Rabu, 13 Juni 2012

Monumen Pers Nasional

Pada tanggal 9 Februari 1946 bertempat di gedung “Sasana Soeka” Surakarta (dulu Sala atau sekarang dikenal dengan nama Kota Solo) telah berhasil dibentuk organisasi profesi wartawan dengan nama Persatuan Wartawan Indonesia atau disingkat PWI. Ketua pertamanya adalah Mr. Soemanang. Sedangkan yang hadir antara lain B.M. Diah, Adam Malik, Soemantoro, Sudarjo Tjokrosisworo, Sutopo Wonoboyo, Manai Sophiaan, dan lain-lain, terutama para wartawan yang ketika itu tinggal di Yogyakarta dan Surakarta.
Untuk memperingati peristiwa bersejarah itu, dan agar generasi dapat menyerap pengalaman-pengalaman berharga dari generasi pendahulunya, khususnya di bidang Pers, maka PWI dengan restu Presiden dan dukungan penuh dari Pemerintah dan masyarakat, menetapkan bekas gedung “Sasana Soeka” tersebut untuk dijadikan Monumen Pers Nasional.
Pada peringatan 4 windu usia PWI, tanggal 9 Februari 1978, Presiden Soeharto berkenan meresmikan Monumen Pers Nasional dalam suasana yang khitmad.


Semula gedung yang bernama Sasana Soeka itu ialah sebuah societeit milik Mangkunegaran. Gedung tersebut dibangun atas prakarsa Sri Mangkunegara VII, dilaksanakan oleh designer arsitek Jawa terkenal Mas Aboekasan Atmodirono pada tahun 1918. Sebagai balai pertemuan yang dilengkapi dengan kamar bola segala, ia banyak berjasa dalam menggerakkan perlbagai kegiatan sosial antara lain pernah menjadi Markas Besar PMI. Pada awal kemerdekaan, tepatnya pada hari Sabtu Pahing, 9 Februari 1946 menjadi ajang Konferensi Wartawan Pejuang Kemerdekaan Indonesia, yang menghasilkan terbentuknya organisasi profesi kewartawanan dengan nama PWI, terpilih menjadi ketua ialah Mr. Soemanang.
Pada peringatan Dasawarsa PWI 9 Februari 1956, tercetuslah suatu gagasan mendirikan sebuah Yayasan Museum Pers Indonesia. Gagasan B.M. Diah, S. Tahsin, Rosihan Anwar dan lain-lain itu menjadi kenyataan pada 22 Mei 1956, pengurusnya antara lain R.P. Hendro, Kadiono, Sawarno Projodikoro, Mr. Soelistyo, Soebekti. Modal utama ialah koleksi buku/majalah milik Soedarjo Tjokrosisworo. Konggres Palembang 1970 mencetuskan niat baru: Museum Pers Nasional.
Betapa besar perhatian pemerintah akan cita-cita PWI dapat kita catat sambutan Menteri Penerangan Budiardjo pada Peringatan Seperempat Abad PWI, 9 Februari 1971. Pada kesempatan tersebut beliau memberi paket berupa:
1.       Pendirian Museum Pers Nasional di Surakarta
2.       Sebuah unit percetakan bagi pers daerah di Surakarta
Pada Konggres Tretes (1973) cetusan ide Palembang diubah dari MUSEUM menjadi MONUMEN PERS NASIONAL atas usul PWI Cabang Surakarta. Sekarang gagasan-gagasan yang melalui proses panjang itu telah menjadi kenyataan sebuah gedung gagah yang sekaligus menjadi kebanggaan kota Surakarta.
Pada tahun 1975 pada tahap pembangunannya, gedung ini ditangani oleh Panitia Daerah. Ketuanya Drs. Agus Dargosumarto  dengan dibantu oleh Ichwan Daldiri, Sakdani, dan kawan-kawan. Setahun kemudian diperbaharui. Ketuanya S. Hamidi (Jakarta), Wakil Ketua Daryono (Semarang), Sekretaris Mohamad, B.A., Kanwil Departemen Penerangan Semarang, Bendahara Sarlan Adisutjipto (Semarang). Anggota-anggotanya terdiri dari: Muchtar Hidajat (Semarang) dan H.S. Sumaryono. Waki Ketua PWI Cabang Surakarta, Sumaryono ditunjuk sebagai pelaksana hariannya kala itu.
Dalam perkembangan lebih lanjut, Monumen Pers Nasional ini merupakan perwujudan solidaritas dan dedikasi nasional yang sekaligus diharapkan menjadi suri teladan bagi generasi mendatang di dalam menegakkan eksistensi Republik tercinta ini. Ia mengembangkan kesetiakawanan antarprofesi dan komunikasi sosial yang sehat dan dinamis. Terwujudnya Monumen Pers Nasional ini berkat adanya dukungan yang demikian itu.
Atas prakarsa Menteri Penerangan Ali Moertopo yang mendapat dukungan penuh dari Assosiasi Importir Film Kelompok Eropa-Amerika, terwujudlah pembangunan gedung pelengkap Monumen Pers Nasional yang terdiri dari dua unit bangunan dua lantai dan dua unit bangunan empat lantai di samping penyempurnaan pemugaran “main building” dengan perlengkapannya. Semua ini pasti akan memberikan dukungan positif bagi pelaksanaan peranan dan tanggung jawab masyarakat Pers Indonesia.
Empat naga dengan badan terlentang, ciptaan seniman Solo terkenal, Hudyanto Kusrin, menghiasi pintu masuk gedung Monumen Pers Nasional. Masing-masing diberi arti simbolik:
1.       Proklamasi Republik Indonesia, 17-8-1945
2.       Lahirnya PWI, 9-2-1946
3.       Peresmian Gedung oleh Presiden Soeharto, 9-2-1978
4.       Penyerahan Gedung Pelengkap (annex building), 26-4-1980
Naga-naga di tangga Monumen Pers Nasional tersebut dinamakan Catur Manggala Kura tetapi dalam artian surya sengkala, bunyinya: Muluking Sedya Hambangun Nagara. Yaitu sama dengan 1980. Naga melambangkan kebijaksanaan, pun juga pujangga. ***

Sumber:
___________ , 1980, Monumen Pers Nasional, Jakarta: Yayasan Idayu

0 komentar:

Posting Komentar