Saturday, September 30, 2017

SMP Negeri 26 Surakarta

Setelah mengeksplorasi Panti Wibowo di Kepatihan, peserta rombongan Gelar Wisata Kampung Kota bergerak menuju ke bagian terakhir kunjungan dari tur wisata sejarah kampung ini, yaitu SMP Negeri 26 Surakarta. SMP ini terletak di Jalan Joyonegaran No. 2 RT. 01 RW. 03 Kelurahan Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi SMP ini berada di depan Sinar Solo Advertising, atau sebelah barat SMK Negeri 8 Surakarta (dulu dikenal dengan SMKI) ± 300 m.
Keberadaan bangunan SMP Negeri 26 ini tidak terlepas dari munculnya Kepatihan Surakarta di daerah ini. Kepatihan adalah istilah yang menunjuk kepada tempat tinggal atau kantor yang digunakan oleh para patih Kraton Kasunanan Surakarta (Rijksbestuurder van Paleis van Soerakarta). Patih sendiri berarti pejabat yang diangkat oleh Kraton Kasunanan Surakarta untuk menjalankan roda pemerintahan atas titah raja, atau dalam istilah sekarang setara dengan Perdana Menteri.
Sebelumnya, Kepatihan Kraton Kasunanan Surakarta itu berada di Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Lokasinya yang sekarang dikenal dengan Pura Mangkunegaran. Setelah adanya Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757, bangunan Kepatihan yang berada di Keprabon tersebut diminta Raden Mas Said (yang kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro I) untuk dijadikan tempat tinggalnya.


Kemudian Kraton Kasunanan Surakarta memindahkan kantor dan tempat tinggal patihnya ke sebuah tempat yang berada di perbatasan dengan wilayah Kota Mangkunegaran dan pinggiran wilayah Nagari Surakarta. Wilayah itu sekarang dinamakan daerah Kepatihan. Pembangunan kompleks Kepatihan yang baru ini dimulai oleh Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Mangkupraja I yang kemudian diteruskan oleh penggantinya, yaitu Patih Kanjeng Raden Adipati Sasradiningrat I pada tahun 1769 dengan membangun Dalem Kepatihan.
Konon, kompleks Kepatihan yang baru itu tidak kalah megahnya dengan Pura Mangkunegaran. Ada pendopo Kepatihan, pamedan, masjid, kandang kuda beserta kereta milik patih, dan tembok tinggi Kepatihan. Kemudian para patih yang menjabat di Kepatihan tersebut, ada yang berusaha membangun rumah atau dalem yang berada di kompleks Kepatihan tersebut. Setidaknya masih ada dua bangunan rumah milik sang patih yang tersisa setelah adanya bumi hangus yang dilakukan oleh Gerakan Anti Swapraja, yaitu Dalem Patih Kanjeng Raden Adipati Darmonagoro, dan Dalem Kanjeng Pangeran Arya Adipati Jayanegara. Dalem Patih Darmonegoro berada di belakang SMK Negeri 8 Surakarta, dan Dalem Patih Jayanegara berada di sebelah barat SMK Negeri 8 Surakarta.
Dalem Patih Jayanegara inilah yang sekarang menjadi SMP Negeri 26 Surakarta. Patih Jayanegara merupakan seorang patih Kraton Kasunanan Surakarta yang menjabat dari tahun 1916 sampai dengan tahun 1939. Ia menggantikan Patih Sasradiningrat IV yang memasuki pensiun pada tahun 1916.


Ketika pertama kali diangkat menjadi patih oleh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdulrahman Sayiddin Panotogomo Ingkang kaping Sedasa, atau akrab dengan sebutan Pakubuwono (PB) X, Patih Jayanegara bergelar resmi Kanjeng Raden Adipati Jayanegara. Kemudian setelah 15 tahun bertugas, Sri Susuhunan Pakubuwono X memberikan gelar pangeran kepadanya. Setelah mendapatkan gelar pangeran, Patih Jayanegara kemudian menyandang gelar baru menjadi Kanjeng Pangeran Arya Adipati Jayanegara. Untuk memberi gelar pangeran kepada patih tersebut, Sri Susuhunan Pakubuwono X harus mendapatkan persetujuan dari pihak Belanda yang berkuasa saat itu, yaitu Gubernur Surakarta J.J. van Helsdingen.
Pemberian gelar kepada Pepatih Dalem dilakukan di Sasana Sumewa yang berada di Pagelaran Kraton Kasunanan Surakarta, yang disaksikan oleh semua punggawa dan abdi dalem yang hadir. Setelah menerima gelar pangeran, Pepatih Dalem Kanjeng Pangeran Arya Adipati Jayanegara melakukan sungkem kepada Sri Susuhunan Pakubuwono X dan berjabat tangan dengan Gubernur Surakarta J.J. van Helsdingen. Usai prosesi pemberian gelar, dilakukan jamuan minum. Pemberian gelar pangeran kepada Patih Dalem Pakubuwono X ini terjadi pada hari Senin, 30 Maret 1931 atau bertepatan dengan tanggal 10 bulan Dulkangidah Jimawal 1861.


Pada tahun 1950-an, Dalem Patih Jayanegara ini dibeli dan dijadikan kompleks sekolah Tionghoa yang bernama Tjong Tjen Tjong Siauw Siak. Bangunan Dalem Patih Jayanegara digunakan untuk kegiatan proses belajar mengajar sekolah Tionghoa tersebut dari tingkat SD sampai dengan SMA kala itu.
Setelah peristiwa G30S 1965, semua sekolah Tionghoa di Solo ditiadakan termasuk salah satunya sekolah Tjong Tjen Tjong Siauw Siak. Bangunan sekolah seluas  ± 8000 m² itu kemudian diambil alih oleh tentara. Setelah situasi dan kondisi menjadi normal kembali paska meletus G30S, bangunan bekas sekolah Tionghoa tersebut diserahkan kepada caretaker/pejabat Kepala STM Persiapan Negeri 2 Surakarta, atau dikenal dengan STM Negeri Purwonegaran dari Komando Distrik Militer (Kodim) Surakarta, agar dapat digunakan untuk kegiatan proses belajar mengajar bagi STM Negeri Purwonegaran yang belum memiliki gedung sekolah. Pada waktu itu, STM Persiapan Negeri 2 Surakarta masih menumpang di ST Negeri I dan II yang berada di Purwonegaran (sekarang menjadi SMP Negeri 15 Surakarta). Kegiatan proses belajar mengajar di Kampung Joyonegaran ini berlangsung hingga menjelang Ujian Negara. Pelaksanaan Ujian Negara bagi siswa-siswa STM Persiapan Negeri 2 dilaksanakan di gedung ST Negeri 2 yang berada di Jalan Adi Sucipto, sedangkan siswa-siswa ST Negeri 2 dipindahkan ke ST lainnya yang ada di Kota Solo sesuai jurusannya masing-masing. Setelah itu gedung bekas ST Negeri 2 tersebut menjadi gedung STM Negeri 2 Surakarta (sekarang menjadi SMK Negeri 5 Surakarta).


Setelah ditinggalkan oleh STM Negeri Purwonegaran, bangunan bekas gedung sekolah Tjong Tjen Tjong Siauw Siak dikembalikan ke Kodim Surakarta. Lalu, Kodim Surakarta menyerahkan bangunan gedung tersebut kepada Kepala ST Negeri 6 dan 7 untuk kegiatan proses belajar mengajar. Semula ST Negeri 6 dan 7 berlokasi di Beton, Kampung Sewu, sehingga dulu dikenal dengan ST Beton. Karena sekolahannya mengalami kerusakan akibat banjir bandang yang melanda Kota Solo pada 16 Maret 1966, proses belajar mengajar di Beton sudah tidak memungkinkan lagi.  Akhirnya dipindahkan ke Joyonegaran.
Seiring perjalanannya dalam proses belajar mengajar di Joyonegaran, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0259/O/1994 tentang Alih Fungsi Sekolah Teknik Negeri dan Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama Negeri menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri. Dari Keputusan Mendikbud ini, ST Negeri 6 dan 7 kemudian berubah atau beralih fungsi menjadi SMP Negeri 26 Surakarta.


SMP Negeri 26 Surakarta memiliki 24 ruang kelas, masing-masing 8 kelas untuk kelas 7, 8, dan 9. Selain itu, terdapat sejumlah ruangan selain ruang kelas seperti ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, ruang ibadah, koperasi, perpustakaan, laboratorium IPA, UKS, aula, ruang penjaga, ruang komputer, kamar mandi, dan gudang.
Pada waktu peserta rombongan tur wisata sejarah kampung berkunjung ke SMP Negeri 26 Surakarta, kepala sekolah dan salah seorang petugas yang berkarya di sekolah tersebut mendampingi rombongan berkeliling di kompleks sekolah tersebut. Di dalam lingkungan SMP Negeri 26 Surakarta, ternyata masih dijumpai Dalem Patih Jayanegara, seperti pendopo, pringgitan, dan kamar para selirnya yang berjumlah 6 orang. Meski telah berubah menjadi SMP Negeri 26 Surakarta, bentuk bangunan sebelumnya masih tampak asli. Hanya sedikit mengalami renovasi dalam hal bentuk, seperti di sekeliling pendopo dibatasi tembok. Suasana pendopo akan dirasakan bila kita masuk ke dalamnya, sedangkan bila dilihat dari luar kesan pendopo yang bercorak joglo sudah tidak kelihatan. Penambahan ruang kelas pun hanya dibangun di sela-sela lahan yang masih kosong, sehingga Dalem Patih Jayanegara sebenarnya masih bisa disaksikan kemegahannya sebagai rumah seorang Patih Kraton Kasunanan Surakarta. *** [030917]

0 comments:

Post a Comment