Minggu, 30 Juli 2017

Sekolah Pamardi Putri Surakarta

Baluwarti merupakan permukiman di dalam benteng Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang oleh orang Solo disebut njeron mbèténg. Sebutan ini, bagi orang Solo, memberikan sasmita bahwa wilayahnya masih berbau keningratan. Dalam kenyataan, jejak-jejak keningratan masih bisa terlihat dari bangunan-bangunan yang berada di lingkungan Baluwarti tersebut. Salah satunya adalah Sekolah Pamardi Putri. Sekolah ini terletak di Jalan Mangkubumen RT. 04 RW. 01 Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi sekolah ini berada di belakang Dalem Purwohamijayan, atau sebelah tenggara Dalem Mangkubumen.
Di dalam Opgave Van Openbare Onderwisriehtingen in Het Gewest Soerakarta (dalam Husein Haikal, 2012) disebutkan, bahwa di Vorstenlanden ( istilah yang mencakup wilayah Kraton Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman) terdapat bermacam-macam sekolah model Barat. Menurut data yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan di wilayah Surakarta tahun 1930, sekolah-sekolah tersebut adalah sekolah-sekolah negeri berbahasa daerah, sekolah-sekolah neutral berbahasa Belanda, sekolah-sekolah yang dikelolah oleh Zending, sekolah-sekolah yang dikelola oleh Missi, sekolah-sekolah yang dikelola oleh Muhammadiyah, sekolah-sekolah yang dikelola oleh Budi Utomo, dan sekolah-sekolah yang dikelola oleh pihak kerajaan.


Sekolah-sekolah yang dikelola oleh kerajaan, di antaranya adalah Sekolah Pamardi Putri yang berada di wilayah Kraton Kasunanan Surakarta. Perkembangan pendidikan di Kasunanan tidak terlepas dari peran Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) X, karena semenjak PB X memegang pemerintahan di Kasunanan Surakarta (1839-1939), pendidikan mulai mendapat perhatian besar. Awalnya, PB X mengirimkan putra-putrinya serta para sentono dalem (kerabat dekat Kraton) ke sekolah-sekolah Barat namun kemudian beliau memberikan dorongan yang kuat kepada para abdi dalem untuk ikut serta menuntut ilmu melalui bangku pendidikan.
Perhatian PB X terhadap dunia pendidikan model Barat diwujudkan dengan mengusahakan sekolah sendiri. Pada 1 November 1910, PB X mendirikan Hollandsch Inlandsch School (HIS) Kasatriyan, yang kemudian disusul dengan pendirian Froberschool (Taman Kanak-Kanak) Pamardi Siwi pada 26 Agustus 1926. Terakhir adalah pendirian HIS Pamardi Putri pada 1 Juli 1927. Tujuan mendirikan HIS Pamardi Putri ini adalah untuk menyediakan tempat belajar bagi putri dalem PB X yang bernama Gusti Raden Ajeng Sekar Kedhaton Koestiyah, yang setelah dewasa berganti nama menjadi Gusti Kanjeng Ratu Pembayun. Putri Sekar Kedhaton memang merupakan putri kinasih (kesayangan) PB X karena ia adalah seorang anak pertama dari seorang permaisuri. Pasalnya, PB X dengan permaisuri pertama yang bergelar Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwono tidak memiliki keturunan, dan dengan permaisuri kedua yang bergelar Gusti Kanjeng Ratu Emas diberi keturunan bernama Gusti Raden Ajeng Sekar Kedhaton Koestiyah.


Pendidikan yang berlangsung di Sekolah Pamardi Putri pada waktu itu mengadopsi pendidkan model Barat dengan pola penerapan pendidikan karakter pada masyarakat Jawa yang mempunyai karakteristik yang unik. Hal ini selaras dengan penamaan sekolah tersebut, yaitu Pamardi Putri, yang berasal dari kata pamardi dan putri. Pamardi, artinya tempat mendidik, sedangkan putri berarti anak perempuan. Jadi Pamardi Putri adalah tempat mendidik yang memiliki strategis dan jangkauan masa depan serta menitikberatkan upaya yang sungguh-sungguh dari orangtua agar anak perempuannya menjadi orang yang baik dan bisa mendhem jero lan mikul dhuwur.
Saat itu, setelah tiga tahun masuk sekolah di Pamardi Putri mendapat pendidikan yang lebih teratur, bisa menulis huruf Jawa, bahasa lebih halus, menari sudah bisa dipentaskan, dengan saudara-saudara lainnya. Meskipun Pamardi Putri merupakan sekolah khusus keluarga dan putri-putri sentono dalem yang gurunya juga abdi dalem (seperti PNS), tetapi pemimpin sekolah dan wakilnya adalah nyonya Belanda, seperti  Juffrouw Domis dan Juffrouw Reuneker.
Sekolah Pamardi Putri yang memiliki luas bangunan 1000 m² ini adalah sekolah tempo doeloe yang masih tetap memperlihatkan keaslian bangunan sekolahnya. Fasad gedung sekolahnya masih seperti dulu. Sekolah ini juga masih mempunyai bangku-bangku sekolah zaman dulu, wastafal yang antik, dan sebuah lukisan Gusti Raden Ajeng Sekar Kedhaton Koestiyah yang terpampang di ruang guru.
Kini, Sekolah Pamardi Putri telah menjadi inventaris cagar budaya yang ada di Kota Solo dengan nomor 08-20/C/Pk/2012 yang ditetapkan melalui Keputusan Wali Kotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta Nomor 646/116/I/1997. *** [310714]

Kepustakaan:
Haikal, Husain, Prof. Dr., Djumarwan, Drs., Dewi, Ita Mutiara., Astuti, Desyari Widi., & S., Hemawan Dwi. (2012). Pendidikan dan Perubahan Sosial di Vorstenlanden. Laporan Penelitian Payung di FIS UNY
Sularto, St. (Editor). (2010). Guru-Guru Keluhuran. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara
Ulya, L.L., A’yun, Q., Septifani, R., & Moordiningsih. (2013). Pergeseran Orientasi Pendidikan Karakter Pada Masyarakat Jawa. Prosiding Seminar Nasional Parenting

0 komentar:

Posting Komentar