Rabu, 13 Juni 2012

Asal Mula Pancoran

Dahulu kala, hiduplah seorang raja yang bijaksana. Ia memerintah kerajaan yang letaknya antara Jakarta dan Bogor. Ia punya tiga orang anak, yaitu Pangeran Jaya, Pangeran Suta, dan Pangeran Gerindra.
Suatu hari, Raja ingin memilih satu di antara ketiga puteranya untuk menggantikannya. “Seperti tradisi keluarga kita, untuk menjadi seorang raja, kalian harus menjalani ujian. Berangkatlah kalian besok meninggalkan istana,” ujar Raja kepada ketiga puteranya.
Ketiga pangeran itu pun memulai perjalanan. Mereka sampai di sebuah sungai. Ketiganya mandi di sungai yang sejuk itu. Setelah mandi, mereka berganti pakaian. Namun, Pangeran Jaya tidak mengganti pakaiannya. Kedua adiknya meminta Pangeran Jaya mengganti pakaiannya karena sudah terlihat kumal. Menurut mereka, tidak pantas orang dari kerajaan berpakaian lusuh.
“Aku hanya membawa baju beberapa potong saja. Aku harus menghematnya. Maaf kalau aku berjalan bersama kalian dengan pakaian kotor,” ucap Pangeran Jaya.
Suatu ketika, dalam perjalanan, mereka menemukan sebuah pancuran. Pangeran Suta dan Pangeran Gerindra langsung terjun ke telaga di bawah pancuran dan meminum air pancuran itu. Setelah meminum air itu, tiba-tiba keduanya terkapar dan meninggal dunia. Pangeran Jaya sangat sedih dan berniat untuk ikut mati bersama adik-adiknya.
Namun, ketika ia baru akan meminum air pancuran itu, tiba-tiba sebuah suara menghentikannya, “Jangan kau minum air itu! Apakah kau ingin mati seperti adik-adikmu yang dengan beraninya minum air pancuran tanpa izin kepada yang punya?”
Tiba-tiba, seorang laki-laki tua muncul, “Akulah pemilik pancuran ini dan hanya bidadari saja yang boleh mandi di sini.”
“Biarlah aku menyusul adik-adikku!” ujar Jaya sedih.
“Baiklah, kau boleh menyusul adikmu asal kamu menjawab pertanyaanku. Jika adikmu bisa kuhidupkan kembali, apakah kau mau menggantikan adik-adikmu?”
Jaya memikirkan jawabannya. Jika ia mati, ayahnya masih mempunyai dua anak. Ini lebih baik daripada kedua adiknya mati, yang berarti ayahnya hanya punya satu orang anak. “Aku bersedia menggantikan adik-adikku jika mereka hidup kembali,” jawab Jaya mantap.
Sang Kakek mengizinkan Jaya meminum air pancuran itu. Saat Jaya mulai minum, tiba-tiba tubuh Suta dan Gerindra bergerak-gerak dan hidup kembali. Jaya mendapati dirinya masih tetap hidup walaupun sudah mengeuk air pancuran itu.
“Jaya, kini, aku telah melihat pengorbanan, kesabaran, dan ketabahanmu!” kata si Kakek. Lalu, ia menyerahkan sebilah tongkat kea rah ketiga pangeran itu. “Bawalah tongkat ini. Tongkat saktiku ini akan mengantar kalian pulang. Siapa yang bisa mengangkat tongkat ini, dialah yang berhak menduduki tahta kerajaan.” Kakek itu pun menghilang.
Suta dan Gerindra mencoba mengangkat tongkat itu, tetapi mereka tidak sanggup. Tongkat sakti itu sangat berat. Namun, Jaya bisa mengangkat tongkat itu dengan mudah. Ketiganya sadar bahwa dalam perjalanan menempuh ujian dari sang Ayah, kakak merekalah yang lebih unggul.
Lokasi pancuran itu dikenal dengan nama Pancoran. Lokasinya bersebelahan dengan Kalibata, Jakarta Selatan. ***

Sumber:
  • Marina Asril Reza, 2011, 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara (Cerita Kepahlawanan, Mitos, Legenda, Dongeng, & Fabel dari 33 Provinsi), Jakarta: Visimedia

0 komentar:

Posting Komentar