Minggu, 03 Juni 2012

Asal Mula Banyuwangi

Di pantai Timur Pulau Jawa ada sebuah kerajaan yang diperintah Prabu Menak Prakosa. Ia mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Sri Baginda tersebut mempunyai seorang anak laki-laki yang gagah, cakap, dan bagus parasnya. Nama anak raja tersebut Raden Banterang.
Raden Banterang menjadi putra mahkota yang kelak menggantikan ayahnya sebagai raja. Ia, Raden Banterang sangat dicintai dan dihormati rakyatnya. Sayangnya, ia mudah marah. Bahkan sering memberikan hukuman yang berat kepada hambanya bila tidak mengikuti perintahnya.
Pada suatu hari Raden Banterang berburu binatang dengan disertai beberapa pengiringnya. Dalam perburuan tersebut, Raden Banterang berpisah dengan pengiringnya. Ia berjalan seorang diri dan sampailah di sebuah sungai. Di tepi sungai tersebut terlihatlah seorang gadis cantik sedang memetik bunga, Raden Banterang sangat tertarik oleh kecantikannya.
Ia bertanya dalam hati, “Mimpikah aku ini?” Mengapa gadis cantik itu seorang diri dalam hutan?
Bertanyalah Raden Banterang kepada gadis tersebut, “Wahai, putri yang cantik, manusia atau dewi kah? Mengapa Tuan Putri berada di tempat ini seorang diri?”
Gadis itu sangat terkejut, ia tidak menyangka aka nada orang lain yang mengetahuinya. Gadis cantik itu pun lalu menjawab, “Saya manusia biasa, sama sekali bukan dewi. Saya berada di sini karena takut akan serangan musuh. Beberapa waktu lalu kerajaan kami diserang oleh kerajaan lain. Ayah saya gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan. Sejak saat itu saya mengembara seorang diri sampai di tempat ini.”
“Benarkah Tuan Puteri adalah puteri Raja Klungkung?” Tanya Raden Banterang. “Benar, yang Tuan katakan. Saya adalah Surati, puteri Raja Klungkung yang gugur itu.”
Raden Banterang diam beberapa saat. Ia tahu bahwa yang menyerang Kerajaan Klungkung adalah ayahnya sendiri. Mendengar cerita tersebut rasa iba yang tumbuh dalam hati Raden Banterang. Selanjutnya puteri Raja Klungkung yang bernama Surati dibawa ke istana. Tidak berapa lama keduanya menikah.
Rakyat gembira sekali karena Raden Banterang mendapat isteri yang benar-benar elok dan baik budi pekerti. Berkat keluhuran budi Surati, sifat pemarah yang ada pada diri Raden Banterang berangsur-angsur hilang. Suatu saat tatkala Surati berjalan di luar istana, bertemulah dengan seorang laki-laki yang pakaiannya compang-camping.
Laki-laki itu berteriak, “Surati, Surati!”
Alahkah terkejutnya Surati mendengar teguran itu. Dipandangnya lama sekali laki-laki tersebut. Akhirnya, ingatlah bahwa laki-laki itu adalah kakak kandungnya. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa kakaknya masih hidup.
Jawab Surati, “Aduh, kakanda tercinta! Adinda tidak menyangka saat ini dapat berjumpa dengan kakanda. Adinda menyangka bahwa kakanda telah gugur bersama ayahanda. Kiranya Tuhan masih memberi perlindungan kepada kita berdua.”
“Surati! Engkau tidak tahu malu mau diperisteri oleh orang yang telah membunuh ayah kita. Sekarang saya hendak menuntut balas atas kematian ayah kita. Maukah engkau membantuku?”
Jawab Surati, “Maaf kakanda, adinda telah berhutang budi kepadanya. Dia telah menyelamatkan adinda dari penderitaan. Maaf, sekali lagi. Adinda tidak dapat mengabulkan permintaan kakanda.”
Si kakak kandung Nampak kecewa atas jawaban Dewi Surati.
Pada suatu hari Raden Banterang sedang berburu. Tatkala sedang mengejar kijang, datang seorang pengemis mendekatinya. Kata pengemis tersebut, “Tuanku Raden Banterang, sejak tadi hamba mencari Tuanku. Tuanku terancam oleh bahaya maut yang direncanakan oleh permaisuri Tuanku. Tadi pagi hamba mendengar percakapan permaisuri Tuanku dengan kakak ipar Tuanku tentang rencan mereka untuk menuntut balas kematian ayahnya. Kalau tidak percaya, di bawah peraduan permaisuri ada sebilah keris pusaka. Setelah berkata demikian, pengemis itu menghilang. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan pengemis tersebut.
Bergegaslah pulang Raden Banterang ke istana. Sesampai di istana, ia langsung menuju peraduan permaisuri untuk meyakinkan benar tidaknya keterangan pengemis. Alangkah panas hati dan kecewanya Raden Banterang, karena yang diceritakan pengemis tadi benar, di bawah peraduan Putri Surati ditemukan senjata pusaka Kerajaan Klungkung.
Kemarahan Raden Banterang tak bisa ditahan. Diajaknya isterinya ke muara sebuah sungai. Sesampai di muara sungai, Raden Banterang menceritakan semua yang didengarnya dari seorang pengemis tatkala sedang berburu di hutan.
Raden Banterang menanyakan dengan nada kemarahan, “Itukah balasanmu kepada kebaikanku!”
Jawab permaisuri, “Adinda berani bersumpah, sekali-kali adinda idak melakukan seperti yang kakanda tuduhkan.”
“Diam, pendusta!” gertak Raden Banterang sambil memperlihatkan keris yang ditemukan.
“Kakanda Raden Banternag! Itu memang pusaka ayahanda Raja Klungkung. Tapi demi Dewata Yang Agung, pusaka itu hanya dipegang oleh kakak hamba. Hamba tidak mengerti mengapa sekarang, berada di tangan Kakanda Raden Banterang. Adinda berani bersumpah, bahwa hamba adalah isteri yang setia. Memang kakak adinda datang menemui adinda, tetapi hanya sampai di pintu gerbang istana. Dia minta agar adinda mau membantu kakak dalam melaksanakan niatnya menuntut balas atas kematian ayah kami. Tetapi permintaannya itu adinda tolak.”
Raden Banterang tetap tidak percaya atas keterangan isterinya. Ia yakin, isterinya termasuk salah seorang yang menaruh dendam. Maka dihunusnya keris yang terselip di pinggangnya.
“Baiklah, jika Kakanda tidak mempercayai Adinda, maka Adinda bersedia menemui ajal di sungai ini. Tetapi harap Kakanda camkan, bahwa jika nanti sungai ini berbau wangi berarti Adinda tidak bersalah, tapi jika sungai ini berbau busuk memanglah Adinda bersalah.”
Sebelum keris itu ditikamkan kepada isterinya, Surati melompat ke sungai lalu menghilang. Raden Banterang berseru dengan suara yang gemetar, “Banyuwangi …! Isteriku ternyata tidak berdosa.”
“Banyuwangi …!” terika seorang pengemis hampir bersamaan. “Hai, Raden Banterang! Aku adalah kakaknya. Isterimu memang tidak berdosa. Ia menolak membantuku untuk membunuhmu. Banyuwangi itulah tanda cinta sucinya.”
Setelah selesai berkata, pengemis itu pun menghilang. Raden Banterang terburu nafsu tanpa menyelidikinya dengan cermat. Ia kecewa, ternyata perbuatannya membawa maut bagi permaisuri tercinta. Sampai sekarang tempat permaisuri menghilang dalam dasar sungai disebut Banyuwangi. Banyu berarti air, wangi berarti harum. ***

Sumber:
MB. Rahimsyah, ____, 27 Cerita Rakyat Nusantara, Surakarta: CV. Bringin 55

0 komentar:

Posting Komentar