Minggu, 23 September 2012

Panggung Sanggabuwana



Bangunan unik menjulang tinggi menjadi daya tarik tersendiri bagi Kraton Kasunanan Surakarta. Bentuk arsitektural bundar dan bersusun empat membuat gedung itu berbeda dari bangunan lain di sekitarnya.
Dibandingkan dengan bangunan lain di Keraton Surakarta, Panggung Sanggabuwana memiliki keunikan tersendiri. Keunikan itu bukan hanya pada bentuk fisik, melainkan juga sejarahnya.
Panggung Sanggabuwana merupakan salah satu bangunan berbentuk menara yang berada di dalam lingkungan kedhaton Kraton Kasunanan Surakarta. Menara ini didirikan oleh Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) III pada tahun Jawa 1708 ( 1782 Masehi). Tahun pembuatannya diberi pertanda untuk memudahkan mengingatnya, dengan sengkalan milir: “Naga Muluk Tinitihan Janma” yaitu tahun 1708 atau sengkalan milir yang menandakan nama menara tersebut, yaitu “Panggung Luhur Sinangga Buwana”, yang juga memiliki makna tahun 1708.



Sengkalan milir memang merupakan tradisi bagi kalangan kraton untuk mengingatkan tahun dibuatnya sebuah bangunan yang didirikan oleh kraton.
Konon, menara tersebut digunakan oleh Susuhunan untuk bersemedi dan bertemu dengan Nyai Rara Kidul, penguasa Pantai Selatan. Selain sebagai tempat semedi, Panggung Sanggabuwana sebetulnya juga berfungsi sebagai menara pertahanan, yaitu untuk mengontrol keadaan di sekeliling kraton.
Menara ini pernah terbakar pada tanggal 19 November 1954, lalu dibangun kembali dan selesai pada tanggal 27 Rabingulawal 1891 atau 30 September 1959.
Sebelum terbakar, bentuk atapnya dinamai tutup saji, yaitu atap yang berbentuk hasta wolu atau segi delapan. Namun sekarang, bentuknya dibuat seperti payung yang sedang terbuka.
Panggung Sanggabuwana memiliki tinggi sekitar 30 meter, dan memiliki 4 tingkat. Pada tingkat 3, menghadap ke utara, terdapat sebuah jam besar yang dapat berbunyi sendiri.
Sedangkan pada tingkat yang paling atas, digunakan untuk ber meditasi, sesaji, berinteraksi dengan sukma kasarira (Nyi Rara Kidul), dan melihat pemandangan kota sekitarnya. Namun sekarang, Panggung Sanggabuwana sering digunakan oleh putra raja untuk meminta wilujengan setiap malam Jumat. ***

0 komentar:

Posting Komentar