Kamis, 31 Mei 2012

Asal Mula Upacara Kasada

Dahulu hiduplah satu keluarga yang tenteram. Suami isteri tersebut bernama Ki Seger dan Nyai Anteng. Mereka berdua suami isteri hidup rukun. Tidak pernah terlintas kemurungan maupun kesedihan dalam wajahnya. Sungguh mereka merasakan nikmat kebutuhan hidup mereka. Keadaan alam sekitar tempat tinggal suami isteri tersebut sangatlah menyenangkan.
Udara bersih, tanah subur, air sungai mengalir dengan bersihnya. Memang suasana alam pun ikut membantu kedamaian hidup suami isteri. Hari-hari telah dilaluinya dengan cepat. Usia pun merambat dengan cepat.
Kebahagiaan dan kedamaian telah dilaluinya. Barulah mereka tersentak dan sadar bahwa mereka pun merasakan kesepian tanpa kehadiran anak sampai usia senja.
Keinginan mempunyai anak semakin besar. Mereka menempuh jalan dengan cara bersemedi agar mendapatkan anak. Setiap hari mereka berdoa di kaki Gunung Bromo. Karena doa dan tapa tiada henti setiap hari, akhirnya mereka pun dikabulkan oleh Dewa Brahma.
Pada saat bertapa, Nyai Anteng mendengar suara bahwa kelak ia akan melahirkan dua puluh lima orang anak, asal anak pertama harus dikorbankan.
Saat itu Nyai Anteng menyatakan kesediaannya. Yang penting segera dikaruniai anak. Waktu berjalan terus. Apa yang didengar waktu bersemedi menjadi kenyataan. Nyai Anteng hamil. Mereka berdua merasa senang dan bahagia, karena anak yang didambakan akhirnya akan datang juga.
Setelah genap bulannya, Nyai Anteng melahirkan seorang anak laki-laki. Anak tersebut diberi nama Kusuma. Bayi tersebut tumbuh dengan cepatnya. Badannya sehat, dan lagi wajahnya tampan. Mereka memelihara anak dengan penuh kasih sayang. Anak Nyai Anteng pun genaplah berjumlah 25 orang anak. Mereka hidup dengan penuh kegembiraan dan ketenteraman. Sampai-sampai Nyai Anteng dan Ki Suger lupa akan janjinya.


Meski lama tenggang waktunya, namun janji tetaplah janji. Pada saatnya akan ditagih juga. Gunung Bromo mulai memberi tanda-tanda peringatan. Suara Gunung Bromo gemuruh, asap berkepul-kepul. Nyai Anteng dan Ki Seger pun teringat akan janjinya.
Perasaan sedih dan sesal meresahkan hati mereka. Bagaimana mungkin mereka akan tega melemparkan anak kesayangannya ke kawah Gunung Bromo? Mereka berdua berusah menghilangkan perasaan sedih. Seandainya dapat diganti persembahan kepada dewa di Gunung Bromo bukan anaknya melainkan dirinya. Hal itu tak mungkin terjadi. Dewa menghendaki anaknya yang pertama, bukan dirinya yang sudah tua.
Dari hari ke hari, Nyai Anteng semakin menderita tekanan batin, karena harus menyerahkan anak pertama yang paling tampan dan paling disayang. Sementara Gunung Bromo semakin bereaksi terus. Letusan-letusan mulai terjadi, lelehan lahar pun dengan derasnya. Saat itu pun Nya Anteng bermimpi bahwa Dewa Brahma menagih janji. Bila tidak ditepati, kedua puluh lima anaknya sekaligus akan diminta secara paksa.
Selesai mendengar ucapan Dewa Brahma, terbangun Nyai Anteng dari tidurnya. Ia tidak dapat berbicara, ia hanya menangis terus, teringat akan mimpinya.
Kusuma anak pertama, sudah menginjak dewasa. Ia melihat ibunya sedih terus setiap hari. Maka bertanyalah Kusuma kepada ibunya, “Mengapa ibu nampak sedih? Apakah boleh saya mengetahui sebab musababnya, Bu?”
Jawab Nyai Anteng, “Anakku, Kusuma! Ibumu harus mengorbankan engkau di kawah Gunung Bromo. Ibumu tidak sampai hati untuk melemparkan dirimu, Nak! Apabila tidak, semua saudaramu dan engkau akan diambil secara paksa oleh Dewa Brahma.”
Mendengar kata-kata ibunya, Kusuma tertegun diam seribu bahasa. Hatinya sedih. Namun kemudian ia berkata. “Sudahlah, Bu! Hilangkan perasaan hati ibu. Saya bersedia menjadi korban demi ayah ibu, adik-adik serta keselamatan orang-orang Tengger pada umumnya. Saya rela menjadi korban, Bu!”
Begitu terharu mendengar kata-kata anaknya hingga sang ayah dan ibunya jatuh pingsan. Pada hari yang telah ditentukan, dibawalah Kusuma ke kawah Gunung Bromo. Ia diserahkan sebagai korban. Kemudian ia dilemparkan ke kawah Gunung Bromo dengan disaksikan oleh orang-orang di sekitar kaki Gunung Bromo.
Korban Kusuma oleh Nyai Anteng dan Ki Seger diterima oleh Dewa. Sejak peristiwa itu Gunung Bromo tidak lagi terdengar suara gemuruh. Jadilah Gunung Bromo tenteram, tenang, kembali seperti semula. Petani mulai mengerjakan sawah dengan tenteram dan aman. Demikian juga Nyai Anteng dan Ki Seger serta kedua puluh empat anaknya hidup dengan tenang. Sampai kini masyarakat Tengger mengadakan upacara korban di bawah Gunung Bromo untuk menghormati roh Kusuma. Namun yang dijadikan korban bukan lagi manusia melainkan berupa sesaji kepala kerbau dan hasil panen lainnya. ***

Sumber:
§  MB. Rahimsyah, ____, 27 Cerita Rakyat Nusantara, Surakarta: CV. Bringin 55, hal. 9 – 12.

0 komentar:

Posting Komentar