng melakukan ritual jiam sie untuk berbagai keperluan seperti kelancaran usaha, menerawang peruntungan nasib dan jodoh serta lainnya. Pengunjung tidak diperbolehkan memotret di daerah ini.
Di halaman belakang klenteng Kwan Sing Bio terdapat bangunan megah laksana Kaisar dari Tiongkok. Istana itu dilengkapi dengan gerbang, kolam, jembatan kelok Sembilan, gazebo, dan lainnya. Bila Anda di sini, seolah-olah sedang berada di Negeri China.
Kompleks klenteng ini memiliki luas areal sekitar 4 – 5 hektar dengan berbagai bangunan dan fungsi yang menjadikan klenteng ini dikenal sebagai klenteng terbesar, dan indah arsitekturnya di Indonesia. Didominasi warna merah, kuning dan hijau yang terang pada bangunannya dengan banyak hiasan naga, lampion, dan lilin berbagai ukuran menambah keindahan klenteng tersebut.
Pada hari ulang tahun klenteng tersebut yang terjadi pada setiap tahun, diadakan upacara-upacara yang dihadiri oleh banyak penganutnya dari seluruh tanah air. Di antaranya dengan melepaskan kura-kura sebagai lambang rezeki dan panjang umur di laut lepas.  *** [210913]
Share:

Makam Sunan Bonang

Kompleks makam Sunan Bonang terletak di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di belakang Masjid Agung Tuban. Kurang lebih 300 m dari alun-alun mengarah ke barat daya.
Makam Sunan Bonang merupakan salah satu dari makam Sunan di Jawa Timur yang menempati posisi penting setelah Sunan Ampel dan Sunan Giri. Jika orang berziarah makam wali, maka dapat dipastikan akan berziarah ke makam ini. Sunan Bonang menempati posisi kedua setelah Sunan Ampel dalam jajaran kewalian. Ia menjadi guru beberapa wali lain, seperti Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Drajat dan bahkan Sunan Giri (Raden Paku) juga pada tahap awal belajar kepadanya.
Kompleks makam Sunan Bonang di Tuban, ditinjau dari segi arkeologi cukup menarik. Hal ini disebabkan karena sebagian besar bangunan yang ada di kompleks makam masih dalam keadaan asli, walaupun kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.


Kompleks makam Sunan Bonang dikelilingi tembok dan terbagi menjadi tiga halaman yang disusun berurut ke belakang dari arah selatan ke utara, masing-masing halaman dibatasi pagar tembok penghubung antara halaman satu dengan yang lain berupa gerbang  berbentuk paduraksa.
Di halaman dalam banyak ditemukan nisan-nisan kuno dari batu andesit. Di kompleks tersebut, selain makam Sunan Bonang juga terdapat makam para Bupati dan kerabat Sunan Bonang. Makam Sunan Bonang terdiri dari jirat dan nisan. Bentuk jirat makam Sunan Bonang seperti profil candi. Pada nisan makam Sunan Bonang terdapat hiasan yang menyerupai hiasan surya Majapahit, dan makam Sunan Bonang dilindungi sebuah cungkup dengan atap sirap dari kayu jati yang berukir. Makam Sunan Bonang masih ditutupi lagi dengan kelambu, sehingga terkesan sangat keramat. Di kompleks tersebut juga ada sebuah masjid kecil yang dikenal dengan Masjid Astana.

Latar Belakang Sejarah
Semasa mudanya, Sunan Bonang bernama Raden Maulana Makdum Ibrahim, lahir 1448 Masehi dan wafat 1525 Masehi. Beliau adalah putra Sunan Ampel hasil perkawinan dengan Nyai Ageng Manila, putri Aryo Tejo, Tumenggung Majapahit yang berkuasa di Tuban.
Menurut cerita, Sunan Bonang bersama Raden Paku (Sunan Giri) suatu hari bermaksud pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Namun dalam perjalanannya mereka hanya sampai di Samudra Pasai. Di Pasai, mereka berjumpa dengan ayahanda Raden Paku yang bernama Maulana Iskak (Syeh Wali Lanang). Keduanya diajarkan ilmu agama Islam dan berbagai ilmu lainnya oleh Maulana Iskak. Setelah selesai belajar pada Maulana Iskak kemudian Raden Paku (Sunan Giri) diberi gelar Raden Satmapta dan Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) diberi gelar Raden Tjakrakusuma. Atas nasehat Syeh Maulana Iskak, keduanya tidak melanjutkan perjalanan mereka ke Mekkah, tetapi pulang ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Raden Paku menyebarkan ajaran Islam di daerah Giri, Gresik, yang akhirnya terkenal dengan sebutan/gelar Sunan Giri.
Raden Maulana Makdum Ibrahim menyebarkan agama Islam di daerah Bonang, Tuban dan Lasem, yang kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan/gelar Sunan Bonang. Secara kebetulan pada saat Sunan Bonang mulai aktif berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam, pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit mulai runtuh dan hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Bonang untuk mempercepat penyebaran agama Islam dengan mendirikan pesantren-pesantren dan masjid-masjid. Selain itu, Sunan Bonang juga berusaha memasukkan ajaran agama Islam kepada Raden Patah, seorang putra Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

Halaman 1
Pada halaman pertama terdapat dua bangunan pendapa, dan terletak bersebelahan. Bangunan pendapa itu bentuknya limasan dengan konstruksi bangunan kayu, namun tidak berdinding.
Unsur bangunan yang perlu diperhatikan di sini adalah umpak-umpaknya, yang berwarna putih dan terbuat dari tulang ikan pari. Fungsi bangunan semacam itu selain untuk istirahat, pada waktu-waktu tertentu dipergunakan sebagai tempat selamatan.
Di tempat lain seperti di kompleks makam raja-raja Kota Gede Yogyakarta, bangunan semacam itu disebut sebagai paseban, dan dipakai oleh para peziarah mempersiapkan diri sebelum masuk ke makam utama. Sungguh tepat sekali jika di halaman pertama ini tersedia bangunan seperti itu, karena di sini kita dapat melepaskan lelah sejenak sambil menyeka keringat sebelum menuju ke makam utama.

Halaman 2
Untuk masuk ke halaman kedua, kita melewati sebuah paduraksa yang terbuat dari bata. Jika paduraksa sebagai pintu gerbang kompleks biasanya beratap sirap, maka lain halnya paduraksa ini yang kesemuanya terbuat dari bata. Pintunya teruat dari kayu, dan dihiasi dengan ukir-ukiran yang indah. Di kanan kiri gapura terdapat lubang, sehingga dinding tembok tersebut dapat dipakai untuk jalan. Besar kemungkinannya bahwa dinding tembok gapura ini dahulu tidak berlubang, tetapi karena pertimbangan teknis, pada saat ini tembok tersebut dijebol untuk mengatasi arus pengunjung. Gapura ini mempunyai hiasan yang cukup menarik yang berbentuk geometris, motif sulur-sulur daun, dan hiasan tumpal. Pada tubuh gapura tersebut, dihiasi dengan piring-piring China. Hiasan seperti itu, menyerupai hiasan tubuh candi yang biasanya disebut dengan istilah medallion.


Pada halaman ini terdapat beberapa bangunan fasilitas seperti kamar mandi, WC, serta bangunan masjid yang menurut keterangan dibangun pada tahun 1921. Selain bangunan fasilitas, di sini juga terdapat beberapa tinggalan purbakala seperti tempayan, yoni, pipisan, dan peti batu. Benda-benda purbakala tersebut sekarang disimpan di dalam halaman kecil yang oleh penduduk setempat disebut sebagai pendapa rantai (rante).

Halaman 3
Setelah puas menikmati keunikan yang terdapat di halaman pertama dan kedua, maka Anda dapat meneruskan perjalanan ke dalam halaman utama, untuk berziarah ke Makam Sunan Bonang.  Gapura masuk menuju halaman utama berbentuk sangat indah dan kaya akan hiasan piring-piring China.
Pada bagian belakang terdapat dinding tembok yang lazim disebut dengan bangunan kelir. Sesuai dengan mitologi kuno, bangunan kelir itu berfungsi sebagai penolak bala. Di antara hiasan yang berupa piring China tersebut, beberapa di antaranya terdapat tulisan dengan huruf Arab. Tulisan-tulisan itu di antaranya ada yang berbunyi Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
Setelah sampai di halaman ketiga, maka nampak halaman yang penuh dengan makam-makam. Sebagian besar makam itu merupakan makam baru, namun beberapa di antaranya terdapat juga makam-makam kuno. Makam Sunan Bonang berada di dalam cungkup yang cukup besar dan nampak angker. Bangunan cungkup ini mempunyai mustaka yang terbuat dari perunggu dengan hiasan motif tumpal, serta dilengkapi hiasan semacam padma.
Bagian puncak mustaka berbentuk bulat, sedangkan bagian bawahnya berbentuk persegi. Cungkup makam berbentuk sinom dengan atap terbuat dari sirap dan dindingnya dari tembok yang diberi lubang semacam kisi-kisi. Selain mempergunakan dinding tembok, cungkup ini juga mempergunakan dinding kayu, yang lazim disebut dengan nama dinding gebyok. Jirat makamnya mempunyai keunikan tersendiri yaitu beberapa hiasannya menyerupai pola-pola perbingkaian seperti pada candi-candi Hindu. Nisannya terbuat dari batu putih, dan kondisinya masih baik. *** [190913]

Kepustakaan:
Nurcholis & H. Ahmad Mundzir, 2013, Menapak Jejak Sultanul Auliya Sunan Bonang, Tuban: Mulia Abadi.
Share:

Museum Kambang Putih

Museum Kambang Putih terletak di Jalan Kartini No. 3 Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, atau berada di barat daya alun-alun Kota Tuban. Lokasi museum ini sangat strategis, berada di jantung kota yang masuk dalam kawasan utama dan senantiasa ramai pengunjung. Karena berada tidak jauh dari makam Sunan Bonang dan Masjid Agung Tuban yang menempati areal sebelah barat alun-alun.
Sebelum ada bangunan ini, museum tersebut menempati kompleks pendapa Kabupaten Tuban. Baru pada 4 Januari 1984, dengan didirikan bangunan berarsitektur Belanda klasik yang terletak di sebelah barat Kantor Bupati Tuban, museum tersebut dipindah kemari. Semula bangunan berfungsi sebagai kamar bola, namun pada 28 Maret 1984 baru difungsikan sebagai museum.
Museum ini menempati lahan seluas 150 m², dan berlantai satu, merupakan museum umum yang diselenggarakan olen Pemerintah Kabupaten Tuban. Kendati mungil untuk ukuran sebuah museum, akan tetapi museum ini memiliki segudang sejarah yang mungkin belum seluruhnya diketahui. Di museum Kambang Putih terdapat koleksi sejarah yang jumlahnya mencapai 600 koleksi.


Benda-benda koleksi museum ditempatkan dalam tempat pajangan yang berbeda dengan jenis dan klasifikasinya. Seperti numismatik, etnografi, arkeologi, dan lain-lain. Banyaknya koleksi yang dimiliki museum ini tak sebanding dengan volume ruangan untuk memamerkan berbagai koleksi yang ada sehingga perlu penataan yang lebih efisien, atau kalau memungkinkan perlu diperlebar atau diperluas bangunan museum tersebut melalui penambahan beberapa lantai ke atas. Di tambah dengan banyaknya becak yang mangkal di depan museum juga menambah keruwetan dalam pandangan mata setiap pengunjung yang akan melihat museum tersebut.
Di antara benda-benda koleksi museum Kambang Putih terdapat beraneka macam fosil, kapak batu dan kapak perunggu, nekara, dan lain-lain. Juga ada beberapa arca-arca kuno maupun kayu berukir dengan hiasan relief yang ditemukan di kompleks makam Sunan Bonang, menghiasi etalase museum tersebut.
Tidak hanya itu saja, mulai dari lingga dan yoni, jangkar pasukan Tar-tar, manuskrip kuno dari daun lontar, mata uang kuno, keramik hingga ongkek pun ada di museum ini.
Museum ini dinamakan Kambang Putih karena merujuk pada sejarah Tuban yang salah satu kabupaten tertua di Indonesia. Konon, sebelum menjadi Tuban, daerah ini merupakan kawasan pasir putih yang bila dilihat dari kejauhan di tengah laut tampak mengambang. Para ekspedisi China yang acap kali melihat daerah ini, dan pada akhirnya banyak yang bermukim di daerah ini. Dari pasir putih di tepi pantai Tuban kala itu yang seolah-olah mengambang di tengah lautan tersebut, akhirnya daerah ini dikenal dengan Kambang Putih. Sehingga, tepatlah penamaan museum ini yang menggali dari kisah kekunaannya sendiri. *** [190913]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami