Sabtu, 30 Juni 2012

DARI JAYAKARTA KE BATAVIA

Ketentraman dan ketertiban kota Jayakarta mulai goyah dan timbullah perselisihan sejak VOC di bawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen melanggar perjanjian dengan membuat lojinya menjadi perbentengan yang kuat dengan bahan-bahan batu. Tindakan ini menimbulkan kemarahan Pangeran Jayakarta Wijayakrama. Karena sudah tidak sabar lagi, dengan bantuan dari orang-orang Inggris yang bentengnya tidak berjauhan dengan VOC, pada 23 Desember 1618 Pangeran Jayakarta mengadakan persiapan serangan besar-besaran melawan VOC. Karena takut terjepit oleh serangan tentara Pangeran Jayakarta, pada 31 Desember 1618 kapal-kapal Belanda di bawah pimpinan JP Coen meninggalkan Jayakarta menuju Maluku untuk menghimpun armada perang. Sementara, peristiwa pengepungan benteng tersebut diketahui pula oleh pihak Banten dan karenanya mengirim kapal-kapal dengan tentaranya ke Teluk Jakarta dan Muara Ciliwung dikepung kapal-kapal dari Banten. Pada 1 Februari 1619, Admiral inggris Th Dale yang melihat kapal-kapal Banten yang sudah mengepung sehingga ia merasa tidak mampu untuk menghadapinya. Dalam situasi yang kritis itu, akhirnya Pangeran Jayakarta diambil untuk kemudian di bawa ke Banten. Daerahnya langsung di bawah pengawasan Mangkubumi Banten.
Pada 1619, tanpa diduga kapal yang ditumpangi JP Coen tiba dari Maluku dan dengan cepat melakukan serangan berkekuatan 1.000 orang. Karena pihak jayakarta waktu itu sedang kekosongan pimpinan yang tangguh dan berani, dengan sendirinya tentara Belanda tidak mendapat serangan balasan yang hebat. Rakyat Jayakarta dan para pemimpinnya, kecuali Pangeran Jayakarta Wijayakrama yang sudah berada di Banten, mundur dan akhirnya pada 30 Mei 1619, Kota Jakarta jatuh ke tangan VOC di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen yang kemudian mengganti nama Jakarta dengan sebutan Batavia. ***

0 komentar:

Posting Komentar