Sabtu, 31 Maret 2012

Museum Kars Indonesia

Di Indonesia perhatian terhadap kawasan kars telah berlangsung sejak lama namun perhatian terhadap kawasan kars ini terasa lebih menonjol sejak dilaksanakannya Lokakarya Nasional Pengelolaan Kawasan Kars, pada tanggal 4 – 5 Agustus 2004, di Kabupaten Wonogiri yang diprakarsai oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dan pada acara tersebut muncul gagasan tentang perlunya Indonesia untuk memiliki museum kars.
Pada tanggal 6 Desember 2004 di Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Bapak Presiden Republik Indonesia telah menetapkan untuk Kawasan Kars Gunung Sewu dan Gombong Selatan sebagai Eco Kars. Selanjutnya pada akhir tahun 2005 Bapak Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 16 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata, diantaranya menginstruksikan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mengembangkan kawasan kars sebagai daya tarik wisata. Berdasarkan hal tersebut di atas pada tahun 2008 Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral cq Badan Geologi bersama-sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri telah membuat kesepakatan bersama yang pada prinsipnya bersepakat untuk secara bersama-sama mewujudkan terbangunnya Museum Kars Indonesia dan pada tanggal 30 Juni 2009 telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia dengan ditandatanganinya Prasasti Museum Kars Indonesia di Kabupaten Sragen Jawa Tengah.



Terletak di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, sekitar 30 km timur Kota Wnosari, atau 40 km selatan Wonogiri dan 60 km barat Pacitan. Lokasi tersebut mudah dicapai baik dari Yogyakarta, Jawa Tengah maupun dari Jawa Timur.
Lokasi Museum Kars ini berada pada kawasan kars yang dikonservasikan, hal ini sesuai dengan fungsi museum sebagai salah satu sarana untuk mengkonservasi keberadaan kars yang ada di Indonesia.
Kawasan Museum Kars Indonesia mempunyai luas 24,6 HA yang membentuk lembah di antara bukit-bukit Kars yang dikelilingi oleh beberapa situs gua dan luweng:
  • Gua Tembus mempunyai panjang lorong 50 m serta mempunyai 2 mulut gua.
  • Gua Sodong dengan lorong yang panjang serta mempunyai bentukan stalaktit dan stalakmit yang masih hidup serta mempunyai sungai bawah tanah dan sumber air yang telah dimanfaatkan oleh Dusun Mudal.
  • Gua Potro-Bunder mempunyai bentukan stalaktit dan stalakmit dengan Kristal kalsit yang khas.
  • Luweng Sapen merupakan gua vertikal dengan sungai bawah tanah di dasarnya yang telah diturap untuk memenuhi 3 dusun di Desa Gebangharjo.
  • Gua Gilap merupakan bentukan dolina dengan tebing vertical serta mempunyai bentukan stalaktit yang unik dan mempunyai gua di dasar dolina yang belum tereksplorasi.
  • Di samping itu ada 2 gua kecil (ceruk) di sekitarnya, yaitu Gua Mrica dan Gua Sonya Ruri.
Sebagai sistem perguaan mendatar yang kering, Gua Tembus, Gua Mrica dan Gua Potro-Bruder merupakan penggabungan dari 2 sistem perguaan karena kegiatan penggalian kalsit beberapa waktu lalu. Sementara itu, Gua Sodong dan Luweng  Sapen yang mempunyai sungai bawah tanah di dalamnya memiliki arti hidrogeologi, sekaligus sebagai obyek wisata petualangan (minat khusus).


Konsep pembangunan museum yang memadukan antara bangunan fisik dan lingkungan alam di sekitarnya merupakan proyeksi dari kegiatan in-door dan out-door. Keragaman unsur kars di luar bangunan mendukung arti dan fungsi museum, sehingga konsep back to nature tercapai. Kawasan di luar museum sebagai museum alam mencakup seluruh sistem Kars Gunung Sewu. Seluruh kawasan, baik yang terletak di wilayah Kabupaten Gunung Kidul (DIY), Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) maupun Kabupaten Pacitan (Jawa Timur), tersatukan dalam satu kesatuan ekosistem.
Museum Kars Indonesia memiliki 3 lantai utama, begitu masuk ke lobi museum pengunjung akan langsung melihat poster yang menggambarkan filosofi dari Hasta Brata yang berupa 8 wejangan yang harus dilaksanakan oleh seseorang yang hidup di dunia agar memperoleh kesempurnaan budi yang terkandung dalam cerita pewayangan. Hal ini merupakan filosofi yang berkembang di masyarakat Jawa khususnya merupakan muatan local dari Kabupaten Wonogiri. Setelah melewati lobi akan diinformasikan denah isi museum pada kiri-kanan tangga serta disuguhkan ornament bentukan replika stalaktit dan stalakmit.    
Pada lantai 1 divisualisasikan panel poster dan koleksi dengan tema Kars Untuk Ilmu Pengetahuan yang didahului dengan panel poster mengenai kronologi pembangunan Museum Kars.
Pada lantai dasar ditampilkan kondisi sosial budaya di kawasan kars dengan tema Kars Untuk Kehidupan, di sini akan dapat dilihat diorama kars, maket-maket kawasan kars, serta kehidupan sosial budaya masa lalu dan masa kini.      
Pada lantai atas merupakan ruangan serba guna dan dapat digunakan sebagai ruangan rapat, presentasi dan pemutaran film yang telah dilengkapi dengan tata suara, proyektor dan layar. *** [281211]






0 komentar:

Posting Komentar