The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Daftar Bangunan Kuno di Tasikmalaya

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Tasikmalaya:

KOTA TASIKMALAYA:

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun No. 8 Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

KAB. TASIKMALAYA:

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Garut

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Garut:

Stasiun Kereta Api Cipeundeuy
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Bandung-Tasikmalaya, Desa Cikarag, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat

Stasiun Kereta Api Garut
Stasiun ini terletak di Jalan Bank No. 1 Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat

Stasiun Kereta Api Warungbandrek
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Sukamerang, Desa Sukalilah, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Cianjur

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Cianjur:

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Cipetir, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Banjar

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Banjar:

Stasiun ini terletak di Jalan Garuda, Kelurahan Muktisari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Kepulauan Seribu

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Kepulauan Seribu:

Benteng ini terletak di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Jakarta Utara

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Jakarta Utara:

Gedung ini terletak di Jalan Kakap No. 1-3 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta

Jembatan ini terletak di atas Kali Besar, yang secara administratif berada di perbatasan antara Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat dengan Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta

Menara ini terletak Jalan Pasar Ikan, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Pasar Ikan No. 1 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Taman Stasiun No. 1 RT. 05 RW. 08 Kelurahan Tanjung Priok, Kecamatan Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta


Share:

Daftar Bangunan Kuno di Jakarta Barat

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Jakarta Barat:

Coffee shop ini terletak di Jalan Kunir, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Cafe ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 14 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Café ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 11 Kelurahan Pinangia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 1-2 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Bank, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Pintu Besar Selatan, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Lada, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Galeri ini terletak di Jalan Malaka No. 7-9 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung bank ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 8 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 6 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 4 RT. 04 RW. 06 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Jembatan Batu No. 50, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Timur No. 1-2 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 43 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 3-4 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Timur No. 19 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 40 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 41 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 22 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gereja ini terletak di Jalan Pangeran Jayakarta No. 1 RT. 09 RW. 04 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Kota Jakarta Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung kantor ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 14-15 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung kantor pos ini terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 3 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Kedai seni ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 17 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 3 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Lapangan Stasiun No. 1 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Taman Fatahillah No. 1 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terrletak di Jalan Pos Kota No. 2 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Kedai teh ini terletak di Jalan Pancoran No. 6 Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Kota No. 1 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Toko bunga ini terletak di Jalan Kali Besar Timur No. 25 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Toko ini terletak di Jalan Toko Tiga No. 24 RT. 03 RW. 01 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Toko ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 7 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Jakarta Pusat

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Jakarta Pusat:

Galeri ini terletak di Jalan Medan Merdeka Timur No. 14 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung BI ini terletak di Jalan Mohammad Husni Thamrin No. 2 RT. 02 RW. 03 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung filateli ini terletak di Jalan Pos No. 2 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Baru, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Menteng No. 31 Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung kesenian ini terletak di Jalan Gedung Kesenian No. 1 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Baru, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Budi Utomo, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Medan Merdeka Timur No. 5 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Gajah Mada No. 1 Kelurahan Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Gedung perpustakaan ini terletak di Jalan Merdeka Selatan No. 11 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Perwira No. 2-4 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gereja ini terletak di Jalan Kwitang No. 28 Kelurahan Kwitang, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

GPIB ini terletak di Jalan Taman Sunda Kelapa No. 12 Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Hotel ini terletak di Jalan Cilacap No. 1 Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Hotel ini terletak di Jalan Veteran No. 1 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Masjid ini terletak di Jalan Cut Meutia No. 1 Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Masjid ini terletak di Jalan Pintu Air, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Monas terletak di  Jalan Silang Monas, Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Teuku Umar No. 40 Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Kramat Raya No. 106 Kelurahan Kwitang, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Tanah Abang I No. 1 Kelurahan Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Aipda Karel Sasuit Tubun No. 2-4 Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Pintu air ini terletak di Jalan Pintu Air, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Pintu air ini terletak di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Senen, Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Taman ini terletak di Jalan Lembang, Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Taman Suropati ini terletak di antara Jalan Diponegoro dan Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Teuku Umar No. 1 Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Jakarta Timur

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Jakarta Timur:

Museum ini terletak Jalan Raya TMII I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Bekasi Timur No. 73 Kelurahan Rawa Bunga, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

GPIB ini terletak di Jalan Matraman Raya No. 216 Kelurahan Bali Mester, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Mini I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Mini I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Mini I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Mini I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Mini I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan TMII No. 1 Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan TMII No. 1 Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Raya Bekasi Timur No. 1 RT. 13 RW. 16 Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Jakarta Selatan

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Jakarta Selatan:

Gereja Baptis ini terletak di Jalan Tirtayasa No. 1 Kelurahan Melawai, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta

Museum Satriamandala
Museum ini terletak di Jalan Gatot Subroto No. 14 Kelurahan Kuningan Barat, Kecamatan Mampang Prapatan, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta

Stasiun Kereta Api Manggarai
Stasiun ini terletak di Jalan Manggarai Utara No. 1 Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta

Share:

Benteng Bukit Kursi

Masa awal permukiman pesisir di Pulau Penyengat ditandai sebagai Pulau Pertahanan, sehingga ditandai dengan keberadaan artefak berupa benteng pertahanan. Tercatat ada tiga benteng pertahanan di pulau seluas 3,5 km² ini. Salah satunya adalah Benteng Bukit Kursi.
Benteng ini terletak di Jalam YDM Raja Abdurrahman, Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi benteng ini berada di sebelah barat Kompleks Makam Raja Abdurrahman.
Benteng Bukit Kursi merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah Kerajaan Melayu Riau yang terdapat di Pulau Penyengat. Nama benteng diambil dari lokasi di mana benteng tersebut dibangun yaitu Bukit Kursi.

Foto: Salah satu bastion Benteng Bukit Kursi , tinggal meriamnya

Selama berkecamuknya perang antara Kerajaan Riau dengan Belanda (1782-1794), pulau ini dijadikan kubu pertahanan yang penting. Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang yang memimpin peperangan dengan Belanda membangun Benteng Bukit Kursi yang dimulai pada tahun 1782 dan selesai pada tahun 1784. Setelah itu didatangkanlah 8 meriam dari Eropa guna sebagai alat pertahanan atau menyerang musuh yang diletakkan pada semua bastion, agar supaya para prajurit kerajaan mudah dalam berjuang melawan musuh. Letaknya berada di sebuah bukit, benteng ini mampu menjadi perisai yang tangguh dalam menghalau penjajah Belanda yang awalnya berniat menguasai Pulau Penyengat.

Foto: Parit benteng setinggi 3 m

Benteng Bukit Kursi berdenah segi empat, yang terbuat dari susunan batu bauksit. Benteng yang memiliki ukuran sekitar 92,38 m x 74,73 m ini tergolong mempunyai area yang sangat luas. Sehingga memungkinkan ditempatkannya pasukan dalam jumlah yang cukup besar. Benteng ini juga dikelilingi parit sedalam ± 3 m dengan arah hadap benteng ini mengarah ke laut, dan pintu utama benteng berada di sisi selatan dengan sebuah jembatan sebagai akses masuk ke dalam benteng.
Kini, benteng itu sudah tak utuh lagi. Namun demekian sekarang dijadikan objek wisata di sana. Pengunjung masih bisa menjumpai meriam peninggalan Kerajaan Riau, dan selain itu pengunjung juga bisa menikmati keindahan pemandangan laut dari atas Benteng Bukit Kursi maupun hutan yang ada di sekitar benteng tersebut. *** [210918]
Share:

GPIB Bethel Tanjungpinang

Setelah mendapat penjelasan dari salah seorang petugas Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah perihal koleksi yang ada di dalam musem, saya pun kemudian diajak melihat bangunan lawas lainnya yang berada di sekitar museum tersebut. Salah satu bangunan lawas yang kita kunjungi adalah GPIB Bethel Tanjungpinang.
Gereja ini terletak di Jalan Gereja No. 1 Kelurahan Tanjungpinang Kota, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi gereja ini berada di sebelah selatan Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamasyah ± 50 m, atau sebelah utara SD-SMP Bintan.

Foto: GPIB Bethel Tanjungpinang tampak depan

Kehadiran gereja ini tidak terlepas dari hadirnya orang Belanda di Tanjungpinang. Gereja ini didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk memenuhi kebutuhan akan tempat ibadah orang-orang Belanda maupun Eropa lainnya yang menganut agama Kristen Protestan di sana. Dibangun pada tahun 1883, dan diresmikan penggunaannya dengan nama “De Nederlandse Hervormde Kerk te Tanjoengpinang” (Gereja Protestan Belanda di Tanjungpinang).
Dari catatan yang terbit dengan judul “Berichten omtrent Indie, gedurende een tienjarig verblijf aldaar” (Laporang tentang Hindia, selama sepuluh tahun tinggal di sana) diperoleh informasi bahwa bangunan gereja dalam bentuk yang sangat sederhana sudah ada sejak 14 Februari 1835. Tulisan tersebut diterbitkan oleh Ballot Publishers di Kota Deventer pada tahun 1846. Pendeta Eberhardt Herman Rottger adalah tokoh penting yang terlibat dalam pembangunan gereja ini. Ia bertugas sebagai zending di Riouw, Tanjungpinang dari 1833 hingga 1842.

Foto: GPIB Bethel Tanjungpinang tampak samping

Bangunan gereja ini telah beberapa kali mengalami perubahan. Hal ini dimungkinan karena semakin hari semakin berkembang para jemaat yang melakukan peribadatan di gereja ini. Mendapat sebutan Gereja Ayam karena di bagian puncak bangunan ini terdapat hiasan berupa gambaran seekor ayam jago, dan pada bagian puncak atap terdapat bangunan untuk meletakkan lonceng. Kemungkinan dibuat saat dilakukan renovasi antara tahun 1920 hingga 1930an. Bentuk ayam jago terbuat dari besi pipih yang berfungsi sebagai penunjuk arah angin, yang dapat bergerak 180 derajat sesuai dengan arah angin.
Bangunan gereja ini memiliki luas bangunan 171 m² yang berdiri di atas lahan seluas 1980 m². Dilihat dari bagian muka bangunan (fasade), bagunan gereja ini mempunyai gable yang di kanan-kirinya membentuk 6 undakan, dan sebagai puncak dari undakan pada gable itu menyatu dengan menara gereja.

Foto: De Nederlandse Hervormde Kerk te Tanjoengpinang tahun 1928 (sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Pintu menjorok ke depan (porch) dengan pilaser pada bagian sudut, dan bentuk pintu melengkung. Selain pintu pada bagian muka gereja terdapat dua buah jendela yang mengapit pintu, jendela juga ditemukan pada sisi utara dan selatan bangunan gereja, masing-masing dua buah.
Konon, dalam pembangunan gereja ini Yang Dipertuan Muda (YDM) VII Kesultanan Riau-Lingga, Raja Abdurrahman, turut membantu pembangunan tempat ibadah umat Kristiani  ini dengan menyumbangkan bahan-bahan material. Bantuan serupa juga disalurkan oleh Kapitan China yang menjabat di sana kala itu.
Dalam perkembangannya gereja ini menjadi Gereja Protestan Indonesia bagian barat (GPIB) setelah ditetapkan dan diakui berdasarkan Staatsblad Indonesia tahu 1948 No. 305. GPIB merupakan bagian dari Gereja Protestan di Indonesia (GPI) yang pada masa Hindia Belanda bernama De Protestantse Kerk In Westelijk Indonesie, dan sesuai dengan amanat yang diputuskan melalui Surat Keputusan Wakil Tinggi Kerajaan Belanda di Indonesia No. 2 tanggal 1 Desember 1948, gereja Protestan yang ada di Tanjungpinang itu ditetapkan dengan nama GPIB Jemaat “Bethel” Tanjungpinang. *** [210918]

Kepustakaan:
http://batamax.com/the-inter-faith-harmony-in-tanjungpinang-city-of-bintan-island/
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kota-Tanjung-Pinang.pdf
https://www.academia.edu/25342542/GPIB_BETHEL_KOTA_TANJUNGPINANG
Share:

Gedung SD-SMP Bintan

Usai dari menyaksikan bangunan GPIB Bethel, petugas Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah mengajak melihat bangunan kuno lainnya yang sekarang menjadi gedung SD-SMP Bintan. Gedung ini terletak di Jalan Yusuf Kahar No. 1 RT 01 RW 02 Kelurahan Tanjungpinang Kota, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi gedung sekolah ini berada di sebelah selatan GPIB Bethel.
Menurut story line yang terdapat di gedung tersebut, dijelaskan bahwa bangunan gedung tersebut merupakan peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1928. Pada masa Tanjungpinang dikuasai oleh Belanda banyak infrastuktur yang dibangun oleh Belanda. Benteng pertahanan, penjara, kompleks perumahan pejabat dan karyawan Belanda, dan sekolahan dibangun. Juga dibangun gedung milik pemerintah lainnya seperti kantor pos dan sebagainya di samping itu juga didirikan tempat hiburan. Khusus untuk orang-orang Belanda dan Eropa lainnya dibangun sebuah societeit (sebuah gedung klub hiburan) untuk minum-minum, dansa, bioskop, dan lainnya. Gedung hiburan orang-orang Belanda tersebut dikenal dengan “Societeit Sempiterne” (Societeit Sempiterne te Tandjong Pinang, Riouw).


Akan tetapi membaca laporan pandangan mata sang reporter yang dimuat dalam The Straits Times edisi 5 September 1923 dengan judul Dutch Queen’s Jubeele Riouw Celebrations, diperkirakan gedung itu didirikan sebelum tahun 1928. Selain itu dalam Ordonnatie van Staatsblad 1921 No. 22 tanggal 10 Januari 1921 juga disebutkan bahwa “goedkeuring op de nadere wiziging van de artikelen van de 3 en 6 der statute van de vereehiging “Societeit Sempiterne” te Tanjoeng Pinang.” (Persetujuan amandemen lebih lanjut dari pasal 3 dan 6 dari Anggaran Dasar “Societeit Sempiterne” di Tanjungpinang).
Dalam laporan The Straits Times yang terbit di Singapura tersebut (dikutip dari http://www.tanjungpinangpos.co.id edisi 18 Januari 2014), diterangkan bahwa sejak akhir bulan Agustus hingga minggu pertama bulan September 1923 Residen Riouw LMF Plate dan seluruh masyarakat Tanjungpinang, menggelar pesta besar-besaran merayakan 43 tahun naik takhta Ratu Wilhelmina.


Pesta dan perayaan yang dalam bahasa Belanda disebut Jubileum van Koningin Wilhelmina itu diterjemahkan oleh sang reporter di Singapura sebagai Jubilee of Queen Wilhelmina.
Dalam ucapannya kepada semua orang atas kehadiran mereka di sana dalam mendoakan agar Yang Mulia Ratu panjang umur, sehat, serta menyerukan tiga kali sorak-sorai untuk Yang Mulia, yang juga sangat direspon sungguh-sungguh. Sekelompok juru foto kemudian mengambil gambar. Selepas itu pesta berpindah tempat dari kediaman Residen Riouw (Gedung Daerah) menuju ke “Societeit Sempiterne” (sebuah rumah gedung klub hiburan setempat yang lokasinya terletak di SD-SMP Bintan sekarang) di mana sebuah band yang secara khusus didatangkan dari Singapura tampil.
Bangunan gedung hiburan Belanda yang berdiri di atas lahan seluas 850 m² itu berdenah segi empat dan berlantai dua. Dinding terbuat dari beton, atap dari genteng dan berplafon serta mempunyai ventilasi. Jendela dan pintu terbuat dari besi, berkaca nako dan berjeruji.
Setelah Belanda hengkang dari Tanjungpinang, gedung societeit ini dijadikan Sekolah Rakyat Chung Hwa Riau dari tahun 1948 sampai dengan tahun 1958. Kemudian sekolah Tionghoa tersebut berubah menjadi sekolah lokal karena imbas dari UU Kewarganegaraan No. 62 Tahun 1958. Sekarang gedung peninggalan kolonial Belanda ini digunakan sebagai SD-SMP Bintan. *** [210918]

Kepustakaan:
Tarigan, Nismawati (edited). (2009). Bibliografi Beranotasi: Hasil Penelitian Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kota-Tanjung-Pinang.pdf
https://kepri.antaranews.com/berita/17083/kebudayaan-tionghoa-tanjungpinang-dipamerkan-museum
https://perpustakaan.bphn.go.id/abstrak/daftar%20inventarisasi%20peraturan%20kolonial/daftar%20inventarisasi%20peraturan%20kolonial/assets/basic-html/page777.html
https://www.pressreader.com/indonesia/national-geographic-indonesia/20190201/282905206803565
http://www.tanjungpinangpos.co.id/jubilee-of-queen-wihelmina-di-tanjungpinang-1923-tanjungpinang-pos/

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Aceh Utara

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Aceh Utara:

Makam Al-Malik Ash-Shalih atau Malikussaleh terletak di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh

Kompleks makam Sultanah Nahrasyiyah terletak di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Aceh Besar

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Aceh Besar:

Masjid Indrapuri terletak di Desa Indrapuri Pasar, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Banda Aceh

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Banda Aceh:

Bank ini terletak di Jalan Cut Meutia No. 15 Kelurahan Merduati, Kecamatan Kuta Raja, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Gedung ini terletak di Jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah No. 15 Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Gedung ini terletak di Jalan Diponegoro No. 74 Kelurahan, Kecamatan, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Gereja Katolik ini terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Kuburan Belanda ini terletak di Jalan Iskandar Muda, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Lonceng ini terletak di Jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah No. 12 Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Makam ini terletak di Jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah No. 12 Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Makam ini terletak di Jalan Perwira, Kelurahan Keuraton, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Makam ini terletak di Jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah No. 12 Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Masjid ini terletak di Desa Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Masjid ini terletak di Jalan Masjid Baiturrahman, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Masjid ini terletak di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Museum ini terletak di Jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah No. 12 Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Museum ini terletak di Jalan Khairil Anwar No. 15-17 Kelurahan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Museum ini terletak di Jalan Iskandar Muda, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Situs Cagar Budaya Pinto Khop terletak di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Pohon ini terletak di Jalan Masjid Baiturrahman, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Rumoh Aceh terletak di Jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah No. 12 Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Sentral Telepon ini terletak di Jalan Teuku Umar No. 1 Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Taman Sari Gunongan ini terletak di Jalan Teuku Umar, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Indonesia

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Tanjungpinang

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Tanjungpinang:

Benteng Bukit Kursi
Benteng ini terletak di Jalan YDM Raja Abdurrahman, Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau

Gedung Hakim Mahkamah Syariah Raja Haji Abdullah
Kampung Ladi, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Gedung ini terletak di Jalan YDM Raja Abdurrahman, Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Gedung SD-SMP Bintan
Gedung ini terletak di Jalan Yusuf Kahar No. 1 RT 01 RW 02 Kelurahan Tanjungpinang Kota, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau

Gedung Tabib Kerajaan
Gedung ini terletak di Kampung Jambat, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Gedung ini terletak di Jalan Ja’far, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

GPIB Bethel Tanjungpinang
Gereja ini terletak di Jalan Gereja No. 1 Kelurahan Tanjungpinang Kota, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau

Istana Ali Marhum Kantor
Istana ini terletak di Kampung Ladi, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Makam ini terletak di Jalan Engku Putri, Kampung Jambat, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Kompleks makam ini terletak di Jalan Kemboja, Kelurahan Kemboja, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau

Makam ini terletak di Jalan YDM Raja Abdurrahman, Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Makam ini terletak di Bukit Bahjah, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Makam ini terletak di Bukit Bahjah, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat
Masjid ini terletak di Kampung Jambat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau

Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Kota Tanjungpinang
Museum ini terletak di Jalan Ketapang No. 2 Kelurahan Kemboja, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau
Share:

Kerkhof Tanjungpinang

Dalam perjalanan dari Agung Toyota Tanjungpinang menuju ke Pelabuhan Sri Bintan Pura, mobil Toyota Sienta yang saya tumpangi kebetulan lewat sebuah kompleks pemakaman lama yang ada di Kota Tanjungpinang. Saya pun meminta sopir berhenti sebentar di makam lawas tersebut guna untuk melihat makam dari dekat. Makam lama itu dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Kompleks Pemakaman Belanda di Tanjungpinang.
Kompleks makam tersebut terletak di Jalan Kemboja, Kelurahan Kemboja, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi makam ini berada di depan Warung Kute Harapan Indah.

Foto: Kompleks Pemakaman Belanda di Tanjungpinang

Kompleks makam Belanda ini memang terlihat usang. Menurut masyarakat sekitar kondisi makam ini sudah lebih baik dari sebelumnya yang tampak terlantar, tertutup oleh semak belukar. Masyarakat setempat menyebut kompleks pemakaman ini dengan kerkhof. Kata kerkhof sendiri merupakan kata yang berasal dari bahasa Belanda, yang artinya kuburan. Jadi, penyebutan kerkhof itu sendiri bermakna kuburan orang-orang Belanda.
Nama resmi kompleks makam orang-orang Belanda ini adalah Nederlandse Begraafplaats te Tanjoeng Pinang (Kuburan orang Belanda di Tanjungpinang). Istilah begraafplaats mengandung makna sebagai tempat untuk memendam mayat. Arti tersebut memiliki kesamaan dengan kerkhof (kuburan). Karena istilah begraafplaats agak sulit dilafalkan oleh masyarakat setempat, maka mereka akhirnya lebih memilih istilah kerkhof.

Foto: Papan Nama Kompleks Pemakaman Belanda di Tanjungpinang

Lahan kerkhof yang berukuran 54 m x 54 m ini, diperkirakan menyimpan jasad orang-orang Belanda sekitar 120 makam. Dari banyak jasad orang Belanda yang pernah dikubur di lahan tersebut umumnya bernisan, akan tetapi sayangnya nisan-nisan tersebut umumnya sudah banyak yang tidak bisa terbaca atau rusak.
Sehingga, riwayat kuburan Belanda ini belum diketahui dengan jelas, tetapi dari inskripsi yang terdapat pada nisan-nisan makam dapat diketahui bahwa makam ini mulai digunakan mulai abad ke-19 sampai abad ke-20. Salah satu batu nisan marmer yang masih bisa dibaca adalah nisan milik Kapten Der Infanterie FH Schoemaker yang tertulis meninggal pada tanggal 1 Agustus 1882. Sedangkan, angka tahun yang termuda bertarikh 1962.
Pernah ada ahli waris dari yang dimakamkan di situ, yang sempat mengunjungi di kompleks kuburan Belanda tersebut, dan menuangkan dalam tulisan yang diupload dalam situs (http://www.mgbaltes.com/GenealogieAndijk/Genealogie.html): “Er is in onze woonplaats Tanjung Pinang nog een Nederlandse begraafplaats, maar er is weinig van over om gearchiveerd te worden! “ (Ada pemakaman Belanda di kampung kami Tanjung Pinang, tetapi tidak banyak yang tersisa untuk diarsipkan!). *** [210918]

Share:

Klenteng Kwan Im Tong Kota Batu

Mungkin satu-satunya klenteng yang dijumpai di Kota Batu adalah Klenteng Kwan Im Tong. Klenteng ini terletak di Jalan Gajah Mada No. 53 Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di pojok  tenggara perempatan BCA, atau sekitar 280 meter dari Alun-Alun Kota Batu.
Bangunan klenteng ini selalu menarik perhatian bagi orang yang melintas di depannya. Dominasi warna merah dan keunikan arsitekturnya yang menjadi ciri khas bangunan klenteng itu yang menjadi penyebabnya. Klenteng yang sekarang ini, didirikan pada tahun 1960 setelah lokasi sebelumnya yang berada di sebelah barat Pasar Batu Lama akan dijadikan sebagai Kantor Pasar Batu.


Riwayat berdirinya Klenteng Kwan Im Tong ini tidak terlepas dari peran orang Tionghoa yang tinggal di Kota Batu pada waktu itu. Di antara mereka kebetulan ada yang membawa patung Dewi Kwan Im yang terbuat dari kayu cendana. Tingginya sekitar 30 cm dan berasal dari Tiongkok.
Bermula dari tempat pemujaan dengan altar Dewi Kwan Im di rumahnya, lambat laun banyak orang Tionghoa di sana yang ikut sembahyang. Semakin banyak umat yang bersembahyang, muncul ide untuk mendirikan klenteng.
Karena klenteng ini menempatkan rupang Kwan Im Po Sat sebagai dewa utamanya, maka klenteng tersebut pun dinamakan Klenteng Kwan Im Tong. Kwan Im dikenal oleh umat Tridharma sebagai dewi yang welas asih dan penyayang.


Memasuki klenteng ini, Anda akan diajak melihat bangunan bercorak arsitektur Tiongkok yang sarat akan makna-makna filosofis. Sebelum masuk ke halaman klenteng, terlebih dahulu pengunjung akan melalui men lou wu, sebuah pintu gerbang untuk masuk ke dalam persil. Di atasnya terlihat ornamen dua naga besar (xing long) berwarna emas yang saling berhadapan, menjaga huo zhu, mutiara dalam bentuk bola api atau dikenal juga sebagai mutiara Budha.
Di halaman klenteng, pengunjung akan menjumpai hiolo, sebuah tempat menancapkan hio (dupa) di depan pintu utama klenteng. Tidak seperti biasanya, hiolo di depan klenteng ini tidak terbuat dari bejana kuningan melainkan terbuat dari cetakan semen. Lokasi hiolo itu diapit dengan jarak tertentu oleh shi zi, ukiran sepasang singa batu yang ditempatkan di muka klenteng. Ada yang menyebut ciok say atau kilin.
Masih di halaman klenteng, bagian sebelah timur terlihat bangunan berornamen khas berbentuk botol berukiran naga yang berfungsi sebagai tungku pembakaran ming zhi.
Sebelum masuk ke ruang utama klenteng, pengunjung bisa melihat keindahan dua kolom berhiaskan llilitan naga di depan pintu yang dikenal dengan chan long zhu. Klenteng Kwan Im Tong memiliki 3 buah pintu. Pintu tengah merupakan pintu utama atau pintu tuan rumah. Pintu sebelah kiri biasa disebut pintu naga, dan pintu sebelah kanan disebut pintu harimau putih. Di klenteng lazim terdengar ungkapan ‘masuk pintu naga, keluar pintu harimau’. Maknanya kurang lebih masuk pintu naga berarti semoga derajat Anda meningkat, keluar pintu harimau artinya lepas dari segala mara bahaya.
Setelah melewati pintu tersebut, pengunjung sudah berada di ruang utama klenteng tersebut. Seperti kebanyakan klenteng yang ada di Indonesia, ruangan utama itu umumnya berisi altar-altar untuk menempatkan patung dewa-dewi. Saat ini ada 16 altar dengan patung dewa berjumlah sekitar 18, dan sebagai altar utamanya bersemayam patung Dewi Kwan Im dengan beberapa pose. *** [101219]
Share:

Stasiun Kereta Api Sukowono

Stasiun Kereta Api Sukowono (SKW) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sukowono merupakan salah satu stasiun kereta api kelas III/kecil yang berada di bawah manajemen PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember dengan ketinggian +344  m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Panglima Besar Jenderal Sudirman, Desa Sukowono, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Kantor Camat Sukowono ± 100 m.
Bangunan stasiun ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda, yang didirikan bersamaan dengan pengerjaan jalur rel kereta api Kalisat-Situbondo-Panarukan. Jalur tersebut dibuka untuk umum pada tanggal 1 Oktober 1897. Pembangunannya dilakukan oleh perusahaah kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), sebagai bagian dari proyek jalur kereta api untuk jalur timur yang kelas 2 (Oosterlijnen-2).

Foto: Stasiun Sukowono (Rossi)

SS sendiri terbagi dalam beberapa wilayah operasional. SS Oosterlijnen mendominasi area jalur kereta api di Jawa Timur (terutama wilayah selatan dan timur) dan sedikit di wilayah timur Jawa Tengah. Termasuk jalur SS yang menyatu dengan jalur NIS di lintas Yogyakarta-Solo, yang berlanjut dari Solo ke Madiun.
Pembangunan Stasiun Sukowono ini dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi. Daerah Sukowono merupakan salah satu daerah yang direncanakan akan menjadi penghasil tembakau di wilayah Jember pada waktu itu. Keberadaan stasiun ini didirikan untuk mengantisipasi adanya perkebunan tembakau di daerah Sukowono (tabaksvelden op onderneming Soekowono) yang ketika itu masih berada di bawah Karesidenan Besuki.

Foto: Stasiun Sukowono tampak depan (Rossi)

Salah satu perusahaan tembakau yang cukup terkenal di Sukowono saat itu adalah NV Landbouw Maatschappij Soekowono (DLMS) te Amsterndam. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1898 itu berlokasi di Sukowono tapi kantor pusatnya berada di Amsterdam, Belanda.
Perusahaan DLMS memiliki banyak tenaga kerja, baik pribumi maupun orang Eropa. Awal Stasiun Sukowono dioperasikan, banyak tenaga kerja orang Eropa yang menjadi penumpang kereta api menuju Jember maupun Penarukan pulang pergi (pp). Kemudian ketika tembakau sudah memasuki musim panen, pengangkutan tembakaunya juga berangkat dari stasiun tersebut menuju ke Pelabuhan Panarukan.

Foto: Beberapa karyawan perusahaan tembakau Sukowono di Stasiun Sukowono pada tahun 1910 (sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)

Bangunan Stasiun Sukowono lebih besar daripada Stasiun Sukosari namun keduanya memiliki nasib yang sama, yaitu menjadi stasiun non aktif. Stasiun Sukowono dinonaktifkan pada tahun 2004 seiring meredupnya kereta api yang konon diperkirakan kalah bersaing dengan angkutan pribadi maupun angkutan umum lainnya.
Mangkraknya bangunan stasiun yang berlarut-larut tersebut menyebabkan kerusakan terhadap bangunan stasiun tersebut. Plester dinding banyak yang mengelupas, atap seng banyak berlubang, pintu dan jendela terlihat kusam, rel kereta api ada raib, dan emplasemennya tertutup semak belukar.
Dulu, stasiun ini memiliki dua jalur rel dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Arah selatan menuju ke Stasiun Sukosari, dan yang ke arah utara menuju ke Stasiun Tamanan.
Bangunan yang seharusnya menjadi cagar budaya dalam perkeretaapian Indonesia ini malah dibiarkan usianya digerogoti dengan kelapukan bila tiada perawatan yang semestinya. Hal ini mengundang keprihatinan tersendiri. *** [031219]

Kepustakaan:
Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken
Prayogo, Yoga Bagus., dkk. (2017). Kereta Api di Indonesia: Sejarah Lokomotif Uap. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher
https://www.colonialbusinessindonesia.nl/en/database-en/catalog/item/soekowono-landbouw-7
https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/912904?solr_nav%5Bid%5D=da2cc8bd98d7ec3e1a71&solr_nav%5Bpage%5D=2&solr_nav%5Boffset%5D=3
http://www.studiegroep-zwp.nl/halten/Halte-13-Trajecten2.htm

Share:

Stasiun Kereta Api Sukosari

Stasiun Kereta Api Sukosari (SKS) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sukosari, merupakan salah satu stasiun kereta api halte (kecil) yang berada di bawah manajemen PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember dengan ketinggian +321 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Toko Serba Murah Maju Jaya, atau Ahli Gigi Maju Jaya.
Menurut catatan sejarah yang ada, stasiun ini didirikan pada tahun 1901 selang 4 tahun jalur rel kereta api Kalisat-Situbondo-Panarukan diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1897. Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api untuk jalur timur yang kelas 2 (Oosterlijnen-2), yang dikerjakan oleh perusahaah kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1897.

Foto: Stasiun Sukosari (Rossi)

SS sendiri terbagi dalam beberapa wilayah operasional. SS Oosterlijnen mendominasi area jalur kereta api di Jawa Timur (terutama wilayah selatan dan timur) dan sedikit di wilayah timur Jawa Tengah. Termasuk jalur SS yang menyatu dengan jalur NIS di lintas Yogyakarta-Solo, yang berlanjut dari Solo ke Madiun.
Bangunan Stasiun Sukosari ini cukuplah sederhana dan kecil. Bangunan yang sebelah utara berdinding kayu, dan yang bagian selatan berdinding tembok plester. Memang sejak dididirikan, bangunan ini merupakan sebuah halte pemberhentian kereta api, atau lebih dari stasiun kelas III/kecil.
Yang menarik untuk digali lebih lanjut adalah perihal halte ini dibangun setelah 4 tahun jalur kereta Kalisat-Situbondo-Panarukan dibuka untuk umum. Umumnya halte maupun stasiun itu dibangun bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api. Biasanya hal ini bisa terjadi bilamana di daerah tersebut memiliki keuunggulan tersendiri, seperti kepadatan penduduknya, dekat dengan lokasi pabrik gula maupun di daerah tersebut mempunyai komoditas pertanian unggulan yang bisa diangkut ke Pelabuhan Penarukan kala itu.

Foto: Emplasemen Stasiun Sukosari (Rossi)

Dulu, halte ini tergolong ramai bagi penumpang yang ingin bepergian ke Jember-Panarukan pulang pergi (pp). Namun, halte yang memiliki satu jalur ini kemudian dinonaktifkan pada tahun 2004 seiring meredupnya kereta api yang konon diperkirakan kalah bersaing dengan angkutan pribadi maupun angkutan umum lainnya. Semula, dari halte tersebut, arah rel yang menuju ke selatan adalah menuju ke Stasiun Ajung (sekarang sudah rata dengan tanah), dan yang mengarah ke utara menuju ke Stasiun Sukowono.
Bekas bangunan halte tersebut masih terlihat utuh. Fasadnya juga masih kelihatan, akan tetapi terlihat kurang terawat dengan baik. Kotor dan kumuh.
Terbersit kabar, halte ini akan dihidupkan kembali seiring dengan akan diaktifkan lagi jalur rel Kalisat-Situbondo-Panarukan. Geliat itu muncul karena aktivitas di Panarukan berdenyut kembali pada tahun 2010. PT Samudera Inti Perkasa, perusahaan penyuplai batu bara PT Semen Puger Jember, memelopori lagi bongkar muat di sana. Selama tiga hari, 260 dump truck mengangkut batu bara menuju Jember. Kondisi inilah yang menjadi alasan untuk mengaktifkan kembali kereta api di jalur tersebut. Kalau ada kereta diperkirakan hanya perlu satu kali pengiriman. *** [021219]

Kepustakaan:
Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken
Prayogo, Yoga Bagus., dkk. (2017). Kereta Api di Indonesia: Sejarah Lokomotif Uap. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher
http://wikimapia.org/21277856/id/Stasiun-Sukosari
https://majalah.tempo.co/read/140989/napas-baru-spoorwegen-kalisat-panarukan?hidden=login

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami