Minggu, 30 September 2012

Dalem Wuryaningratan

Dalem Wuryaningratan yang ada di Jalan Slamet Riyadi ternyata memiliki visualisasi sejarah yang cukup menarik. Pangeran Haryo Wuryaningrat adalah seorang putra Patih Sosrodiningrat yang diambil menantu oleh Paku Buwono (PB) X. Selain sebagai seorang bangsawan Kraton Kasunanan Surakarta, beliau adalah seorang pejuang dan perintis kemerdekaan. Semasa pemerintahan PB X, Wuryaningrat menjabat sebagai Bupati Nayaka Keparak Tengen (setingkat Menteri sekarang).
Dalam masa perjuangan dulu, Dalem Wuryaningrat difungsikan sebagai markas besar dan pusat kegiatan perjuangan bangsa. Ketika Pepatih Dalem KRMT Yudonagoro diculik oleh komunis, maka Wuryaningrat diangkat menjadi Pepatih Dalem pada 15 Maret 1946 namun tidak lama kemudian beliau juga diculik oleh komunis tetapi akhirnya diturunkan di daerah Gladag.


Dalem Wuryaningratan yang merupakan bangunan kuno ini berbentuk joglo yang dipengaruhi oleh bentuk arsitektur Eropa. Dari luar, bangunan itu tampak bergaya Eropa, di mana di bagian depan terdapat kanopi lengkap dengan pilar-pilar kokoh. Sebuah patung setengah badan berwajah Belanda diletakkan menghadap ke kolam. Konon, pada tahun 1890 untuk membangun rumah menantu raja secara khusus mendatangkan arsitek dari Belanda.
Bila melongok ke dalam, ternyata konsep tata ruangnya berkiblat pada konsep Jawa. Ruang paling depan berupa pendopo yang dihiasi oleh lampu gantung cantik di langit-langit ruangan.


Masuk ke dalam lagi, dijumpai ruangan besar yang disebut dalem ageng. Dahulu ruangan ini digunakan untuk sebagai ruang makan keluarga. Antara ruangan besar dan pendopo terdapat semacam pembatas dengan lantai rendah, yang biasa disebut pringgitan. Ruangan ini dulu ditata dengan kursi dan difungsikan sebagai tempat untuk menerima tamu.
Sebelum menuju dalem ageng, di sebelah kiri dan kanan dari pintu menuju dalem ageng tersebut terdapat dua ruangan di sebelah barat dan timur. Ruangan ini dahulu merupakan tempat kerja mendiang KPH Wuryaningrat.
Selain ruangan tersebut, masih ada tempat yang ada di kiri kanan dalem ageng. Letaknya simetris antara gandhok kiri dan gandhok kanan. Dahulu digunakan untuk bersantai dengan menggunakan akses khusus dari masing-masing kamar tidur.
Dulu tempat ini juga biasa digunakan oleh para dalang untuk mementaskan wayang kulit guna menghibur pemilik rumah. Sedangkan, di kiri kanan dalem ageng terdapat ruangan kecil yang berisi kamar tidur, biasa disebut senthong kulon (barat) dan wetan (timur).
Selain bangunan induk, Dalem Wuryaningrat juga memiliki sebuah paviliun yang berada di sebelah timur. Dalam sejarahnya, paviliun itu pernah dipakai KPH Wuryaningrat bersama Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Sudiro Husodo membentuk Partai Indonesia Raya (Parindra).
Dalem Wuryaningrat semula pernah mangkrak beberapa tahun. Bangunan kuno tersebut ditumbuhi ilalang dan terkesan dibiarkan begitu saja. Namun setelah, bangunan kuno tersebut dibeli oleh Pemilik PT. Danar Hadi, Santoso Doellah, bangunan ini mengalami renovasi tanpa mengubah bentuk. Kini kondisi bangunan menjadi terawat, dan atas kreativitas Santoso Doellah bangunan ini diintegrasikan ke Museum Batik Kuno Danar Hadi yang menyimpan 15 ribu batik kuno, outlet Batik Danar Hadi bagi yang ingin membeli kenang-kenangan batik khas Solo, dan café yang menempati bekas paviliun. *** [Berbagai sumber]

0 komentar:

Posting Komentar