Senin, 14 Agustus 2017

Gereja Katolik Santo Antonius Kotabaru

Kotabaru termasuk salah satu kelurahan yang ada di Kota Yogyakarta. Semula Kotabaru ini dikenal dengan Nieuwe Wijk, yaitu permukiman orang-orang Belanda maupun Eropa yang tinggal di Yogyakarta. Sebagaimana permukiman orang-orang Belanda pada umumnya, permukiman tersebut dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukungnya, seperti fasilitas olahraga, kesehatan, dan keagamaan.
Salah satu fasilitas keagamaan yang ditemukan di kawasan itu adalah Gereja Katolik Santo Antonius, yang terletak di Jalan Abu Bakar Ali No. 1 Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gereja ini hoek pertemuan antara Jalan Abu Bakar Ali dan Jalan I Dewa Nyoman Oka.
Keberadaan Gereja Katolik Santo Antonius ini tidak terlepas dari peran Pastor Fransiscus Xaverius Strater SJ. Ia adalah seorang misionaris Jesuit yang tiba di Yogyakarta pada tahun 1918. Kedatangannya adalah untuk membantu pengembangan kegiatan Misi di daerah Yogyakarta yang telah dirintis oleh Pastor Henri van Driessche.


Semula tugas utamanya adalah karya pastoral bagi orang-orang Katolik Belanda (Eropa), namun kemudian ia tertarik untuk terlibat dalam Misi di antara orang-orang pribumi Jawa. Mengawali karya misinya tersebut, Pastor Fransiscus Xaverius Strater, SJ mendirikan Kolese Santo Ignatius (Kolsani) pada 18 Agustus 1922, dan Seminari Tinggi (Novisiat Kolsani) pada tahun 1924, yang gedungnya sekarang ini digunakan oleh Puskat/IPPAK dan Pusat Musik Liturgi (PML). Dari Kolsani inilah benih-benih kekatolikan ditabur, dan banyak masyarakat yang mengikuti ajaran Katolik.
Di lingkungan Kolsani itu juga dibangun sebuah kapel untuk tempat kebaktian. Kapel Kolsani ini mula-mula digunakan untuk orang-orang Kolsani, namun kemudian terbuka untuk umum. Seiring perjalanan waktu, kapel kian hari kian terlihat sempit karena jumlah umat bertambah banyak. Hal ini yang menyebabkan Pastor Fransiscus Xaverius Strater SJ memandang perlu didirikan sebuat tempat peribadatan bagi umat Katolik yang lebih besar.
Tempat ibadat, atau gedung gereja, merupakan salah satu sarana penting untuk memenuhi kebutuhan umat dalam menjalankan upacara-upacara keagamaan. Keberadaannya yang permanen dan mudah dijangkau memungkinkan umat untuk mengikuti perayaan Misa dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya dengan lebih teratur. Selain itu, gereja sebagai tempat perjumpaan rutin, secara sosial dapat memperteguh eksistensi komunitas kecil umat Katolik di tengah-tengah masyarakat. Menilik kebutuhan fungsionalnya, lembaga Misi kemudian berusaha semaksimal mungkin untuk dapat membangun gedung-gedung gereja.
Provinsial Serikat Jesus Hindia Belanda saat itu, yaitu Pastor J. Hoeberechts, berusaha menggalang dana untuk membangun sebuah gereja yang cukup besar dan representatif guna menampung umat Katolik baru yang semakin bertambah. Akhirnya, Pastor J. Hoeberechts mendapat bantuan atau donatur dari seorang wanita di Belanda untuk membangun gereja di Kotabaru, tapi dengan syarat nama gereja yang disandangnya hendaknya diberi nama Santo Antonius van Padua.


Setelah itu, pembangunan gereja pun mulai direalisasikan. Pastor J. Hoeberechts menyerahkan desain bangunan kepada Cuypers melalui biro arsitek ternama dari Batavia, NV Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam, atau biasa disingkat menjadi Biro Arsitek Fermont-Cuypers, yang memang sudah menghasilkan lusinan karya di Hindia Belanda. Akan tetapi, dalam pelaksanaan pembangunan gereja tersebut, desain awal Cuyper mengalami perubahan. Seharusnya lebih luas, besar, dan megah, tetapi karena keterbatasan lahan dan biaya pada waktu itu. Menara depan yang seharusnya memakai kubah diganti menjadi mengerucut ke atas. Begitu pula, bangunan di sisi kiri dan kanan dari gereja, dikurangi lebarnya. Akhirnya terwujud bangunan gereja seperti sekarang ini.
Setelah selesai, Gereja Santo Antonius Kotabaru diresmikan pada 26 September 1926 dengan pemberkatan oleh Mgr. A. van Velsen SJ, Uskup Batavia yang juga membawahi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain unutk kebaktian, gereja tersebut juga difungsikan sebagai tempat para calon imam muda berlatih. Karena kala itu, gereja tersebut masih merupakan milik Kolsani. Rektor Novisiat Kolsani, yaitu Pastor Fransiscus Xaverius Strater SJ, sekaligus menjabat sebagai Pastor Kepala Paroki Santo Andonius Kotabaru. Dulunya, Gereja Katolik Santo Antonius Kotabaru merupakan stasi dari Paroki Kidul Loji, namun kemudian pada 1 Januari 1934 menjadi paroki yang berdiri sendiri.
Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, bangunan gereja ini dikuasai oleh tentara Jepang, dan digunakan sebagai gudang. Sementara itu, bangunan Kolsani menjadi tempat penampungan interniran bagi suster-suster dan wanita-wanita Belanda, sedangkan Seminari Tinggi yang berada di sebelah barat gereja difungsikan sebagai kantor bagi tentara Jepang. Keadaan yang seperti ini, menyebabkan Pastor Fransiscus Xaverius Strater SJ meninggal sebagai internir, dan tempat ibadat umat Katolik dipindahkan ke bangunan rumah kuno berbentuk Joglo yang berada di daerah Kemetiran.
Setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II, dan Indonesia merdeka, Kolsani dan Gereja Katolik Santo Antonius Kotabaru difungsikan kembali menjadi tempat pendidikan dan gereja seperti semula. Aktifnya kembali gereja ini, menyebabkan rumah Joglo Kemetiran menjadi paroki yang berdiri sendiri.
Pada tahun 1967 Kolsani menyerahkan pengelolaan gereja kepada paroki untuk mendewasakan Paroki Santo Antonius Kotabaru, namun pemisahan sepenuhnya baru terjadi pada tahun 1975. Paroki Santo Antonius Kotabaru selanjutnya tumbuh menjadi suatu paroki yang berdikari dalam segala bidang hingga saat ini. *** [210717]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Keputakaan:
Heuken SJ, Adolf. (2003). Gereja-gereja tua di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka
Haryono, Anton. (2013). Awal Mulanya Adalah Muntilan: Misi Jesuit di Yogyakarta 1914-1940. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
http://travelheritage.id/artikel/detail/19-gereja-katolik-santo-antonius-kotabaru-yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar