The Story of Indonesian Heritage

Monumen Kereta Api dan Makam Pahlawan Kerja

Pada hari Ahad (30/09/2018), sebelum mengunjungi Makam Marhum Pekan terlebih dahulu saudara saya yang bekerja di Balai Bahasa Provinsi Riau mengajak melihat sebuah situs cagar budaya yang bernama Monumen Kereta Api dan Makam Pahlawan Kerja. Monumen tersebut terletak di Jalan Kaharuddin Nasution No.194 Kelurahan Tangkerang Selatan, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Lokasi monumen ini berada di sebelah selatan BCA Kantor Kas Marpoyan ± 350 meter, atau bersebelahan dengan Toko Buku Zanafa 2.
Monumen Kereta Api dan Makam Pahlawan Kerja merupakan saksi sejarah pekerja romusha, dalam pembangunan rel kereta api dari Muaro Sijunjung menuju Pekanbaru yang berjarak 220 kilometer. Muaro Sijunjung adalah salah satu daerah penghasil batu bara saat itu yang berada di Sumatera Barat. Pemerintah Jepang perlu membangun sarana transportasi yang handal dari Muaro Sijunjung ke Pekanbaru untuk mengangkut batu bara. Batu bara tersebut sangat diperlukan untuk kepentingan perang.

Lokomotif Uap C3322 buatan pabrik Esslingen (Jerman)

Untuk memenuhi rencana tersebut, pada bulan Desember 1942 tim inti insinyur Jepang tiba di Pekanbaru. Para insinyur itu tinggal di Pekanbaru, yang menjadi salah satu base camp dalam pembangunan jalur rel kereta api Muaro Sijunjung-Pekanbaru. Pada bulan Maret 1943, sekitar 100.000 romusha mulai menggali fondasi untuk jalur kereta api tersebut.
Mengenai proses pembuatan jalan kereta api tersebut dimulai dari dua arah dalam waktu bersamaan yaitu dari Pekanbaru dan Muaro Sinjunjung. Keduanya kemudian bertemu di Lubuk Ambacang. Sedangkan alat yang digunakan adalah seperti cangkul, tambilang, pisau, sekop, dan lain-lain. Selama pekerjaan ini para romusha bekerja dan hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, tanpa perawatan medis dan sangat sedikit tempat tinggal maupun makanan dasar yang layak. Di samping medan yang susah, kerja di luar batas kemanusiaan ditambah siksaan tentara Jepang menyebabkan banyak romusha yang tewas mengenaskan. Ada 80.000 romusha yang meninggal selama pembangunan jalur rel ini. Sebuah angka kematian yang cukup memilukan.
Para romusha kebanyakan didatangkan dari Jawa. Selain dari orang-orang pribumi yang dikerahkan kerja paksa membangun jalan kereta api Muaro Sijunjung-Pekanbaru ini, juga ada tawanan perang yang terdiri dari orang-orang Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan lain-lain.

Areal Monumen Kereta Api dan Makam Pahlawan Kerja di Pekanbaru

Lizzie Oliver dalam bukunya, “Prisoners of The Sumatra Railway: Narratives of History and Memory” (2017: 2), menjelaskan bahwa pada bulan Mei 1944 rombongan tahanan perang yang terdiri atas interniran (tawanan perang) telah tiba di Pekanbaru dari Pulau Jawa. Sebanyak 4.968 tawanan perang bekerja pada pembuatan jalur rel kereta api Sumatera antara Mei 1944 hingga 15 Agustus 1945 tatkala Jepang menyerah kepada Sekutu. Interniran (prisoners of war) didominisasi oleh Belanda sebanyak 3.866 orang. Sejumlah interniran dari pasukan Inggris, Australia dan Selandia Baru ada 1.066 orang, Amerika sebanyak 15 orang, dan Norwegia ada 1 orang.
Selama pembangunan jalur itu, 673 interniran meninggal. Mayoritas kematian dikaitkan dengan malnutrisi dan penyakit tropis seperti beri-beri, malaria dan disentri. Angka-angka ini tidak termasuk ribuan interniran yang mati ketika kapal kargo Jepang Junyo Maru yang mengangkut mereka ke Sumatera untuk bergabung dengan para pekerja lainnya di jalur itu ditenggelamkan oleh tembakan torpedo kapal selam Inggris HMS Tradewind di lepas pantai barat Sumatera pada 18 September 1944 pukul 16.15.

Papan penanda situs yang berisi storyline

Kapten kapal selam tersebut tidak tahu bahwa kapal uap Junyo Maru setinggi 400 kaki dengan berat 5.000 ton itu sedang membawa lebih dari 6.000 orang yang terdiri dari 4.200 pekerja paksa asal Jawa (dikenal sebagai romusha) dan 2.300 tahanan perang Jepang (interniran). Kapal itu tenggelam dalam waktu satu jam setelah kena torpedo, dan lebih dari 5.000 penumpang hilang tersapu ombak. Peristiwa ini merupakan salah satu bencana maritim paling mematikan dalam Perang Dunia II.
Kondisi di atas kapal Junyo Maru sendiri, yang berangkat dari Batavia dua hari sebelum tekena torpedo, sangatlah mengerikan. Para tahanan dijejalkan ke dalam ruang tahanan tanpa makanan maupun air, dan mereka merasa sesak napas lantaran tidak bisa bergerak di dalam ruangan tersebut. “Pegangan yang kekar dan berbau menyengat itu seperti oven berisi panggangan yang gosong,” tulis Willem Wanrooy, seorang Belanda yang selamat dari tenggelam.
Potret kelam romusha ini diabadikan dalam bentuk Monumen Kereta Api dan Makam Pahlawan Kerja di Kota Pekanbaru. Monumen ini ditandai dengan dipajangnya sebuah lokomotif uap C3322 berwarna hitam legam beserta gerbongnya yang berdekatan dengan Monumen Pahlawan Kerja dalam satu areal.
Monumen bersejarah ini diresmikan oleh Gubernur Riau R.H. Soebrantas Siswanto pada tahun 1978 sebagai bentuk penghormatan kepada korban pembangunan rel kereta api Muaro Sijunjung-Pekanbaru, yang bekasnya sudah sulit ditemui secara utuh lagi. Sejak tahun 1975 masyarakat sudah membongkar rel yang membentang dari Pintu Batu sampai Pekanbaru, lalu menjualnya secara kiloan.
Dari 23 lokomotif uap C33 yang didatangkan dari pabrik Esslingen (Jerman) oleh maskapai Staatsspoorweg ter Sumatera’s Westkust (SSS) pada tahun 1891-1904, saat ini masih tersisa 4 unit, yaitu C33 tanpa nomor urut, C3318, C3322, dan C3325. C3318 (mulai operasional tahun 1891) disimpan di Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. C3322 (mulai operasional tahun 1892) dipajang di Kota Pekanbaru, Riau. C3325 (mulai operasional tahun 1892) dipajang di Kota Padang, Sumatera Barat dan C33 tanpa nomor urut kini berada di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
Lokomotif uap seri C33 ini memiliki susunan roda 2-6-0T, dan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 45 km/jam serta memiliki daya 390 HP (horsepower). Dengan berat keseluruhan 37 ton, lokomotif ini berbahan bakar batu bara. Pada masa pemerintahan Jepang, beberapa lokomotif C33 digunakan untuk melayani jalur kereta api rute Muaro (Sumatera Barat)-Pekanbaru (Riau).
Sejarah mencatat bahwa selain dipakai untuk mengangkut material, loko C33 juga pernah digunakan untuk membawa tawanan perang menuju kamp kerja paksa pada pembangunan jalur rel kereta api yang dikenal dengan sebutan jalur Death Railway Muaro-Pekanbaru.
Monumen yang berdiri di atas lahan berukuran 45,6 m x 33,5 m ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai cagar budaya dengan Nomor Inventaris: 04/BCB-TB/B/01/2014. Namun ketika penulis berkunjung ke sana, tak banyak warga yang mengunjunginya. Terlihat sepi! Padahal monumen ini cukup melegenda kisahnya di seantero jagat sebagai salah satu tragedi besar maritim dalam Perang Dunia II. *** [300918]

Kepustakaan:
Prayogo, Y.B., Prabowo, T. & Radityo, D. (2017). Kereta Api di Indonesia: Sejarah Lokomotif Uap. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher
Shigeru Sato, Prisoners of the Sumatra Railway: Narratives of History and Memory, by Lizzie Oliver, The English Historical Review, Volume 134, Issue 569, August 2019, Pages 1058–1059, https://doi.org/10.1093/ehr/cez190
https://www.historyextra.com/period/second-world-war/the-forgotten-death-railway/

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Follow by Email

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami