Selasa, 05 Juni 2012

Riwayat Pohon Kapur Dari Barus

Sebatang pobon tumbuh menjulang di tengah kebun karet. Lingkar batangnya tak terjangkau pelukan tangan orang dewasa, menandakan umurnya yang tak muda. Bekas sayatan pada akar menghasilkan getah berwarna putih berbau harum. Daunnya yang kecil lonjong pun mengeluarkan aroma wangi.
“Inilah pohon kapur itu,” kata Jahiruddin Pasaribu, Kepala Desa Aek Dakka, Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Pohon kapur (Dryobalanops aromatic) dengan kulit berwarna merah kehitaman merupakan tanaman langka yang pernah memasyhurkan Pulau Suamtera sejak ribuan tahun silam.
Penelitian Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menyebutkan, catatan tentang kamper yang tertua berasal dari awal abad ke-4 Masehi. Catatan ini terdapat dalam kumpulan dokumen yang disebut “Surat-surat Lama” yang ditemukan di Dunhuang (China) dan ditulis pedagang Sogdian yang menelusuri jalur sutra dengan istilah berdasarkan pada ejaan China, “kprwh”.
Istilah kamper, menurut Guillot, juga dimuat dalam kronik Dinasti Liang, China (502 – 557). “Sumber ini menarik sekali karena kamper dinamakan kamper Po-lu, satu nama tempat yang biasa disamakan dengan Barus,” tulis Guillot.
Catatan pertama mengenai kamper di dunia Barat terdapat dalam karya Actius dari Amida (502 – 578 M), dokter Yunani yang tinggal di Mesopotamia. Juga dilaporkan, tahun 638 ketika pasukan Arab merebut Istana Chosroes II di Madan, tepi Sungai Tigris, ditemukan sejumlah tempayan berisi kamper yang pada mulanya dikira garam.
Pada abad ke-9, ahli kimia dari Arab, Al-Kindi, menulis tentang manfaat dan pembuatan kapur barus dalam Kitab Kimiya’ al-‘Itr. Catatan ini semakin menguatkan popularitas kapur barus.
Hingga era kolonial, kapur barus masih menjadi komoditas menarik. Seperti disebut William Marsden, pegawai pemerintah kolonial Inggris di Bengkulu, dalam bukunya, History of Sumatera (1783), kapur barus memiliki peran penting dalam perdagangan di Sumatera.
Menurut catatan Marsden, harga kapur barus saat itu sekitar 6 dollar Spanyol per pon (0,5 kg). Harga ini sama dengan harga emas di Sumatera saat itu. Di pasaran China, harga kapur barus lebih mahal, 9-12 dollar Spanyol per pon.
Marsden menyebutkan, perdagangan kapur barus saat itu dimonopoli orang-orang Aceh yang bermukim di Singkel (Singkil). “Mereka (orang Aceh) menjual kepada orang Batak, selanjutnya dibeli orang China dan Eropa,” tulis Marsden.
Tingginya harga kapur barus saat itu karena banyak permintaan. “Kapur barus adalah obat berkhasiat yang membuat Sumatera dan Kalimantan termasyhur di kalangan tabib  Arab,” ujar Marsden.
Selain tingginya permintaan, menurut Marsden, mahalnya harga juga disebabkan kesulitan mendapatkan kapur barus. Marsden menyebutkan, pohon kapur atau kamper memang banyak ditemukan di bagian utara Pulau Sumatera, terutama di hutan-hutan dekat pesisir. Namun, tak semua pohon bisa menghasilkan kapur barus.
“Setiap rombongan pencari kapur barus biasanya ditemani seorang ahli ‘sihir’ yang dapat menentukan mana pohon (kamper) yang ada kapur barusnya,” sebut Marsden. “Sering orang-orang pencari kapur barus itu menjelajahi hutan selama 2-3 bulan tidak mendapatkan hasil memuaskan.”
Pohon yang telah ditebang, menurut Marsden, akan dikelompokkan dalam gelondongan-gelondongan kecil. Jika gelondongan itu mengandung kapur barus, minyak kapur barus mentah tinggal diambil dari bagian tengah kayu tersebut. Kapur barus berbentuk Kristal besar dan hampir transparan disebut kepala, yang lebih kecil dengan potongan yang bersih disebut perut, dan potongan kecil yang digerus dari kayunya langsung disebut kaki. Penamaan ini dibuat sesuai khasiatnya untuk obat.
Marsden juga menyebutkan, selain kapur yang diambil dari bentuk Kristal, pohon kapur juga akan mengeluarkan cairan minyak saat ditebang. Setelah dipanaskan di terik matahari selama seminggu, akan terlihat seperti kapur barus asli. “Tetapi, ini jenis kapur barus paling jelek,” tulis Marsden.
Mac Donald dalam makalah Hasil-hasil Alamiah Sumatera yang dimuat dalam Asiatic Volume VI, tahun 1795, menyebutkan, ada atau tidaknya Kristal kapur dalam pohon kapur bergantung pada usianya. Semakin tua pohon kapur, minyak di dalam pohon akan mengeras sehingga membentuk kapur yang lebih banyak.

Sintetis
Tingginya harga kapur barus membuat orang sejak dulu berupaya membuat tiruannya. Marsden mencatat, tahun 1700-an, pembuatan kapur barus tiruan telah dilakukan orang-orang China dan Jepang. “Kapur tiruan dikirim ke Belanda dan diperhalus sampai menyerupai aslinya,” tulis Marsden.
Belakangan diketahui, kapur dari China dan Jepang itu berasal dari tumbuhan yang berbeda. Pohon kapur dari China dari jenis Cinnamomum camphora, yang dari Jepang dari jenis Laurus camphora. Dalam Encyclopedia Britannica disebutkan, untuk menghasilkan kamper dari Cinnamomum camphora, potongan batang kayu ini harus disuling. Kandungan minyak kamper dalam kayu ini sekitar 5 persen. Dalam sumber yang sama disebutkan, sejak awal tahun 1930-an, kapur barus telah dibuat tiruannya dari alfa-pinene, zat organik yang disuling dari jenis pohon cemara.
Penemuan kamper sintetis berbahan dasar minyak pohon-pohon lain itu membuat harga kapur barus nyaris tak bernilai lagi. Kapur barus dengan mudah ditemukan dan harganya relatif murah. Kapur barus biasa digunakan untuk mengusir bau dan serangga.

Bahan bangunan
Walau pernah sangat populer, keberadaan pohon kapur saat ini semakin langka. Beberapa pohon kapur yang ada pun tak menghasilkan kapur barus. “Sekarang tak ada lagi pawang yang mengetahui pohon kapur mana yang ada kapur barusnya,” kata Camat Barus Safwan Pohan.
Safwan mengatakan, masyarakat Barus hanya mengenal pembuatan minyak dari kayu kapur yang dalam istilah lokal disebut minyak umbil. Namun, Kristal kapur barus yang langsung diambil dari batang kayu kamper saat ditebang tak pernah ditemukan lagi.
“Terakhir kali saya melihat kapur barus waktu remaja, tahun 1980-an. Bentuknya seperti garam, Kristal, berwarna putih,” kata Safwan. “Ayah saya yang bekerja di perusahaan kayu kebetulan mendapatkan. Waktu itu ada penebangan hutan besar-besaran di Barus.”
Anggota Satgas Dinas Kehutanan Tapanuli Tengah untuk Wilayah Sosor Gadong dan Barus, Tony Herbert Panggabean, mengatakan, pohon kapur nyaris punah akibat maraknya pembabatan hutan di Barus dan Singkil tahun 1970-an hingga 1990-an. Padahal, kedua kawasan ini yang jadi habitat alami pohon kapur. “Kualitas kayu kamper sangat bagus. Serangga dan rayap tak doyan sehingga kayu ini termasuk yang diburu untuk bahan bangunan,” katanya.
Sisa-sisa kayu kapur yang terpendam di rawa-rawa pun diburu. Ari (46), warga Desa Siordang, mengatakan, kayu-kayu kapur yang terpendam dalam tanah banyak dicari sebagai bahan bangunan. Kayu-kayu itu berasal dari pohon yang tumbang atau ditebang dan terbenam dalam tanah selama beberapa tahun.
“Kayu kapur bila terpendam dalam tanah semakin kuat,” kata Ari yang sebagian kedainya menggunakan konstruksi kayu kapur. Ari mengatakan, harga per meter kubik kayu kapur yang sudah terpendam Rp 3 juta – Rp 3,5 juta.
Setelah kayu kapur nyaris habis, kini Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah berupaya menanam kembali kapur barus. “Kami diperintahkan mengumpulkan bibit kayu kapur. Tapi di mana mencarinya?” kata Safwan. (AHMAD ARIF dan INGKI RINALDI) ***

Sumber:
*) KOMPAS edisi Sabtu, 26 Mei 2012 hal. 14
  

3 komentar:

  1. beli getah kapur barus,/minyak kamper,,,phone number:081263652593

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kyu kruing dan kuras masuk kyu kapur gk bos...

      Hapus
  2. Kayu kruing dan kuras apa masuk jenis kayu kapur...

    BalasHapus