Jumat, 11 Agustus 2017

Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta

Kawasan Kotabaru merupakan kawasan permukiman orang-orang Eropa yang dibangun usai Perang Dunia I, atau pada akhir pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921). Kawasan ini merupakan kawasan yang benar-benar baru dibangun terpisah dari Kota Lama Yogyakarta.
Meskipun permukiman itu dikenal dengan Kotabaru, akan tetapi banyak bangunan lawas yang masih menghiasi di kawasan tersebut. Salah satu bangunan yang masih memperlihatkan kekunaannya adalah Rumah Sakit Bethesda. Rumah sakit ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 70 Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondukusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi rumah sakit ini berada di depan Mall Galeria, atau sebelah utara Universitas Kristen Duta Wacana ± 400 m.
Sejarah Rumah Sakit Bethesda tidak dapat dilepaskan dari dinamika zending yang ada di Yogyakarta. Dalam catatan pada Repertorium van Nederlandse zendings- en missie-archieven 1800-1960 diterangkan bahwa, rumah sakit yang dibangun di Yogyakarta itu merupakan rumah sakit yang memberikan layanan kesehatan guna mengembangkan misi gereja, yang pada waktu itu dikenal dengan Gereformeerde Kerken. Gereformeerde Kerken, atau lengkapnya Christelijke Gereformeerde Kerken, adalah suatu kelompok gereja Kristen Protestan di Belanda, yang dalam bahasa Inggris disebut Christian Reformed Churches in the Netherlands.


Ryadi Goenawan dan Darto Harmoko dalam bukunya Sejarah Sosial Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial DI. Yogyakarta Periode Awal Abad Duapuluh (1993) menjelaskan bahwa sejak kebangkitan gerakan zending itu, pada tahun 1897 perkembangan agama Kristen di Yogyakarta semakin pesat. Hal ini berkat usaha seorang dokter berkebangsaan Belanda bernama dr. Jan Gerrit Scheurer. Sebelumnya, ia pernah membuka praktek dokter di Gilingan, Solo (1895-1896) bersama istrinya yang bernama Geriitjen van de Riet, dan dibantu oleh Yoram, Sambiyo Reksohusodo dan Kalam Efrayim. Di dalam rumah sewanya itu, kamar makan dirombak menjadi kamar bedah, meja makannya digunakan untuk meja operasi atau bedah. Sebelum memeriksa orang sakit, lebih dahulu dibacakan Alkitab dan berdoa. Tiap hari Minggu diadakan kumpulan untuk merenungkan Firman Tuhan dengan tanya jawab. Dr. Jan Gerrit Scheurer dan pembantu-pembantunya bekerja giat dilandasi sifat kasih sayang.
Ketika Residen Surakarta, Hora Siccama mengetahui bahwa dr. Jan Gerrit Scheurer juga memberitakan Injil, izin praktek pun dicabut. Ia pun kemudian pindah ke Purworejo lagi. Tapi kemudian ia mendapat kepercayaan dari Sinode Middelburg untuk membangun sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Sebuah yayasan yang disebut “Rumah Sakit Dr. Scheurer” didirikan dengan dukungan penuh dari tokoh Gereformeerde terkemuka, seperti Abraham Kuyper dan dr. F.L. Rutgers.


Di kota ini ia bertempat tinggal di sebuah rumah sewa yang terletak di Jalan Bintaran. Pada 17 Maret 1897 merupakan awal kerjanya saat mendirikan rumah darurat dari bambu di samping rumahnya untuk tempat praktek pengobatan. Bangunan ini selesai pada bulan Juli 1897. Digantungkan sebuah papan bertuliskan, “Gusti Yesus Poenika Djoeroe Wiloedjeng Sedjatos”. Mulailah kerja yang akan dicatat oleh sejarah sebagai gerak perkembangan agama Kristen di daerah Kota Yogyakarta.
Pada 1 Juli 1897 poliklinik sederhana itu dibuka dengan pemuda Yoram sebagai pegawainya. Tidak ada upacara pembukaan dan tidak ada pesta, yang ada hanya semangat kerja dan cinta-kasih untuk mereka yang menderita serta memerlukan perawatan kesehatan. Pada bulan-bulan pertama orang yang datang ke poliklinik untuk berobat antara 10-15 orang. Hanya dalam waktu satu setengah tahun yang datang berobat tercatat sebanyak 15.367 orang. Selama itu dr. Jan Gerrit Scheurer telah berhasil menjalankan operasi dengan narcose sebanyak 12 kali hanya dengat peralatan sederhana dan di atas meja makan.


Kebutuhan akan ruangan dalam perawatan orang-orang sakit semakin terasakan. Terpaksa direncanakan membangun sebuah rumah sakit dengan kapasitas 150 tempat tidur. Berbagai instansi membantu keinginan dr. Jan Gerrit Scheurer ini, khususnya dari Sri Paduka Sultan Hamengku Buwono VIII. Sebidang tanah di daerah Gondokusuman, seluas 30.000 meter persegi dihadiahkan. Tanah ini sebelumnya merupakan kebun tebu milik Onderneming Muja-Muju, Sultan memberikan ganti kepada perkebunan tebu Muja-Muju untuk menempati daerah lain. Saat itu, tanah yang akan dipakai sebagai bangunan rumah sakit berada di luar dari apa yang disebut Kota Yogyakarta.
Pada 20 Mei 1899 peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit dilakukan oleh anak dr. Jan Gerrit Scheurer. Simbolisme ini melambangkan keinginan sang dokter agar cita-citanya diteruskan oleh anaknya. Pada 1 Maret 1900 dapat diselesaikan dua zaal untuk merawat penderita pria dan wanita. Pada 13 Maret 1900 ada 15 pasien yang dirawat di bangunan itu, di antaranya seorang wedana dari Madiun yang harus dioperasi. Kehadiran wedana ini ternyata cukup memberikan arti bagi rumah sakit. Masyarakat lebih mengharapkan berperanannya rumah sakit ini khusunya bagi mereka yang tinggal di Kota Yogyakarta. Ada kaitan kehadiran seorang pejabat di rumah sakit sebagai pasien dengan pengharapan dan kepercayaan masyarakat yang semakin besar atas usaha-usaha di bidang kesehatan masyarakat dari Zending.



Pembangunan rumah sakit berjalan terus dan perencanaan pembangunan dikerjakan secara cuma-cuma oleh Stegerhoek dan Stuur. Di samping itu dana berupa uang sebesar 10.000 dan 5.000 gulden diperoleh dari seorang pensiunan pendeta bernama Coeverden Andriani. Permintaan sang pendeta yaitu, agar rumah sakit ini diberi nama “Petronella”, sebuah nama dari istrinya yang dicintainya.
Perkembangan rumah sakit yang berawal dari poliklinik di Bintaran kini telah memiliki tiga zaal laki-laki dan dua zaal wanita hanya dalam waktu beberapa tahun. Nama yang diberikan untuk rumah sakit yakni ZendingshospitaalPetronella”. Masyarakat waktu itu mengenalnya sebagai “Dokter Tulung”. Kata ‘tulung’ berasal dari pitulungan (bahasa Jawa) yang bermakna pertolongan, karena dalam pelayanan terhadap pasien, rumah sakit ini tidak memandang apa dan siapa pasien itu, namun mengutamakan pertolongan lebih dahulu.
Direktur rumah sakit untuk kali pertamanya dipegang oleh dr. Jan Gerrit Schuerer, karena memang dialah yang merintis rumah sakit ini. Kepemimpinan dr. Jan Geriit Schuerer berakhir pada tahun 1906, dan digantikan oleh H.S. Pruys. Semula ia adalah dokter militer dan pembantu dr. Jan Gerrit Scheurer. Semasa kepemimpinan dr. H.S. Pruys yang menjabat dari tahun 1906 sampai tahun 1918, pendidikan untuk juru rawat semakin diintensifkan dan untuk pendidikan jenis ini diterbitkan buku pelajaran dalam bahasa Jawa. Pendidikan di bidang kebidanan mulai dirintis. Selam bertugas di Rumah Sakit Petronella, dr. H.S. Pruys tidak pernah mengambil cuti ke Negeri Belanda. Pada tahun 1918 ia harus meninggalkan kerja yang dicintainya karena menderita sakit. Ditunjuk sebagai pengganti adalah dr. J. Offringa, yang sejak tahun 1912 telah mendampingi dr. H.S. Pruys.
Kebijakan dari pimpinan dr. J. Offringa membuahkan semakin banyaknya orang-orang yang membutuhkan perawatan kesehatannya datang ke Rumah Sakit Petronella. Banyaknya pasien yang berobat ke Rumah Sakit Petronella menjadikan perlunya penambahan ruangan atau perluasan rumah sakit ini. Tahun 1920 dr. J. Offringa mengajukan rencana kepada Gereformeerde Kerken in Nederland di Amsterdam untuk memperbesar Petronella Ziekenhuis agar dapat menampung 500 pasien. Rencana ini diterima oleh Gereformeerde Kerken in Nederland, bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memberikan tanah yang luas membujur ke barat dan berbatasan dengan Jalan Bedog, serta di bagian selatannya dengan Militaire Hospitaal. Tahun 1924 pembangunan dimulai dan selesai pada tahun 1925. Bantuan ini didapatkan tidak saja dari pemerintah daerah dan pusat tetapi juga dari pabrik-pabrik gula, onderneming-onderneming tembakau, perusahaan kereta api de Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij. Selesainya pembangunan gedung baru itu tepat juga 25 tahun usia rumah sakit ini sejak peletakan batu pertama pada 20 Mei 1899.
Setelah kepempinan dr. J. Offringa (1918-1930), kepemimpinan rumah sakit berturut-turut dipegang oleh dr. K.P. Groot (1930-1942) dan dr. L.G.J. Samallo (1942-1949). Ketika masa pendudukan Jepang (1942-1945), rumah sakit ini namanya diganti dengan Yogyakarta Tjuo Bjoin, dan kemudian setelah terlepas dari penjajahan Jepang, rumah sakit ini dikenal sebagai Rumah Sakit Pusat.
Agar masyarakat umum mengetahui bahwa Rumah Sakit Pusat ini merupakan salah satu rumah sakit pelayanan kasih (Kristen), maka pada 28 Juni 1950 diganti dengan nama Rumah Sakit Bethesda yang mempunyai arti kolam penyembuhan.
Sekarang, Rumah Sakit Bethesda ini merupakan rumah sakit swasta kelas utama tipe B yang ada di Kota Yogyakarta. Pemiliknya adalah Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) yang bermarkas di Solo. Rumah sakit ini dikenal sebagai pusat layanan kesehatan yang terkemuka di Kota Yogyakarta, karena dikenal memiliki standar kesehatan yang tinggi dengan sumber daya manusianya yang berkualitas, dan mengutamakan pelayanan yang cepat terhadap pasien-pasiennya. *** [210717]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Kepustakaan:
Gunawan, Ryadi & Harnoko, Darto. (1993). Sejarah Sosial Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial DI. Yogyakarta Periode Awal Abad Duapuluh. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional
https://colonialhospitals.files.wordpress.com/.../formulier-z_1890_19101.docx
http://resources.huygens.knaw.nl/zendingoverzeesekerken/RepertoriumVanNederlandseZendings-EnMissie-archieven1800-1960/gids/organisatie/1279604462
https://www.scribd.com/doc/220918518/Laporan-Pkpa-Rs-Bethesda-April-mei-2013

0 komentar:

Posting Komentar