The Story of Indonesian Heritage

Gereja Katolik Santo Petrus Surakarta

Ketika melintas di perempatan Gendengan, Anda akan melihat sebuah bangunan menjulang tinggi, atap berbentuk limasan serta lambang salib menempel di atas atap. Bangunan tersebut dikenal dengan Gereja Katolik Santo Petrus.

Gereja ini terletak di Jalan Slamet Riyadi No. 370 Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gereja berada di sebelah barat RS Gigi dan Mulut Pendidikan UMS ± 74 m, atau tepatnya berada di pojok timur laut lampu merah Gendengan.

Gereja Katolik Santo Petrus Solo (Foto diambil pada 02/09/2014)

Kehadiran Gereja Katolik Santo Petrus ini sesungguhnya untuk menampung jemaat umat yang kian bertambah, sementara daya tampung Gereja Santo Antonius di Purbayan sudah tidak mencukupi lagi. Bangunan Gereja Purbayan seringkali tidak muat bagi jemaat yang ingin mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari Minggu, meskipun Perayaan Ekaristi telah diadakan sebanyak empat kali.

Kondisi seperti itu membuat Vikaris Apostolik Batavia Mgr. P. Willekens, SJ, tergerak hatinya untuk mendirikan gereja dan paroki yang kedua untuk umat di Surakarta, atau yang dikenal dengan Kota Solo. Kemudian para Pater berusaha mencari sebidang tanah untuk mendirikan bangunan gereja.

Peletakan batu pertama pembangunan gereja dilakukan pada hari Jumat, 16 September 1938. Desain bangunan gereja dipercayakan kepada seorang arsitek Belanda bernama Johannes Theodorus van Oyen, atau biasa disingkat menjadi J. Th. van Oyen. Van Oyen banyak mendesain berbagai rumah, toko, hotel, gereja, biara dan rumah sakit dengan gaya arsitektur modern di zamannya.

Pembangunan gereja ini memakan waktu 20 bulan, dan selesai pada tahun 1940. Peresmian dan pemberkatannya dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 Juni 1940 oleh Mgr. P. Willekens, SJ, Pater A. Elfrink, MSF, dan Pater N. Havenman, MSF, bertepatan dengan hari pesta Santo Petrus dan Paulus. Sejak itu, Paroki Santo Petrus resmi terpisah dari Paroki Santo Antonius Purbayan.

Seperti rancangan Van Oyen pada bangunan gereja yang telah dibuatnya, arsitektur bangunan Gereja Katolik Santo Petrus bergaya Neo Gotik, yaitu gaya bangunan dari Eropa yang terkenal dan digunakan sekitar abad pertengahan, kemudian berevolusi dari gaya Romanesque ke Renaisans. Untuk kasus di Hindia Belanda, dengan keterbatasan material dan disesuaikan dengan kondisi iklim, bangunan Neo Gotik di Solo cenderung dibuat lebih simple dan efisien.

Kekokohan bangunan gereja yang dalam literatur Belanda dikenal dengan Rooms-Katholieke aan de Poerwosarieweg te Soerakarta ini masih terlihat baik. Dari hasil inventarisasi bangunan yang sudah dianggap memenuhi kriteria sebagai cagar budaya berdasarkan UU No. 11/2010, bangunan Gereja Katolik Santo Petrus ini telah ditetapkan Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo pada 10 Januari 2014. *** [201220]

Kepustakaan:
Het Nieuwe Instituut, Rotterdam, Oyen, J.Th. (Johannes Theodorus) van / Archief, nummer toegang OYEN.110000328, inventarisnummer OYEN64
https://picboon.com/photo-video/CB_26QfhJ2G
https://vymaps.com/ID/Gereja-Katolik-St-Petrus-Purwosari-Gendengan-664248/


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami