Rabu, 04 Juli 2012

Rute Pelayaran KPM

Pemerintah Belanda membutuhkan wadah untuk melaksanakan kegiatan monopoli pelayaran niaganya. Maka, pada 4 September 1888 didirikan Koninklijk Paketvaart Maatschappij – KPM (perusahaan pelayaran kerajaan), setelah pemerintah kurang puas dengan perusahaan pelayaran sebelumnya seperti Nederlandsch Handel- Maatschappij – NHM (1824). Nederlandsch-Indische Stoomboot Maatschappij—NISM (1842), dan Cores de Vries atau Stoompaketvaart (pelayaran kapal api, 1849).
Tujuan pendirian KPM adalah untuk menunjukkan kekuatan serta menegaskan kekuasaan Belanda di kepulauan Hindia Belanda dengan cara memperluas serta memperkuat perdagangan antara pelabuhan-pelabuhan di Hindia Belanda dan Negara induk (Belanda) serta semua bagian dunia lainnya.
Kepala administrasi KPM, L.P.D. op ten Noort bertugas menata jalur pelayarannya. Ia kemudian berminat mengambil alih jalur pelayaran antara Makassar dan Singapura, yang menurutnya memiliki potensi ekonomi yang tinggi.
Hasilnya, pada 1 Januari 1891 dituangkan dalam kontrak yang meliputi 19 jalur pelayaran yang dilalui KPM yang mengoperasikan 29 kapal api dengan keseluruhan  tonase 28.512 ton bruto (pada 1903 menjadi 59 kapal). Tujuh jalur terpusat di wilayah perdagangan Makassar. Satu jalur khusus untuk wilayah Kepulauan Maluku, yang dilayani setiap 12 minggu sekali dalam dua rute. Pertama: Ambon-Humbol, melewati Ternate, Saonek, Samate (Salawati), Ron, Ansus, dan kembali ke Ambon mengikuti jalur berangkat. Kedua: Ambon-Dobo, melewati Banda, Sekar, dan menyusuri pelabuhan-pelabuhan di pesisir selatan Papua.
Selain itu, jalur lainnya meliputi pesisir selatan dan timur Kalimantan dengan tidak melalui Makassar melainkan Singapura, melalui jalur pelayaran Surabaya, Bawean, Banjarmasin, Pulau Laut, Pasir, Kutai dan seterusnya. Sedangkan, pelabuhan di Bali dan Lombok yang sebelumnya jarang dikunjungi pun termasuk dalam jalur pelayaran.
Untuk mempersempit gerak pelayaran niaga asing dan swasta lainnya, KPM menetapkan semua pelayaran berpangkalan di Jawa (khususnya Surabaya) dan Singapura, kecuali jalur khusus untuk wilayah Sulawesi Selatan.
Selain KPM, pada era yang sama muncul ‘Kongsi Tiga’, yaitu gabungan dari ketiga perusahaan pelayaran Hindia Belanda yaitu De Rotterdamsche Lloyd, Stoomvaartmaatschappij Nederland, dan Stoomvaartmaatschappij Oceaan. Kongsi Tiga ini khusus melayani pemberangkatan dan pemulangan jamaah haji Hindia Belanda, yang masih aktif hingga pasca Perang Dunia II. ***

0 komentar:

Posting Komentar