Sabtu, 07 Juli 2012

Pelabuhan Banten Abad 17-18

Penguasa Kerajaan Banten (Islam) yang pertama adalah Sultan Hasanuddin. Ia memindahkan Keraton Banten dari pedalaman (Girang) ke dekat Pelabuhan Banten. Ibukota Banten yang bernama Surosowan, dipindahkan tak jauh dari muara Kali Banten. Sungai berair jernih yang lebarnya sekitar 9 mil ini, membelah Kota Banten serta dapat dilayari kapal-kapal besar.
Setelah menjadi kesultanan, Pelabuhan Banten menjadi lebih ramai, bahkan dapat menyaingi Malaka dan mengalahkan posisi Sunda Kelapa. Para penguasa sesudah Sultan Hasanuddin menikmati kejayaan Kesultanan Banten karena pelabuhannya menjadi pusat perdagangan kelas dunia. Gudang-gudang di Pelabuhan Banten dipenuhi dengan berbagai barang dari penjuru dunia.
Namun di awal abad ke-17, peran Pelabuhan Banten sebagai bandar niaga besar mulai mengalami pasang surut. Perang saudara dalam memperebutkan tahta sering terjadi. Namun, setelah Sultan Ageng Tirtayasa naik tahta (1651), Banten kembali Berjaya. Sebagai seorang yang ahli strategi, ia mengizinkan perdagangan bebas serta menolak monopoli VOC Belanda. Pada akhir abad ke-17, VOC berhasil menguasai Banten melalui politik adu dombanya. Pelabuhan Banten akhirnya tak lagi menjadi pelabuhan bebas, karena sudah terikat perjanjian dengan pihak VOC.
Pelabuhan Banten perlahan tapi pasti, mulai kehilangan pamornya sebagai bandar internasional. Pergolakan politik yang terus terjadi membuat Kesultanan Banten dan pelabuhannya semakin terpuruk. Abad ke-18 merupakan saksi kesuraman Pelabuhan Banten. Kejayaan bandar niaga ini berakhir ketika kesultanan dikalahkan Belanda. Banten pun dikuasai VOC dengan sistem monopolinya yang tidak menguntungkan Banten. ***   

0 komentar:

Posting Komentar