Minggu, 18 Maret 2012

Masjid Sunan Ampel


Sesuai permintaan Ratu Dwarawati, seorang putri dari Campa yang menjadi permaisuri Bhre Kertabumi atau yang dikenal juga dengan sebutan Brawijaya V, dan atas persetujuan Raja Brawijaya V, maka Sayyid Ali Rahmatullah diminta untuk memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mereka mempunyai budi pekerti mulia. Permintaan itu dipenuhi oleh Sayyid Ali Rahmatullah.
Keberangkatan Sayyid Ali Rahmatullah ke Tanah Jawa ditemani oleh ayahnya, yakni Syekh Maulana Ibrahim Samarqandi dan kakaknya Sayyid Ali Murtadho. Bersama para utusan Kerajaan Majapahit, mereka pun meninggalkan Negeri Campa. Mereka tidak langsung menuju ke kerajaan itu melainkan mendarat lebih dulu di Tuban. Dan di kota pelabuhan ini, tepatnya di Desa Gesikharjo, Syekh Maulana Ibrahim Samarqandi yang sebelumnya memang sudah sakit, akhirnya meninggal dunia.
Sementara itu, Sayyid Ali Murtadho meneruskan pelayarannya ke Madura, kemudian Nusa Tenggara hingga akhirnya sampai ke Bima. Sedangkan, Sayyid Ali Rahmatullah kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke Kerajaan Majapahit.
Sesampainya di Kerajaan Majapahit, Sayyid Ali Rahmatullah disambut oleh Ratu Dwarawati, yang tak lain adalah bibinya sendiri, dan disuruh tinggal sementara di ibu kota Majapahit. Sambil menikmati kemegahan ibu kota Majapahit, Sayyid Ali Rahmatullah juga mulai mempelajari kehidupan masyarakat Majapahit untuk bekal kelak ketika menjalankan dakwahnya.
Sayyid Ali Rahmatullah juga dijodohkan dengan salah satu putri Majapahit yang bernama Dewi Condrowati, yang kelak bernama Nyai Ageng Manila. Karena dia adalah menantu Raja Majapahit, maka Sayyid Ali Rahmatullah juga dianggap sebagai Pangeran Majapahit.
Sebenarnya kehidupan kraton bukanlah hal yang baru bagi dirinya, sebab sebelumnya ia juga tinggal di Kerajaan Campa. Sebagai menantu raja, maka Sayyid Ali Rahmatullah mendapat gelar Raden di depan namanya. Maka jadilah ia bernama Raden Sayyid Ali Rahmatullah atau biasa disebut dengan Raden Rahmat.
Setelah dirasa cukup tinggal berbulan-bulan di ibu kota Majapahit, Raden Rahmat dengan diiringi rombongan meninggalkan ibu kota untuk segera melaksanakan permintaan bibinya dalam memperbaiki moral pejabat maupun masyarakat Majaphit yang konon sudah kelewat parah dengan perjudian, mabuk-mabukan, mencuri, menghisap candu dan gemar main perempuan yang bukan istrinya.
Dalam perjalanannya yang melalui jalur Sungai Brantas menuju daerah Ampel Denta, tanah yang dipinjamkan oleh Raja Majapahit, Brawijaya V, Raden Rahmat tidak langsung menuju ke sana. Ketika melintas di daerah Kembang Kuning, Raden Rahmat tertarik untuk tinggal sementara di daerah tersebut. Raden Rahmat dan rombongan tinggal di Kembang Kuning untuk beberapa lama sambil melakukan dakwah. Di daerah ini, Raden Rahmat mendirikan surau kecil yang cukup sederhana, terbuat dari bambu dan beratapkan dedaunan rumbia, untuk menjalankan syiarnya tersebut (kini surau tersebut telah menjadi Masjid Rahmat).
Lalu, setelah dirasa cukup tinggal di Kembang Kuning sambil berdakwah, Raden Rahmat beserta rombongannya melanjutkan perjalanan untuk menuju ke Ampel Denta, tanah yang dipinjamkan Raja Mahjapahit seluas 12 hektar untuk dijadikan sebagai pusat untuk mendidik moral pejabat beserta kerabatnya yang telah mengalami dekadensi moral.
Sesampainya di sebuah delta tempat pertemuan antara Kali Mas dan Sungai Pergirian, Raden Rahmat tertarik untuk tinggal beberapa waktu sambil menjalankan dakwahnya di daerah tersebut. Di situ, Raden Rahmat juga mendirikan sebuah mushola yang lebih besar ketimbang yang dibangun di Kembang Kuning.
Awalnya, mushola yang dibangun cukup sederhana seperti di Kembang Kuning namun lebih luas dan tiang penyangganya pun terbuat dari kayu jati, dan langit-langitnya pun juga terbuat dari kayu jati (kini mushola tersebut telah menjadi Masjid Peneleh).
Setelah dirasa cukup tinggal di daerah Peneleh, Raden Rahmat beserta rombongan melanjutkan perjalanannya menuju ke Ampel Denta. Di Ampel Denta, Raden Rahmat mendirikan tempat ibadah lagi yang ketiga, yaitu sebuah masjid. Pembangunannya dilakukan oleh penduduk pribumi yang kelak menjadi santri-santrinya pada tahun 1421 M. Masjid itu kelak dikenal dengan sebutan Masjid Sunan Ampel.
Masjid Sunan Ampel terletak di Jalan Nyamplungan Gang Ampel Masigit, Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
Awalnya, bangunan masjid sekitar 2.069 meter persegi merupakan bangunan tajug tumpang dua dengan konstruksi kayu dan beratap genteng. Dalam bangunan induk juga terdapat bangunan menara yang menjulang tinggi ke atas. Di sekeliling bangunan induk ini terdapat bangunan serambi yang menurut catatan yang ada, merupakan bangunan perluasan pertama kali pada tahun 1870-1872. Pada serambi ini, dibuat dinding yang tinggi dengan pintu dan jendela yang besar yang mengisyaratkan bahwa usai renovasi tersebut, bangunan tersebut berlanggam Indische Empire.
Usai perluasan yang pertama kali tersebut, Masjid Sunan Ampel mengalami perluasan sebanyak tiga kali, yakni tahun 1926, 1954, dan 1972. Dan, sejak 1972 kawasan masjid ini telah ditetapkan menjadi tempat wisata religi oleh Pemkot Surabaya.
Untuk menuju ke bangunan masjid, pada halamannya terdapat lima pintu gerbang (gapura. Di sebelah selatan, terdapat gapura Munggah dan gapura Poso. Gapura Madep berada  di sebelah barat bangunan induk, dan dua lainnya, adalah gapura Ngamal dan gapura Paneksen.
Hingga kini, bangunan masjid ini masih terlihat kokoh. Dan  kemegahannya mempesona siapa pun yang menyaksikan masjid tersebut. Sekarang, masjid ini diberi nama Masjid Agung Sunan Ampel.
Masyarakat di sekitar masjid ini dahulunya adalah para santri dan anak cucu Sunan Ampel. Sekarang mereka telah berbaur dengan para pendatang lainnya. Meskipun begitu, mereka tetap memakmurkan masjid yang bersejarah ini. Keikutsertaan mereka dalam memakmurkan masjid tersebut merupakan wujud partisipasi dalam meneruskan perjuangan Sunan Ampel.
Mengenai Masjid Sunan Ampel sendiri ternyata ada dua. Masjid Ampel yang didirikan Sunan Ampel berukuran kecil dan terletak di sebelah timur. Masjid Ampel yang asli memiliki genting berwarna coklat tua dan terletak bersebelahan dengan Pasar cinderamata. Sedangkan Masjid Ampel yang baru memiliki genting bewarna merah cerah, berukuran lebih besar dan langsung berhadapan dengan pasar cinderamata. ***

Kepustakaan:
Abdul Baqir Zein, 1999, Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press
K.H. Dachlan, 1989, Wali Songo, Kenang-kenangan Haul Agung Sunan Ampel ke-544, Surabaya
http://simbi.bimasislam.com/simas/index.php/profil/masjid/564/?tipologi_id=3

0 komentar:

Posting Komentar