Sunday, April 8, 2018

Gunung Nyonya Majangtengah

Jumat pagi yang cerah, membawa diriku untuk turun lapang ke Desa Majangtengah. Majangtengah adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Desa ini menjadi salah satu enumeration area atau wilayah pencacahan (wilcah) dari Program SMARThealth.
Jumat yang menjadi hari deadline untuk pengumpulan data pada Program SMARThealth tersebut memberikan kesan tersendiri. Pasalnya, saat mendampingi Tim Majangtengah yang dibantu oleh Tim Sidorahayu, Tim Kepanjen, dan Tim Karangduren ini, saya berkesempatan berkeliling di daerah RW 07 yang masuk Dusun Lambang Kuning.
Dusun Lambang Kuning kala itu sedang menghijau. Letaknya berada di ledokan atau basin. Basin (cekungan) adalah bentuk muka bumi yang mencekung seperti mangkok, umumnya dikelilingi oleh gunung atau pegunungan. Ledokan Lambang Kuning berada di antara Gunung Prangas yang berada di selatan, dan Gunung Nyonya yang berada di sebelah utara.



Gunung yang disebutkan terakhir ini mengundang keingintahuan saya ketika bertandang di basecamp Tim Karangduren berada di rumah Ketua RT. 51 RW. 07. Gunung Nyonya sebenarnya merupakan sebuah bukit yang puncaknya memiliki ketinggian 480 meter di atas permukaan laut, atau 67 meter di atas medan tanah di sekitarnya. Lebar di pangkalan bukit atau gunung adalah 1,1 kilometer.
Medan tanah di bagian selatan gunung adalah berbukit-bukit, sedangkan di bagian utaranya berbentuk datar. Di sekitar lereng gunung tersebut saat ini didominasi oleh hamparan kebun tebu yang menjadi bahan dasar bagi pabrik tebu yang berada di Kabupaten Malang, yaitu PG Kebonagung dan PG Krebet.



Gunung Nyonya tidak hanya hasil fenomena alam yang unik, akan tetapi gunung tersebut juga memiliki kisah yang menarik sampai dinamakan dengan Gunung Nyonya.
Menurut Bapak Soleh, Ketua RT. 51 RW. 07, dulu di daerah Majangngtengah ini merupakan daerah perkebunan karet yang dikuasai oleh orang-orang Belanda. Pada abad ke-19 merupakan masa kemunculan dan berkembangnya perkebunan swasta Eropa di Hindia Belanda, tak terkecuali di daerah Kabupaten Malang.
Perkebunan dalam hal ini merupakan sistem perekonomian baru yakni sistem pertanian komersial (commercial agriculture) yang semula belum dikenal. Perkebunan merupakan sebuah bentuk usaha yang sangat penting bagi perekonomian pemerintah Hindia Belanda. Berbagai jenis tanaman dibudidayakan menjadi komoditi perdagangan untuk ekspor, misalnya tebu, teh, dan karet.



Sebagai lahan perkebunan karet, Majangtengah kerap dikunjungi oleh pemiliknya yang berkebangsaan Belanda. Terkadang si pemiliknya tak segan-segan mengajak istrinya untuk menjenguk perkebunan karetnya sambil menghirup udara yang segar. Suatu ketika, si pemiliknya yang seorang meneer mengajak istrinya, seorang mevrouw, mengunjungi perkebunannya yang berada di sekitar Dusun Lambang Kuning, Desa Majangtengah.
Meneer dan mevrouw adalah panggilan kehormatan orang Belanda, yang artinya tuan dan nyonya. Tatkala seorang mevrouw tadi mendampingi suaminya, sempat menghampiri sebuah sumber mata air yang berada di sebelah barat gunung tersebut. Sumber mata air tersebut oleh masyarakat sekitar dikenal dengan Sumber Jeding. Dinamakan Sumber Jeding, karena konon mata airnya tersebut seolah-olah membentuk jeding atau kakus/kamar kecil.
Usai dari Sumber Jeding, si mevrouw yang tidak diketahui namanya oleh masyarakat setempat itu, bergegas hendak kembali ke rumahnya. Di tengah perjalanan dari lahan perkebunan karet tersebut, si mevrouw tadi melewati atas bukit atau gunung yang berada di situ. Namun naas, si mevrouw tersebut akhirnya hilang di atas bukit atau gunung itu. Dari peristiwa hilangnya si mevrouw atau nyonya Belanda tersebut, kemudian bukit itu dikenal dengan Gunung Nyonya sampai sekarang ini. *** [060418]

0 comments:

Post a Comment