Senin, 01 Oktober 2012

Koran Sipatahoenan

Koran Sipatahoenan bisa disebut puncak pencapaian pers di Tasikmalaya sebelum kemerdekaan. Koran ini lahir sebagai hasil rekomendasi kongres Paguyuban Pasundan pada 1923 di Bandung. "Harita nya diputuskeun ngaluarkeun surat kabar mingguan basa Sunda make ngaran Sipatahoenan, sarta ieu surat kabar teh jadi milikna Paguyuban Pasundan cabang Tasikmalaya, nya kitu deui tempatna age di Tasikmalaya".
Sipatahoenan digawangi oleh “duet maut” Soetisna Sedjaja di keredaksian dan Ahmad Atmadja pada administasi. Atmadja kelak dikenal sebagai tokoh pendidikan di lingkunagn Pasundan dan memimpin Bale Pamulangan Pasundan. Sementara Soetisna Sedjaja atau populer sebagai Soetsen, adalah wartawan sejati. Tokoh ini sebelumnya sudah malang melintang menggawangi orgaan Pasoendan yang merupakan kelanjutan dari Papaes Nonoman. Soetsen saat itu menjabat sebagai Sekretaris 1 Pengurus Besar Paguyuban Pasundan atau setingkat sekretaris jenderal untuk ukuran sekarang. Ia mengelola Pasoendan sejak nomor 1, tahun ke 6 (dihitung dari penerbitan Papaes Nonoman pada 1914), 17 Februari 1919.
Salah satu tulisan Soetsen yang sangat berharga selama mengelola Pasoendan adalah laporannya tentang pelantikan bupati Bandung R.T. Wiranatakoesoema, 12 April 1920. Karena Pasoendan terbit bulanan, laporan itu baru terbit pada 5 Mei 1920.  Gaya tulisannya jenaka tapi padat berisi. Ia juga tak lupa menurunkan lengkap pidato Wiranatakoeseoma setelah dilantik sebagai bupati. Laporan Soetsen itu bisa disebut reportase yang lengkap mengenai satu peristiwa yang sangat bersejarah bagi Kabupaten Bandung.
Sipatahoenan memang lahir dari tangan dingin Soetsen. Lokasi terbit di Tasikmalaya semata-mata mengikuti kepindahannya dari Bandung ke Tasikmalaya. Ia seorang guru HIS dan berstatus semacam PNS. Tempat kerjanya kerap berpindah-pindah sesuai penugasan dari pemerintah. Beruntung di Tasikmalaya ia mendapatkan partner yang setara, yakni Ahmad Atmadja.


Bagaimanakah Sipatahoenan dijalankan dengan idealisme dan dedikasi yang seolah musykil itu? Menarik untuk menyimak penuturan Oot Hidajat keopada Abdullah Mustappa pada akhir 1970-an. Oot mantan wartawan Sipatahoenan selagi terbit di Tasikmalaya yang kemudian membantu majalah Mangle. Menurut Oot, setiap pagi seraya membawa sejumlah eksemplar koran, ia menggayuh sepeda ke wilayah kerjanya di bagian Selatan hingga Karang Nunggal. Ia pertama-tama membagikan koran pada pelanggan dan mengisi lapak-lapak pengecer. Lalu ia berkeliling mencari berita dari berbagai sumber. Setelah hari siang sambil pulang ia menagih hasil penjualan koran hari itu atau uang langganan yang sudah jatuh tempo. Maka sekali jalan ia telah menjalankan tiga fungsi sekaligus: distribusi, wartawan, dan keuangan.
Dengan cara militan itulah Sipatahoenan tumbuh, berkembang dan mencapai puncaknya. Terbit mingguan (weekblad), dua minggu sekali, lalu menjadi harian (dagblad). Setelah berjalan baik di Tasikmalaya, Sipatahoenan kemudian ditingkatkan kapasitasnya yang ditandai dengan kepindahan redaksi ke Bandung pada awal 1930-an, setelah Paguyuban Pasundan dipimpin oleh Oto Iskandar di Nata. Sejak saat itulah Sipatahoenan didukung penuh oleh Pengurus Besar Paguyuban Pasundan. Pada 1939, koran ini mencapai puncak kejayaannya dengan peresmian Gedung Sipatahoenan bangunan dua lantai yang megah dan bertempat di jantung kota Bandung, di Jalan Dalem Kaum. Koran ini memang bukan orgaan resmi Paguyuban Pasundan tetapi lebih sebagai corong. Koran ini memuat berbagai persoalan kehidupan secara kritis sehingga pernah dua kali dibeslag. Dari Sipatahoenan lahir sejumlah jurnalis handal seperti Bakrie Soeraatmadja dan Moehamad Koerdi (Sjarif Amin).
Walhasil, sudah sepantasnya jika PWI Tasikmalaya dengan didukung oleh PWI Jabar menjadikan sejarah Sipatahoenan sebagai spirit berkiprah dalam dunia pers. Hal itu bisa diawali dengan mengangkat nama Soetisna Sendjaja sebagai tokoh pers Jabar. Soetsen benar-benar jurnalis sejati. Dalam rentang 1919-1961, Soetsen tidak pernah lepas dari dunia pers Sunda. Sampai wafatnya pada 9 Desmber 1961, ia tengah mengelola kalawarta Kudjang. [Iip D. Yahya, peneliti dan penulis kelahiran Sulawu Tasikmalaya, tinggal di Bandung]
 


Sumber:

0 komentar:

Posting Komentar