Rabu, 30 Mei 2012

Asal Mula Kisah “Smong”

Tsunami yang melanda pantai-pantai di sepanjang Samudera Hindia pada tanggal 26 Desember 2004 lalu telah menewaskan sedikitnya 320.000 orang. Namun, di Pulau Simeulue, yang berada di dekat pusat gempa, jumlah korban relative sedikit, yaitu tujuh orang. Padahal, dari 78.128 jiwa penduduk Simeulue saat itu, sebagian besar bermukim di pantai.
Beberapa saat setelah gempa mengguncang, warga Simeulue langsung bergegas meninggalkan rumah dan mengungsi ke perbukitan. Mereka telah mengetahui bahwa setelah gempa besar akan terjadi smong atau ombak tinggi yang menerjang daratan.
Dua peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Herry Yogaswara dan Eko Yulianto, dalam bukunya, Smong, Pengetahuan Lokal Pulau Simeulue (2008) menyebutkan, pengetahuan tentang smong diperoleh dari pengalaman gempa dan tsunami yang melanda Simeulue pada tahun 1907. Bukti-bukti terjadinya gempa dan tsunami pada tahun 1907 tersebut didasarkan pada studi geologi tentang kegempaan, catatan kolonial Belanda, dan ingatan masyarakat Simeulue yang menyebut kejadian itu dengan sebutan “smong 07” atau smong tahun tujuh.”
Catatan kolonial tentang gempa bumi di Simeulue terdapat dalam majalah Persatuan Ilmu Bumi Kerajaan Belanda, Bagian XXXIV (1917), yang diterjemahkan Jefta Samuel pada 2003: “Di Simeuloee sering terjadi gempa bumi. Biasanya bersifat ringan. Pada tahun 1907 seluruh daerah pantai Barat dilanda ombak pasang besar. Jumlah korban sangat banyak. Sejumlah besar kampong benar-benar hilang tertelan ombak yang mengakibatkan tanah tersebut menjadi daerah gersang, sementara penduduk di sana tidak pernah berhasil mengatasi bencana ini. Kemakmuran sebelumnya tidak pernah tercapai lagi.”
Sementara catatan kegempaan disebutkan Newcomb dan McCann dalam tulisan mereka di Journal of Geophysical Research volume 92 tahun 1987, “Seismic History and Seismotectonic in Sunda Arc.” Keduanya menyebutkan tentang gempa dan tsunami di sekitar Simeulue pada 4 Januari 1907. Disebutkan, gempa ini berkekuatan 7,6 skala Richter.
Gempa pada 1907 itu mestinya bukanlah gempa yang besar jika dibandingkan gempa Aceh 2004 yang berkekuatan di atas 9 skala Richter. Namun, gempa pada 1907 itu, menurut warga Simeulue, menyebabkan tsunami yang lebih besar dibandingkan gempa tahun 2004. Diperkirakan tinggi gelombang tsunami di Simeulue saat itu mencapai 15 meter. Hal ini berdasarkan kesaksian tentang banyaknya mayat yang tersangkut di atas pohon kelapa dan durian.
Menurut Herry dan Eko, tsunami pada tahun 1907 itu menimbulkan trauma besar bagi masyarakat Simeulue karena banyaknya korban manusia yang meninggal. Selain itu, kejadian tersebut masih terekam dalam ingatan masyarakat karena adanya orang tua yang hidup pada saat kejadian atau mendengar cerita dari orang yang secara langsung mengalami kejadian.
Kejadian smong 1907 ini kemudian diwariskan secara lisan. “Gempa dan tsunami 2004, di satu sisi menyegarkan ingatan warga soal smong. Kalau tidak ada gempa 2004, mungkin pengetahuan tentang smong akan hilang karena dianggap dongeng saja,” kata ahli tsunami dari Amalgamated Solution and Research, Gegar Prasetya.
Sebelum gempa tahun1907 ini, menurut Gegar, Simeulue sudah berkali-kali dilanda tsunami. Gegar menemukan endapan tsunami di bagian utara pulau ini yang diperkirakan terjadi pada tahun 956 dan 1400 Masehi. Periode ulangnya 400 – 600 tahun.
Di bagian selatan juga ditemukan deposit tsunami yang kemungkinan berasal dari kejadian tahun 1799 dan 1861. Periode ulangnya lebih pendek antara 140 – 200 tahun. ***


*) KOMPAS edisi Sabtu, 26 Mei 2012 hal.35

0 komentar:

Posting Komentar