Selasa, 18 September 2012

R.M. Tirtohadisoerjo



R.M. Tirtohadisoerjo anak seorang kolektor (Manteri Pajak) asal Ponorogo, lahir tahun 1875. Bekas murid Stovia ini sering disebut sebagai peletak batu dasar jurnalistik modern. Dialah yang memulai pembaharuan dalam mengolah isi suratkabar. Pemuatan karangan, berita, pengumuman, pemberitahuan, iklan dan lain-lain disusun secara baru.
Pada mulanya bekerja di harian ‘Bintang Betawi’ sebagai redaktur harian, kemudian karirnya menanjak dengan jabatannya sebagai pimpinan redaksi Medan Priyayi dan Suluh Keadilan. Di bawah pimpinan Tirtohadisoerjo, majalah Medan Priyayi mendapat kemajuan dan kemudian berkembang menjadi harian dengan motto yang tegas yaitu “Orgaan boeat bangsa jang terperentah di H.O., tempat memboeka soearanja”.
Tulisan Tirtohadisoerja sangat tajam. Salah satu kecaman yang ditujukan kepada seorang kontrolir menyebabkan dia dibuang ke pulau Bacan. Menurut cerita dari orang yang mengikutinya, dia justru diambil menantu oleh Sultan Bacan.
Selain dianggap sebagai pembaharu dalam jagad kewartawanan Indonesia dia pun dapat dianggap sebagai pelopor, sebagai administrator, wartawan yang bermodalkan uang bangsa sendiri.
R.M. Tirtohadisoerjo yang mempunyai nama kecil Djokomono ini meninggal tanggal 17 Agustus 1918 dan dikuburkan di Mangga Besar, Jakarta. ***


0 komentar:

Posting Komentar