The Story of Indonesian Heritage

Percetakan Joh. Enschedé

Percetakan Joh. Enschede menjadi terkenal karena selama hampir dua abad mencetak uang kertas Belanda dan uang kertas yang beredar di negara jajahan Belanda. Tiga abad yang lalu, tepatnya pada tanggal 21 Juni 1703, Isaak Enschede, putra seorang pembuat jam asal Groningen, membuka percetakan kecil di Franskestraat, Haarlem-Nederland. Sebagai pencetak berijazah, bersama istrinya menjalankan usaha ini, hingga pada tahun 1734 putranya yang bernama Johannes ikut bergabung.
Pada pertengahan abad ke-18, Johannes berhasil mengembangkan usahanya menjadi sebuah perusahaan bergengsi. Haarlem yang sejak dulu terkenal sebagai produsen bir, kapal, dan kerajinan tekstil oleh Joh. Enschede dijadikan pusat percetakan terkemuka. Di bawah manajemen Johannes, percetakan ini menjadi perusahaan local yang besar. Banyak keluarga di Haarlem secara turun-temurun bekerja di sana dan memperoleh penghasilan dengan mencetak jutaan lembar uang kertas, perangko, cek, sertifikat saham, banderol cerutu, dan pita cukai rokok. Demikian pula cetakan istimewa seperti buku seni, Injil, dan Al-Qur’an. Satu peristiwa penting dalam tahun 1743 adalah perluasan perusahaan dengan tempat penuang huruf cetak. Dalam tempo 25 tahun, Johannes menjadikannya kebanggaan perusahaan, terutama berkat kecakapan para pembuat cap. Ketika pasukan revolusioner Perancis menyerang Belanda pada tahun 1795 dan mendirikan Bataafsche Republiek, untuk pertama kali dibutuhkan formulir pajak nasional. Tender berhasil dimenangkan oleh Joh, Enschede berkat dua hal, yaitu kemampuan untuk melindungi dokumen  berharga dari pemalsuan dan koleksi beragam jenis huruf yang dimiliki.
Pada masa pemerintahan Napoleon (1806-1813), Joh. Enschede memproduksi alat bayar kertas pertama yaitu resepsis. Saat Perancis meninggalkan Belanda pada tahun 1814, Nederlandsche Bank yang baru menugaskan percetakan ini untuk mencetak uang kertas Belanda yang pertama. Setelah itu, Joh, Enschede juga mencetak uang kertas untuk wilayah jajahan Belanda di luar negeri, termasuk Hindia Belanda (Indonesia). Sejak tahun 1866 mereka juga mencetak perangko untuk dalam dan luar negeri.
Kedua mantan direktur ini tetap berkepala dingin dan tidak terlalu meromantiskan masa lalu. Dirk-Jan berkata bahwa “Cetakan tetap cetakan, seperti sebuah Koran, jika selesai dicetak Anda sudah mulai memikirkan edisi berikutnya.” Maurits juga bersikap biasa saja perihal miliaran uang kertas yang diproduksi perusahaan ini. Joh. Enschede lebih memperhatikan masalah desain seperti bagaimana mendapatkan warna yang sama untuk semua uang kertas. Zat warna dan teknik terus berubah dan kami berusaha untuk mempertahankan apa yang telah dicapai.

Tradisi Keluarga
Maurits Enschede (76) dan kakaknya Dirk-Jan (79) merupakan direktur terakhir dari keluarga Enschede yang masih hidup. Dua bersaudara Enschede ini lahir dan besar di Groningen. Sang ayah, Frits Enschede adalah seorang sarjana teknik sipil dan ibu mereka berkebangsaan Austria. Dirk-Jan adalah sarjana teknik lulusan Universitas Delf. Maurits mula-mula belajar desain grafis dan bekerja sebagai ahli tipografi sebelum melanjutkan studinya di bidang hokum dan ekonomi perusahaan. Maurits pertama kali masuk perusahaan keluarga pada tahun 1954. Saat itu jabatan direktur utama dipegang sepupunya, Frans, yang telah mengabdikan diri sejak tahun 1911. Dirk-Jan harus dibujuk tiga kali sebelum akhirnya ikut bergabung. Selama hampir 30 tahun mereka memimpin perusahaan ini. Maurits sebagai direktur keuangan dan Dirk-Jan sebagai direktur teknik umum dengan tanggung jawab khusus untuk pengembangan dan renovasi bangunan. Marketing dipegang direktur komersial.

Pasar Global
Pada tahun 1991, percetakan Joh. Enschede dibagi dalam lima divisi, yaitu Uang Kertas, Perangko, Solusi Sekuriti, Percetakan Enschede Amsterdam, dan Percetakan Enschede Brussel. Sejak saat itu, tidak ada anggota keluarga yang duduk dalam direksi perusahaan. Pada tahun 1997, mantan pimpinan perusahaan, Philips Kees Bruinstroop, diangkat menjadi Presiden Direktur. Tugasnya jelas yaitu perusahaan harus melakukan globalisasi dan inovasi. Bruinstroop diminta mengemban tugas ini, antara lain karena pengalaman internasionalnya di Philips. Ia memiliki visi, keberanian, dan daya tahan untuk mengubah Joh. Enschede dari sebuah leveransir dengan hak istimewa dalam pasar khusus menjadi perusahaan besar yang mampu bersaing di dunia internasional.
Ketika Bruinstroop mulai bekerja, 75 persen pekerjaan diperoleh dari dalam negeri Belanda, dan 25 persen dari luar negeri. Sekarang keadaan terbalik, Joh. Enschede tidak lagi memiliki posisi unik dalam pasar Belanda. Namun, produk-produk seperti uang kertas dan perangko sekarang sudah mendunia.
Introduksi euro (mata uang Eropa) mendorong aspirasi global Divisi Uang Kertas Joh. Enschede mencetak mata uang euro untuk Belanda, Spanyol, Yunani, Austria, dan Luxemburg, tetapi mata uang ini juga dicetak di 11 percetakan lain di Eropa. Kelebihan kapasitas yang diakibatkannya menimbulkan masalah bagi perusahaan. Dibanding dulu, Joh. Enschede sekarang harus lebih banyak bersaing dalam pasar terbuka dengan perusahaan yang kadang lebih besar dan dilindungi pemerintah mereka. Jadi meskipun belum lama ini meraih sukses, untuk sementara waktu Divisi Uang Kertas akan berada di bawah tekanan.
Teknik mencetak telah mengalami perubahan besar dari uang kertas Belanda pertama pada tahun 1814 hingga si “burung pekakak” terakhir, yaitu uang sepuluh gulden edisi tahun 1996. Delapan generasi Enschede telah berpartisipasi sejak tahun 1703. Kini mereka memberi kesempatan kepada orang luar. Bruinstroop melihat adanya untung dan rugi dengan menempatkan orang yang bukan anggota keluarga di kursi pimpinan.
“Jika Anda sedang menjual uang kertas di Ghana, maka sangatlah berguna jika Anda dapat berkata, nama saya Erschede. Tetapi jika harus melakukan tindakan yang keras sebaiknya menjadi orang luar untuk menghindari keterlibatan secara emosional.”
Setiap era dalam sejarah panjang Joh. Enschede mempunyai masalah dan tantangannya sendiri. Seperti dikatakan oleh Maurits Enschede bahwa setiap generasi harus siap untuk menghadapi perubahan dan menanggapinya dengan tepat. Kita tidak dapat mempertahankan masa lalu. Sejarah perusahaan keluarga Joh. Enschede tersimpan dalam museum perusahaan yang berlokasi dalam kompleks bangunan di Klokhuisplein – Haarlem. [RACHMAT ASSAD] ***

Sumber:
  • BULETIN ASOSIASI NUMISMATIKA INDONESIA edisi ke Empat dan Lima, 15 September 2005 hal. 39.


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami