Jumat, 15 Juni 2012

Tari Legong

Asal mula legong tidak jelas, namun adat yang paling diterima luas dikemukakan oleh mendiang I Ketut Rinda, seorang seniman dan pakar naskah kuna Bali, bahwa tari ini didasari oleh “sejarah silsilah” Putri Sukawati, Babad Dalem Sukawati.
Pada abad ke-19, I Dewa Agung Made Karna, Raja Sukawati, dalam tapabratanya melihat dua bidadari jelita dengan busana gemerlap menari anggun. Ketika terjaga, ia memanggil kepala desa Ketewel untuk membuat topeng yang menyerupai wajah kedua bidadari dan sebuah tari perwujudan atas penglihatannya. Tari yang baru itu disebut topeng dadari, sanghyang legong, atau legong topeng. Tari itu mengilhami para seniman desa Blahbatu untuk menciptakan tari sejenis yang disebut nandir, yang kelak mengilhami para seniman Gianyar, yang di bawah pengayoman Raja Gianyar menggubah tari legong baru, serupa dengan yang kita saksikan sekarang.
Legong sering dianggap orang luar sebagai lambang keindahan budaya Bali klasik. Ada yang mengagumi karena penarinya - dua sampai tiga gadis muda usia mengenakan busana warna-warni gemerlapan dan tutup kepala indah penuh dengan bunga - atau karena keindahan seni yang terletak pada hubungan selaras antara gerak dan gamelan. ***

0 komentar:

Posting Komentar