Selasa, 25 September 2012

GPIB Purworejo

Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Purworejo terletak di Jalan Urip Sumoharjo No. 24 Purworejo, atau tepatnya di sebelah timur alun-alun.
GPIB termasuk Gereja Protestan atau Indische Kerk. Awalnya, gereja ini sering disebut sebagai “gereja pemerintah”, karena kala itu gereja ini dipimpin oleh seorang pendeta yang adalah pegawai pemerintah. Gereja ini didirikan pada tanggal 12 November 1879 dengan arsitektur gaya Eropa beratap pilar dan pilaster bergaya Yunani (neoghotic).
Gereja ini memiliki luas areal sekitar 1.450 m², dan telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten setempat sebagai cagar budaya dengan nomor inventarisasi 11-06/Pwr/TB/1.

Arsitektur Gereja
GPIB berupa bangunan dengan arsitektur kolonial yang dicirikan dengan adanya pilar dan pilaster di bagian depan bangunan. Pada bagian depan bangunan gereja terdapat teras berdenah ukuran 1,5 x 3 meter berada di depan pintu utama.
Penutup teras dari beton bertulang berbentuk lengkung setengah lingkaran yang ditahan oleh 2 pilar kolom dengan garis tengah 50 cm, dan 2 buah pilaster. Konstruksi pilaster dan kolom tersebut sekaligus merupakan penahan struktur menara lonceng setinggi 15 meter dari lantai.


Sedangkan, bangunan utama gereja ini berdenah ukuran 8 x 23 meter. Dilihat dari struktur bangunannya, dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu bangunan utama dan bangunan pelengkap. Bangunan utama memiliki ukuran 8 x 15 meter. Atap bangunan berbentuk pelana dengan kemiringan 50 derajat, tanpa tritisan. Konstruksi atap kuda-kuda dari kayu jati dengan penutup atap genteng flams. Kuda-kuda berjarak 3 meter menumpu pada pilar tembok ukuran 60 x 60 cm, dan dinding setebal 30 cm dengan ketinggian beberapa meter dari lantai. Di atas tembok sisi utara dan selatan terdapat talang kantong gorong-gorong air, dan pralon.  Langit-langit bangunan utama terbuat dari kayu jati berada di bawah kuda-kuda. Secara structural, bangunan utama terdiri dari satu ruangan dengan satu buah pintu utama dan lima buah pintu penghubung serta sebagai penerangan terdapat delapan buah jendela. Jendela berbentuk lengkung lancip pada puncaknya. Secara fungsional bangunan utama memiliki tiga ruangan, yaitu ruang mimbar, ruang jemaat, dan ruang transit.
Ruangan mimbar berukuran 130 x 180 cm, dengan lantai tegel “gelar” abu-abu setinggi 80 cm dari lantai jemaat. Pembatas mimbar berupa dinding dari papan jati setinggi satu meter. Di depan mimbar, selebar ruang utama dibuat altar dengan ketinggian 40 cm dari lantai ruang jemaat.


Ruang jemaat memiliki ketinggian 60 cm dari tanah halaman. Lantai terbuat dari peluran yang dibuat nat-nat interval 53 cm. Sedangkan, ruang transit merupakan sebuah ruangan berdenah ukuran 3 x 3 meter dengan dinding papan jati dengan tiga buah pintu. Ruang transit terletak di sebelah dalam pintu utama.
Selain itu, di gereja tersebut juga terdapat bangunan sarana yang terdiri dari tempat ganti pendeta dan kantor pengurus gereja. Letak bangunan sarana di sbelah timur bangunan utama. Bangunan sarana mempunyai atap berbentuk limasan di sisi timur  dan pelana di sisi barat (menempel pada tembok utama). Konstruksi atap menggunakan kuda sedukan dengan penutup atap berupa genteng flams ditahan oleh tembok setebal 30 cm setinggi 4 meter.
Struktur ruangan sarana dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu sisi timur berdenah ukuran 5 x 8 meter sebagai ruang kantor. Lantai ruangan dari tegel abu-abu, di dinding utara dan selatan terdapat dua buah jendela, salah satu jendela (jendela sisi selatan) diturunkan letaknya dan dialihfungsikan sebagai pintu penghubung ruang kantor dengan rumah pendeta. Pada dinding timur terdapat pintu keluar menuju ke selasar belakang bangunan. Langit-langit ruangan ditutup dengan eternit yang menempel pada usuk mengikuti kemiringan atap.
Di atas ruang ganti pendeta, terdapat loteng yang difungsikan sebagai gudang. Untuk naik ke loteng menggunakan tangga kayu yang masih difungsikan sampai sekarang.

Jemaat Tertua
Setelah melalui perjalanan yang “tidak mudah”, dimulai dari pewartaan Injil oleh Christina Petronella atau Nyonya Phillips (semenjak menikah dengan Carolius Phillips) hingga Ds. L. Andriaanse (1895), jemaat ini mengalami berbagai perubahan yang disebabkan oleh ambisi-ambisi manusiawi para pimpinannya.
Jemaat kota Purworejo memilih tetap dalam asuhan Zending. Sehubungan dengan itu, pada tanggal 28 Januari 1900 Ds. L. Andriaanse dalam kebaktian minggu di rumahnya di Plaosan, menetapkan jemaat Purworejo sebagai jemaat mandiri di bawah asuhan Gereja Gereformeede Nederland, yang mengutus Ds. L. Andriaanse sebagai pendeta utusannya. Maka untuk Jawa Tengah bagian selatan jemaat ini termasuk jemaat yang tertua.
Selanjtunya, pada hari Kamis, 1 Februari 1900 Ds. L. Andriaanse mengundang empat orang untuk membentuk Majelis Gereja. Mereka adalah Timotius Reksadimurti, anak Abisal Reksadiwangsa, pembantu Nyonya Phillips. Ia menjadi guru Injil pembantu Ds. L. Andriaanse. Selanjutnya, Yakobus Sapin, guru sekolah Zending di Pangen, pembantu J.P. Zuidema. Dan, yang dua orang lagi bernama Semiyon dan Hakim.
Majelis Gereja ini diteguhkan dalam Kebaktian Minggu, tanggal 4 Februari 1900 dengan menandatangani 12 Fasal Pengakuan Iman Rasuli sebagai dasar ajaran Gereja. Perlu segera memberitahukan berdirinya gereja tersebut kepada Gereja Pengutus di Utrech, dan minta Ds. L. Andriaanse, pendeta utusan itu untuk membantu gereja tersebut mengajar dan melayani sakramen selama belum mempunyai Pendeta Jawa sendiri. Karena sudah lama tidak ada pelayanan perjamuan kudus, maka ditetapkan tanggal 15 April 1900 bertepatan dengan hari raya Paskah diadakan Perjamuan Kudus. ***

Kepustakaan:

  • Buku Pendataan Teknis Gereja GPIB Kabupaten Purworejo, yang dikeluarkan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jawa Tengah Tahun 1994/1995, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku ini menjadi arsip GPIB Purworejo tertanggal 9 Februari 1995.

  • Buku Kenangan HUT ke-90 GKJ Purworejo tertanggal 28 Januari 1990.

0 komentar:

Posting Komentar