The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Gedung Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sumatera

Pada masa lalu, sekitar awal 19, daerah Kesawan merupakan sudah kawasan komersial ramai yang penuh dengan aktivitas ekonomi. Ketika itu, Kesawan telah memainkan peran kunci dalam pengembangan Medan.
Kawasan Kesawan yang kini termasuk Kawasan Kota Lama Medan, merupakan lokasi awal perkembangan Kota Medan modern yang mulai berdiri pada akhir abad ke-16 dan berkembang pada awal tahun 1900-an. Fungsi yang mendominasi dari kawasan ini adalah campuran antara fungsi hunian (ruko dan fungsi komersial), perbelanjaan/retail, dan perkantoran. Pada saat Kawasan Kesawan sedang mengalami perubahan akibat adanya penggunaan fungsi bisnis yang sebagian terpusat di Jalan Ahmad Yani dan sekitarnya, semenjak itu berdatanganlah perusahaan-perusahaan asing untuk membuka berbagai perkantoran, bank, perusahaan perkebunan, kantor pusat perusahaan pelayaran kapal-kapal asing, dan lain-lain.
Hal ini dilihat dari sisa bangunan tua yang sebagian besar masih difungsikan untuk kegiatan ekonomi, seperti kantor, warung, restoran, butik, dan  pertokoan lainnya. Salah satu bangunan tua nan megah yang masih berdiri kokoh adalah gedung Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sumatera, atau yang biasa disingkat menjadi gedung BKS PPS.


Gedung ini terletak di pojok perempatan atau pertemuan antara Jalan Pemuda dengan Jalan Palang Merah, Kelurahan, Kecamatan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Semasa kolonial , Jalan Pemuda dikenal dengan Paleisweg dan Jalan Palang Merah dikenal denga Sukamuliaweg.
Dulu, gedung ini dikenal dengan nama gedung AVROS, akronim dari Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatera atau Asosiasi Umum Perkebunan Karet di Pantai Sumatera Timur. Di dalam buku Tours through Historic Medan and Its Surroundings (1999) yang ditulis oleh  sejarawan Belanda Dirk A. Buiskool dan Tjeerd Koudenburg, gedung AVROS dibangun antara tahun 1918 dan 1919 dengan hasil rancangan GH Mulder, yang pada waktu itu gaya arsitektur karyanya dipengaruhi oleh rasionalisme yang bangkit pada awal abad ke-20.
Bangunan ini memiliki empat lantai dalam konstruksi beton dengan jendela kaca besar, dan tangga yang terbuat dari kayu. Setiap lantai memiliki balkon berupa galeri terbuka. Galeri ini dirancang untuk melindungi ruang dalam dari terpaan panasnya matahari, sehingga ruangan selalu sejuk.
Di atasnya terdapat kubah dengan tulisan angka 1918 dan 1919 sebagai penanda tahun pembuatannya dan di tengah-tengah kubah terdapat jam lonceng bermerk Nederlandschefabriek Torenuurwerken B. Eijsbouts-Asten, sebuah pabrik terkenal Bonaventura Eijsbouts di Kota Asten, Belanda, dan baru dipasang pada tahun 1920.
Pada tahun 1967, gedung AVROS berganti nama menjadi BKS PPS. Nama yang beda, akan tetapi fokus tujuannya hampir sama. Hingga kini pun, gedung tersebut masih digunakan untuk kegiatan usaha yang dilakukan oleh BKS PPS.
Bangunan berlanggam art nouveau ini, kini menjadi bangunan cagar budaya (BCB) yang tetap mempertahankan aspek heritage dengan sejarah perjalanan panjang yang membingkainya. *** [130314]

Kepustakaan:
http://www.thejakartapost.com/news/2001/04/22/medan-strives-save-historical-buildings.html
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/08/kisah-di-balik-kubah-megah-gedung-avros-medan
Share:

Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Museum Negeri, merupakan museum umum terbesar dan terpenting di Provinsi Sumatera Utara di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara.
Museum ini terletak di Jalan H.M. Joni No. 51 Kelurahan Teladan Barat, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi ini berada sekitar 1 kilometer arah timur Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan.
Museum ini diresmikan pada tanggal 19 April 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan DR. Daoed Joesoef, akan tetapi peletakan koleksi pertama yang berupa makara dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, pada tanggal 28 Oktober 1954, yang selanjutnya terkenal dengan nama Kebun Arca Medan.
Bangunan museum berdiri di atas lahan seluas 10.468 m², yang terdiri dari bangunan induk dua lantai yang difungsikan untuk ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang audio visual/ceramah, ruang Kepala Museum, Tata Usaha, ruang seksi bimbingan, perpustakaan, ruang mikro film, ruang komputer serta tempat penyimpanan koleksi. Secara arsitektur, bentuk bangunan induk museum ini menggambarkan rumah tradisional daerah Sumatera Utara. Bangunan atap depan dipenuhi dengan ornamen dari suku Melayu, Batak (Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak) dan Nias.


Sebagian besar koleksinya berasal dari daerah Sumatera Utara berupa benda-benda peninggalan sejarah budaya mulai dari masa prasejarah, klasik (pengaruh Hindu-Buddha), Islam hingga sejarah perjuangan dan penggalian etnografi. Sebagian lainnya berasal dari beberapa daerah lain di Indonesia dan dari negara lain, seperti Thailand.
Berdasarkan koleksi yang dimilikinya hingga tahun 2013, museum ini menyimpan sekitar 7.000 koleksi. Koleksi yang dipamerkan di ruang pameran tetap diatur menurut periodisasi sejarah dan objek, seperti:

Ruang 1: Koleksi Masa Prasejarah
Di ruang ini ditampilkan koleksi dari kehidupan prasejarah. Koleksi yang ditampilkan meliputi replica fosil manusia purba, beberapa jenis binatang yang diawetkan, diorama kehidupan prasejarah serta beragam perkakas prasejarah antara lain kapak batu (kapak genggam), kulit kerang dan gerabah.

Ruang 2: Kebudayaan Sumatera Utara Kuno
Menampilkan jejak peradaban awal masyarakat Sumatera Utara, meliputi temuan budaya megalitik yang berhubungan dengan kepercayaan (benda-benda religi) berupa peti mati Nias, benda-benda religi berupa patung kayu dan patung batu, tongkat tunggal panaluan, sahan serta koleksi naskah Batak kuno yang ditulis pada kulit kayu yang disebut Pustaha Laklak.

Ruang 3: Masa Kerajaan Hindu-Buddha
Ruang ini menampilkan koleksi peninggalan agama Hindu-Buddha yang ditemukan di daerah Sumatera Utara, di antaranya temuan arkeologi dari situs percandian Padang Lawas sekitar abad 8 – 14 M, dan situs Kota China.
Benda koleksi meliputi arca batu, perunggu, pecahan keramik dan juga sebuah foto candi induk Bahal I.

Ruang 4: Masa Kerajaan Islam
Ruang Islam menampilkan berbagai artefak peninggalan masa Islam, seperti replika berbagai batu nisan dari makam Islam yang ditemukan di daerah Barus, Sumatera Utara, beberapa Al-Qur’an dan naskah Islam tua yang ditulis dengan tangan serta sebuah replika Masjid Azizi di Langkat.

Ruang 5: Kolonialisme di Sumatera Utara
Sebelum Pemerintah Hindia Belanda masuk dan memerintah di wilayah Sumatera, para pengusaha dari Eropa telah datang dan membuka perkebunan di Sumatera. Koleksi masa kolonial membawa kita kembali pada masa-masa tersebut, ketika kemajuan usaha perkebunan telah melahirkan Medan sebagai kota multikultur yang kaya, unik dan menarik.
Koleksi yang ditampilkan meliputi komoditas perdagangan kolonial, alat-alat dan mata uang perkebunan, foto-foto bersejarah yang langka, model figur kolonial serta replika dari kehidupan Kota Medan tempo doeloe.

Ruang 6: Perjuangan Rakyat Suamtera Utara
Ruang perjuangan ini menceriterakan sejarah perjuangan masyarakat Sumatera Utara sejak sebelum 1908 sampai masa revolusi fisik 1945-1949, juga ditampilkan sejarah perjuangan pers di Sumatera Utara.
Benda koleksi meliputi senjata tradisional dan modern, obat-obatan tradisional, peralatan komunikasi yang digunakan melawan penjajah, serta ditampilkan pula lukisan kepahlawanan dan poster propaganda masa perang.

Ruang 7: Gubernur dan Pahlawan Sumatera Utara
Ruang ini menampilkan para Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Sumatera Utara, dan para mantan gubernur yang telah berjasa membangun dan memajukan Provinsi Sumatera Utara.
Koleksi berupa foto-foto serta lukisan dari para pahlawan dan mantan gubernur Sumatera Utara.

Ruang 8: Beragam Etnis Sumatera Utara
Pada ruang ini ditampilkan latar belakang dan keseharian dari 8 kelompok etnis besar yang ada di Sumatera Utara.
Koleksi yang ditampilkan meliputi foto-foto, dan alat-alat kehidupan sehari-hari berupa alat-alat pertanian, transportasi, pertukangan, berburu, nelayan, berkebun, perdagangan, senjata, arsitektur, dan alat-alat keseharian lainnya.

Ruang 9: Kesenian Sumatera Utara
Pada ruang ini ditampilkan kekayaan ragam seni budaya yang terdiri dari seni kriya dan seni pertunjukan.
Benda koleksi yang ditampilkan, antara lain berupa koleksi pakaian pengantin tradisional dan tekstil, alat-alat musik tradisional, topeng dan boneka untuk pertunjukan, benda-benda dari keramik, anyaman, alat-alat permainan dan kegemaran serta beragam jenis perhiasan.

Ruang 10: Koleksi Khusus
Ruang ini menampilkan benda-benda koleksi khusus yang dimiliki oleh museum ini. Pada saat ruangan ini diisi oleh koleksi yang merupakan sumbangan dari Pemerintah Kerajaan Thailand. Koleksi ini memberikan gambaran mengenai kekayaan seni dan budaya bangsa dan negara Thailand, yang memiliki kedekatan kultur dengan bangsa Indonesia.
Koleksi yang ditampilkan berupa pakaian tradisional, perhiasan, keramik, wayang dan topeng tradisional Thailand, replika rumah tradisional, serta beragam arca Buddha.

Kepustakaan:
Buku Saku Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara 2013
Brosur Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara 2013
Share:

Stasiun Kereta Api Medan

Stasiun Kereta Api Medan merupakan stasiun terbesar yang berada di bawah naungan Divisi Regional 1 Sumatera Utara. Stasiun yang berada pada ketinggian +22 m ini terletak di Jalan Stasiun Kereta Api No. 1 Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, atau tepatnya berada di sebelah timur Lapangan Merdeka Medan.
Stasiun ini muncul seiring dengan berkembangnya Kota Medan pada awal abad ke-19 yang ditandai dengan banyaknya infrastruktur yang dibangun pada masa itu akibat adanya pembukaan lahan perkebunan tembakau Deli. Ketika itu tembakau Deli merupakan komoditas utama dari perkebunan di Sumatera Utara yang sangat digemari oleh orang-orang Eropa.
Untuk kelancaran pengangkutan hasil perkebunan di sekitar Kota Medan, maka perusahaan swasta Belanda yang bernama Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) didirikan pada tahun 1870 mulai mengembangkan infrastruktur perkeretapian di Sumatera Utara. Tahun 1885 rel kereta api sudah dibangun dan stasiun kereta api yang berdekatan dengan Lapangan Esplanade (kini Lapangan Merdeka) juga sudah berdiri pada tahun 1887.


Ketika masa pendudukan Jepang (1942-1945), perkeretapian untuk daerah Sumatera Utara di bawah wewenang Angkatan Laut Jepang dengan nama Tetsudo-Tai yang berpusat di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Setelah Indonesia merdeka, sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Panglima T dan T1 Nomor PM/KP TS/045/12/97 tertanggal 14 Desember 1957, perkeretapian di Sumatera Utara dikembalikan kepada DSM sampai dilakukan alih wewenang pada perusahaan milik Belanda kepada penguasa militer daerah Sumatera Utara. Selanjutnjya mulai tanggal 29 April 1963, berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 80 Tahun 1963 jo Peraturan Pemerintah (PP) 41 Tahun 1959 dengan SK Menteri Perhubungan (Menhut) Nomor 37/1/20 tanggal 17 Januari 1963 maka seluruh kereta api eks DSM menjadi bagian Djawatan Kereta Api (DKA) yang berpusat di Bandung, dan sejak 2 Januari 2001 telah ditetapkan perubahan nama dari Eksploitasi menjadi Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara.
Sekilas arsitektur Stasiun Medan tampak baru telah mengalami perombakan total dari bentuk aslinya, namun demikian bukan berarti tidak ada sama sekali sisa arsitektur peninggalan masa kolonial Hindia Belanda. Menara jam di bagian muka stasiun, keberadaan dipo lokomotif maupun bagian atap peron di jalur 2 dan 3 serta jembatan gantung di ujung sebelah selatan merupakan sisa arsitektur kolonial yang bisa disaksikan. Sedangkan di samping stasiun yang menghadap ke Lapangan Merdeka terdapat lokomotif uap bertipe 2-6-4 T buatan Pabrik Hartmann, Jerman pada tahun 1914.
Sesuai dengan laman milik PT. Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Kereta Api Medan dengan segala bangunan pendukungnya yang ada, telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) yang harus dirawat dan dilestarikan. *** [130314]

Kepustakaan:
Damardjati Kun Marjanto, Ernayanti, Robby Ardiwijaya, 2013, Permasalahan dan Upaya Pelestarian Kawasan Kota Lama di Medan, dalam Jurnal Kebudayaan Vol. 8 No. 1 Tahun 2013
Emi Fitriya Harahap, 2009, Tanggung Jawab PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Terhadap Penumpang Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 (Studi Pada PT. Kereta Api (Perser0) Divisi Regional I Sumatera Utara), Skripsi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan
Share:

Hotel Inna Dharma Deli

Hotel Inna Dharma Deli merupakan salah satu hotel yang tergabung dalam unit National Hotels and Tourism Corp Ltd (Natour). Natour sendiri merupakan badan usaha yang dikelola oleh Pemerintah (Persero) di bawah lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, yang bergerak dalam bidang Jasa, Perhotelan, dan Restoran.
Hotel Inna Dharma Deli terletak di Jalan Balai Kota No. 2 Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, atau tepatnya berada di sebelah utara Gedung Bank Indonesia Medan atau di sebelah barat Kantor Pos Besar Medan.
Hotel Inna Dharma Deli sesungguhnya berdasarkan perjalanan sejarahnya, merupakan penggabungan dari dua unit yang masing-masing merupakan unit-unit PT. Natour yang terpisah pengelolaannya, yaitu eks Hotel Wisma Deli dan eks Hotel Dharma Bhakti, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 4/1973. Hotel Wisma Deli pada mulanya merupakan tempat akomodasi yang fungsinya adalah semacam mess dengan jumlah kamar dua belas dan ditambah dengan outlet restoran atau bar. Sedangkan, Hotel Dharma Bhakti sebelumnya adalah Hotel De Boer, milik perusahaan Belanda dengan nama NV. Hotel Mijn De Boer yang dibangun pada tahun 1898. Nama hotel ini sesuai dengan nama pemiliknya, yaitu Herman De Boer.


Pada 1909, Hotel De Boer ditingkatkan hingga memiliki 40 kamar dengan 400 buah lampu, dan pada tahun 1941 bangunan hotel ini direnovasi menjadi lebih besar, modern dan megah. Rancangan bangunan hotel diserahkan kepada Johannes Martinus Groenewegen, seorang arsitek kelahiran Den Haag, Belanda, 27 Oktober 1888, yang acapkali disapa dengan panggilan Han saja.
Pada 14 Desember 1957, dalam rangka nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, Hotel NV. Mijn De Boer diambil alih Pemerintah Indonesia. Letjen Jamin Ginting, Panglima T7T-I/BB, sebagai pengurus Militer Daerah Provinsi Sumut diserahi kuasa dari pihak pengurus/kuasa NV Hotel Mijn De Boer dan NV. Grand Hotel, yaitu Hendrik Erselink. Hingga saat ini, bangunan eks Hotel De Boer masih dipertahankan.
Tempo doeloe, hotel ini pernah mengalami masa keemasan sebagai hotel yang paling baik, yang merupakan akomodasi bagi para tuan kebun, pembesar-pembesar Pemerintah Hindia Belanda, pembesar-pembesar Deli Spoorweg Maatschappij pada zaman sebelumnya.
Dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 89/1989 tertanggal 13 Oktober 1999, direksi diberikan tugas untuk menggabungkan PT. Natour dengan PT. Hotel Indonesia International, menjadi sebuah perusahaan dengan nama dan identitas yang baru. Dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: C-2642HT.0104-TH 2001 PT. Hotel Indonesia Natour Dharma Deli menjadi Inna Dharma Deli
Saat ini, bangunan Hotel Inna Dharma Deli terbagi tiga bagian, pertama high risebuilding yang terdiri atas sembilan tingkat dengan 82 kamar. Kemudian, eks Hotel De Boer dua tingkat dengan 51 kamar dan posisinya berada di bagian tengah yang berlantai dua, dan terakhir Garden Wing atau eks Wisma Deli dengan 49 kamar.
Dibandingkan hotel lainnya, hotel ini mempunyai magnet untuk dikunjungi tamu, baik wisatawan asing maupun wisatawan Nusantara, lantaran aspek historis yang dimilikinya. Nilai heritagenya mampu menyedot wisatawan untuk menjadikan hotel ini sebagai tempat atau tujuan wisata yang ada di Kota Medan. *** [130314]
Share:

Gedung Bank Indonesia Medan

Di sekitar Lapangan Merdeka Medan banyak dijumpai bangunan tua bersejarah, di antaranya Stasiun Kereta Api Medan, Kantor Pos Besar Medan, Inna Dharma Deli Hotel, Bank Indonesia, Balai Kota Lama, maupun Bank Mandiri.
Bangunan tua itu dulunya muncul bersamaan dengan perkembangan Kota Medan di wilayah Pantai Timur Sumatera akibat adanya perkebunan tembakau di daerah Deli. Termasuk salah satunya pembukaan Bank Indonesia di Medan sebagai kebutuhan untuk menunjang kebijakan moneter pemerintah Hindia Belanda di Karesidenan Pantai Timur Sumatera.
Gedung Bank Indonesia tersebut terletak di Jalan Balai Kota No. 4 Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi ini berada di antara Balai Kota Lama Medan dan Inna Dharma Deli Hotel.
Berdasarkan catatan historis yang ada, dahulu Gedung Bank Indonesia Medan merupakan Kantor Cabang  De Javasche Bank yang ke-11. Kantor ini  mulai dibuka pada tanggal 30 Juli 1907 bersamaan dengan Kantor Cabang Tanjung Balai dan Tanjung Pura yang masing-masing dibuka pada tanggal 15 Januari 1908 dan 3 Februari 1908. Namun, akibat adanya pengaruh resesi dunia tahun 1930-an, mengakibatkan Kantor Cabang Tanjung Balai dan Tanjung Pura akhirnya terpaksa ditutup.


Pada saat berdirinya, Kantor Cabang Medan hanya menempati sebuah bangunan sementara. Untuk gedung kantor yang permanen atas petunjuk pemerintah disediakan sebidang tanah di dekat Esplanade (lapangan umum) yang pembangunannya diharapkan dapat dilaksanakan sebelum selesainya politik moneter “guldenisasi” Karesidenan Pantai Timur Sumatera. Untuk persiapan pendirian kantor-kantor di Tanjung Balai dan Tanjung Pura, Kepala Biro Arsitek Hulswit en Fermont te Weltevreden Ed. Cuypers te Amsterdam, yang biasa disingkat menjadi Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers, diminta untuk merancang pembangunan gedung kantor kedua tempat itu. Rencana pembangunan gedung kantor yang permanen bagi kantor cabang Medan dilakukan bersamaan dengan perluasan tahap kedua gedung Kantor Pusat (Jakarta Kota) pada 1912 yang sekaligus juga merencanakan pembangunan gedung beberapa kantor cabang lainnya. Gedung-gedung ini menunjukkan ciri arsitektur yang sama mengikuti ciri arsitektur Eropa yang khas pada zamannya, dengan ditengarai oleh adanya kubah yang ada di puncak atap bangunan. Kubah ini pernah dihilangkan pada tahun 1956, lalu bangun kembali ketika dilakukan restorasi besar pada tahun 2002.
Di menara bangunan ini terdapat sebuah bel yang merupakan sumbangan dari Tjong A Fie, seorang pengusaha ternama sekaligus pemimpin komunitas Tionghoa di Kota Medan pada awal abad ke-20.
Setelah kemerdekaan, De Javasche Bank dinasionalisasi oleh Presiden Soekarno menjadi Bank Indonesia, yang berfungsi sebagai Bank Sentral dan Komersial sesuai dengan Undang-Undang (UU) Bank Sentral Tahun 1953. Dengan perubahan tersebut, De Javasche Bank berubah menjadi Bank Indonesia Medan. Setelah reorganisasi Bank Indonesia pada tahun 1996, sebutan kantor cabang berubah menjadi Kantor Bank Indonesia Medan dan berlaku sampai saat ini.
Kantor Bank Indonesia Medan pertama kali dipimpin oleh L. Von Hemert dan pada tahun 1951 saat nasionalisasi pemimpin cabang adalah SF van Musschenbroek dan pada saat UU Bank Indonesia 1953 diberlakukan, pemimpin cabang Medan adalah M. Plantema dan putra Indonesia pertama yang mengendalikan Bank Indonesia cabang Medan adalah M. Rifai.
Kemegahan Gedung Bank Indonesia Medan sampai saat ini masih bisa disaksikan. Bangunan ini tergolong mujur dalam hal kepemilikannya, karena Bank Indonesia memiliki perhatian yang besar terhadap pelestarian bangunan tua yang dimilikinya meskipun bangunan ini juga sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) berdasarkan UU Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010 dan Peraturan Daerah (Perda) Kota Medan No. 2 Tahun 2012. *** [130314]

Kepustakaan:
http://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/sumut/profil/Contents/KBI.aspx
Share:

Kantor Pos Besar Medan

Berdasarkan sejumlah literatur yang ada, perkembangan Kota Medan dipengaruhi oleh keberadaan perkebunan tembakau Deli yang berkembang pesat pada akhir abad ke-19. Berbagai fasilitas didirikan sebagai pusat administrasi perkebunan di sekitar Lapangan Merdeka Medan.
Secara bertahap bermunculan gedung-gedung untuk mewadahi kebutuhan perkebunan saat itu. Jika kita lihat hampir keseluruhan bangunan yang ada di sekitar Lapangan Merdeka merupakan bagian dari fasilitas penunjang perkebunan dan fasilitas pendukung bagi masyarakat kolonial, baik Inggris maupun Belanda saat itu.


Bangunan yang masih bertahan dari segi fungsi dan bentuk bangunan hingga kini, salah satunya adalah Kantor Pos Besar Medan. Kantor ini terletak di Jalan Pos No. 1 Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, atau tepatnya menghadap ke arah Inna DharmaDeli Hotel.
Bangunan Kantor Pos Besar ini dibangun pada tahun 1909 dan selesai pada tahun 1911 yang dirancang oleh arsitek Ir. Simon Snuyf dari Burgelijke Openbare Werken (BOW) atau Jawatan Pekerjaan Umum Pemerintah Hindia Belanda.


Semenjak tahun 1909, peranan BOW semakin penting dalam merencanakan dan mengawasi pembangunan fisik di wilayah Hindia Belanda. Pada 8 Juli 1909 diangkatlah Ir. Simon Snuyf, seorang arsitek profesional kelahiran 11 Juni 1880 di Amsterdam untuk bekerja di jawatan atau departemen ini. Sebelum bergabung dengan BOW, ia pernah mendesain Istana Negara melalui kontraktor Firma Dressor.
Gedung Kantor Pos Besar memiliki gaya arsitektur transisi, yang ditandai dengan adanya menara (tower) berbentuk segi enam di bagian depan, dan terdapat lengkungan yang dihiasi oleh sejumlah kaca patri untuk mempengaruhi kualitas pencahayaan di dalam gedung tersebut. Selain itu, atap pada bangunan ini terdiri atas dua jenis, yaitu atap lokal dengan bentuk segi enam yang menyatu dengan tower dan dilengkapi dengan dormer, dan atap dengan jenis gevel pada atap yang menghadap ke sisi lain. Kedua jenis atap ini mengadopsi ciri arsitektural kolonial yang berakulturasi dengan unsur lokal.
Bangunan yang memiliki luas 1.200 meter persegi dengan lebar 20 meter dan panjang 60 meter serta tinggi mencapai 20 meter ini, telah ditetapkan sebagai sebagai bangunan cagar budaya (BCB) berdasarkan UU Cagar Budaya Nomor 10 Tahun 2010 dan Peraturan Daerah (Perda) Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012. *** [130314]

Kepustakaan:
Wahyu Utami, Salmina W. Ginting, Firman Eddy, 2014, Kajian Stimulus Colletive Memory Terhadap Bangunan-Bangunan Kolonial Di Sekitar Lapangan Merdeka, dalam e-USU Repository
Share:

Balai Kota Lama Medan

Kawasan Lapangan Merdeka di Medan merupakan sebuah kawasan berada di pusat Kota Medan. Secara historis, kawasan tersebut merupakan bagian awal terbentuknya Kota Medan yang diawali sebagai daerah perkebunan tembakau Deli. Deretan bangunan gedung kuno menghiasi di sekitar Lapangan Merdeka. Salah satunya adalah Gedung Balai Kota Lama.
Gedung Balai Kota Lama terletak di Jalan Balai Kota No. 1 Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Provinsi Sumatera, atau tepatnya berada di sebelah selatan Gedung Bank Indonesia Medan atau di sebelah timur Lapangan Merdeka.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, gedung ini dulu dikenal dengan Gemeentehuis yang dibangun pada tahun 1908 dengan hasil rancangan Biro Arsitek Hulswit. Pada tahun 1913, gedung ini mengalami penambahan berupa jam dinding besar yang ditempelkan di bagian atas bangunan bantuan pengusaha China Tjong A Fie yang saat itu dapat mengeluarkan bunyi carillon. Lalu, pada tahun 1923, gedung ini kembali mengalami renovasi.


Menurut Wahyu Utami dkk. (2014), elemen bangunan pada Gedung Balai Kota Lama menggunakan style kolonial dengan penggunaan tower di atap puncaknya yang dilengkapi dengan ornamen-ornamen kolonialnya. Penggunaan dormer pada atap tower semakin memperkuat citra kolonial Eropa. Sementara bukaan menggunakan bentukan kolonial yang disesuaikan lingkungan sekitar atau lokal, yaitu dengan adanya level di tiap bukaan. Hal ini agar supaya sinar matahari tetap bisa masuk akan tetapi jika terjadi hujan tidak mengganggu pengguna bangunan.
Gedung Balai Kota Lama ini sempat terbengkelai ketika Gedung Balai Kota Baru mulai dibangun pada tahun 1990. Namun setelah di belakangnya dibangun Grand Aston Hotel, bangunan tersebut tetap dipertahankan bentuknya dan malah terawat serta boleh digunakan sebagai penunjang hotel tersebut kendati kepemilikannya masih berada di Pemerintah Kota (Pemkot) Medan.
Konon, bangunan ini pada zaman kemerdekaan dulu tercatat ada dua belas walikota yang berkantor di gedung tersebut, mulai dari Luat Siregar (1945) hingga yang terakhir, H. Agus Salim Rangkuty (1990). Meskipun bangunan tersebut telah berusia ratusan tahun lebih, akan tetapi secara fisik masih memancarkan pesonanya yang anggun dan antik. Sedangkan secara kesejarahannya, gedung ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) berdasarkan UU Cagar Budaya Nomor 10 Tahun 2010 dan Peraturan Daerah (Perda) Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012. *** [130314]

Kepustakaan:
Wahyu Utami, Salmina W. Ginting, Firman Eddy, 2014, Kajian Stimulus Colletive Memory Terhadap Bangunan-Bangunan Kolonial Di Sekitar Lapangan Merdeka, dalam e-USU Repository
Share:

Gedung PT Inoscco Surya Pratama

Jalan Bibis merupakan salah satu jalan yang berada di kawasan Pecinan, Surabaya. Dahulu, kawasan ini termasuk di dalam Chinesevoorstraat. Kawasan ini senantiasa sibuk dengan aktivitas orang Tionghoa dalam perdagangan maupun pergudangan pada siang harinya, dan sarat dengan deretan bangunan tua yang menghiasi daerah tersebut.
Salah satu bangunan tua yang berada di daerah tersebut adalah gedung milik PT Inoscco Surya Pratama (Agen Resmi Pelumas dari PT Pertamina), yang terletak di Jalan Bibis No. 17 Kelurahan Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur atau tepatnya berada di sebelah timur Kantor GPPS Jemaat Bibis.


PT Inoscco Surya Pratama (ISP) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha pendistribusian produk dari Pertamina, yaitu pelumas dan obat-obatan pertanian, seperti Meditran 40, Mesran Super 20 W/50, Mesran 40, Meditran S40, Rored HAD 140, Rored HAD 90, Rored EPA 90, Masri RG 220, Meditran S10W, Meditran P40, Medipral 412, dan Meditran S30.
Dalam situsnya, disebutkan bahwa PT ISP didirikan berdasarkan akte notaris dan disahkan oleh Menteri Hukum melalui Surat Keputusan (SK) yang anggaran dasar dan perubahannya telah diumumkan dalam Berita Negara RI Nomor 58 tertanggal 19 Juli 1985 (Tambahan Nomor 955/1985), Berita Negara RI Nomor 89 tertanggal 7 November 1989 (Tambahan Nomor 2884/1989), dan Berita Negara RI Nomor 14 tertanggal 17 Februari 1998 (Tambahan Nomor 1053/1998), yang selanjutnya diubah dengan akta-akta risalah RUPS, Akta Perubahan Terakhir tertanggal 26 April 2010 Nomor 10.


Sesuai dengan akta pendirian dan perubahannya, maksud dan tujuan perusahaan ini adalah untuk menyelenggarakan usaha perdagangan, pengangkutan dan jasa. Salah satu kegiatan usaha perdagangan yang dijalankan adalah sebagai agen pelumas dan transportasinya.
Bangunan PT ISP ini merupakan bangunan tua yang terdiri atas dua lantai, dan hingga kini masih terawat dengan baik. Yang khas dari bangunan ini adalah adanya pintu besar yang diapit oleh jendela yang menyerupai pintunya. Pintu tersebut berada di lantai bawah berukuran sekitar 1,8 meter yang di atasnya membentuk arcade (lengkungan) dengan hiasan besi berongga.
Di samping kiri bangunan PT ISP ini terdapat bangunan kembarannya, akan tetapi tidak seberuntung kepunyaan PT ISP. Bangunan tersebut kusam dan tampak tidak terawat.
Dari kedua bangunan tersebut, sayangnya tidak bisa didapatkan rekam jejak perihal gedung tersebut akibat minimnya informasi yang bisa digali di lapangan. *** [020314]

Kepustakaan:
Share:

Gedung Bank Internasional Indonesia Surabaya

Bangunan tinggi besar berwarna putih di pojok Willemskade (sekarang Jl. Jembatan Merah) dan Roomschkerkstraat (kini Jl. Cenderawasih), mengundang setiap orang yang melintas di kawasan tersebut untuk sejenak memandangnya. Di antara deretan bangunan kuno di kawasan yang sekarang dikenal dengan Jalan Jembatan Merah dan Jalan Cenderawasih ini, bangunan tersebut terlihat memiliki bentuk yang sedikit berbeda dengan bangunan lainnya yang berada di daerah tersebut. Selain warnanya yang putih, bangunan ini dihiasi dengan lima balkon dengan menara yang ada jam analognya. Bangunan tersebut adalah gedung Bank Internasional Indonesia (BII).
Gedung BII ini terletak di Jalan Jembatan Merah No. 3 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini tepat berada di sebelah utara Kantor Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Surabaya.


Sebelumnya, Gedung BII ini adalah gedung Nederlands Spaarbank atau yang biasa disebut dengan Nutsspaarbank atau Bank Tabungan untuk Manfaat Umum. Nutsspaarbank merupakan satu-satunya Bank Tabungan Umum di Kota Surabaya kala itu.
Mulanya timbul ide untu mendirikan sebuh bank tabungan untuk umum pada Mei 1833, mengingat pada saat itu pemerintah Belanda sudah stabil. Ide ini ditangani oleh Maatschappij Tot Nut Van Het Algemente yang berlokasi di Amsterdam. Untuk sementara, kantor tersebut berada di Jalan Embong Malang.
Lalu, pada 18 Maret 1853, Dr. R.W.C.J. Barke mengusulkan untuk membangun gedung baru yang lebih representatif guna menggantikan gedung yang lama. Gedung tersebut dibangun pada tahun 1914 dan mulai digunakan sejak tanggal 8 Maret 1916. Arsitek bangunan gedung ini adalah Fritz Joseph Pinedo, yang lahir pada 12 Juni 1883 di Haarlem, Provinsi Belanda Utara. Ayahnya bernama Egbertus Pinedo dan ibunya adalah Maria Salomonson. Usai merampungkan Hotel Kartika Chandra di Jakarta pada tahun 1970, Pinedo meninggalkan sejumlah proyek ke Brasil di mana ia meninggal pada tahun 1976.


Bangunan ini merupakan bentuk dari penyelesaian klasik bangunan pojok yang banyak terdapat pada arsitektur kolonial. Yang dominan dari gedung ini adalah dominasi gevel depan dan tower atau tiang pada pintu masuk utamanya.
Bangunan Nutsspaarbank karya Pinedo ini merupakan karya arsitektur pada masa peralihan trend gaya desain dunia, yaitu pada tahun 1890-1915. Elemen interior dengan gaya pada masa itu tampil dengan gaya rancangan peralihan, seperti gaya Dutch Colonial, Empire Style, Art and Craft, Art Nouveau, Amsterdam Schools, dan menuju ke Nieuw Bowen yang lebih modern.
Dalam kesehariannya, bangunan ini masih berfungsi sebagai bank umum yang melayani para nasabah BII, sementara di sisi lain, arsitektur bangunan kolonial dari Nutsspaarbank ini sekarang sebagai penunjang kawasan kota lama di Surabaya, dan sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB).  *** [230214]

Kepustakaan:
Share:

Kekunaan

Kekunaan adalah sebuah blog yang diluncurkan pada 25 Juli 2010 di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Kekunaan dibuat dengan konsep sederhana dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas mengenai benda cagar budaya, yang pada akhirnya akan turut andil dalam mengembangkan archeotourism di Indonesia. Oleh karena itu, Kekunaan berbasis pada arkeologi, antropologi, dan histori.
Berbekal ala pengelana (backpacker) yang didukung oleh sejumlah studi kepustakaan menjadi motivasi dalam menuangkan ke dalam bentuk tulisan.
Slogan Kekunaan adalah kekinian berawal dari kekunaan. Sadar menjadi manusia modern berarti sadar akan tempaan kekunaan yang telah berlangsung dalam hidup manusia. Kekunaan muncul dalam segala aspek kehidupan manusia. Menghargai kekunaan berarti mengerti menjadi modern.

***
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami