Sabtu, 04 Agustus 2012

Sepenggal Kisah Antonio Blanco

“I spent my years in Bali, my beloved island, mixing my life with paint or maybe also mixing my paint with love, creating ‘Reflections of my soul’, which people call paintings”.

Bagi yang pernah mengunjungi The Blanco Renaissance Museum, di Ubud, Bali, tentu pernah ber-sirobok dengan kalimat tersebut di salah satu sudutnya. Museum yang menyimpan ribuan koleksi lukisan maupun hasil karya sang maestro seni Antonio Blanco itu memang lebih dari sebuah museum. Di sinilah tempat Blanco mencurahkan seluruh isi pikiran, hati, dan jiwanya ke dalam sebuah karya seni, sekaligus tempat ia mencurahkan rasa cintanya pada sang istri, seni, dan keempat anaknya.

Blanco dan Ubud
Kehadiran Blanco ke Ubud menambah panjang deretan nama maestro seni dunia yang akhirnya menetap di pusat budaya dan seni Bali itu. Setelah berkeliling ke berbagai negara, putra Spanyol yang lahir di Filipina ini melabuhkan kaki di Bali, pada tahun 1952.
Di sini, ia bertemu dengan seorang penari Bali bernama Ni Ronji, yang membuat Blanco jatuh hati hingga akhirnya memilih untuk tinggal di pulau eksotis ini dan meminang sang penari.
Sementara itu, Raja Ubud, yang dikenal sebagai kenalan dekatnya, memberinya sebuah tanah untuk dijadikan rumah sekaligus studio yang berada di atas Sungai Campuhan, yang menjadi pertemuan dua sungai suci. Rumahnya sendiri menampilkan paduan barat dan timur, yang segera terasa begitu melangkah masuk ke gerbangnya. Gaya Spanyol dan Bali berpadu harmonis dalam tiap sudutnya.
Bagi Blanco, rumahnya adalah dunianya, tempat ia bergulat sehari-hari menghasilkan karya-karya seni yang kemudian diburu para kolektor dan pecinta seni.
Hasil karyanya pun mendapat banyak penghargaan dan dinilai tinggi dalam berbagai pelelangan internasional. Karya-karyanya pun begitu identik dengan tiga hal, humoris, filosofis, dan pengagum perempuan.
Blanco mengabadikan berbagai sisi perempuan dan berhasil memulas keindahan perempuan dengan caranya sendiri yang menggabungkan gaya ekspresionis-romatisme. Meski banyak di antaranya yang merupakan lukisan nude, tetapi hal itu tidak menjadikannya terlihat vulgar. Sebaliknya, justru semakin terlihat eksotis.
Yang paling banyak, tentu saja lukisan diri Ni Ronji. Karyanya pun kerap mengandung makna filosofi tinggi, seperti lukisannya yang berjudul “Eve and Apple”. Di sisi lain, Blanco juga seorang pribadi yang humoris. Kolase Mick Jagger dan Michael Jakcson, misalnya, yang selalu berhasil mengundang senyum bagi siapa pun yang melihatnya.
Di antara beberapa museum seni yang kini terdapat di Ubud, The Blanco Renaissance Museum ini pun menjadi salah satu kunjungan wajib yang sayang untuk dilewati. Selain mengamati sebuah konsep keindahan ala Blanco, suasana di sekitar museum sendiri begitu menyenangkan dan membuat betah siapa pun untuk berlama-lama.
Bagi yang ingin mereguk sebuah petualangan berlibur dalam ketenangan dan pemandangan alam yang indah, Ubud memang menjadi sebuah pilihan tepat. Kegiatan berselancar atau larut dalam pikuk malam khas urban yang terlanjur melekat dengan Bali pun berganti dengan keluar masuk galeri seni, berburu barang-barang antic dan berseni, sembari mereguk suasana tenang yang menghanyutkan. [ADT]

 
Sumber:
KOMPAS edisi Sabtu, 4 Agustus 2012 hal. 42.
 

0 komentar:

Posting Komentar