The Story of Indonesian Heritage

Bussorah Street, Jantung Lama Kampong Glam: Menyusuri Jejak Jawa, Islam, dan Warisan Melayu di Singapura

A street that you have never visited is a book that you have never read! You never know what you are missing!” -- Mehmet Murat Ildan

Transit 10 jam di Bandara Changi usai menghadiri Third Annual Symposium di Hyderabad (India) pada Ahad (14/12/2025) membawa personil Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) mengikuti Free Singapore Tour menuju Kampong Glam. 

Berbeda dengan Chinatown yang lekat dengan sejarah komunitas Tionghoa, Kampong Glam menghadirkan jejak panjang masyarakat Melayu-Muslim, Arab, India, Jawa, dan berbagai komunitas Asia lainnya yang membentuk wajah multikultural Singapura.

Di kawasan inilah berdiri Bussorah Street, jalan yang dahulu dianggap sebagai jantung Kampong Glam. Awalnya bernama Jalan Sultan, nama itu diubah pada 1910 menjadi Bussorah Street, merujuk pada sebuah kota Basra di Irak masa kini. Pergantian nama tersebut mencerminkan eratnya hubungan kawasan ini dengan dunia Islam dan jalur perdagangan Timur Tengah.

Dalam Kampong Glam: A Heritage Trail [1], Bussorah Street dahulu dikenal sebagai kawasan dengan komunitas Jawa yang kuat. Warga dari Sumatra, Banjar, Riau, Arab, India, Melayu, hingga Tionghoa hidup berdampingan di jalan ini. Kehidupan sosial masyarakatnya terkenal santun dan religius. Bahkan pada pertengahan abad ke-20, tamu dari luar kawasan diyakini tidak akan memasuki jalan ini tanpa penutup kepala sebagai bentuk penghormatan kepada adat setempat.

Semangat gotong royong menjadi bagian penting kehidupan warga. Saat ada pernikahan, kenduri, maupun pemakaman, seluruh tetangga saling membantu. Pengaruh budaya Jawa juga tampak dalam cara bertutur masyarakat yang dikenal lebih halus dan formal.

Kampong Glam Cafe di 17 Bussorah Street, Singapura (Foto: Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

Di tengah kehidupan itu berdiri Masjid Sultan yang menjadi pusat spiritual masyarakat Kampong Glam. Warga bersama-sama menjaga masjid tersebut, sementara Kepala Kadi Singapura pernah tinggal di kawasan ini dan mengumumkan awal Ramadan serta Hari Raya dari Bussorah Street.

Suasana paling hidup hadir ketika Ramadan tiba. Bussorah Street berubah menjadi pasar malam yang dipenuhi aroma kuliner khas Jawa-Melayu-Muslim. Berbagai makanan seperti nasi rawon, nasi jenganan, mee mydin, kuih lopis, hingga pulut urap dijajakan dari siang hingga malam. Hidangan-hidangan itu lahir dari kreativitas masyarakat mengolah bahan sederhana menjadi sajian penuh cita rasa.

Bussorah Street juga menjadi ruang tumbuh seni Melayu. Pada era 1940-an, seniman legendaris seperti P. Ramlee dan S. Roomai Noor datang ke kawasan ini untuk berlatih bersama kelompok orkes keroncong (gaya musik Indonesia yang menampilkan alat musik gesek keroncong) Kampong Glam. Jalan ini bahkan pernah menjadi lokasi pengambilan gambar film internasional dan film Melayu awal Singapura.

Kini Bussorah Street dipenuhi restoran, butik, dan kafe modern. Namun jejak masa lalu masih bertahan melalui warung teh India tua, pembuat songkok tradisional, hingga galeri seni Melayu yang tetap menjaga warisan budaya kawasan tersebut. Selain itu, juga terdapat Kampong Glam Café berada di ujung jalan Bussorah. Dulunya, bangunan kafe tersebut yang berupa rumah toko (shophouses) itu dulunya adalah Stasiun Radio Kampong Glam. Pada masa itu, umat Muslim yang ingin membeli peralatan listrik akan pergi ke sini.

Bagi Tim NIHR UB, Bussorah Street bukan sekadar jalan wisata menuju Masjid Sultan. Jalan ini adalah ruang hidup yang menyimpan kisah tentang budaya, agama, seni, dan solidaritas masyarakat Melayu-Muslim di Singapura.

Kunjungan singkat itu seolah menegaskan kutipan Mehmet Murat Ildan, penulis drama Turki:

“Jalan yang belum pernah Anda kunjungi adalah buku yang belum pernah Anda baca! Anda tidak pernah tahu apa yang Anda lewatkan!” 

Sebab di balik ramainya Kampong Glam hari ini, Bussorah Street tetap menyimpan lembaran penting sejarah dan warisan budaya Asia Tenggara. *** [090526]


Kepustakaan:

[1] Low, C.-A., Tan, D., Mohamed Tahir, I. bin, Chong Ming, L., Mohamad, S. H. B., & Chui Hua, T. (n.d.). Kampong Glam A Heritage Trail. National Heritage Board. Retrieved May 08, 2026, from https://www.nhb.gov.sg/~/media/nhb/files/places/trails/kampong glam/kgglamtrail.pdf



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami