Rabu, 19 September 2012

Perpustakaan Reksa Poestaka Mangkunegaran

Dari karyanya di bidang pemerintahan, sastra dan budaya dapat ditarik kesimpulan bahwa KGPAA Mangkunegoro IV adalah orang yang berwawasan luas, rajin dan suka bekerja. Mengingat bahwa pada zamannya belum ada sekolah formal, maka segala pengetahuan yang dimilikinya telah diserapnya lewat les privat, dan dari banyak sekali membaca, baik buku-buku atau naskah-naskah Jawa, maupun yang non-Jawa, yaitu bahasa Belanda dan Melayu. Dengan maksud agar para abdidalem berpandangan luas, beliau dengan rela menyediakan koleksi bukunya dibaca oleh orang lain. Maka terciptalah Reksa Poestaka dalam embrionya.


Yang lahir pada tanggal 11 Agustus 1867 bukan hanya Reksa Poestaka. Banyak ‘saudara-saudaranya’ yang lahir pada hari itu, yaitu: Reksa Praja, Reksa Hardana, Reksa Warastra, Reksa Busana, Reksa Baksana, Reksa Sunggata dan lain-lain ‘saudara’ yang tidak berawalan ‘reksa’. Konkritnya pada hari itu, Mangkunegoro IV mengeluarkan Surat Keputusan berbentuk pranatan (dari kata nata – mengatur; pranatan – peraturan) yang merombak susunan pemerintahan Praja Mangkunegaran. Menurut pranatan tersebut, di ibukota Praja Mangkunegaran diadakan 9 jawatan, yang masing-masing dikepalai oleh seorang Wedana, oleh karena itu disebut Kawedanan. Kesembilan Kawedanan tersebut adalah Hamongpraja, Reksapraja, Kartapraja, Martapraja, Kartipraja, Reksawibawa, Mandrapura, Purabaksana, dan Yogiswara.
Masing-masing Kawedanan membawahi beberapa Kemantren, yaitu cabang Kawedanan yang dikepalai oleh seorang Mantri.
1.       Kawedanan Hamongpraja membawahi: Sastralukita (Sekretariat), Reksa Poestaka (Arsip), dan Pamong Siswa (Pendidikan).
2.       Kawedanan Reksapraja membawahi: Polisi, Margatama (Lalu lintas dan Perairan), dan Jaksa (Pengadilan).
3.       Kawedanan Kartapraja membawahi: Kartausaha (Perusahaan), dan Martanimpuna (Perpajakan).
4.       Kawedanan Martapraja membawahi: Reksa Hardana (Bendahara).
5.       Kawedanan Kartipraja membawahi: Kartipura (Pekerjaan Istana).
6.       Kawedanan Reksawibawa membawahi: Reksa Warastra (Persenjataan), Reksa Wahana (Kuda dan Kereta), Reksa Busana (Pakaian), dan Langenpraja (Hiburan).
7.       Kawedanan Mandrapura membawahi: Mandrasasana (Mebel/Furniture), Reksapradipta (Lampu), dan Reksasunggata (Konsumsi).
8.       Kawedanan Purabaksana membawahi: Reksabasana (Dapur), Wreksapandaya (Kehutanan), dan Tarulata (Dedaunan dan Rerumputan).
9.       Kawedanan Yogiswara membawahi: Para Naib, Ulama dan Merdikan.

Reksa Poestaka, pada awalnya bertugas mengurusi surat-surat (serat) yang keluar maupun yang masuk, sehingga Reksa Poestaka berfungsi sebagai arsip. Namun serat itu dalam bahasa Jawa juga berarti buku. Kita tahu, bahwa tiap buku Jawa judulnya selalu dimulai dengan kata serat.
Sepuluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1877 dibentuklah Kantor Reksa Wilapa, yang benar-benar mengurusi surat-surat karena wilapa berarti surat, sedangkan Reksa Poestaka hanya mengurusi buku, karena poestaka hanya memiliki satu arti, yaitu buku. Jadi, sejak tahun 1877, Reksa Poestaka menjadi perpustakaan.


Menurut Katalog tahun 1877 – yang masih tersimpan dengan baik – dapat diketahui, bahwa koleksinya sebagian besar terdiri dari buku beraksara Jawa, berupa naskah asli atau tedhakan/turunan maupun dalam wujud cetakan, antara lain Alkitab (Perjanjian Lama) yang tebalnya 2.821 halaman. Dalam daftar itu dapat dijumpai beberapa puluh karya dari Mangkunegoro IV sendiri. Adapun macamnya literatur adalah babad, menak, cerita wayang, pakem wayang, injil, piwulang, cerita Islam seperti Serat Ambya, dan lain-lain. Pada nomor 226 disebutkan 18 buku Landi/Belanda, tetapi tidak disebutkan judul-judulnya. Barangkali petugasnya belum tahu huruf Latin. Sampai pada tahun 1940 menjelang datangnya Jepang, surat-menyurat masih menggunakan huruf Jawa, walaupun sejak tahun 1930 sudah mulai digunakan huruf Latin, karena di kantor-kantor sudah mulai ada mesin tulis. Namun ejaan Mangkunegaran ada yang berlawanan dengan ejaan bahasa Jawa yang sekarang. Misalnya panjang dalam bahasa Jawa ejaan sekarang adalah dawa, namun dengan ejaan Mangkunegaran adalah dhawa.
Yang diperbolehkan meminjam buku/naskah dari Reksa Poestaka hanya para pegawai Pura Mangkunegaran. Mereka tidak boleh membaca di situ, karena pada jam kerja mereka harus bertugas di kantornya masing-masing.
Untuk memperoleh gambaran suasana kala itu, perlu diketahui bahwa semua pegawai di Pura Mangkunegaran berseragam Jawa. Di kepala mereka mengenakan dhesthar yang diikat dengan rapi sebelum berangkat dari rumah. Ini memakan waktu ± 5 menit, karena belum ada blangkon. Pada zaman itu, semua orang laki-laki masih berambut panjang, dan digelung, ‘mondholan’ dari dhesthar adalah untuk menutupi gelungan. Zaman itu juga ada orang-orang berambut pendek, yaitu narapidana.
Semua orang berbaju tutup, berwarna putih, di punggung ada krowokan untuk dapat menyelipkan keris. Di bagian bawah memakai kain bebed. Kaki harus telanjang, karena terlarang memakai sandal atau selop. Ke kantor dan pulang harus berjalan kaki. Sepeda belum ada, kendaraan yang ada hanya andong, tetapi mahal ongkosnya.
Semenjak Mangkunegoro VI bertahta, suasana sedikit ada perubahan. Para abdidalem diperbolehkan berambut pendek. Untuk memberi contoh, belaiu sendiri yang pertama-tama memotong rambutnya menjadi pendek. Dhesthar sudah diganti dengan blangkon yang bisa dipasang di atas kepala dalam beberapa detik. Orang sudah boleh memakai sandal (selop hanya untuk yang berpangkat Wedana ke atas), tetapi setibanya di Pura, harus dilepas dan dipegang dengan tangan. Peraturan yang lain-lain masih tetap.
Reksa Poestaka pada zaman Mangkunegoro VII, koleksinya berlibat ganda, baik yang berbahasa Jawa maupun yang berbahasa asing, terutama bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman, karena beliau menguasai banyak bahasa. Beliau hanya menerima pendidikan formal di Sekolah Dasar berbahasa Belanda (Europeesche Lagere School) yang 99% muridnya orang Belanda. Semenjak itu, Reksa Poestaka bertambah banyak koleksinya, terutama yang berbahasa asing.
Di Istana Mangkunegaran, selain ada perpustakaan yang bukunya boleh dipinjam oleh para abdidalem, yaitu Reksa Poestaka, ada pula perpustakaan pribadi dari Sri Mangkunegoro VII. Setelah beliau wafat, maka sebagian besa bukunya – yang berbahasa asing – diserahkan kepada Perpustakaan Pertamina, yang kini sudah berada di Perpustakaan Nasional, dan sebagian kecil koleksinya yang berbahasa Jawa dan asing, diserahkan kepada Reksa Poestaka. Pada buku-buku yang berasal dari perpustakaan pribadi tersebut ada capnya bertuliskan Daleman atau Prive.
Mangkunegoro VII menyadari betul betapa pentingnya kebiasaan membaca bagi perkembangan pribadi agar bisa berwawasan luas. Sudah kita ketahui, bahwa Reksa Poestaka tersedia bagi para pegawai, maka untuk yang bukan pegawai yang tinggal di Kompleks Pura Mangkunegaran tersedia Panti Poestaka yang terletak di Jungpuri, dan bagi rakyat Mangkunegaran yang tinggal di Kota Solo didirikan Sana Poestaka. Perpustakaan Umum ini, dulu terletak di tanah yang kini ditempati Kantor Perhutani di tepi Jalan Gajah Mada. Di persilangan Jalan Gajah Mada dan Jalan Yosodipuro dulu ada jam kota. Di sebelah barat Pura Mangkunegaran terdapat dua gedung, yaitu Sana Poestaka yang di halaman depannya ada patung Ken Dedes, dan gedung yang lain adalah sebuah gedung pertemuan yang bernama Societeteit Mangkunegaran untuk para pegawai sipil (setelah merdeka menjadi Markas PMI, dan kini Monumen Pers Nasional), dan di sebelah timur jalan terdapat Societeit Militer (bagi para bintara dan perwira Legiun), serta Kusumawardhani Plein, artinya Lapangan Kusumawardhani (= Gusti Nurul, putrid Mangkunegoro VII) di mana berdiri Gymnastiek Loods (bangsal senam).
Koleksi Sana Poestaka kini sudah dipindahkan ke Reksa Poestaka, sebagian besar terdiri dari buku-buku terbitan Balai Pustaka. ***


0 komentar:

Posting Komentar