Rabu, 26 September 2012

Nyonya Phillips (1825 - 1876)

Pemberitaan Injil bagi orang Jawa di Karesidenan Bagelen dimulai oleh Nyonya Phillips tahun 1860 di Desa Ambal, Kabupaten Kebumen. Ia lahir dengan nama Christina Petronella pada 17 November 1825 di Yogyakarta.  Ayahnya seorang Belanda bernama Stevens, dan ibunya adalah orang Jawa, sehingga sejak kecil ia dapat berbahasa Jawa dan bergaul dengan orang Jawa di samping orang Belanda. Ia menikah dengan seorang Indo juga bernama Johannes Carolius Phillips, pengawas perkebunan nila dan tinggal di Ambal, maka ia dikenal sebagai Nyonya Phillips.
Tahun 1859 Ny. Phillips tergugah hatinya untuk memberitakan Injil kepada orang Jawa, setelah kedatangan tamu orang Jawa yang sudah menjadi Kristen dari Jawa Timur. Ia merasa heran bahwa ada orang Jawa yang menjadi Kristen, bahkan orang itu mendorongnya agar memberitakan Injil kepada orang Jawa di sekitarnya. Saudara Tuan Phillips, yaitu Ny. Van Oostrom di Banyumas yang pedagang batik juga sudah berbuat demikian. Ny. Van Oostrom membawa 9 orang Jawa, pembantu-pembantunya ke Semarang untuk menerima baptis pada tanggal 10 Oktober 1858 oleh Ds. Hoezoo.
Peristiwa itu menggugah Ny. Phillips untuk memberitakan Injil kepada pembantu-pembantunya. Ternyata berhasil. Pada 27 Desember 1860, 5 orang pembantunya terdiri dari 2 pria, dan 3 wanita menerima baptis di Gereja Protestan Purworejo, dilayani oleh Ds. B. Braams. Inilah orang Kristen dari suku Jawa menjadi Kristen di daerah Bagelen, sebab yang lain orang Yogyakarta. Satu dari murid Ny. Phillips ini memiliki nama baptis Cephas, yang kemudian menjadi fotografer terkenal di Yogyakarta, yang membuat gambar relief-relief yang tersembunyi dari Candi Borobudur atas perintah Ir. Ijzerman tahun 1890.
Tahun 1862 Tuan Phillips pensiun dan pindah ke Purworejo, tinggal di kampung Tuksongo. Di sini, Ny. Phillips melanjutkan memberitakan Injil kepada orang Jawa, dan juga orang China. Beberapa orang dari Jawa Timur, dan dari Jepara bekas murid Kyai Tunggul Wulung juga belajar agama Kristen di rumah Ny. Phillips. Karena mengalami kesulitan bahasa, murid Ny. Phillips mengadakan kebaktian bukan di Gereja Protestan melainkan di gereja kecil yang dibangun di halaman rumah Ny. Phillips di Tuksongo. Di antara murid yang kemudian menjadi pembantu Ny. Phillips ialah Abisai Reksadiwangsa. Ia berasal dari Jepara, murid Kyai Tunggul Wulung. Adapun Kyai Tunggul Wulung adalah orang Juwana (Pati), yang semula bernama Ngabdullah. Ia pergi ke Kediri dan pernah bertapa (mendito) di G. Kelud kemudian menjadi Kristen setelah bertemu dengan Ds. Jellesma di Mojowarno. Selanjutnya, ia menjadi penginjil di Jawa, gemar mengembara dan mendirikan desa-desa Kristen di sekitar lereng G. Muria. Abisai Reksadiwangsa adalah murid Tunggul Wulung, dalam tahun 1863 ia bermaksud ke Banyumas menemui Ny. Van Oostrom namun singgah dulu di Tuksongo. Sekembalinya dari Banyumas tahun 1865, ia membantu Ny. Phillips. Ia sendiri baru dibaptis bersama teman-teman lainnya pada tahun 1868 oleh Ds. Hanegraat di Gereja Protestan Purworejo. Selanjutnya Ny. Phillips mendapat bantuan dari Taroeb, murid Poensen dari Kediri, yang ditugasi memberitakan Injil di Ambal. Namun, karena kurang berhasil ia kembali ke Kediri. Tahun 1869 Ny. Phillips mendapat pembantu lagi yaitu Sadrach yang ditugasi di Kutoarjo dan sekitarnya. Sebelum Sadrach datang, murid Ny. Phillips baru ada 29 orang. Namun setelah Sadrach datang, jumlah orang Jawa yang dibaptis semakin banyak.  Pada saat Ny. Phillips wafat pada 23 Mei 1876, jumlah orang Kristen Jawa sudah lebih dari 1.000 orang. Ny. Phillips akan merasa bangga bahwa hasil jerih payahnya selama 16 tahun memberitakan Injil tidaklah sia-sia. Meski usianya hanya sampai 51 tahun, Tuhan Yesus Raja Gereja memandang cukup, dan memberi kepada hambanya peristirahatan dalam damai. Setahun kemudian, tepatnya pada 11 Juni 1877 Tuan Phillips menyusul menerima panggilan Tuhan. ***

Sumber:
  • Buku Cetakan milik GPIB Purworejo hal. 1 - 2

0 komentar:

Posting Komentar