Rabu, 04 Juli 2012

Rute Jalur Sutera Laut

Istilah jalur sutera awalnya untuk menyebut rute perdagangan darat antara Eropa dan Timur Tengah dengan Cina, dan sebaliknya, melewati pegunungan Asia Tengah yang penuh marabahaya. Sebutan ‘sutera’ diambil dari salah satu komoditas penting saat itu, yaitu sutera Cina. Kemudian, istilah jalur sutera digunakan untuk menyebut rute perdagangan antara Eropa dan Asia umumnya, baik yang melalui darat maupun laut. Kata ‘sutera’ juga digunakan sebagai metafora penghalus dan pemberi nuansa kelembutan jalinan hubungan antar bangsa dan Negara, yang terbawa dalam rute hilir-mudik Eropa-Asia. Pada kenyataannya, hubungan perdagangan itu dipenuhi suasana persaingan dan upaya monopoli perdagangan, yang membuahkan politik kolonisasi Eropa.
Jalur sutera darat adalah pengembangan dari jalur yang dirintis Marcopolo, dari Venesia (Italia) ke Cina; dan sebaliknya. Sementara, jalur sutera laut merupakan pengembangan jalur pelayaran yang dilakukan oleh para pelaut Portugis dan Spanyol, dengan melanjutkan rute yang biasa dilakukan para pedagang Muslim dari Arab, Persia dan India, juga dari Melayu, Jawa, Bugis, dan Cina; jalurnya antara Cina, Nusantara, dan Timur Tengah. Komoditas utamanya, yaitu barang-barang teknologi mutakhir dari Eropa, sutera dan keramik Cina, emas dan rempah-rempah Nusantara, serta juga candu dan budak.
Selain menjadi rute perdagangan, jalur sutera juga menjadi arena pertukaran dan dialog antarbudaya, serta pengembangan teknologi pelayaran antarbangsa sejak 3.000 tahun yang lalu.
Jalur sutera laut, membentang dari Eropa (Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis, dan lain-lain), melewati sisi barat Afrika, Tanjung Harapan, menyusuri jazirah Arab, terus ke pesisir anak benua India dan sampai di Asia Tenggara dan ke seluruh Nusantara.
Di Nusantara, titik-titik penting dalam jalur sutera itu adalah Bandar Pasai di Aceh Utara (Kerajaan Samudera), Bandar Lamuri (zaman Kerajaan Aceh Darussalam), Banda Kuno Barus (pesisir barat Sumatera Utara), Pariaman-Tiku (pelabuhan Kerajaan Pagar Ruyung, Sumatera Barat), Pelabuhan Palembang, Lampung, Tumasik, dan Malaka. Di Jawa terdapat Banten, Sunda Kelapa, Tangara (Tangerang), Cirebon, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya, dan Blambangan.
Di Bali terdapat Kuta, kemudian Tangjung Pura di Kalimantan, di Sulawesi (Lawe, Makassar, Buton), di Maluki (Ternate, Tidore, Bacan, Hitu, ditambah Kepulauan Banda). ***

9 komentar:

  1. http://student.blog.dinus.ac.id/sasjepyusufal/2016/11/13/cara-mudah-menyelesaikan-rubik-3x3-untuk-pemula/

    BalasHapus
  2. http://student.blog.dinus.ac.id/mataharilanangpanggulu/2016/10/13/sejarah-singkat-tokyo-%e6%9d%b1%e4%ba%ac/

    BalasHapus
  3. http://student.blog.dinus.ac.id/c11eddomarselo28/2016/10/19/5-top-jajanan-enak-di-kota-semarang/

    BalasHapus
  4. http://student.blog.dinus.ac.id/pujiamimutiara/2016/07/24/mengenal-sistem-produksi-toyota/

    BalasHapus

  5. wah reviewnya keren tentang dinus, Tapi Apa kamu Ingin tahu UDINUS saat ini ?
    Kalian tahu Dinus Mall ? apa itu Dinus Mall, Kampus Idamanku...
    Udinus Goes to Mall Pertama Kali di Indonesia

    BalasHapus