The Story of Indonesian Heritage

Stasiun Temuguruh: Menyusuri Sejarah di Balik Perhentian Kecil

Stasiun Temuguruh (Dipotret dari Gerbong KA Ijen Ekspres Malang-Banyuwangi pada Kamis, 2 April 2026)

Tepat pukul 14.12 WIB, laju KA Ijen Ekspres yang saya tumpangi dari Malang menuju Banyuwangi melambat, lalu berhenti perlahan di sebuah stasiun kecil yang tampak tenang, yaitu Stasiun Temuguruh. Pada Kamis (02/04) siang itu, suasana terasa lengang, seakan waktu berjalan sedikit lebih pelan di tempat ini.

Secara administratif, nama resminya memang Stasiun Temuguruh. Namun menariknya, stasiun ini justru berdiri di wilayah Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, yang berbatasan langsung dengan Desa Temuguruh. Di antara batas-batas desa itu, stasiun ini seperti menjadi simpul sunyi yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.

Berdiri pada ketinggian sekitar 196 meter di atas permukaan laut, Stasiun Temuguruh merupakan stasiun kelas II yang berada dalam wilayah kerja Daerah Operasi IX Jember. Namun lebih dari sekadar titik persinggahan kereta, tempat ini menyimpan jejak panjang sejarah perkeretaapian di ujung timur Pulau Jawa.

Awal abad ke-20 menjadi babak penting bagi kawasan ini. Pada tahun 1903, pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun jalur rel sepanjang 58 kilometer yang menghubungkan Mrawan, Rogojampi, hingga Banyuwangi [1]. Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan lintas timur atau Oosterlijnen, yang dikerjakan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik negara kolonial saat itu.

Dalam catatan Haltestempels Nederlands Indië [2], Stasiun Temuguruh diresmikan pada 2 Februari 1903. Sejak saat itu, jalur ini membuka akses transportasi melintasi wilayah yang dikenal subur dan kaya hasil bumi [3]. Kereta api menjadi urat nadi baru, mengangkut hasil perkebunan sekaligus manusia yang bergerak dari satu kota ke kota lain.

Kini, Stasiun Temuguruh memiliki tiga jalur rel. Jalur kedua menjadi jalur utama yang lurus, sementara jalur pertama sudah tidak lagi difungsikan. Adapun jalur ketiga kerap digunakan untuk persilangan dan penyusulan antarkereta. 

Meski tidak sebesar stasiun utama, ritme aktivitasnya tetap terjaga di mana kereta datang dan pergi sejak dini hari, mulai sekitar pukul 04.57 hingga menjelang malam pukul 22.54 WIB.

Beberapa kereta masih setia singgah di sini, seperti KA Blambangan Express, KA Probowangi, hingga KA Pandanwangi. Mereka membawa cerita-cerita baru setiap harinya, melanjutkan jejak panjang perjalanan yang telah dimulai lebih dari seabad lalu.

Di tengah kesederhanaannya, Stasiun Temuguruh bukan sekadar tempat naik dan turun penumpang. Ia adalah saksi bisu dari ambisi kolonial, geliat ekonomi masa lampau, hingga denyut kehidupan masyarakat Banyuwangi hari ini. Sebuah titik kecil di peta, namun dengan kisah yang panjang dan tak pernah benar-benar berhenti. *** [030526]

Kepustakaan:

[1] Oegema, J, J, G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer: Kluwer Technische Boeken B.V.

[2] Hans Kruse hk@puntstempels.nl. (n.d.). ZWP - Haltestempels Ned.Indië. https://www.studiegroep-zwp.nl/halten/

[3] Team 11. (n.d.). Staatsspoor-en Tramwegen di Hindia-Belanda 1875-1925. https://cdnc.heyzine.com/files/uploaded/23411f120cc2f4b6e0730e58c5f14eefd456cdaf-1.pdf


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami