The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Rumah Bundar Magelang

Berbekal informasi dari penjual soto di depan SMAN 3 Magelang, penulis mendapatkan dan sekaligus bisa menyaksikan sebuah bangunan kuno yang masih berdiri hingga saat ini yang lokasinya berada di daerah Pecinan Magelang. Bangunan tersebut begitu menonjol dengan daerah sekitarnya karena bentuknya yang berbeda sendiri. Fasade melengkung atau setengah bulatan, yang kurang lazim di Magelang pada waktu itu. Bangunan tersebut dikenal sebagai gedung atau rumah bundar.
Rumah bundar tersebut terletak di Jalan Sriwijaya No. 56 Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi rumah bundar ini berada di sebelah timur SMAN 3 Magelang, dan jaraknya tidak terlalu jauh.
Rumah dengan luas bangunan 350 m² yang berdiri di atas lahan 1.705 m² ini dibangun oleh seorang saudagar Tionghoa yang kaya raya dari Magelang, bernama Tan Gwat Ling. Sebagai agen komoditas konsumsi, seperti teh, kopi, gula maupun tembakau, yang lumayan besar di Magelang pada waktu itu, mengharuskan Tan Gwat Ling kerap berkeliling untuk memperoleh barang-barang dagangannya tersebut guna dijual kembali. Salah satu kota tujuan yang sering didatangi adalah Bandung.


Pada saat di Bandung inilah, Tan Gwat Ling tertarik pda desain Villa Isola milik seorang hartawan Belanda bernama Dominique Willem Berretty yang dirancang oleh arsitek Belanda yang bekerja di Hindia Belanda, Prof. Charles Prosper Wolf Schoemaker. Terinspirasi akan keindahan Villa Isola tersebut, Tan Gwat Ling berkeinginan membangun rumah miliknya dengan mengadopsi karya Schoemaker tersebut.
Pada tahun 1934, Tan Gwat Ling benar-benar mewujudkannya dengan memulai proses pembangunan rumah yang kelak di kemudian hari dikenal sebagai rumah bundar. Dilihat dari fasadenya, rumah bundar ini memiliki aksen bulatan pada tiga bidang depannya, dan tampak megah lantaran berdiri dengan dikelilingi halamana yang begitu luas. Bentuk silinder (bundar), tampilan sederhana dan ditandai dengan ornamen lengkung mengisyaratkan bahwa gaya arsitektur dari rumah bundar ini adalah langgam art deco yang banyak berkembang di Indonesia.
Pada masa pendudukan Jepang, rumah bundar ini sempat dirampas untuk dijadikan sebagai salah satu markas pasukannya dengan memenjarakan Tan Gwat Ling. Namun ketika Jepang meninggalkan Magelang dan digantikan kembali kekuasaannya kepada Belanda, tidak serta merta mengembalikan rumah bundar tersebut kepada pemiliknya. Baru pada tahun 1951, Pemerintah RI mengembalikan rumah bundar tersebut kepada Tan Gwat Ling lagi.
Pada tahun 1970-an, rumah bundar ini sempat difungsikan sebagai tempat kos. Namun, sekarang rumah bundar telah dikembalikan oleh keturunan Tan Gwat Ling, sebagai rumah tinggal dan tempat perisitirahatan bila anak cucunya ingin ke Magelang. Komitmen keluarga besar Tan Gwat Ling ini patut diacungi jempol karena masih mau merawat dan melestarikan rumah moyangnya seperti awal dibangunnya. Karena bagaimanapun, rumah bundar tersebut telah memenuhi kriteria sebagai bangunan cagar budaya (BCB) yang ada di Kota Magelang. *** [201214]
Share:

Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Magelang

Perjalanan menuju Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Magelang dari arah Alun-Alun melalui Jalan Laksda Yos Sudarso, memberikan sensasi tersendiri. Deretan bangunan kuno peninggalan Belanda banyak dijumpai dalam jalur perjalanan tersebut. Salah satunya adalah Gedung Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Magelang. Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Magelang merupakan kantor dinas yang melakukan tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang kependudukan dan pencatatan sipil (disdukcapil) berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.
Gedung Kantor Dinas ini terletak di Jalan Laksda Yos Sudarso No. 31C RT. 01 RW.09 Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gedung ini berada di sebelah barat Gereja Katolik Santo Ignatius Magelang.


Dulu, sebelum difungsikan sebagai Kantor Disdukcapil, gedung tersebut merupakan bangunan sekolah yang bernama Kweekschool Voor Inlandsche Ambtenaren. Kweekschool ini merupakan sekolah calon guru yang diperuntukkan bagi bumiputera. Sekolah ini awalnya berada di Surakarta, kemudian dipindahkan ke Magelang pada 1875. Namun, gedungnya Kweekschool sendiri baru dibangun pada 1899.
Kweekschool yang berlangsung di Magelang ini merupakan Hoogere Kweekschool (HKS). HKS lebih tinggi dari Hollandsch-Inlandsche Kweekschool (HIK). Muridnya dipilih dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau dari HIK. Selama tiga tahun murid-murid HKS dididik dan dilatih dengan bahasa Belanda, dan mendapatkan pelajaran ilmu mendidik, ilmu pengetahuan umum serta harus tinggal dalam asrama dengan pengawasan ketat.


Oleh karena itu, wajar bila bangunan gedung Kweekschool ini cukup luas. Luas tanah yang terpampang dalam papan berwarna biru muda tersebut menunjukkan bahwa luas tanahnya adalah 8.992 m². Pembangunan kompleks gedung Kweekschool ini pun juga tidak langsung jadi namun bertahap yang memerlukan waktu puluhan tahun karena saking luasnya. Di dalam kompleks tersebut terdapat ruang kepala sekolah, ruang guru, asrama, dan lain-lain.
Perkembangan Kweekschool sedikit terhambat dengan kehadiran Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (MOSVIA) pada 1927 yang lebih dikhususkan bagi golongan ningrat, sehingga terpaksa harus ditutup pada tahun 1932. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, gedung Kweekschool ini kemudian difungsikan sebagai Kantor Dinas Bupati Magelang dari tahun 1948 hingga tahun 1983. Setelah itu, Kantor Dinas Bupati Magelang menempati bangunan gedung yang baru, gedung Kweekschool ini difungsikan sebagai Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Magelang.
Dalam Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 7 Tahun 2013 tentang Cagar Budaya di Kota Magelang, dijelaskan bahwa kompleks Catatan Sipil (eks Kweekschool) ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya (BCB) sebagai kompleks sekolah yang memakai gaya arsitektur Indis. *** [201214]
Share:

GPIB Magelang Kebon Polo

GPIB Magelang Kebon Polo merupakan gereja Protestan yang tergolong tua yang ada di Kota Magelang. Bangunan dengan arsitektur yang khas ini masih berdiri kokoh dengan menara lonceng di atasnya. Siapa yang melintas di daerah tersebut, akan tertarik melihatnya.
GPIB ini terletak di Jalan Urip Sumoharjo No. 17 Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gereja ini di sebelah kanannya berbatasan dengan RSUD Tidar Bagian Kebidanan, dan di sebelah kirinya berbatasan dengan Jalan Sumba menuju SMPN 19 Magelang. Gereja ini menghadap ke selatan atau ke arah Jalan Urip Sumohardjo.
Berdasarkan prasasti yang terbuat dari batu marmer dengan menggunakan bahasa Belanda, diketahui bahwa nama resmi gereja ini adalah Deze Maleische Protetantsche Kerk. Artinya, gereja Protestan untuk orang-orang pribumi yang berasal dari Maluku.


Peletakan batu pertama pembangunan gereja ini dilakukan oleh Azing Bakker pada tanggal 12 November 1923 dan selesai pada tahun 1927 dengan bantuan dari warga Protestant dan tentara Hindia Belanda. Bangunan gereja ini merupakan karya arsitek kondang pada masa itu yang bernama Van Melle. Hal ini ditegaskan pada prasasti yang berada di timur pintu gereja, yaitu: Architecten van Melle en Klomp Magelang.


Bangunan gereja seluas 225 m² yang berdiri di atas lahan seluas 980 m² ini memiliki langgam Neo-Gothic yang hampir serupa dengan GPIB Magelang Alun-Alun dengan fasade yang menjulang. Dengan konstruksi pintu dan jendela yang tinggi nampak sebagai ciri arsitektur yang dikembangkan oleh arsitek Belanda yang disesuaikan dengan iklim tropis lembab yang ada di Kota Magelang. Di atas pintu masuk utama gereja yang terbuat dari kayu jati berkualitas ini, terdapat balkon. Balkon ini dibangun pada tahun 1927 yang digunakan untuk tempat musik pengiring kebaktian.
Sesungguhnya, pembangunan gereja ini merupakan perluasan dari GPIB yang berada di sebelah utara Alun-Alun Kota Magelang. Dulu, GPIB Magelang Alun-Alun diperuntukkan bagi orang-orang Eropa, sedangkan GPIB Magelang Kebon Polo digunakan untuk jemaat pribumi yang kebanyakan dari tentara KNIL dan keluarganya yang pada umumnya berasal dari Ambon atau Maluku. Karena itulah, di kemudian hari gereja ini juga dikenal dengan sebutan Gereja Ambon, dan lokasinya pun berada di sebelah utara dari Kompleks Kaderschool (kini dikenal dengan Rindam IV/Diponegoro). *** [201214]
Share:

Rumah Sakit Tentara Dr. Soedjono

Ketika mau berkunjung ke SMAN 2 Magelang melalui plengkung baru, tampak terlihat bangunan kuna nan megah. Bangunan tersebut adalah Rumah Sakit Tentara (RST) Dr. Soedjono. Sesuai namanya, RST ini merupakan rumah sakit milik TNI AD ini bertugas memberikan pelayanan kepada anggota TNI AD, PNS beserta keluarganya dan sekaran juga melayani kesehatan bagi masyarakat umum.
Rumah Sakit Tentara tersebut terletak di Jalan RST Soedjono No. 7 Kampung Kalisari RT.05 RW.08 Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi RST ini berada di Kompleks Rindam IV/Diponegoro, dan memiliki kesan monumental bangunan rumah sakit sebagai “focal point” dari lingkungan kompleks militer tersebut sangat kuat.
Sejak didirikan, RST ini memang berfungsi sebagai rumah sakit. Dulu namanya Militaire Hospitaal yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1917 sebagai salah satu fasilitas militer yang memberikan pelayanan medis bagi militer Belanda dan anggota keluarganya yang bertugas di Magelang.


Pada masa pendudukan Jepang (1942), rumah sakit ini diambil alih dan difungsikan untuk merawat tentara Jepang (Dai Nippon). Kemudian, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, rumah sakit ini berubah menjadi Rumah Sakit (RS) Palang Merah Indonesia (PMI) Magelang. Lalu, pada 1 Januari 1947. RS PMI berganti nama menjadi RSU Wates.
Pada 1 Maret 1948, RSU Wates diserahterimakan kepada Kepala Dinas Kesehatan Tentara (DKT) Divisi III, dan sejak 1 November 1973 nama rumah sakit ini diganti menjadi RST Dr. Soedjono. Hal ini untuk mengabadikan nama Letkol Dr. Soedjono, seorang dokter Brigade Kuda Putih yang gugur ditembak Belanda di Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.
Bangunan seluas 2.300 m² ini memiliki gaya arsitektur transisi. Karena pada masa itu memang terjadi perubahan yang berlangsung cukup singkat dari akhir abad 19 sampai awal abad 20. Awal abad ke 20 merupakan puncak kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Modernisasi dilakukan di semua bidang, tak terkecuali sarana fisik dalam kompleks militer. Modernisasi tersebut terjadi pada kompleks militer di Batavia serta kota-kota garnizun yang besar, seperti Cimahi, Magelang, dan Malang.


Yang menarik bagi dunia arsitektur waktu itu adalah pembaharuan secara total model arsitektur yang sebelumnya mempunyai gaya Indische Empire mengalami perubahan dengan gaya arsitektur Kolonial Modern yang disesuaikan dengan iklim setempat. Kaum militer Belanda menyadari betul akan iklim setempat, sehingga mereka menamakan kompleksnya dengan istilah tropenkampementen (kompleks militer daerah tropis).
RST Dr. Soedjono yang tergolong sebagai rumah sakit terbesar di Pulau Jawa, selain RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan RS Cimahi tak luput dari transisi arsitektural tersebut. Namun demikian, sejak didirikan, bangunan setinggi 12 m ini sampai tahun 1980 tidak mengalami perubahan atau pun penambahan. Kalau pun ada, sifatnya hanya pemeliharaan atau perbaikan bangunan yang ada saja. Baru mulai tahun 1981, ada beberapa penambahan bangunan, antara lain bangunan poliklinik (tahun 1981), dan kamar bedah sentral (tahun 1986), dan yang baru adalah renovasi UGD serta dibukanya pintu gerbang timur yang bertujuan tidak saja untuk melayani anggota TNI saja tetapi juga penderita umum. *** [201214]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami