The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Mengenal Masyarakat Tengger di Sukapura

Pada tanggal 12 dan 13 Agustus 2015 sebelum peringatan 70 tahun Indonesia Merdeka, penulis berkesempatan mengikuti Pilot Test yang diselenggarakan oleh Regional Economic Development Institute (REDI) bekerjasama dengan EP-Performance Oversight and Monitoring Jakarta dalam Field Survey EOPO 1 Endline Evaluation.
Kesempatan ini menyenangkan sekali bagi penulis karena selain melaksanakan tugas di tempat yang begitu dingin udaranya, juga bisa menyalurkan naluri sosiologisnya untuk mengenal lebih dekat dengan masyarakat setempat di sekitar lokasi pilot test tersebut maupun base camp. Base camp kebetulan berada tidak jauh dengan Kantor Kecamatan maupun Polsek Sukapura, atau tepatnya adalah Hotel Sukapura Permai yang terletak di Jalan Raya Bromo No. 135 Sukapura, Probolinggo. Hotel ini berjarak 18 kilometer ke Gunung Bromo namun memerlukan sedikitnya waktu 40 menit mengingat jalannya terus menanjak dan berkelok-kelok.
Biasanya penulis mengawali keingintahuan mengenal lebih dekat dengan masyarakat di sana, bermula dari pertanyaan etimologi dan epistemologi yang menjadi predikat masyarakat itu sendiri dan terus mengalir dengan sendirinya. Tentunya, proses ini hanya bisa dijalankan ketika penulis telah melakukan tugas wajibnya. Pada saat mencari makan siang atau malam, penulis bisa melempar pertanyaan di warung makan, hotel tempat menginap maupun di tempat lain saat penulis bersantai. Dari informasi yang didapat itulah, penulis bisa melakukan triangulasi dengan penelitian yang lain atau melalui kepustakaan yang ada.




Letak Geografis Sukapura
Kecamatan Sukapura merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Probolinggo yang terletak sekitar 35 kilometer ke arah barat daya dari kantor pemerintahan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Sukapura mencapai 10.208,53 hektar atau 102,08 kilometer persegi. Di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Lumbang, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kuripan dan Kecamatan Sumber, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Lumajang, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan.
Dilihat dari topografinya, Kecamatan Sukapura berada di lereng Pegunungan Tengger yang terkenal dengan Gunung Bromonya, dengan ketinggian 600-1.850 meter dari permukaan air laut. Sehingga, semua desa di Kecamatan Sukapura berada pada desa lereng/punggung bukit, dan suhu udara dingin. Tanahnya banyak mengandung mineral yang berasal dari letusan gunung berapi yang berupa pasir batu, lumpur bercampur tanah liat yang berwarna kelabu. Sifat tanah semacam ini memiliki tingkat kesuburan yang baik sehingga sangat cocok untuk menanam sayur-sayuran, seperti kentang, kol, wortel, sawi, tomat, dan sebagainya.
Dari 12 desa yang berada dalam wilayah administratif Kecamatan Sukapura, penulis berkesempatan berkeliling ke Desa Sukapura, Desa Sariwani, dan Desa Ngadisari, yang cukup untuk mengenal masyararakat Tengger secara umum di Sukapura. Karena Kecamatan Sukapura ini merupakan bagian dari wilayah adat suku Tengger bagian timur (Sabrang Wetan), terutama terasa kental di Desa Ngadisari yang berhadapan langsung dengan Gunung Bromo. Sedangkan, wilayah Sabrang Kulon diwakili oleh Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Dalam skala yang lebih luas, sesungguhnya daerah Tengger tidak hanya melingkupi wilayah Sabrang Kulon dan Sabrang Wetan saja melainkan luas daerah Tengger kurang lebih 40 kilometer dari utara ke selatan, 20-30 kilometer dari timur ke barat, di atas ketinggian 1.000 – 3.675 meter. Luas tersebut meliputi empat kabupaten, yaitu: Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Tiper permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger, atau masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah Segoro Wedhi, adalah lautan pasir yang sangat luas yang berada pada ketinggian 2.300 meter dengan panjang 5-10 kilometer. Kawah Gunung Bromo dengan ketinggian 2.392 meter, dan masih aktif. Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 meter.




Asal Mula Orang Tengger
Nama Tengger, berdasarkan salah satu legenda masyarakat, berasal dari paduan suku kata terakhir dari nama dua nenek moyang mereka, Rara Anteng dan Jaka Seger (teng dan ger). Rara Anteng dipercaya sebagai putri Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit, sementara Jaka Seger diyakini sebagai putra seorang brahmana yang bertapa di dataran tinggi Tengger (Legendanya bisa dibaca di sini).
Sehingga, masyarakat Tengger pada umumnya meyakini nenek moyang orang Tengger adalah keturunan Majapahit. Pada waktu itu, Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran. Kemuduran ini disebabkan dari dalam kerajaan sendiri maupun dari luar kerajaan. Bersamaan itu pula, penyebaran agama Islam di Jawa sedang dilakukan oleh para sunan yang berafiliasi dengan Kerajaan Demak.
Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Demak pada saat itu mengalami ketidakharmonisan. Ketidakharmonisan tersebut menyebabkan penduduk Majapahit memilih untuk melarikan diri ke daerah Bali dan ke pedalaman sekitar Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Yang melarikan diri ke Bali, akhirnya melahirkan kebudayaan Bali. Begitu pula, yang memilih tinggal di pedalaman sekitar Gunung Bromo dan Gunung Semeru pada akhirnya juga menurunkan orang-orang Tengger yang kita kenal, dan sekaligus membentuk kebudayaannya sendiri yang seolah-olah memisahkan diri dari kebudayaan Majapahit yang sangat India-sentris.
Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan Hindu Dharma di Bali maupun Hindu-Siwa di Majapahit. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger lebih ke Hindu Mahayana yang telah bercampur dengan adat istiadat setempat. Masyarakat Tengger tidak mengenal kasta, dan masih roh leluhur yang bersemayam di Gunung Bromo sehingga mereka lebih suka memuja Roh Gunung atau persembahan kepada Sang Hyang Gunung Brahma. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo.
Perayaan Kasodo adalah hari raya kurban orang Tengger yang diselenggarakan pada tanggal 14,15, atau 16 bulan Kasodo, yakni pada saat bulan purnama sedang menampakkan wajahnya di lazuardi biru. Hari raya kurban ini merupakan pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma alias Kyai Kusuma alias Dewa Kusuma, putra sulung Rara Anteng dan Jaka Seger, yang telah merelakan dirinya menjadi kurban untuk melindungi orang Tengger dari bencana alam dahsyat.
Gunung Bromo yang dianggap sebagai tempat suci orang Tengger digunakan sebagai persembahan hewan ternak dan hasil bumi pada perayaan Kasodo. Upacara dimulai di Pura Luhur Poten Gunung Bromo, sebuha pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo, dan dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Persembahan-persembahan tersebut nantinya akan dilemparkan ke kawah Gunung Bromo.


Kearifan Lokal Orang Tengger
Bentuk-bentuk kerarifan lokal dalam masyarakat dapat berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus. Pola kehidupan sosial budaya masyarakat Tengger di Sukapura kental akan nilai budaya, religi dan adat-istiadat setempat yang merupakan bentuk nilai-nilai kearifan lokal, di antaranya adalah tata nilai yang dikembangkan oleh masyarakat Tengger dalam mengatur tentang etika penilaian baik-buruk serta benar atau salah.
Masyarakat Tengger di Sukapura memiliki ketentuan adat berupa aturan-aturan adat dan hukum adat yang berfungsi sebagai sistem pengendalian sosial dalam masyarakat untuk mencegah timbulnya ketegangan sosial yang terjadi dalam masyarakat, seperti tidak boleh menyakiti atau membunuh binatang kecuali untuk korban atau dimakan, tidak boleh mencuri, tidak boleh melakukan perbuatan jahat, tidak boleh berdusta, dan tidak boleh minum-minuman yang memabukkan.
Sejak zaman Majapahit, dataran tinggi Tengger dikenal sebagai daeraht titileman, yaitu suatu daerah terbebas dari membayar pajak. Mereka telah lama mendiami kawasan Tengger dalam damai dan bahagia. Thomas Stamford Raffles, yang menjadi Letnan Gubernur Jawa ketika Kerajaan Inggris mengambil alih jajahan-jajahan Kerajaan Belanda, pada 11 September 1815 melaporkan perjalanannya ke beberapa distrik di Jawa bagian timur lewat pidato di depan Masyarakat Seni dan Sains Batavia (Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Saat berkunjung ke kawasan Tengger, ia dapati masyarakat Tengger hidup dalam damai, tertib, teratur, rajin bekerja, jujur, dan selalu riang-gembira.
Selanjutnya, dalam The History of Java ia menulis, mereka tidak mengenal candu dan judi. Ketika ia tanyakan tentang pencurian, perselingkuhan, perzinahan, atau berbagai kejahatan lainnya, mereka para orang gunung itu menjawab, hal-hal buruk itu tidak ada di Tengger.
Ayu Sutarto, seorang budayawan dan peneliti tradisi dari Universitas Jember yang juga menjabat wakil ketua Masyarakat Peduli Bromo melalui makala yang disampaikan pada acara pembekalan Jelajah Budaya 2006 yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal 7-10 Agustus 2006 silam menyatakan, kejujuran dan ketulusan orang Tengger masih dapat dilihat sampai hari ini. Angka kejahatan di desa-desa Tengger pada umumnya hampir selalu nol. Suasana damai, tenteram, aman, dan penuh toleransi yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari orang Tengger dapat dijadikan acuan dalam periode formatif Indonesia modern. Tengger adalah sebuah pusaka saujana (cultural landscape) yang apabila dibina dan dikelola dengan benar, eksistensinya akan memberi sumbangan yang lebih berarti bukan hanya bagi dirinya, melainkan juga bagi Indonesia. *** [130815]

Kepustakaan:
Ayu Sutarto, 2006. Sekilas tentang Masyarakat Tengger, dalam Makalah yang disampaikan pada acara pembekalan Jelajah Budaya 2006
__________ , 2013. Hikayat Wong Tengger: Kisah Peminggiran dan Dominasi, Pentingnya Meningkatan Keberdayaan Masyarakat Tengger untuk Melestarikan Kawasan Konservasi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, __________
http://probolinggokab.bps.go.id/data/publikasi/publikasi_79/publikasi/files/search/searchtext.xml
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Sukoharjo

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Sukoharjo:

Dalem ini terletak Jalan Pemuda No. 41 RT. 03 RW. 05 Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah

Pabrik Gula Kartasura
Pabrik gula ini terletak di Jalan Permata Raya, Dukuh Tegalmulya RT 02 RW 08 Desa Pabelan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah

Pesanggrahan Langenharjo
Pesanggrahan ini terletak di Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah

Situs Kraton Kartasura Hadiningrat
Situs Kraton ini terletak di Desa Siti Hinggil, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kereta Api Pasarnguter
Stasiun Pasarnguter terletak di Jalan Raya Nguter, Dukuh Nguter, Desa Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kereta Api Sukoharjo
Stasiun ini terletak di Jalan Bima, Dusun Larangan RT. 03 RW. 02 Kelurahan Gayam, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah
Share:

Museum Prambanan

Puas mengelilingi Candi Prambanan, tanpa terasa hari pun sudah senja. Mentari menjelang di ufuk barat, tanpa sengaja menjumpai Museum Prambanan. Karena saat keluar dari Candi Prambanan di sebelah barat, jalan akan sampai pada pertigaan jalan. Ke kiri bisa menjumpai Candi Sewu, ke kanan mengarah ke pintu keluar kompleks Taman Wisata Candi Prambanan di mana di antaranya terdapat Museum Prambanan.
Mengingat pertimbangan waktu sudah tidak terkejar bila menuju Candi Sewu, maka penulis mengarahkan langkah ke kanan dari pertigaan tersebut. Di situlah keberuntungan bagi penulis karena ternyata dalam langkah tersebut bisa berjumpa dengan bangunan Museum Prambanan. Tanpa berkpikir panjang, penulis langsung masuk ke dalam Museum Prambanan di depan pintu utamanya terdapat miniatur kapal kuno.
Museum ini terletak di Jalan Raya Jogja-Solo Km 16 Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Museum ini berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan.


Museum Prambanan ini dibangun pada tahun 1998 sebagai salah satu fasilitas bagi wisatawan yang berkunjung di Taman Wisata Candi Prambanan untuk mengetahui lebih jauh tentang Candi Prambanan. Ide awalnya, adalah untuk mengumpulkan tinggalan arekologis yang ada di Candi Prambanan maupun candi-candi di sekitarnya berserta artefak-artefak yang berhubungan dengan candi-candi tersebut.
Museum Prambanan menempati areal tanah seluas 10.000 meter persegi dengan bangunan bercorak arsitektur Jawa dan mempunyai bagian-bagian berupa pendopo, ruang pameran, ruang kantor, dan ruang audio visual.
Memasuki halaman museum ini, pengunjung akan disambut dengan dua arca dwarapala. Dwarapala adalah patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Buddha, berbentuk buto (monster raksasa). Biasanya dwarapala diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain untuk melindungi tempat suci atau tempat keramat di dalamnya. Kemudian sambil melintas paving yang di ujung depan ada arca dwarapala tersebut, pengunjung bisa menjumpai pendopo yang sekarang digunakan untuk promosi jamu herbal.
Sementara itu, di pendopo bagian tengah dikelilingi empat ruangan yang masing-masing dihubungkan dengan teras beratap. Keempat ruangan tersebut digunakan untuk ruang koleksi milik Museum Prambanan.

Ruang Koleksi I
Ruang Koleksi I memajang sejumlah temuan artefak emas dari Wonoboyo, proses pembuatan relief Ramayana di Candi Siwa, arca Siwa, Brahma, Wisnu dan beberapa arca lainnya serta lingga yoni. Selain itu, ada pula sebuah fosil kepala kerbau dan mustaka masjid berukir kepala kala dari Bayat yang terbuat dari gerabah.

Ruang Koleksi II
Ruang Koleksi II atlas persebaran situs di kawasan Candi Prambanan, arca batu maupun patung perunggu, prasasti beraksara Jawa Kuno. Peta persebaran tersebut menunjukkan keberadaan candi Buddha di sekitar Prambabanan yang merupakan kompleks percandian Hindu terbesar di Indonesia, yaitu Candi Sewu, Candi Plaosan, dan Candi Sojiwan.



Ruang Koleksi III
Ruang Koleksi III memamerkan beberapa benda koleksi yang berhubungan dengan wujud Dewa Wisnu. Pertama, arca Wisnu dan Laksmi yang berdiri di atas lapik teratai. Kedua, arca perwujudan inkarnai Dewa Wisnu, dan ketiga, lapik arca burung Garuda yang merupakan kendaraan Wisnu.

Ruang Koleksi IV
Ruang Koleksi IV menampilkan foto-foto reruntuhan kompleks Candi Prambanan pada waktu ditemukan, candi-candi di sekitar Prambanan, dan foto tokoh-tokoh berjasa dalam merekonstruksi reruntuhan kompleks Candi Prambanan, seperti Jan Willem Ijzerman, NJ Krom, dan WF Stutterheim.

Keluar dari ruang Koleksi IV, pengunjung akan menemui ruang audio visual sebelum keluar dari Museum Prambanan. Ruang audio visual ini digunakan untuk memutar film berdurasi 20 menit yang berkisah mengenai latar belakang ditemukannya candi sampai kisah Dewa Siwa sebagai dewa tertinggi. Ruang berkapasitas sekitar 40 orang ini cukup nyaman dengan fasilitas AC dan berbayar.
Mengunjungi museum ini akan menambah wawasan kita akan benda-benda purbakala yang berhubungan dengan keberadaan kompeks Candi Prambanan yang nota bene pengetahuan akan kebudayan di masa Mataram Kuno. *** [220715]
Share:

Candi Prambanan

Candi Prambanan merupakan kompleks percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja dari Dinasti Sanjaya pada abad ke-9. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti Siwagrha. Prasasti berangka tahun 856 M ini sebagai manifes politik untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar. Terjadinya perpindahan pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya candi-candi di daerah ini ditambah terjadinya gempa bumi serta beberapa kali meletusnya Gunung Merapi menjadikan candi Prambanan runtuh tinggal puing-puing batu yang berserakan.
Reruntuhan tersebut akhirnya semakin lama semakin tertutupi semak belukar maupun tanaman besar yang akarnya menancap pada kompleks candi tersebut. Seiring itu pula, kemegahan dan keindahan candi kian lenyap dari ingatan masyarakat yang dulu pernah menyatu dalam kehidupannya. Setelah ratusan tahun lamanya tertelan alam, candi ini ditemukan kembali oleh Colin Mackenzie pada tahun 1811. Kala itu, Colin Mackenzie, seorang anak buah Sir Thomas Stamford Raffles sedang melewati hutan belantara di daerah Prambanan, dan tanpa sengaja menemukan reruntuhan candi-candi tersebut. Setelah itu, Colin Mackenzie diberi tugas untuk melakukan ekskavasi dan menggali informasi untuk merekonstruksi candi ini kembali.


Kompleks percandian Prambanan terletak persis di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Kurang lebih 17 kilometer ke arah timur dari Kota Yogyakarta atau kurang lebih 53 kilometer sebelah barat daya Kota Solo. Lokasi perbatasan ini mencakup dua kabupaten dari dua provinsi yang berbeda tersebut, yaitu Kabupaten Sleman (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Kabupaten Klaten (Provinsi Jawa Tengah). Kebetulan kedua kecamatan yang ada di dua kabupaten tersebut bernama Kecamatan Prambanan yang mengapit letak kompleks percandian tersebut. Kompleks percandian Prambanan ini masuk ke dalam dua wilayah, yakni kompleks bagian barat masuk wilayah Kabupaten Sleman, dan bagian timur masuk wilayah Kabupaten Klaten. Percandian Prambanan berdiri di sebelah timur Sungai Opak yang berjarak kurang lebih 200 meter sebelah utara dari Jalan Raya Yogya-Solo.
Oleh karena itu, gugusan candi ini dinamakan “Prambanan” karena terletak di daerah Prambanan. Kompleks percandian ini juga dinamakan “Loro Jonggrang”, karena candi ini dikenal luas dengan legenda yang melatarbelakangi pembangunan candinya. Legenda tersebut dikenal dengan Legenda Putri Loro Jonggrang, sebuah legenda yang menceriterakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis jangkung putri Prabu Boko yang hendak dipersunting Bandung Bondowoso tapi sang gadis menolaknya. Kenapa? Ceritera ini dapat dibaca pada Legenda Putri Loro Jonggrang.
Usaha pemugaran yang dilaksanakan Pemerintah Hindia Belanda berjalan sangat lamban dan akhirnya pekerjaan pemugaran yang sangat berharga itu diselesaikan oleh bangsa Indonesia. Pada 20 Desember 1953, pemugaran candi induk Loro Jonggrang secara resmi dinyatakan selesai oleh Soekarno sebagai Presiden RI pertama.


Pada tahun 1977, candi Brahma mulai dipugar dan diresmikan pada 23 Maret 1987. Sedangkan, candi Wisnu mulai dipugar pada tahun 1982, dan diresmikan oleh Soeharto sebagai Presiden RI kedua pada 27 April 1991.
Pada 27 Mei 2006, gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta dan merusak sebagian besar peninggalan budaya termasuk Prambanan sebagai Kawasan Warisan Dunia. Tindakan tanggap darurat yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia meliputi dokumentasi kerusakan, pembersihan reruntuhan, pemulihan tahap awal, dan kegiatan penelitian.
Sebuah Misi Observasi Darurat telah dilaksanakan oleh Pusat Warisan Dunia UNESCO satu minggu setelah gempa untuk menentukan kerusakan dan mempersiapkan bantuan darurat internasional bagi kawasan tersebut.
Pada tahapan ini dilaksanakan beberapa kegiatan penelitian, upaya-upaya koordinasi untuk pembuatan strategi rehabilitasi dan pekerjaan pemulihan di kawasan tersebut. Pertemuan tingkat internasional yang melibatkan para ahli nasional dan internasional di Yogyakarta mempersiapkan suatu rencana aksi untuk rehabilitasi kawasan tersebut.
Pada lebaran 2015, penulis yang sedang menjadi sopir keluarga dari Jakarta, tepatnya sepupu orangtua penulis, Candi Prambanan menjadi salah satu destinasi atau tujuan wisata sebelum menuju Magelang dari arah Solo. Pada waktu mengunjungi tersebut, Candi Prambanan sudah selesai purna pugar pasca gempa bumi tersebut. Sehingga, pengunjung bisa menikmati keindahan candi tersebut.
Kompleks percandian Prambanan atau Loro Jonggrang ini sangat luas. Area terluar merupakan sebuah lapangan besar yang kemungkinan digunakan sebagai tempat suci para pendeta. Area tengah terdiri dari empat baris yang memiliki 224 kuil kecil. Keempat baris tersebut diyakini melambangkan keempat kasta dalam agama Hindu. Sedangkan, area intinya merupakan tempat yang paling suci dari keseluruhan kompleks yang dikelilingi oleh dinding batu dan memiliki gerbang dari batu pada keempat arah utamanya.
Sesuai dengan isi prasasti Siwagrha, peresmian bangunan suci untuk Dewa Siwa, yaitu Siwagrha dan Saiwalaya serta sekaligus memberikan uraian terperinci mengenai sebuah kompleks bangunan suci agama Siwa, yang menurut para ahli adalah kompleks Candi Prambanan yang diresmikan oleh Rakai Pikatan setelah dia menikahi Pramodhawardhani dan mengalahkan Balaputradewa.
Kompleks percandian Prambanan memiliki beberapa candi yang melingkunginya. Akan tetapi, dari semua candi tersebut ada 3 candi yang dianggap penting, yaitu Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu. Ketiga candi tersebut diyakini sebagai simbol Trimurti. Trimurti adalah tiga kekuatan Brahman atau Sang Hyang Widhi, sebutan Tuhan dalam agama Hindu, dalam menciptakan, memelihara, melebur alam beserta isinya.
Trimurti terdiri dari 3 dewa, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Menurut ajaran Tirmurti dalam Hindu, yang paling dihormati adalah Dewa Brahma sebagai pencipta alam, kemudian Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai perusak alam. Tetapi di India maupun Indonesia, Siwa adalah yang paling terkenal. Di Jawa, ia dianggap yang tertinggi karenanya ada yang menghormatinya sebagai Mahadewa.

Candi Siwa
Candi dengan luas dasar 34 meter persegi dan tinggi 47 meter adalah yang terbesar dan terpenting. Dinamakan Candi Siwa karena di dalamnya terdapat arca Siwa yang merupakan arca terbesar. Arca ini mempunyai tinggi 3 meter, dan berdiri di atas landasan batu setinggi 1 meter.
Bangunan candi ini terbagi atas 3 bagian secara vertikal, yaitu kaki, tubuh dan kepala. Kaki candi menggambarkan dunia bawah, tempat di mana manusia masih diliputi hawa nafsu. Tubuh candi melambangkan dunia tengah, tempat di mana manusia telah meninggalkan keduniawian. Sedangkan, kepala candi atau bagian atap melukiskan dunia atas, tempat di mana para dewa bersemayam.
Gambar kosmos nampak pula dengan adanya arca dewa-dewa dan makhluk-makhluk surgawi yang menggambarkan Gunung Mahameru atau Mount Everest di India, yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Percandian Prambanan merupakan replika gunung itu. Hal ini terbukti dengan adanya arca-arca Dewa Lokapala yang terpahat pada kaki candi tersebut. Empat pintu masuk pada candi tersebut sesuai dengan keempat arah mata angin.
Dasar kaki candi dikelilingi selasar yang dibatasi oleh pagar langkan. Pada dinding langkan sebelah dalam terdapat relief yang berkisah Ramayana yang dapat diikuti dengan cara pradaksina (berjalan searah jaruh jam) mulai dari pintu utama.
Pintu utama menghadap ke timur dengan tangga masuknya yang terbesar. Di kanan-kirinya berdiri 2 arca raksasa penjaga dengan membawa gada yang merupakan manifestasi dari Siwa. Di dalam candi terdapat 4 ruangan yang menghadap keempat arah mata angin dan mengelilingi ruangan terbesar yang ada di tengah-tengah. Kamar terdepan kosong, sedangkan ketiga kamar lainnya masing-masing berisi arca Siwa, Ganesha dan Durga.
Hiasan-hiasan pada dinding sebelah luar berupa kinari (makhluk bertubuh burung berkepala manusia), kalamakara (kepala raksasa yang lidahnya berwujud sepasang mitologi) dan makhluk surgawi lainnya.
Atap candi bertingkat-tingkat dengan susunan yang amat kompleks masing-masing dihiasi sejumlah ratna dan puncaknya terdapat ratna terbesar.

Candi Brahma
Luas dasarnya 20 meter persegi dan tingginya 37 meter. Di dalam ruangan terdapat satu-satunya arca yang berdiri tegak, yaitu arca Brahma berkepala 4 dan berlengan 4. Salah satu tangannya memegang tasbih yang satunya memegang kamandalu (tempat air). Keempat wajahnya menggambarkan keempat kitab suci Weda yang masing-masing menghadap ke arah empat mata angin tersebut. Keempat lengannya juga menggambarkan keempat arah mata angin. Sebagai pencipta, Dewa Brahma selalu membawa air karena seluruh alam keluar dari alam. Sedangkan, tasbihnya menggambarkan waktu. Sebenarnya arca ini begitu indah tapi sayang arca ini sudah rusak.
Dasar kaki candi juga dikelilingi oleh selasar yang dibatasi pagar langkan di mana pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief lanjutan ceritera Ramayana dan relief serupa pada Candi Siwa hingga tamat.

Candi Wisnu
Candi Wisnu memiliki bentuk, ukuran relief dan hiasan dindingnya yang serupa dengan Candi Brahma. Cuma yang membedakan adalah arca yang ada di dalam ruangan candinya.
Dinamakan Candi Wisnu karena di dalamnya terdapat arca Wisnu yang bertangan 4 yang memegang gada, cakra, dan tiram.
Pada dinding langkam sebelah dalam, terpahat relief ceritera Kresna sebagai penjelmaan Wisnu beserta Baladewa (Balarama) kakaknya. *** [220715]

Share:

Legenda Putri Loro Jonggrang

Pada zaman dahulu kala di Pulau Jawa terutama di daerah Prambanan berdiri dua buah kerajaan Hindu, yaitu Kraton Pengging dan Kraton Boko. Kraton Pengging adalah kerajaan yang subur makmur yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana yang bernama Prabu Damar Moyo yang mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Bandung Bondowoso.
Sedangkan, Kraton Boko merupakan kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Kraton Pengging, diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka. Ia tidak berwujud manusia biasa tetapi berwujud seorang raksasa besar yang suka makan daging manusia. Raja tersebut bernama Prabu Boko, dan memiliki seorang putri yang berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan yang bernama Loro Jonggrang.
Selain itu, Prabu Boko juga mempunyai patih yang berwujud raksasa yang bernama Patih Gupolo. Prabu Boko ingin memberontak dan ingin menguasai Kraton Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.
Setelah persiapan sudah dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju ke Kraton Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kraton Pengging antara para prajurit Pengging dan prajurit Kraton Boko.
Banyak berjatuhan korban di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat yang kelaparan dan jatuh dalam kemiskinan.
Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit yang meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya, Raden Bandung Bondowoso, maju perang melawan Prabu Boko, dan terjadilah perang yang sangat sengit antara Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Tapi karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko akhirnya dapat dibinasakan.
Melihat rajanya telah tewas maka Patih Gupolo melarikan diri, maka Raden Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo ke Kraton Boko.
Setelah sampai di Kraton Boko, Patih Gupolo segera melaporkan pada Putri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di medan perang, dibunuh kesatria Pengging yang bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka menangislah Loro Jonggrang, sedih ayahnya telah tewas di medan perang.
Maka sampailah Raden Bandung Bondowoso di Kraton Boko dan terkejutlah Raden Bandung Bondowoso melihat Loro Jonggrang yang cantik jelita. Seketika itu ia ingin mempersunting Loro Jonggrong sebagai istrinya.
Akan tetapi, Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso disebabkan ia telah membunuh ayahnya. Untuk menolak pinangan Raden Bandung Bondowoso, maka Loro Jonggrang mempunyai siasat, yaitu Loro Jonggrang mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso asalkan Raden Bandung Bondowoso mau mengabulkan dua permintaan Loro Jonggrang yaitu pertama, Loro Jonggrang ingin dibuatkan 1.000 candi dalam satu malam.
Raden Bandung Bondowoso menyanggupi dua permintaan Loro Jonggrang, dan segeralah Raden Bandung Bondowoso membuat sumur Jalatunda dan setelah jadi, ia memanggil Loro Jonggrong untuk melihat sumur.
Kemudian Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, dan setelah Raden Bandung Bondowoso sampai di bawah, Loro Jonggrang memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dengan batu. Akhirnya, Raden Bandung Bondowoso tertimbun batu di dalam sumur. Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung Bondowoso belum mati. Ia malah bersemedi untuk bisa keluar dari sumur. Raden Bandung Bondowoso pun bisa keluar dari sumur dengan selamat.
Raden Bandung Bondowoso menemui Loro Jonggrang dengan marah sekali yang telah menimbunnya di dalam sumur, tetapi karena kecantikan Loro Jonggrang kemarahan Raden Bandung Bondowoso bisa mereda.
Kemudian Loro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Raden Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1.000 candi dalam satu malam. Maka segeralah Raden Bandung Bondowoso memerintahkan para jin untuk membuat candi. Sementara itu di lain pihak, Loro Jonggrang berkeinginan menggagalkan usaha Raden Bandung Bondowoso dalam membuat candi. Ia memerintahkan para gadis di sekitar Prambanan untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk perrtanda pagi sudah tiba dan ayam pun berkokok bergantian.
Mndengar ayam berkokok dan orang menumbu padi serta di timur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak bisa meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba.
Akan tetapi menurut firasat Raden Bandung Bondowoso, seharusnya fajar belumlah tiba. Maka dipanggilah Loro Jonggrang disuruh menghitung candi dan ternyata jumlahnya baru sebanyak 999 candi. Jadi, belum genap menjadi 1.000 candi, dan masih tinggal satu candi lagi.
Siasat Loro Jonggrang agar tidak bisa dipersunting oleh Raden Bandung Bondowoso, akhirnya karena merasa ditipu dan dipermainkan maka Raden Bandung Bondowoso murka sekali dan mengutuk Loro Jonggrang. “Hai Loro Jonggrang, candi ini kurang satu dan sebagai genapnya agar menjadi 1.000 maka engkaulah orangnya,” kata Raden Bandung Bondowoso dalam kutukannya kepada Loro Jonggrang.
Lalu, tiba-tiba Loro Jonggrang berubah wujudnya menjadi arca batu, dan sampai sekarang arca Loro Jonggrang masih berada di dalam Candi Prambanan. Tidak hanya itu, Raden Bandung Bondowoso pun juga mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua) karena telah membantu Loro Jonggrang dalam mewujudkan siasatnya tersebut. Sehingga, pada akhirnya berkembang semacam kepercayaan setempat bahwa berpacaran di Candi Prambanan akan berakhir dengan putus cinta. *** [220715]
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Kediri

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Kediri:

KAB. KEDIRI:

Arca ini terletak di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Candi ini terletak di Desa Surowono, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Candi ini terletak di Dusun Candirejo, Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Gereja ini terletak di Jalan Raya Puhsarang RT.01 RW.02 Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur.

Petilasan ini terletak di Dusun Menang RT.02 RW.03 Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Rumah sakit ini terletak di Jalan Achmad Yani No. 25 Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Sendang Tirta Kamandanu
Sendang ini terletak di Dusun Menang RT. 03 RW. 03 Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Kras
Stasiun ini terletadi Jalan Stasiun Kras, Desa Purwodadi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Pk rovinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Minggiran
Stasiun ini terletak di Jalan Minggiran RT. 01 RW. 03 Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Ngadiluwih
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Ngadiluwih, Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Papar
Stasiun ini terletak di Jalan Kertosono-Kediri, Kelurahan Papar, Kecamatan Papar,Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Purwoasri
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Purwoasri, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Susuhan
Stasiun ini terletak di Jalan Kertosono-Kediri, Desa Gampengrejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur


KOTA KEDIRI:

Gedung ini terletak di Jalan Brawijaya No. 2 Kelurahan Pocanan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Gedung ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 143 Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kediri Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Gereja ini terletak di Jalan KDP Slamet No. 43 Kampung Bandar Lor, Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Hotel ini terletak di Jalan Basuki Rahmat No. 4 Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Klenteng ini terletak di Jalan Yos Sudarso No. 148 RT.15 RW.03 Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Museum Airlangga
Museum ini terletak di Jalan Mastrip No. 1 Desa Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Kediri
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Semampir, Kecamatan Kediri, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur
Share:

Rumah Sakit HVA Toeloengredjo

Diajak teman – Mugi Gumanti namanya - nyadran ke Kediri memberi pengalaman tersendiri. Menginap di Pare semalam dulu sebelum mengunjungi makam orangtua teman di Kota Kediri. Jarak antara Pare dengan Kota Kediri sekitar 25 kilometer, namun karena perjalanannya dikemas dengan acara berkeliling Kota Kediri maka perjalanan tersebut makin mengasyikan saja. Banyak yang bisa disaksikan sepanjang perjalanan dengan menggunakan mobil.
Ketika lepas dari Kampung Inggris, mobil melintasi bangunan kuno yang khas dan menarik perhatian kami. Bangunan kuno tersebut adalah Rumah Sakit (RS) HVA Toeloengredjo. Rumah sakit ini terletak di Jalan Achmad Yani No. 25 Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah sakit ini berada di pinggir jalan raya menuju ke Jombang.
Menurut catatan historis yang ada, RS HVA Toeloengredjo didirikan pada tahun 1908 oleh perusahaan pedagangan di bidang perkebunan swasta milik orang Belanda yang bernama NV. Handels Vereeniging Amsterdam (HVA). Sesuai yang membuatnya, maka nama rumah sakit tersebut dinamai RS HVA Toeloengredjo. Artinya, rumah sakit yang dibangun oleh NV. Handels Vereeniging Amsterdam yang berlokasi di Tulungrejo.


Perusahaan Handels Vereeniging Amsterdam merupakan perusahaan perdagangan di bidang perkebunan yang memfokuskan usaha bisnisnya pada industri gula, molase dalam bentuk alkohol yang digunakan untuk rumah sakit, spiritus, dan tembakau. Kediri saat itu menjadi kota strategis karena menjadi pusat pertanian, perkebunan dan industri. Perusahaan HVA ini memiliki beberapa perusahaan pabrik gula (PG) yang berada di Kediri, yaitu PG Meritjan dan PG Pesantren. Hal inilah yang menjadikan RS HVA ini didirikan di Pare, Kediri karena memang dibangunnya rumah sakit tersebut digunakan untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan bagi karyawan pabrik gula maupun perkebunan milik HVA yang ada di Kediri.
Seiring perjalanan sang waktu, RS HVA Toeloengredjo kini menjadi rumah sakit milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X. PTPN X didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 15 tanggal 14 Februari 1996 tentang pengalihan bentuk Badan Usaha Milik Negara dari PT Perkebunan (Eks PTP 19, Eks PTP 21-22 dan Eks PTP 27) yang dilebur menjadi PTPN X (Persero) dan tertuang dalam Akte Notaris Harun Kamil, SH No. 43 tanggal 11 Maret 1996 yang mengalami perubahan kembali sesuai Akte Notaris Sri Eliana Tjahjoharto, SH No. 1 tanggal 2 Desember 2011. Namun terhitng mulai tanggal 19 januari 2013, RS HVA Toeloengredjo resmi menjadi salah satu Strategic Business Unit (SBU) PTPN X yang dikelola oleh PT Nusantara Medika Utam, yang juga membawahi RS Gatoel di Mojokerto dan RS Perkebunan di Jember.


Sebagai SBU PTPN X, RS HVA Toeloengredjo diarahkan menjadi suatu unit perusahaan yang berdiri sendiri dan diukur atau dihitung dalam arti profit/lose mengarah ke profit center. Oleh karena itu, RS HVA Toeloengredjo sekarang ini tidak hanya menangani pasien dari karyawan pabrik gula atau karyawan lainnya yang berada di bawah PTPN X sebagai penjelmaan Handels Vereeniging Amsterdam (baca: nasionalisasi) seperti awal berdirinya tapi menjelma menjadi rumah sakit umum. Sehingga, RS HVA Toeloengredjo berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Berbagai keunggulan rumah sakit ini terus dikembangkan, di antaranya layanan dokter 24 jam, dokter spesialis on call 24 jam, peralatan modern, layanan ambulance 24 jam, UGD dan layanan penunjang medis serta apotek 24 jam. Selain itu, RS HVA Toeloengredjo juga merupakan pusat rujukan Bedah Orthopedi, Bedah Urologi dan Bedah Plastik. Poli Spesialis lengkap serta didukung oleh dokter spesialis yang profesional dan on call 24 jam. Maka wajar, bila RS HVA Toeloengredjo saat ini merupakan salah satu rumah sakit terbaik di Pare.
Mengunjungi RS HVA Toeloengredjo ini memang terasa nuansa kolonialnya. Karena rumah sakit yang memiliki luas bangunan 9.907 m² yang berdiri di atas lahan seluas 25.111 m² ini masih mempertahankan bangunan peninggalan di masa Hindia Belanda tersebut meski ada beberapa penambahan di areal tersebut namun tanpa menghilangkan bentuk aslinya.
Nuansa klasik ini memang sengaja masih dipertahankan oleh pihak pengelola agar rumah sakit tersebut tidak hilang sisi historisnya sebagai warisan budaya di masa Hindia Belanda. Hanya saja pihak pengelola juga jeli terhadap para konsumennya, untuk menghilangkan kesan seram oleh bagian tata ruang diberikan ornamen-ornamen modern yang indah dengan tujuan menghilangkan kesan “wingit” tersebut tanpa menghilangkan kesan klasiknya. Bisa dikatakan rumah sakit ini memiliki nuansa hotel dengan beragam tipe kamar sesuai kebutuhan pasien. Ruang kamar didesain sedemikian rupa untuk kenyamanan pasien dan juga keluarga.
Melihat perjalanan historis yang dimiliki, RS HVA Toeloengredjo ini tergolong bangunan cagar budaya (BCB) yang perlu dijaga kelestariannya karena sarat nilai penting akan sejarah Pare, dan kedepannya bisa dikembangkan menjadi wisata heritage (heritage tourism) di Kabupaten Kediri. *** [240515]
Share:

Arca Totok Kerot

Arca Totok Kerot merupakan rangkaian dari perjalanan keliling Kediri sebelum mencapai Rumah Sakit (RS) HVA Toeloengredjo yang menjadi kunjungan terakhir. Arca Totok Kerot adalah arca atau patung yang cukup besar terbuat dari batu andesit, dan masih menyimpan misteri.
Arca ini terletak di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi arca ini berada satu kilometer dari simpang lima gumul yang mulai menjadi ikon di Kabupaten Kediri, atau sekitar 11 kilometer arah selatan Petilasan Sri Aji Jayabaya.
Menurut ceritera rakyat setempat, arca ini merupakan penjelmaan putri cantik, anak demang di Lodaya, Blitar, yang memiliki kesaktian. Sang putri berkeinginan pergi ke Pamenang untuk diperistri oleh Prabu Jayabaya yang tersohor akan kedigdayaannya kendati dilarang oleh orangtuanya. Lalu, berangkatlah sang putri tersebut ke negeri Pamenang, di mana Prabu Jayabaya bertahta.


Sayang impian sang putri itu tidak terwujud karena Prabu Jayabaya menolak untuk memperistrinya. Akhirnya, terjadi perang tanding di antara keduanya. Karena kalah sakti, sang putri mulai terdesak. Saat itulah, Prabu Jayabaya mengeluarkan sabda dengan menyebut sang putri memiliki kelakuan seperti buto (raksasa), dan berubahlah sang putri menjadi arca berbentuk buto. Arca ini kemudian dikenal dengan Totok Kerot. Totok, dalam bahasa Kawi berarti kutukan, dan kerot adalah suara gigi yang beradu saat mengumbar marah.
Dulunya, arca ini terbenam di dalam tanah di persawahan milik warga selama ratusan tahun, dan baru ditemukan oleh penduduk pada tahun 1981. Kemudian baru tahun 1983, arca tersebut tergali secara utuh. Konon, arca yang menghadap ke barat ini pernah dipindahkan ke alun-alun Kediri akan tetapi kemudian balik lagi ke tempat asalnya.
Bila dilihat dari bentuknya, arca Totok Kerot merupakan arca Dwarapala. Dwarapala adalah patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Buddha, berbentuk manusia atau monster (buto). Biasanya Dwarapala diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain untuk melindungi tempat suci atau tempat keramat di dalamnya. Penulis pernah melihat arca Dwarapala sebesar ini di Singosari dan Candi Plaosan. Di Singosari, diyakini sebagai arca Dwarapala terbesar di Jawa, dan kembar. Menurut penduduk setempat di sana, arca Dwarapala tersebut diperkirakan sebagai pintu gerbang ke Kraton Singosari. Sedangkan, yang berada di Candi Plaosan yang sudah ada sejak abad ke-9 untuk melindungi Candi Plaosan sebagai tempat ibadah umat Buddha.
Tak seperti di Singosari maupun Plaosan, arca Totok Kerot masih menyimpan tanda tanya secara arkeologis. Lokasinya yang menyendiri di tengah persawahan yang saat penulis berkunjung sedang ditanami jagung, menunjukkan tidak lazim. Lalu, arca Dwarapala pada umumnya buto berkelamin laki-laki tapi arca Totok Kerot berkelamin perempuan. Dua pertanyaan inilah yang masih menggelayuti sejumlah arkeolog akan tabir dari arca tersebut. *** [240515]
Share:

Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang

Gereja merupakan bangunan ibadat umat kristiani yang mewadahi kegiatan spiritual bagi jemaatnya. Berbagai bentuk desain gereja telah tercipta sejak lama dan beberapa di antaranya sekarang sudah menjadi aset sejarah. Salah satu dari sekian karya arsitektur yang dapat memperlihatkan ekspresi dari pengungkapan manusia dan lingkungannya serta dapat berkomunikasi karena di dalam karya tersebut banyak memperlihatkan simbol-simbol yang akrab dengan manusia dan lingkungannya adalah Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang.
Gereja ini terletak di Jalan Raya Puhsarang RT.01 RW.02 Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di depan Wisma Mbah Kung, dan berada di sebuah bukit kecil yang di bawahnya mengalir sungai berbatu-batu dengan sekelilingnya penuh pepohonan bambu.


Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang atau Gereja Puhsarang didirikan atas prakarsa dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek Ir. Henri Maclaine Pont. Henri Maclaine Pont, seorang arsitek kelahiran Meester Cornelis (Jatinegara) pada 21 Juni 1885 dari seorang Ibu yang keturunan Bugis, dan Ayah yang orang Belanda.
Romo Wolters meminta kepada Maclaine agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam merancang gereja di stasi Puhsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu. Corak lokal Gereja Puhsarang tercetus, ketika konsep Romo Wolters yang diajukan tersebut bertemu dengan konsep sang arsitek Henri Maclaine Pont. Sehingga muncul keunikan dalam hal ke-Jawa-an, kekatolikan, lokalitas, sekaligus universalitas yang setiap bagiannya berguna untuk sebuah pengajaran serta tempat untuk melakukan perenungan akan arti sebuah misteri iman.
Peletakan batu pertama dalam pembangunan gereja ini dilakukan oleh Monseignor Theophile de Backere CM pada tanggal 11 Juni 1936, bertepatan dengan Sakramen Maha Kudus. Bangunan gereja ini selesai pada tahun 1937.


Secara fisik, bangunan utamanya menyerupai sebuah tenda atau sebuah kubah besar yang ditopang pada keempat sudutnya oleh soko guru. Bentuk tenda dan soko guru merupakan esensi dari arsitektur Jawa. Kompleks Gereja Puhsarang ini terdiri atas bangunan induk, pendapa, gapura mirip candi, gapura Santo Yusuf, menara Santo Henrikus, ruang gamelan, ruang terbuka dan patung Kristus Raja. Dalam membangun gereja ini, Maclaine selalu menggunakan bahan-bahan lokal dan tenaga lokal serta bangunannya disesuaikan dengan situasi setempat.
Gereja Puhsarang, kini menjadi landmark atau tetenger dari kawasan tersebut, dan sekaligus mempunyai arti yang cukup penting bagi masyarakat sekitar. Hal ini dapat terjadi karena fasilitas yang terdapat di sekitar gereja cukup dapat mewadahi kegiatan-kegiatan pokok dari masyarakat setempat. Fasilitas tersebut seperti ruang terbuka, sekolah serta makam, sehingga fasilitas tersebut menjadikan lingkungan gereja menjadi pusat kegiatan umum masyarakat sekitar gereja maupun masyarakat Desa Puhsarang pada umumnya. *** [240515]

Kepustakaan:
Maria I. Hidayatun dan Christine Wonoseputro, 2005. Telaah Elemen-Elemen Arsitektur Gereja Puhsarang Kediri Sebuah Pengayaan Kosa Kata Arsitektur Melayu (Nusantara), dalam International Seminar on Malay Architecture as Lingua Franca Jakarta, June 22-23 2005
Share:

Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri

Sebagai kota tua, Kediri menyimpan memori sejarah yang cukup banyak. Salah satunya adalah kawasan pecinan (China Town) yang banyak dihuni oleh orang Tionghoa. Dalam literatur sejarah, orang Tionghoa terkenal sebagai orang yang ulet dalam berdagang sehingga setiap daerah yang ada permukiman Tionghoa pada umumnya memiliki basis ekonomi yang kuat dan sekaligus terhubung dengan dunia luar. Hal ini karena terkait dengan supply chain komoditas yang diperjualbelikan yang menjadi andalan orang Tionghoa.
Selain itu, di daerah ini juga berdiri sebuah tempat ibadah bagi pemeluk Tri Dharma yang masih cukup megah yang bernama Klenteng Tjoe Hwie Kiong.  Klenteng ini terletak di Jalan Yos Sudarso No. 148 RT.15 RW.03 Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di tepi Sungai Brantas, persis di tikungan Jalan Yos Sudarso.
Klenteng ini penulis kunjungi setelah terlebih dahulu mengunjungi gedung lama Bank Indonesia Kediri, dan sholat sebentar di Masjid Agung Kediri. Setelah selesai sholat, mobil Daihatsu Hijet 2000 balik arah kembali menyusuri Jalan Dhaha terus belok ke kanan menuju Jalan Yos Sudarso yang digunakan sebagai jalur satu arah. Tepat berada di tikungan, pintu gerbang klenteng (pai lou) sudah terlihat. Pintu gerbang klenteng ini tidak seperti pada klenteng umumnya yang berbentuk paduraksa, melainkan menyerupai benteng yang didominasi warna merah dan kuning. Pada pintu gerbang tersebut ditempeli tulisan “Revitalisasi Cagar Budaya Klenteng Tjoe Hwie Kiong Di Bawah Pengawasan dan Arahan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur”. Tulisan ini jelas menunjukkan bahwa klenteng tersebut telah berumur tua.


Menurut informasi yang didapat, Klenteng Tjoe Hwie Kiong dibangun pada tahun 1895 oleh warga Tionghoa yang telah bermukim di Kediri. Mereka menggalang dana dengan menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk mewujudkan tempat ibadah pada waktu itu. Pada waktu itu, banyak orang Tionghoa yang berasal dari Fujian, Tiongkok yang meninggalkan negerinya untuk mengadu nasib di tempat lain. Termasuk di antaranya ada yang menuju ke Kediri melalui Sungai Brantas.
Dulu, Klenteng straat sudah menjadi kawasan yang ramai. Klenteng straat, yang sekarang berubah menjadi Jalan Yos Sudarso merupakan bagian dari kota lama di wilayah Kota Kediri yang banyak dihuni oleh orang-orang Tionghoa. Deretan rumah khas Tiongkok yang membentuk hunian pemukiman, banyak menghiasi daerah ini. Mereka berjualan segala kebutuhan masyarakat, mulai dari sembako, pakaian hingga perlengkapan lainnya di sepanjang hampir dua kilometer jalan tersebut. Pemukimannya pun sudah cukup padat. Hal ini dikarenakan daerah ini dekat dengan Sungai Brantas yang dulu merupakan jalur transportasi utama dari Kediri menuju Surabaya atau sebaliknya.
Memasuki halaman klenteng yang begitu luas ini terlihat bangunan utama klenteng berikut bangunan pendukung lainnya. Sebelum masuk bangunan utama, tepat di depan pintu terdapat hiolo (tempat menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan. Di sebelah kiri dan kanan pintu masuk ada kan chuang (jendela rendah yang dapat memberikan pemandangan keliling dan berbentuk bulat. Di atas wuwungan, terlihat huo zhu (mutiara api berbentuk bola) ditaruh di atas kepala orang dan diapit oleh dua xing long (naga berjalan). Sedangkan, di kanan di depan bangunan utama terdapat kim lo (tempat pembakaran kertas persembahyangan).


Lanjut ke dalam, akan dijumpai beberapa altar untuk memuja para dewa, di antaranya altar Tri Nabi Agung. Altar sebelah kiri yang berlogo Yin-Yang berisi rupang Lao Tze yang digunakan sebagai altar pemujaan penganut Tau. Di tengah ada altar berlogo Swastika berisi rupang Buddha Sakyamuni yang diperuntukkan bagi penganut Budda, dan yang di sebelah kanan berupa altar berlogo Genta adalah rupang Kong Hu Cu yang digunakan bagi penganut Kong Hu Cu.
Keluar dari bangunan utama searah mata memandang ke barat, Anda akan melihat bangunan mirip rumah panggung berukuran kecil bercat merah. Panggung ini digunakan untuk pertunjukkan wayang potehi. Anda bisa menonton sambil duduk yang telah disediakan oleh pengurus klenteng. Wayang ini akan dilakonkan pada sore (15.00 WIB – 17.00 WIB) maupun malam hari (19.00 WIB-21.00 WIB) tapi tidak setiap hari. Pagelaran wayang Potehi ini berdasarkan pemesanan dari jemaatannya.
Tepat di belakang panggung wayang Potehi, berdiri menjulang patung  Makco Thian Siang Sing Boo. Patung seberat 18, 7 ton dengan tinggi 5 meter ini sengaja didatangkan dari Desa Buthien, Tiongkok, yang diyakini sebagai asal Makco pada 9 Oktober 2011. Makco, di kalangan orang Tionghoa dikenal sebagai dewi penolong yang welas asih. Sehingga, harapan dipasangnya patung Makco yang menghadap langsung ke Sungai Brantas ini adalah untuk menjaga keamanan, ketertiban dan kedamaian masyarakat Kota Kediri.
Selain bangunan utama klenteng yang menghadap ke barat atau Sungai Brantas, di sebelah kanan terdapat gedung Mitra Graha berlantai 2. Gedung ini digunakan untuk mendukung bagi bangunan klenteng secara keseluruhan. Sedangkan, di sebelah kiri klenteng terdapat gedung Pasada Graha. Gedung ini dibangun oleh PT. Gudang garam Tbk pada 24 Mei 2011. Selain untuk acara yang berhubungan dengan agenda klenteng, gedung berlantai 3 ini juga bisa disewakan untuk umum. *** [240515]
Share:

Gedung Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kediri

Kota Kediri secara geografis terbelah oleh Sungai Brantas. Diperkirakan dulu, wilayah sebelah barat Sungai Brantas yang sekarang menjadi Jalan Jaksa Agung Suprapto menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda dan area perumahan elit Belanda. Sedangkan, wilayah sebelah timur Sungai Brantas yang sekarang menjadi alun-alun diperkirakan menjadi pusat pemerintahan yang dipegang oleh orang pribumi. Hal ini dtandai dengan adanya bangunan Pendopo Kabupaten Kediri yang berada di timur alun-alun.
Sebagai kawasan pusat pemerintahan, maka di sekeliling alun-alun banyak bermunculan kantor-kantor penunjang pemerintahan tersebut. Salah satunya bangunan lawas yang dulunya untuk mendukung pemerintahan yang berpusat di Pendopo Kabupaten tersebut adalah Gedung Kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Kediri.


Gedung ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 143 Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kediri Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di selatan alun-alun Kota Kediri atau di belakang Dhoho Plasa.
Bangunan gedung DPU tersebut merupakan salah satu bangunan dari sekian bangunan peninggalan masa Hindia Belanda yang masih ada dan cukup terawat. Pada gevel tertulis dengan jelas angka secara vertikal. Dari arah penulis membaca, di sebelah kiri tertulis angka 1929 dan sebelah kanan tertulis angka 1933. Sehingga, diperkirakan gedung Kantor DPU Kabupaten Kediri dibangun pada tahun 1929, dan diresmikan pada tahun 1933.
Handinoto dalam bukunya Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda 1870-1940 (Andi Offset, Yogyakarta, 1996) menulis, bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900-an merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda yang disesuaikan dengan iklim tropis basah Indonesia. Penggunaan gevel (gable) pada tampak depan bangunan. Gevel adalah bagian berbentuk segitiga dari bagian akhir dinding atap dengan penutup atap yang melereng. Selain itu, ventilasi yang baik dengan dtandai bentuk jendela yang besar dan banyaknya rooster di atas jendela menggambarkan sirkulasi udara dipandang sangat penting.
Bangunan peninggalan kolonial Belanda yang cukup luas ini perlu tetap dipertahankan keberadaannya meski di depannya telah bermunculan plasa maupun department store. Tidak hanya sebagai elemen perkotaan yang bercitrakan heritage tapi sekaligus juga mempertahankan memori sejarah perkembangan Kota Kediri sendiri. *** [240515]
Share:

GPIB Jemaat Immanuel Kediri

Pada saat melakukan Pilot Test PNPM di Ngronggot (Nganjuk), sebenarnya penulis sudah pernah menginjakkan kaki di Kota Kediri. Karena pada waktu Pilot Test, penulis mengambil base camp di Hotel Lotus Kediri sehingga kebetulan pas jalan ke arah selatan menemukan bundaran. Di sisi barat laut bundaran tersebut terdapat bangunan gereja yang bercat merah. Bangunan gereja lawas tersebut adalah GPIB Jemaat Immanuel Kediri. Oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Gereja Merah.
Tapi, benar-benar kesampaian mengunjungi gereja ini pada saat diajak teman dari Garut yang sedang nyadran ke leluhurnya di Kediri pada 24 Mei 2015. Beruntunglah bisa bertandang ke Gereja Merah ini. Gereja ini terletak di Jalan KDP Slamet No. 43 Kampung Bandar Lor, Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di depan Monumen Syu yang berdekatan dengan Taman Sekartaji.
Berdasarkan prasasti yang terbuat dari batu pualam dengan menggunakan bahasa Belanda yang menempel pada dinding sebelah kiri pintu masuk, diketahui bahwa nama resmi gereja ini adalah Kerkenraad van de Protestantse Gemeente te Kediri. Artinya, gereja yang digunakan jemaat Protestan di Kediri.


Peletakan batu pertama pembangunan gereja ini dilakukan oleh Ds. J.A. Broers pada tanggal 21 Desember 1904 dan diresmikan oleh J.V.D. Dungen Gronovius. J.A. Broers adalah seorang pendeta yang diutus Pemerintah Hindia Belanda untuk mengajarkan agama Protestan di Kediri. Sayangnya, nama arsiteknya belum diketahui.
Bangunan gereja ini berlanggam Neo-Gothic yang memiliki impresi ramping dan tinggi serta dikelilingi pagar dari tembok setinggi 165 cm. Luas bangunan gereja berdenah empat persegi dengan ukuran 30,75 x 10,6 m ini berdiri di atas lahan seluas 1.408, 87 m². Hiasan berbentuk lingkaran, lengkungan, tumpal, dan pelipit mendominasi penampilan gereja secara keseluruhan, ditambah dengan bentuk pilar pada setiap sudut bangunan. Di dalam gereja terdapat 5 ruangan, yaitu ruang informasi, ruang utama, balkon, ruang konsistori dan menara. Menara menjulang yang berada di atas pintu masuk utama gereja ini merupakan fasad yang mencirikan gaya arsitektur Neo-Gothic.
Keunikan lain yang dimiliki gereja ini adalah terdapatnya sebuah kitab Injil kuno dengan ukuran 43 x 29 cm dengan ketebalan 10 cm. Kitab tersebut diterbitkan pada September 1867 oleh De Nederlandsche Bijbel Compagnie. Sejauh ini tidak ada yang tahu kapan kita Injil berbahasa Belanda tersebut mulai berada di gereja ini.
Pada tahun 1948, gereja ini diserahkan Pemerintah Belanda kepada pengurus gereja yang asli pribumi. Kemudian gereja ini resmi menjadi milik GPIB sesuai keputusan Direktur Jenderal Agraria Nomor Surat Keputusan 22/DDA/1969 tanggal 14 Maret 1969 tentang penunjukan Badan Protestan di Indonesia Bagian Barat sebagai badan hukum yang dapat mempunyai hak milik tanah. Tanah dan gereja ini menjadi milik GPIB dengan buku tanah Nomor 36/1976 tanggal 10 Juni 1976 dengan nomor sertifikat 3203030 dan dinamakan GPIB Jemaat Immanuel Kediri.
GPIB ini sejak dibangun sampai sekarang ini, baru mengalami satu kali pemugaran pada tahun 2005 lalu. Selain bangunan, kaca jendela, balkon, kursi, kayu penyangga maupun mebelair juga masih asli. Sebutan Gereja Merah mulai digunakan pada tahun 1994 setelah seluruh bangunan gereja ini dicat merah untuk menghemat biaya perawatan, sehingga masyarakat menyebutnya Gereja Merah. Sebelumnya gereja ini berwarna putih gading.
Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor PM.12/PW.007/MKP/05, gereja ini ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB) pada tanggal 25 April 2005. *** [240515]

Share:

Hotel Merdeka Kediri

Selesai memuaskan mata memandang gedung Bank Indonesia lama Kediri, janganlah cepat-cepat beranjak dari kawasan tersebut. Karena berseberangan dengan gedung tersebut, terdapat bangunan kuno yang tak kalah nilai historisnya. Bangunan kuno tersebut adalah Hotel Merdeka.
Hotel ini terletak Jalan Basuki Rahmat No. 4 Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi hotel ini berada di sebelah timur dari Bank Indonesia Perwakilan Kediri.
Menurut sejumlah literatur yang ada, hotel Merdeka ini dulunya adalah Hotel Rich, kepunyaan orang Belanda. Diperkirakan hotel tersebut didirikan pada tahun 1933.
Pada masa kolonial, hotel yang bergaya Indische Empire dengan dipadukan kondisi tropis setempat ini merupakan hotel yang diminati oleh para tamu yang hendak mengunjungi Kediri untuk urusan dagang dalam bidang perkebunan maupun pabrik gula. Mengingat kala itu, Kediri berkembang pesat  menjadi pusat pertanian, perkebunan, dan industri (gula). Hotel ini juga pernah menjadi tempat untuk menawan orang-orang Jepang di Kediri. Sedangkan, untuk tentara Jepang yang kejam di tempatkan di penjara. Selain itu, hotel ini dikabarkan pernah menjadi tempat menginap Muso saat kembali ke Tanah Air pada 11 Agustus 1948.


Namun, seiring perjalanan sang waktu, hotel ini pernah dipegang oleh pemerintah sampai akhirnya berpindah ke manajemen PT. Natour. Lalu semenjak tahun 1988 hingga sekarang, hotel ini dibeli oleh PT. Gudang Garam, dan pengelolaannya diserahkan kepada anak perusahaan di bawah naungan PT. Suryaraya Indah.
Sejak itulah, hotel ini semakin meningkatkan diri dalam memberikan layanan kepada para tamu yang menginapnya. Hotel berbintang 3 ini terus berbenah agar membuat tamu hotel kian merasa betah berada di dalamnya. Bukan hanya itu, untuk menampilkan citra sebagai hotel yang bernilai heritage ini, manajemen hotel Merdeka juga pernah melakukan renovasi bangunan tanpa mengubah bentuk aslinya, terutama bagian depannya. Kendati, hotel ini pernah mengalami kebakaran pada 19 September 2008, manajemen tetap mengupayakan pemulihan sebagian hotel yang luluh lantak tersebut seperti menyerupai sebelumnya.
Sebagai warisan budaya yang ada di Kota Kediri, hotel ini masih eksis untuk memenuhi kebutuhan jiwa yang haus akan romantisme dan kenyamaan dengan nuansa klasik. Menginap di hotel ini, mengalami sensasi tersendiri dalam kekunaan ciri khas gaya bangunannya yang disesuaikan dengan fasilitas dan layanan hotel bintang 3. *** [240515]

Share:

Gedung Bank Indonesia Kediri

Sebuah kehormatan mendapatkan ‘sponsorship’ dari teman konsultan penelitian – namanya Mugi Gumanti - untuk berkelana di Kota Kediri. Dengan menggunakan mobil Daihatzu Hijet 1000 rakitan tahun 1980, perjalanan tersebut sempat melewati perempatan Jam-jam. Kawasan ini berada di ujung utara Jalan Dhoho yang sekarang lebing sering disebut sebagai perempatan BI. Dulu, di tengah perempatan ini ada jam besar yang menjadi ciri khas perempatan ini, sehingga orang Kediri menyebut kawasan ini sebagai perempatan Jam-jam. Yang menarik di seputar perempatan tersebut terdapat bangunan bernuansa kolonial yang menawan menghadap ke selatan. Bangunan peninggalan kolonial Hindia Belanda tersebut adalah Gedung Bank Indonesia (BI).
Gedung ini terletak di Jalan Brawijaya No. 2 Kelurahan Pocanan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung BI ini tepat berada di depan gedung OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau bersebelahan dengan gedung Asuransi Jiwa Sinar Mas MSIG yang joint venture with Mitsui Sumitomo Insurance.
Awalnya, gedung BI ini merupakan Kantor De Javasche Bank (DJB) Kediri. Semula bangunanya bergaya Indische Empire dengan ditopang oleh dua pilar di bagian depannya dan memiliki tiga pintu utama. Lalu pada tahun 1927, seiring perkembangan kantor DJB tersebut, dilakukan perombakan bangunan sesuai kebutuhan kala itu. Pada waktu itu, Kediri berkembang menjadi kota strategis untuk mengendalikan peredaran uang yang dinamis. Hal ini dikarenakan pada saat itu, Kediri menjadi pusat pertanian, perkebunan, dan industri (gula). Saat itu, Kediri memiliki beberapa pabrik gula (PG) dengan skala besar, seperti PG Jengkol (tutup), PG Pesantren, PG Ngadiredjo, PG Mritjan serta PTPN X yang mengelola cacao dengan ekspor poduksinya ke Eropa.


Perombakan bangunan tersebut bersifat menyeluruh, dari bangunan satu lantai menjadi bangunan dua lantai seperti yang bisa dilihat hingga sekarang ini. Gedung tersebut masih dipercayakan kepada biro arsitek yang menjadi rekanan De Javasche Bank untuk merancang kantornya yang berada di Hindia Belanda, yaitu N.V. Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam, atau secara singkat dikenal dengan nama Biro Fermont-Cuypers.
Ihwalnya, biro arsitek yang menjadi rekanan De Javasche Bank adalah Biro Arsitek Ed. Cuypers en Hulswit, sebuah kantor konsultan arsitektur yang didirikan di Batavia pada 1908 oleh dua arsitek, yaitu Marius J. Hulswit dan Eduard Henricus Gerardus Hubertus Cuypers sebagai kantor cabang dari biro yang sama di Amsterdam. Pada 1910, biro ini berkerja sama dengan arsitek A.A. Fermont di Batavia, dan bironya pun berganti nama menjadi  N.V. Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam. Namun, setelah Marius J. Hulswit meninggal pada 1921, kerja sama itu dilanjutkan dengan membentuk perusahaan baru dengan nama N.V. Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam.
Gaya bangunan Bank Indonesia di Kota Kediri tidak seperti Bank Indonesia yang ada di Indonesia yang pada umumnya gaya arsitekturnya Neo-Klasik dengan kolom-kolom Yunani yang tinggi, namun di Kediri mempunyai ciri arsitektur yang berbeda, terutama terlihat pada bentuk atapnya yang menyerupai atap masjid. Atap berbentuk limasan dengan di bagian puncak terdapat kubah. Gaya arsitektur modern yang telah disesuaikan dengan iklim tropis yang ada di Kediri ini, sedikit banyak dipengaruhi juga dengan gaya bangunan joglo.
De Javasche Bank kemudian dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia pada 1 Juli 1953 bersamaan dengan berlakunya UU Pokok Bank Indonesia Nomor 11 Tahun 1953, dan sekarang menjadi Kantor Bank Indonesia Perwakilan Dalam Negeri Regional II.
Kota Kediri tergolong beruntung memiliki peninggalan De Javasche Bank sehingga perjalanan sejarah Bank Indonesia di Kota Kediri bisa terekam dalam arsitktur bangunan lawas gedung Bank Indonesia. Arsitektur yang mewarnai gedung tersebut seolah menceriterakan dinamika yang terjadi pada masa lalu. *** [240515]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami